Minggu, 20 September 2026

Battuirawaki appaenteng

 


Pesan Leluhur Manusia Makassar

“Battuirawaki appaenteng”, terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia: “Dari bawah kita membangun.”


Obsesi membangun manusia seutuhnya tidak perlu terlalu besar dan tidak perlu terlalu muluk. Sangat bersyukur apabila kita mampu membangun keluarga kecil kita, tentunya mulai dari diri sendiri, istri, dan anak-anak; menata dan menjaga kelestarian halaman rumah, membersihkan tempat tidur, menjaga kebersihan WC, dan sebagainya.


Demikian juga bagi mereka yang mendapat amanah lebih besar, misalnya Ketua RT, Ketua RK, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/Wali Kota, Gubernur, Menteri, Presiden, ataupun sebagai owner dan founder, Direktur, bawahan, dan seterusnya. Hendaknya memulai perubahan dari hal-hal kecil sesuai dengan jabatan dan amanah yang diembannya.


Kalau begitu, tetaplah berbuat baik. Tidak ada hari tanpa perubahan dan tiada hari tanpa penyempurnaan, agar yang menjadi sorotan  hanyalah kebaikan.

Antama appa’ assulu lima

 



Usaha itu seperti memetik kacang gude, yang dalam bahasa Makassar disebut bintatoeng.


Ketika sudah mendapatkan hasil, kita patut bersyukur dan menjaganya dengan baik.


Pesan leluhur manusia Makassar juga mengajarkan:


“Antama appa’ assulu lima”,

terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia: “Masuk empat, keluar lima.”


Pesannya untuk kita yang ingin menjalani hidup dengan baik: jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Oleh karena itu, hemat adalah bagian dari menjaga hasil usaha.


Kalau begitu, mari kita tetap semangat:

berusaha untuk mendapatkan rezeki,

bersyukur atas hasilnya, hemat dalam menggunakannya, dan sabar jika belum tercapai suatu keinginan yang baik.


Karena setiap hasil membutuhkan usaha, dan setiap keinginan yang baik membutuhkan kesabaran.

Teako Pakei Punna Teai Bulubulunnu

 





Uwi atau ubi kelapa tidak langsung bisa dinikmati setelah ditanam. Ada proses yang harus dilalui: menanam, merawat, menunggu, menggali, membersihkan, lalu memasaknya.


Begitu juga dengan usaha. Hasil membutuhkan proses, waktu, kesabaran, ikhtiar, dan doa.


Jangan terburu-buru ingin menikmati hasil sebelum waktunya. Jalani proses dengan apa yang kita punya dan nikmati hasil dari usaha kita sendiri.


Seperti pesan leluhur manusia Makassar:


ᨈᨙᨕᨀᨚ ᨄᨀᨙᨕᨗ ᨄᨘᨊ ᨈᨙᨕᨕᨗ ᨅᨘᨒᨘᨅᨘᨒᨘᨊᨘ


“Teako Pakei Punna Teai Bulubulunnu.”


Terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia


“Janganlah memakai kalau bukan bulumu.”