Sabtu, 21 Februari 2015

Cara Super Cepat Membangun Komunikasi Akrab dengan Orang Lain

497581227_bdce81b3ab_o
Bagaimana caranya agar kita bisa cepat akrab dengan orang yang baru kita kenal? Mudah bergaul atau bisa menempatkan diri di lingkungan baru serta berkenalan dengan orang-orang baru seakan kita sudah lama mengenal mereka?
Ada pengalaman menarik yang mau saya sampaikan untuk Anda perihal cara super cepat untuk membangun keakraban yang menurut sumbernya cara ini lebih alami daripada harus melakukan mirroring. Seperti apakah cara itu?
Ceritanya bermula saat saya menghadiri seminar akuntansi di salah satu hotel ternama di Jakarta. Hal berbeda dari seminar saya kali ini adalah penyusunan meja dan kursinya. Seminar kali ini menggunakan meja bundar yang masing-masing meja diisi lima kursi.
Penataan meja kursi seperti ini bisa membuat nyaman atau sebaliknya malah membuat resah. Bila Anda cepat dalam menjalin komunikasi akrab dengan orang di sebelah kanan, kiri, depan maka suasana akan nyaman dan menyenangkan. Namun, bila Anda merasa sulit akrab dengan orang lain maka Anda cuma terpaku diam saja dengan dunia Anda sendiri.
Oleh karena setiap peserta bebas memilih meja dan kursi dimana dia mau duduk, saya memilih meja kursi yang dekat layar agar bisa melihat slide dengan jelas. Di sebelah kanan saya, duduk seorang bapak yang lewat pengamatan fisik saya tahu bahwa dia hampir seumur dengan Bapak saya. Katakan saja beliau bapak X. Di sebelah kiri saya, duduk seseorang yang juga dari pengamatan fisik sepertinya malah lebih muda dari saya. Katakan saja beliau pemuda Y.
Kedua orang di sebelah kanan dan sebelah kiri saya baru saya kenal hari itu, tetapi entah mengapa saya lebih cepat akrab dengan bapak X di sebelah kanan saya daripada pemuda Y disebelah kiri saya.
Saya dan bapak X asyik ngobrol apa saja seolah-olah kita sudah kenal lama dan baru bertemu lagi pada hari itu. Sementara dengan pemuda Y di sebelah kiri saya, saya merasa bahwa kami berbicara sekedarnya saja. Belum bisa lepas dan akrab.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Dengan bapak X saya lebih cepat akrab sementara dengan pemuda Y tidak demikian adanya. Hal ini terus menjadi misteri sampai akhirnya saya menemukan jawabannya beberapa hari kemudian dari Igor Ledochowski.
Igor Ledochowski merupakan ahli hipnotis dunia. Beliau bicara perihal bagaimana membangun kedekatan dengan cepat dalam suatu wawancara dengan Markus Oakey, pengasuh websiteyourcharismacoach.com yang videonya bisa juga Anda lihat langsung diyoutube.
Igor Ledoshowski bilang bahwa bagaimana kita berpikir, merasakan emosi serta memancarkannya kepada orang lain merupakan rahasia kenapa kita bisa cepat akrab dengan orang lain meskipun orang tersebut baru saja kita kenal.
Mudahnya begini, kenapa saya bisa bicara panjang lebar dengan bapak X di sebelah kanan saya? Oleh karena tanpa sadar, saya menggangap  beliau seperti orang tua saya. Pikiran dan perasaan emosi yang saya rasakan saat berbicara dengan orang tua saya, saya pancarkan ke bapak X. Saya jaga sikap santun, mendengarkan dengan serius dan mampu mengimbangi semua bahan bicara dan cerita bapak X dengan baik.
Hal seperti ini tidak terjadi dalam komunikasi saya dengan pemuda Y. Pikiran saya cuma mengatakan bahwa orang ini baru saya kenal. Tidak ada emosi ketersambungan yang saya pancarkan kepadanya. Coba kalau saya sudah terlatih menggunakan cara dari Igor mungkin komunikasi akrab bisa saya lakukan juga dengan pemuda Y di sebelah kiri saya.
Kesimpulannya, kita harus berada pada kondisi yang tepat dulu “having a friendly mindset” memiliki pola pikir bahwa kita ini orang yang asyik berteman dengan siapapun sehingga orang lain merasakan hal tersebut. Pancarkan energi itu agar orang lain bisa melihatnya. Pada gilirannya, orang lain akan menganggap bahwa Anda adalah orang yang memang bersahabat dan enak untuk diajak berbicara. Sederhana saja caranya. Cukup dengan membuka diri Anda terlebih dahulu untuk menerima orang lain.
Lebih lanjut, Igor menyarankan agar kita mencoba melatih hal berikut sehingga pada prateknya nanti proses bisa berjalan tanpa harus berpikir lagi:
1. Bayangkan seseorang yang Anda punya hubungan yang sangat dekat secara emosional dengan Anda. Mereka adalah ayah, ibu, kakak, Adik atau sahabat dekat Anda.
2. Rasakan emosi yang muncul saat Anda berbicara dengan mereka. Betapa Anda sangat santai sangat antusias dan sangat nyaman berbicara dengan mereka di masa lalu atau masa sekarang. Perkuat rasa emosi tersebut dan masukkan dalam memori Anda sampai Anda benar-benar merasakan hal tersebut.
3. Nikmati perasaan tersebut, lepaskan dan pancarkan ke orang lain sehingga Anda memiliki konektivitas dengan orang lain di sekitar Anda saat Anda ada di tempat dan bertemu dengan orang-orang baru.
Latihlah sehingga Anda menjadi mahir dan bahagia selalu bila bertemu dengan orang-orang baru. Latihlah selalu agar seolah Anda berasa bertemu dengan teman lama meskipun baru bertemu hari itu. Latihlah selalu agar kita menjadi mendapatkan sesuatu yang menyenangkan saat berbicara dengan orang lain.

3 Teknik Rahasia Orasi Obama dan Ir. Soekarno

Picture3Dalam satu artikel di Forbes, Carmine Gallo seorang Communications Coach, menyatakan bahwa President US Barack Obama selalu konsisten menerapkan 3 teknik utama dalam retorika-nya.
Saya sangat tertarik membaca artikel tersebut dan mencoba untuk membandingkannya dengan gaya retorika salah satu Proklamator dan Pahlawan Nasional kita yakni Ir. Soekarno. Anda pasti ikutan tertarik karena Ir. Soekarno ternyata juga menggunakan ke-3 teknik rahasia tersebut.
Apa saja 3 teknik rahasia tersebut? Mari sama-sama kita pelajari.
1. Pemilihan kata dan Gaya bahasaRahasia pertama adalah pemilihan kata dan gaya bahasa yang tepat.
Kata-kata retorika mereka berdua selalu di susun apik sedemikian rupa sehingga penuh makna dan mampu menghujam kedalam benak para audiens.
Obama:
Tonight, more than 200 years after a former colony won the right to determine its own destiny, the task of perfecting our union moves forward.
It moves forward because of you. It moves forward because you reaffirmed the spirit that has triumphed over war and depression, the spirit that has lifted this country from the depths of despair to the great heights of hope, the belief that while each of us will pursue our own individual dreams, we are an American family, and we rise or fall together as one nation and as one people
(paragraf 1&2 Pidato Kemenangan Obama 7 November 2012)
Ir. Soekarno:
Saya terharu sekali, bahwa kita pada hari ini dapat merayakan hari ulang tahun Republik kita yang pertama. Saya ingat kepada Tuhan yang Maha Kuasa, mengucapkan syukur alhamdulillah, sebab usia Republik kita yang satu tahun itu, tak lain tak bukan ialah berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dan proklamasi kita itu menderu di udara, sebagai arus listrik yang mengetarkan jiwa bangsa kita! Seluruh rakyat kita, seluruh bangsa kita, menyambut proklamasi kita itu sebagai penebusan janji pusaka yang lama, sebagai aba-aba yang mengeledek untuk memulai kehidupan yang baru.
(paragraf 2 dan 5 pidato Ir. Soekarno 17 Agustus 1946: Sekali Merdeka Tetap Merdeka)
Pemilihan kata-kata tersebut sangat mengugah semangat. Anda pasti merasakan dan seakan dibawa ke dalam suasana penuh semangat di dalam benak Anda bukan? Dibawa ke suasana dimana Anda seakan bisa melakukan apapun dan Anda terlibat didalamnya. Sangat nyata dan penuh makna.
2. Pengulangan kataRahasia kedua adalah pengulangan kata.
Teknik pengulangan kata sengaja dilakukan oleh Obama maupun Ir. Soerkarno untuk memberikan penekanan dan pengingat di benak para audiens. Teknik ini akan mengugah ingatan audiens dan pada gilirannya menjadi teknik penyampaian pesan yang efektif.
Obama:
We want our children to live in an America, that isn’t burdened by debt, that isn’t weakened up by inequality, that isn’t threatened by the destructive power of a warming planet.
(paragraf 18 Pidato Kemenangan Obama 7 November 2012)
Ir Soekarno:
Ditengah-tengah nyalanya api, ditengah-tengah menggeledeknya meriam, ditengah-tengah menghebatnya kekacauan, kita harus menjalankan, memperlengkapi, menyempurnakan pemerintahan kita.
(paragraf 18 pidato Ir. Soekarno 17 Agustus 1946: Sekali Merdeka Tetap Merdeka)
Anda lihat betapa kedua tokoh tersebut sangat piawai dalam melakukan pengulangan kata-kata. Contohnya masih banyak lagi. Anda bisa melihatnya di teks lengkap pidato Obama dan Ir. Soekarno tersebut.
3. Bahasa tubuh dan suara yang mumpuniRahasia ketiga adalah bahasa tubuh dan suara yang mumpuni.
Obama maupun Ir. Soerkarno selalu memahami pentingnya intonasi kata. Mereka kadang berapi-api bersuara lantang untuk membangkitkan semangat, terkadang malah berbicara agak pelan dan kadang-kadang malah berhenti sejenak untuk memberikan efek lebih mendalam kepada para audiens.
Bahasa tubuh dalam pidato Obama dan Ir. Soekarno juga tidak kalah baiknya. Mereka melambai dan menunjuk ke arah audiens, tersenyum tulus, mengangkat tangan ke udara, berdiri tegak dengan menatap tajam, ada kalanya menatap lembut penuh santun yang mencerminkan sikap seorang pemimpin.
KesimpulanKeahlian Obama dan Ir. Soekarno tidak terjadi begitu saja. Keduanya sudah lama sekali mempelajari teknik-teknik berorasi dari para pemimpin dunia lainnya. Keahlian mereka bukan sesuatu yang gifted, tetapi sesuatu yang dipelajari dan dilatih secara terus menerus. Anda pun bisa melatihnya dan melakukan teknik tersebut.
Anda dan saya mungkin tidak punya ambisi untuk menjadi presiden atau menjadi seorang orator ulung. Namun, teknik-teknik ini semoga memberikan pembelajaran buat kita semua.
Bisa jadi kita akan berbicara di depan publik pada suatu kesempatan nanti. Penggunaan kata yang baik, penyampaian pesan secara efektif, bahasa tubuh serta serta intonasi kata yang jelas memang harus kita miliki.
Alhamdulillah dapat ilmu buat persiapan kalau memang harus memberikan pidato suatu saat nanti. Semoga bermanfaat juga untuk Anda.
Satu hal yang pasti bahwa keahlian ini merupakan bagian dari keahlian melakukan presentasi kelas dunia. Silahkan klik link berikut bila Anda ingin mempelajari cara melakukan presentasi dan membuat slide presentasi kelas dunia.

Retorika Ala Obama Lima Cara yang Anda Bisa Pelajari!

Obama, bukan siapa-siapa sebelum pencalonannya sebagai Presiden dari Partai Demokrat. Lawan-lawan politiknya memandang remeh orang ini. Tetapi, ketika kesempatan kampanye itu datang, Obama ternyata mampu menghipnotis jutaan rakyat Amerika. Satu persatu daerah pemilihan dimenangkannya. Dimana kemampuan orang ini? 

Kekuatan Obama adalah kemampuan retorika! Kemampuan ini mustinya menarik untuk dipelajari oleh para Leader. Kemampuan bicara, retorika, publik speaking, persuasi atau apapun bentuknya, yang musti dikuasai oleh para Leader! Komunikasi verbal menjadi kemampuan penting dari faset komunikasi. 

Media massapun senang mengutip kalimat-kalimat Obama. Mereka menilai, Obama memukau karena susunan kalimat-kalimat dan gaya bicaranya yang santun namun tegas. Ia tidak suka menyerang lawan politiknya, bahkan dalam beberapa kali kampanyenya, ia justru memuji Hillary dan Mc.Cain. Kontras dengan penampilan lawan politik yang senang menyerang. Tetapi rakyat Amerika ternyata lebih empati pada tokoh kulit hitam ini. 

Para Leader bisa mempelajari bagaimana Obama bisa memukau publik, demi meningkatkan kemampuan retorika Anda! 

Obama mampu menghipnotis public bahkan di awal pidatonya. Dan terus menerus mampu menjaga perhatian public kepada dirinya. Ia memenuhi target penting dari public speaking: perhatian publik! 

Sims Wyeth, seorang pelatih dan konsultan komunikasi oral, mencermati dimana kekuatan pidato Obama. Ia menyajikan lima hal yang bisa diperoleh dari gaya retorika Obama. 

1. Mulai dari concern audience. 

Ingat, Obama membuka pidato dengan cerita-cerita yang beredar di kalangan congress AS sewaktu ia pidato di depan congress. Ia mulai dengan cerita bagaimana susahnya menjadi anggota congress yang terpaksa tidak tidur bermalam-malam hanya untuk membahas kemungkinan penurunan tunjangan sekolah karena kekurangan biaya. 

Audience terlibat secara emosi dengan pengantar pidatonya! Baru kemudian Obama mengutarakan apa strateginya. Ini pendekatan yang brilian. Para Leader bisa melakukannya! Mulailah bicara dari gambaran situasi emosi yang dihadapi oleh audience. Kemudian, perhatikan bahasa tubuh para pendengar Anda. Bila mereka mengangguk- angguk tanda setuju, lanjutkan dengan menjelaskan permasalahan dan tantangan yang ada dalam benak para audience. Intinya, mulailah bicara dari concern pendengar Anda, dan kemudian bombing mereka ke arah yang Anda tuju. 

2. Keep It Simple 

Selama kampanye Presiden, Obama selalu menekankan pesan utama “Change You Can Believe In” . Ini pesan yang sederhana dan mudah diingat.  Tentu saja, beberapa pengamat komunikasi menertawakan trik ini, tetapi Obama berhasil! Pesan ini menyajikan kesederhanaan dan memudahkan para perancang grafisnya untuk menyusun strategi dekorasi di arena kampanye. 

Anda bisa melakukannya. Buatlah pesan Anda sederhana, biarpun Anda memiliki segunung ide! 

Pertama kali, sesuaikan pesan inti Anda. Pada waktu perencanaan pesan kampanye “Change You Can Believe In” ini, dalam tim komunikasi Obama terjadi debat berkepanjangan yang melelahkan. Tetapi sekalinya keutusan itu diambil, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. 

Pidato Obama, selalu dimulai dari hal besar, kemudian memangkasnya sedikit demi sedikit sampai ke inti pesan. Ubah! Sekali Anda bisa melakukannya, Anda bisa membiasakan diri. 

Tentu saja cara ini bukan hanya berlaku di dunia politik, tetapi juga berlaku dalam presentasi bisnis. Pesan akan lebih bernuansa dan lebih detail. Obama menggunakan slogan sederhana ini dan membuat jutaan rakyat Amerika percaya bahwa ia adalah politisi yang mampu mermbuat perubahan. Obama memenangkan hati dengan slogan sederhana yang memberikannya banyak kemudahan untuk masuk dalam topic-topik lain, misalnya kesehatan, terorisme dan ekonomi. 

Komunikator bisa terjebak dalam kesalahan serius jika menyajikan argumentasi komplit dalam upaya persuasi. Mengapa? Karena audience memiliki keterbatasan ‘rentang perhatian’ (span of attention)  dan keterbatasan kemampuan untuk terus menerus terjaga pada pesan yang disampaikan oleh pembicara. Jangan khawatir bila harus meninggalkan beberapa detail, Anda musti selekstif, detail mana yang tepat untuk audience Anda. Apa hebatnya sebuah pidato penuh detail argumentasi jika tidak terserap oleh audience? 

3. Antisipasi pikiran audience 

Tim penulis naskah pidato Obama pasti memahami petuah dari Goethe, “Every word that is uttered evokes the idea of its opposite.” Artinya, bahwa pada saat Anda menyampaikan salah satu sudut pandang, sangat mungkin jika audience malah memikirkan hal lain yang tidak Anda sebutkan dalam topic pidato Anda. 

Sebuah presentasi yang tidak memperhatikan kemungkinan pikiran audience akan kehilangan perhatian mereka karena gagal menjawab apa yang menjadi concern audience. Jadi, bertidaklah antisipatif. Tunjukkan perhatian pada audience, bahwa Anda memahami jalan pikiran mereka, dan jelaskan bahwa ide atau penjelasan Anda bisa lebih sesuai. 

Obama melakukan cara ini dengan sangat efektif. Dalam kampanyenya ketika orang-orang mempertanyakan kelayakan ras kulit hitam sebagai presiden Amerika, Obama menyebutkan, misalnya, bahwa dia telah membangun ”Koalisi besar dari warga negara Amerika-Afrika dengan Amerika kulit putih. Ras bukannya tidak menjadi isu penting dalam kampanye. Tetapi video-video itu justru menjadikan pembuatnya tampak sangat buruk”. 

Pidato itu sangat powerful dan dipuji seluruh dunia. Pidato itu efektif karena Obama berani membiarkan setiap orang berpikir bahwa ia telah mempertimbangkan secara matang mengenai ras dan terutama membuktikan sikap Obama yang mengakomodir kedua belah pihak yang kontroversial. Gunakan cara ini, manfaatkan kontoversi yang ada. Pendekatan semacam ini tidak hanya akan menarik perhatian audience tetapi juga sekaligus membawa audience simpati dan mendekat ke Anda. 

4. Belajar membuat jeda 

Obama sangat menguasai seni membuat jeda dalam setiap pidatonya. Dia membiarkan beberapa detik jeda diantara pembicaraannya untuk membuat audience menangkap maksudnya. Dia membuat beberapa detik jeda untuk memastikan suaranya bergema dalam hati audiencenya, untuk membantu mereka rileks. Jeda membuat impresi  bahwa si pembicara mampu mengontrol dirinya sendiri. 

Perhatikan opening speech Obama ini: 
“If there is anyone out there / who still doubts / that America is a place / where all things are possible, / who still wonders / if the dream of our founders / is alive in our time, / who still questions / the power of our democracy, / tonight / is your answer.” 

Dimanapun Anda ambil jeda itu, terserah Anda sendiri. Tidak ada patokan yang pasti mengenai hal itu. Tetapi Anda harus melatih diri Anda. Dengan pelan, hirup nafas Anda dalam hitungan ketiga dalam setiap jeda. Tujuan dari latihan ini juga untuk membuat tubuh Anda rileks. 

5. Kuasai bahasa tubuh 

Bahasa tubuh Obama rileks dan lancer. Tidak menunjukkan ketegangan dan kekhawatiran. Dia kalem dan asertif  yang membuat orang-orang mengikuti permintaan Anda. 

Untuk menyajikan bahasa tubuh yang efektif bagi Anda, fokuskan pada salah satu atribut bahasa tubuh, misalnya kalem, dan berlatihlah menunjukkan kekaleman Anda sebagai gerakan dasar tubuh Anda, mulai dari cara berpakaian di pagi hari, berangkat ke tempat kerja, menyapa teman dan relasi kerja.  

Studi di Amerika, menyarankan bahwa focus pada salah satu atribut adalah cara yang paling efektif untuk mempelajari perilaku baru. Biasanya akan terasa terpaksa di tahap awal, tetapi tidak lama akan menjadi alami dan membuat bahasa tubuh Anda  menjadi benar- benar tampil kalem alami. 

Kemudian Anda musti berlatih didepan orang-orang. Berlatihlah berjalan kalem didepan ruangan rapat misalnya. Mengatur kertas- kertas Anda dengan kalem. Tatap audience Anda dengan sikap asertif. Biarkan kesunyian sesaat dan sampaikan kalimat pembuka Anda. 

Sikap kalem, menunjukkan kewenangan. Bersikaplah bahwa Anda dalam keadaan terkontrol oleh diri Anda sendiri, baru kemudian Anda akan mampu mengontrol dan mendapatkan perhatian. 

Cara mempengaruhi orang lain dalam beroterika

Ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik, yaitu dengan cara yang penuh kasih, enak didengar, serta efektif.

1. Jangan suka berasumsi
Berkomunikasi (yang baik danbenar) tidak mudah. Terutama dalam situasi yang sulit atau sensitif. Jadi, jangan menginterpretasikan atau mengasumsikan bahwa Anda tahu persis pikiran dan maksud lawan bicara. Lebih baik tanya, minta penjelasan atas apa yang diutarakan untuk memastikan Anda mengerti apa yang disampaikan.

2. Selalu merasa paling benar
Tujuan berkomuniasi adalah untuk saling mengerti. Bila tujuan berkomuniasi untuk membuktikan bahwa Anda (yang paling) benar, Anda hanya akan merusak hubungan dengan lawan bicara. Hal ini umum terjadi dan merupakan perilaku yang sangat merusak. Jangan pernah berkomunikasi hanya karena ingin menjadi yang paling benar. Percayalah, hal ini tidak akan berhasil.


3. Mengungkit masalah lama
Jangan mengungkit-ungkit persoalan yang sudah lewat, kecuali memang diperlukan untuk memberikan penjelasan. Tidak ada alasan bagi Anda untuk membicarakan permasalahan lama. Bila mempunyai masalah dengan sesuatu yang dilakukan pasangan, yang terbaik Anda lakukan adalah langsung mengatakannya saat itu juga padanya.
Atau paling tidak, pada saat yang tepat, atau beberapa saat sesudah kejadian berlangsung. Jangan menundanya terlalu lama. Bila diminta memberi contoh atas ucapan atau sikap yang Anda keluhkan dan Anda tidak dapat mengingatnya secara rinci, katakan kepadanya, Anda akan menyampaikannya bila hal serupa terjadi kembali.

4. Minta dipuji
Sama halnya dengan sikap mau menang sendiri, bila tujuan berkomunikasi untuk memperoleh pujian, hal ini justru hanya memperlihatkan sikap egois Anda dan komunikasi yang baik dan lancar tidak akan berhasil. Anda ingin dipuji? Anda hanya perlu menyadari bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang benar dan melakukannya dengan tulus untuk mengerti pikiran dan perasaan orang lain.
Termasuk perasaan pasangan. Dengan demikian Anda akan merasa puas. Tidak perlu mengharapkan pujian dari pasangan atau orang lain, karena sikap ini memperlihatkan ketidaktulusan Anda.

5. Menguniversalkan pendapat pribadi
Hal ini merupakan kesalahan yang sering terjadi. Semua orang pasti pernah dan sering melakukannya. Bila membuat pernyataan yang memperlihatkan semua orang di “kelas”, kelompok, atau keluarga Anda dan merasa mereka punya pikiran yang sama, berarti Anda menguniversalkan pendapat pribadi. Contohnya, Anda mengatakan, “Semua orang sudah tahu” atau “Orang-orang tahu, kok, apa yang saya katakan pasti benar.”
Sebetulnya, saat Anda menguniversalkan pendapat pribadi sama dengan tengah berusaha untuk dibenarkan atau ingin dapat pujian. Cara yang lebih baik untuk memberikan respon adalah dengan mengatakan “Saya tidak tahu bagaimana pendapat yang lain mengenai hal ini, tetapi menurut saya biasanya orang memerlukan latihan berkomunikasi yang lebih baik.”

6. Jangan bikin pasangan bingung
Sangat penting untuk menyadari bahwa dengan siapa pun kita berhadapan, kita harus berpikiran positif dan menyadari bahwa lawan bicara berusaha jujur dalam berkomunikasi dengan Anda walaupun cara yang digunakan dan diperlihatkannya mungkin terbatas dan tidak efektif. Setiap orang dapat melakukan kesalahan. Bahkan kadang kesalahan yang serius.
Dari waktu ke waktu, orang berada dalam situasi yang membuatnya marah dan menyebabkan dia melakukan suatu tindakan yang akhirnya disesalinya atau disadarinya tidak berguna dan tidak perlu. Bila melihat apa yang telah dilakukan, biasanya seseorang cenderung untuk berperilaku lebih baik.
Di dalam situasi yang tegang dan panas, sangat penting untuk tidak membuat orang bingung dengan tindakan dan sikap yang disengaja. Tiap orang bisa saja melakukan hal-hal yang tidak baik, tetapi tidak berarti orang tersebut bukan orang yang baik. Anda harus dapat membuat perbedaan bila tujuan berkomunikasi adalah untuk dapat memecahkan permasalahan dari konflik-konflik yang terjadi.

7. Membandingkan
Perlakukan setiap orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Sikap membeda-bedakan hanya akan merusak komunikasi antara Anda dan lawan bicara. Ingat, tindakan lebih keras daripada kata-kata. Bila mengatakan suatu hal dan bersikap sebaliknya atau bila berperilaku berdasar prinsip yang Anda terapkan kepada orang-orang di sekitar tetapi tidak Anda terapkan kepada diri sendiri, maka kontradiksi ini akan tampak dan membuat orang tersinggung dan marah.

8. Berperilaku negatif yang dramatis
Hal ini hanya akan menambah api di dalam sekam, terutama bila komunikasi yang berlangsung merupakan komunikasi penting dan peka. Yang diperlukan adalah ketenangan, kepala dingin, dan membicarakan masalah tanpa rasa marah.

9. Menggunakan bahasa negatif
Bahasa emosional yang negatif seperti, “Kamu tidak pernah mendengar apa yang saya katakan” atau “Kamu selalu mengatakan itu” atau “Kamu betul-betul membenci saya” atau “Kamu memang tidak mau mendengar” semua ini merupakan contoh bahasa emosional yang negatif. Bahasa ini tidak memberikan jalan keluar.
Jangan ucapkan kata-kata seperti “tidak pernah” dan “selalu” bila berbicara. Sebaliknya, katakan “Kadang-kadang saya merasa kamu tidak terlalu memperhatikan apa yang saya katakan. Apa pendapat kamu mengenai apa yang saya katakan tadi?”. Dengan demikian Anda akan mengetahui apakah lawan bicara memperhatikan atau tidak apa yang Anda katakan.

10. Tidak menghargai sikap positif
Kesalahan seperti ini juga sering dilakukan. Misalnya, Anda minta pasangan atau lawan bicara untuk mengubah nada suaranya bila berbicara dengan Anda. Anda memintanya agar berbicara lebih manis.
Bila akhirnya pasangan atau lawan bicara mengikuti kehendak Anda, Anda justru mengatakan, “Tumben kamu baik, jangan-jangan ada sesuatu yang kamu mau. Kamu pikir saya bodoh!” Banyak sekali contoh mengenai hal ini. Oleh karena itu, bila Anda meminta sesuatu dan akhirnya mendapatkannya, hargai dan jangan mencelanya. Sebaliknya, katakan terima kasih karena ia telah bersedia memenuhi permintaan Anda. Hargai usahanya.

11. Sama dan sejajar
Contohnya, Anda berbicara dengan pasangan dan pembicaraan menjadi semakin sulit dan mulai bersitegang. Pada saat Anda mengatakan dia memperlihatkan sikap yang bermusuhan, responnya justru Anda yang memperlihatkan sikap demikian padanya. Lalu pada saat Anda bertanya kepadanya, “Perilaku saya yang bagaimana yang membuat kamu merasa terganggu?”
Lawan bicara hanya mengatakan bahwa pertanyaan yang Anda ajukan merupakan pertanyaan yang bodoh dan dia tidak mau membicarakannya. Jangan berkomunikasi untuk mendapatkan persamaan atau untuk membalas dendam. Hal ini tidak akan berhasil dan efeknya adalah merusak hubungan. Bila merasa salah, minta maa dan minta ia mengoreksinya. Misalnya, “Saya merasa tidak senang kalau kamu menaruh baju kotor ddi atas tempat tidur. Lain kali jangan lakukan lagi, ya.”

12. Berbohong
Apakah Anda senang bila dibohongi? Apakah Anda berharap orang yang dekat dengan Anda berbohong pada Anda? Jawabannya pasti “Tidak”. Oleh karena itu, pastikan Anda jujur. Dengan cara ini, otomatis Anda memberi contoh dan memberi gambaran ingin agar orang di sekitar Anda jujurpada Anda dan bila tidak, Anda berhak untuk mengeluh. Tetapi bila Anda tidak jujur maka Anda tidak berhak untuk mengeluh. Kejujuran merupakan cara yang terbaik dan hanya satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa Anda mendapatkan apa yang Anda perlukan.

13. Membiarkan campur tangan dari luar
Bila situasi menjadi lebih keruh dan harus diatasi, bicarakan langsung pada pasangan. Terutama bila ada hal yang perlu Anda jelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada gunanya membicarakan masalah seseorang kepada orang lain sebelum Anda menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang bersangkutan.

Postur Tubuh. Postur tubuh dapat memberikan informasi penting kepada lawan bicara. Apabila postur tubuh lawan bicara Anda condong ke arah Anda, itu artinya ia tertarik terhadap apa yang Anda bicarakan, sebaliknya jika ia menyandarkan tubuhnya menandakan ketidaktertarikan atau bahkan penolakan.
Begitu pula dalam berjabat tangan, cengkeraman yang erat menandakan Anda adalah orang yang tegas atau jujur. Namun sebaliknya, jika terlalu erat, pesan yang sampai adalah sikap menantang dan terlalu percaya diri.

Tangan yang dilipat ke dada atau menyilangkan kaki, memberikan arti lawan bicara tidak ingin diganggu dan juga mengirim pesan bahwa Anda belum mendapatkan kepercayaannya.
Postur tubuh terbuka, seperti lengan yang dibiarkan berada di sisi badan, mengirim pesan ke lawan bicara bahwa Anda adalah pribadi yang ramah dan terbuka untuk menerima pendapat apapun.
Bersamaan dengan itu gerak kepalapun bisa menyampaikan pesan pada lawan bicara. Gerak kepala yang miring ke ke sisi kiri atau kanan, menandakan rasa ketertarikan. Kepala yang menunduk menandakan kurangnya kepercayaan dari lawan bicara kepada Anda.

Jarak. Jarak di sini adalah ruang gerak setiap orang. Setiap orang punya batas ruang gerak sendiri-sendiri, dan terdapat 4 perbedaan, di antaranya : ruang gerak keintiman, ruang gerak pribadi, ruang gerak sosial dan ruang gerak untuk umum.
Anda pasti merasa risih jika seseorang yang tidak terlalu Anda kenal berbicara kepada Anda dengan jarak sangat dekat , begitu juga sebaliknya.
Sebaiknya pastikan dulu posisi Anda, kemudian Anda bisa menempatkan diri dengan baik. Jika Anda berbicara kepada lawan bicara, Anda akan duduk atau berdiri?
Jika anda berdiri dan lawan bicara duduk,ia akan menangkap kesan dominan pada diri Anda. Jika Anda dan lawan bicara duduk berdampingan, ia akan melihat Anda sebagai sosok yang hangat dan terbuka.

Sekarang Anda sudah menangkap kegunaan Body Languange itu dan Anda bisa menggunakannya untuk meyakinkan lawan bicara atau melihat respon lawan bicara terhadap Anda!

Retorika cinta

Gemercik kerinduan membajak kepingan rasa, meLumpuhkan persendian angan.
Ingin kutikan Jemari waktu hingga kepastian kecupanmu Menggusur Hatiku keLain kasih.
Sesak Nafas.Q terjebak kata, terasa berhenti detak jantung.Q …
Saat kejauhan MembLokade ragamu dari Sandaran Bahuku.
.
Kau yang bertunaskan keayuan, mengukir Lekukan peLangi disetiap tatapan batinku,
Taukah kamu, aku bagaikan benang yang kusut tanpa perhatian dan BeLaianmu,
Dapatkah kau jeLaskan Padaku, jika sedetik mengabaikanmu dari anganku,
terasa tercecer kecerdasan.Q daLam Kekakuan.
.
Aku Cinta kamu, meski badan Gunung meniduri punggung mungilku,
Hingga hasrat.Q melebur bersama Nikotin Cintamu yg beraromakan ketuLusan
Lengah kudigoda cinta, hingga terjangan busur panah cintamu teLah menembus benteng hati.Q.
waLau remuk ragaku di kuciLkan semesta, kau tetap Mutiara di Hati.Q
.
Cinta adaLah keabadian rasa yang meLebur daLam butiran-butiran kemuLiaan
Akupun menyadari kauLah yang Esa dihati
waLau sampai jasadmu terbaring kaku dan takdapat menyapaku,
aku yakin ketuLusan cinta kita akan menggetarkan pintu Surga,
.
.
.
Membingkaimu daLam bait2 kata, menyadarkanku akan Nada Cinta yang Membuatku merasa Lebih Berarti…..!!!!!
Aku Terlanjur Sayang……!!!

Seni Berbicara Efektif (Retorika)

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Berbicara merupakan aktivitas rutin kita sehari-hari. Hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa sebagian besar waktu bangun kita digunakan untuk berbicara dengan orang lain. Nyaris tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahan untuk tidak berbicara. Kemampuan berbicara diyakini dapat meningkatkan kualitas eksistensi dan aktualisasi seseorang di tengah-tengah lingkungannya. Kemampuan orang dalam berbicara dapat menjadikan orang itu memiliki daya tarik dan pesona luar biasa bagi orang lain, sehingga ia menjadi idola yang didambakan oleh banyak orang.
Pembicaraan yang akan dapat meningkatkan kualitas eksistensi (keberadaan) kita di tengah-tengah orang lain, bukanlah sekadar berbicara, tetapi berbicara yang menarik (atraktif), bernilai informasi (informatif), menghibur (rekreatif), dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata lain, kita mesti berbicara berdasarkan seni berbicara yang dikenal dengan istilah retorika.
Retorika adalah seni berkomunikasi secara lisan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejumlah orang secara langsung bertatap muka. Oleh karena itu, istilah retorika seringkali disamakan dengan istilahpidato. Pada kesempatan ini, kita akan sama-sama membicarakan kiat-kiat agar pidato kita itu memiliki daya tarik, informatif, rekreatif, dan persuasif.

  1. Rumusan Masalah
    1. Bagaimanakah sikap gerak-gerik dan mimik ketika berpidato?
    2. Bagaimana menggunakan bahasa yang baik ketika berpidato?
    3. Bagaimana cara humor yang baik ketika berpidato?
  2. Tujuan Penyusunan Makalah
    1. Supaya Mengetahui sikap gerak-gerik dan mimik ketika berpidato
    2. Supaya dapat menggunakan bahasa yang baik ketika berpidato
    3. Supaya Mengetahui humor yang baik ketika berpidato
BAB II
PEMBAHASAN
Beretorika (berpidato) merupakan seni berbicara didepan umum, merupakan bentuk komunikasi langsung yang dituangkan dalam bentuk kata-kata oleh pembicara (orator) kepada sasaran pidato (khalayak).
Sebagai seni berbicara, maka berpidato memerlukan keahlian bagi seorang orator. Untuk mendapatkan keahlian tersebut, seorang orator harus sering melakukan latihan serta mengetahui juga langkah-langkah untuk mendapatkan keterampilan dan seni berbicara tersebut. Hal-hal yang harus dikuasai oleh seorang orator yaitu gerak-gerik dan mimik ketika berpidato, mengetahui bahasa yang baik dalam berpidato serta faham akan pentingnya humor dalam berpidato.
  1. A.    Sikap Gerak-Gerik dan Mimik
Dalam sebuah pidato sikap pembicara, gerak-gerik dan juga mimiknya sangat diperlukan supaya materi yang disampaikan dapat diterima dan juga tidak membosankan pendengar. Gerak-gerik adalah gerak badan atau gerak tubuh ketika merespon suatu kata atau kalimat yang diucapkan ketika berpidato.
Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat menunjang keefektifan berbicara. Pembicara juga terjaga dari kekakuan. Hal-hal yang penting selain mendapat tekanan juga dapat dibantu dengan gerak tangan atau mimik. Hal ini dapat menghidupkan komunikasi agar pembicara juga terjaga dari kekakuan
Seorang pembicara harus tampil dengan berani di depan pendengarnya. Sikap percaya diri merupakan kunci utama untuk berani berbicara di depan umum. Sikapnya harus tenang saat berbicara. Pendengar akan dapat diyakinkan bila pembicara berbicara dengan penuh keberanian dan percaya diri yang tinggi. Sebaliknya, jika seorang pembicara berbicara dengan malu-malu dna kurang percaya diri maka pendengar akan meragukan kredibilitas dari pembicara, apalagi hal yang sedang dibicarakan olehnya.
Selain itu, seorang pembicara yang lancar dalam berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraanya. Sering kita mendapatkan seorang pembicara yang berbicara terputus-putus atau terbata-bata. Hal ini akan mengganggu daya simak pendengar. Pembicara yang terlalu cepat juga akan mempersulit pendengar menangkap pokok pembicaraan. Pembicara yang baik harus berbicara dengan lancar, tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat.
Jika kita sedang menyampaikan pidato atau presentasi kita harus mengetahui pentingnya pemahaman 55% visual dan 38% paralanguage. Oleh karena itu, kita harus mengetahui tips-tips dibawah ini:
  1. Cobalah untuk tidak berdiri saja, khususnya jika terdapat podium. Lakukan gerakan agar pendengar tetap terjaga.
  2. Jika terdapat podium, cobalah untuk tidak memegang erat podium tersebut. Itu hanya akan menunjukkan sikap keragu-raguan kita.
  3. Jaga kepala agar tetap tegak.
  4. Perhatikan lengan kita dengan telapak tangan selalu menghadap ke atas.
  5. Jika kita mengacu pada layar, jangan lupa untuk menjaga agar tubuh bagian depan tetap menghadap ke arah pendengar.
  6. cobalah untuk tidak melihat ke bawah, baik itu melihat catatan maupun lantai.
  7. Sesekali gunakan kontak mata dengan semua pendengar dengan cepat. Para pendengar seolah-olah ingin melihat kita berbicara dengan para pendengar. Cara ini mengesankan keramahan dan kredibilitas kita yang tinggi.
  8. Variasikan gaya penyampaian kita dengan mengubah ritme suara, seperti kenyaringan dan naik-turun suara.
  9. Jika para pendengar mulai bosan, kita bisa sejenak mengubah topik atau menghentikan presentasi (jika memungkinkan).

  1. B.     Bahasa dalam Berpidato
Bahasa merupakan wahana komunikasi utama manusia. Dalam arti luas, bahasa budaya memiliki dua ciri utama; pertama, bahasa digunakan dalam proses transmisi pesan, kedua; bahasa merupakan kode yang penggunaannya ditentukan bersama oleh warga suatu kelompok atau masyarakat.
Untuk mempelajari dunia sekeliling kita, bahasa menjadi peralatan yang sangat penting dalam memahami lingkungan. Melalui bahasa kita dapat mengetahui sikap, perilaku dan pandangan suatu bangsa, meski kita belum pernah berkunjung ke negaranya. Pendek kata bahasa memegang peranan penting bukan saja dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai dari generasi pendahulu kepada generasi pelanjut.
Bahasa mengembangkan pengetahuan kita, agar kita dapat menerima sesuatu dari luar dan juga berusaha untuk menggambarkan ide-ide kita kepada orang lain. Dalam retorika bahasa sangat penting untuk dikuasai oleh seorang pembicara/nara sumber karena dengan mengusai bahasa, pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh khalayak.
Ada beberapa hal yang harus dikuasai oleh seorang orator/pembicara agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh khalayak/pendengar, yaitu:
  1. 1.      Gaya Lisan
Gaya lisan merupakan kualitas berbicara yang jelas dibedakan dengan bahasa tulisan.  Susunan kata dan tata bahasa yang Anda gunakan tidak dapat berbicara persis seperti yang Anda tulis. Berdasarkan pengamatan sejumlah tulisan dan pengamatan dari beberapa peneliti, De Vito (1965, 1990) menyatakan bahwa pada umumnya  bahasa lisan terdiri dari kata-kata yang lebih sederhana, lebih pendek, dan lebih populer daripada kata-kata dalam bahasa tulisan. Bahasa lisan mengandung sejumlah besar istilah referensi sendiri, ungkapan, istilah yang kuantitatif semu (misalnya banyak, sangat, berbagai, sejumlah), lebih banyak mengandung pernyataan yang menyatukan pembicara sebagai bagian dari pengamatan, dan lebih banyak menggunakan kata benda daripada kata keterangan. Sebagaian besar gaya berbicara ini harus dipertahankan di dalam pembicaran di depan umum, namun harus diberikan polesan gaya yang diperkirakan cocok untuk keperluan bericara dan paling efektif dalam mengomunikasikan maksud kepada khalayak pendengar.
Berikut ini pedoman dalam menyusun pidato dalam rangka menghasilkan gaya lisan yang memperhatikan kesempurnaan dan persuasif:
  1. kita bicarakan dahulu bagaimana memilih kata untuk mencapai gaya pidato yang efektif.
  2. kita akan mengupas beberapa saran dalam menyusun gaya kalimat yang memberikan kejelasan dan penguatan.
  3. 2.      Pilihan Kata
Pilihan kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Maksudnya agar mudah dimengerti oleh pendengar. Pendengar akan lebih mudah paham bila kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar. Misalnya kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang jarang dikenal oleh pendengar. Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengar jika pembicara berbicara dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya. Pilihan kata juga disesuaikan dengan pokok pembicaraan. Jika pokok pembicaraan adalah masalah ilmiah, tentu penggunaan kata istilah tidak dapat dihindari dan pendengar pun akan dapat memahami karena pendengarnya biasanya orang yang mengerti bidang yang sedang dibicarakan.
Uraian dalam gaya bericara harus merupakan tujuan utama dalam berpidato. Berikut pedoman untuk membuat pembicaran yang lebih jelas.
  1. Yang ringkas, contoh warnanya biru, pukul 21.00 malam hari
  2. Gunakan istilah dan angka spesifik, contoh lebih baik katakan anjing daripada makhluk hidup
  3. Gunakan ungkapan yang memandu contoh pendapat saya berikutnya adalah …, coba kita perhatikan bagaimana cara.
  4. Gunakan istilah pendek, populer, dan umum, contoh lebih baik mengatakan menggali daripada mengorek keterangan
  5. Gunakan ulangan dan ringkasan internal
  6. Gunakan kata kerja aktif, contoh lebih baik manajemen menemui kita besok daripada manajemen akan berada di sini besok.
  7. Gunakan teknik berpidato, perhatikan aliterasi, hiperbola, metafora, metonimi, personifikasi, pertanyan retorik, dan simile
  8. Gunakan indera, rangsang indera perasaan khalayak
  9. Indera penglihatan, dalam menguraikan obyek ciptakan bayangan seolah-olah khalayak melihatnya mulai visualisasi tinggi, berat, warna, berntuk, besaran
  10. Indera pendengaran, rangsang khalayak untuk menguraikan bunyi, misal angin mendesisi, teriakan guru
  11. Indera perasa, gunakan istilah yang merangsang perasaan pendengar, misal halusnya kulit bayi yang baru lahir, kasarnya kertas ampelas
  12. Kesesuaian, mengikuti pedoman untuk membantu memilih bahasa yang sesuai
  13. Berbicara pada formalitas yang sesuai, misalnya ucapkan takkan daripada tidak akan
  14. Hindari kata asing, jargon, kata teknis, dan singkatan. Memang beberapa singkatan tak asing bagi pendengar, namun harus hati-hati karena tidak semua pendengar paham. Oleh sebab itu, penggunaan singkatan harus diikuti oleh penjelasan artinya.
  15. Hindari siang dan ungkapan vulgar, tidak boleh menyinggung perasaan pendengar
  16. Hindari istilah dan ungkapan yang ofensif, misal lebih baik menyebut pemain drama daripada dramawan
  17. Gaya personal, lebih baik pembicara yang bericara dengan mereka daripada berbicara kepada mereka
  18. Gunakan kata ganti orang, misal lebih baik ia, saya, anda daripada seseorang
  19. pertanyaan langsung ke khalayak, mengajak pendengar untuk menjadi bagian acara dari pembicaraan
  20. Ciptakan kesiapan, lebih baik mengatakan Anda akan menyukai membaca… daripada Setiaporabg akan menyukai membaca…
  21. Penguatan, dengan mengendalikan perhatian, pikiran dan perasaan khalayak, dengan bahasa yang menguatkan
  22. Hilangkan yang melemahkan, misalnya rasanya, menurut pendapat saya
  23. Hindari kata umum dan klise, misalkan saya tidak mengetahui seni modern, tetapi saya tahu apa yang saya sukai atau ungkapan klise seperti manis seperti madu
  24. Mainkan intensitas suara dengan derajat inetnsitas gaya yang berbeda-beda untuk menciptakan suasana yang mendalam
    1. 3.      Pembentukan Kalimat
Pidato yang efektif memerlukan perhatian khusus dalam pembentukan kalimat. Berikut ini beberapa pedomannya.
  1. Pilih kalimat pendek
  2. Pilih kalimat langsung, misalnya lebih baik mengatakan Kita tidak usah menerima rancangan … saya tunjukkan kepada Anda tiga alasan daripada Saya ingin memberitahu Anda mengenai tiga alasan mengapa kita tidak perlu menerima rancangan …
  3. Pilih kalimat aktif, lebih baik mengatakan Manajemen menyetujui proposal itu daripada Proposalnya disetujui oleh manajemen
  4. Gunakan kalimat yang positif, lebih baik mengatakan kami menolak proposal itu daripada kami tidak menerima proposal itu
  5. Variasi jenis dan panjang kalimat.Kalimat harus pendek, langsung, aktif, dan positif memang benar, namun terlalu banyak kalimat yang jenis dan panjangnya sama akan terasa membosankan. Gunakan variasi dalam pembentukan kalimat sementaras dengan tetap memperhatikan pedoman umum di atas.

  1. Humor dalam berpidato
Humor dalam sebuah pidato sangat diperlukan dengan tujuan supaya enak didengar dan juga pembicaraan menjadi lebih hidup. Para ahli retorika, mengukur, minimal dua humor dalam satu jam ceramah, tidak menyimpang dari makna dan tujuan dakwah, humor tidak bertentangan dengan essensi dakwah yang mengandung ajakan kepada kebaikan sekaligus pencegahan dari kemungkaran.
Patokan humor (Alan Butcwater, 1990) yaitu:
  1. Sesuai dengan konteks pembicaraan
  2. dapat dimengerti spontan oleh pendengar
  3. Mampu menggugah daya nalar
BAB III
KESIMPULAN
Pidato adalah bentuk komunikasi  lisan yang memiliki unsur-unsur berupa intonasi, gerak-gerik dan mimik dalam penyampaiannya, sehingga agar mampu berpidato dengan baik, seseorang harus belajar. Kemampuan berpidato dengan baik akan mempunyai nilai tinggi bagi da’i dalam suatu masyarakat.
Berpidato untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka kita juga harus mengetahui terlebih dahulu tujuan kita saat akan berpidato, ada tiga tujuan pidato yang harus kita ketahui  yaitu Pidato Informatif, Pidato Pesuasif , Pidato Rekreatif.
Untuk mencapai tujuan-tujuan pidato tersebut, maka kita juga di tuntut mampu menyampaikan pidato dengan baik dan maksimal.
Dalam melakukan pidato, kita harus menyiapkan diri kita baik itu dari materi yang ingin disampaikan, media apa yang akan digunakan dan juga kesiapan diri kita sendiri agar apa yang kita berikan atau kita sampaikan kepada audiens, sehingga pesan kita dapat diterima dengan baik dan apa yang di sampaikan dapat sesuai dengan tujuan yang ingin kita sampaikan.
Selain itu dalam berpidato kita harus memilih jenis pidato yang sesuai dengan kemampuan kita, agar dalam pemaparannya kita lebih menguasai apa yang ingin kita sampaikan. Akan tetapi, apabila kita manguasai semua jenis-jenis pidato itu, maka akan manjadi nilai yang lebih untuk kita sendiri di dalam masyarakat.
Pembicara yang baik akan mempunyai penalaran yang baik pula. Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Pemikiran pembicara yang disampaikan hingga mendapat suatu kesimpulan haruslah logis. Hal ini berarti hubungan kalimat dengan kalimat harus jelas dan logis serta berhubungan dengan pokok pembicaraan.









Daftar Pustaka
  1. Rangkuman dari DeVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Professional Books
  2. http://endonesa.wordpress.com/bahasan-bahasa/gaya-dan-bahasa-pidato-di-depan-umum/
  3. Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Retorika Modern; Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  4. http://danjoruedu.blogspot.com/2012/02/sikap-kita-dalam-menyampaikan-pidato.html
  5. http://iwanrosadi.blogspot.com/2012/05/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

5 Prinsip Hidup yang Bisa Membuat Anda Selalu Tenang dalam Menjalani Kehidupan

cerita, inspirasi, renungan

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"


Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,

"Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai".

"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.


Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.


"Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu


Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."

"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.


Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.


Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.


Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.


Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.


Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.

Jangan menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain di atas langit masih ada langit

cerita, inspirasi, renungan, cerita inspiratif

Pada suatu hari, seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, "Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal"

"Masak, apa iya?" jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, "Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!"

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil."

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, "Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?"

Benu pun tertawa kecil berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari."

********

Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya jika kita tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.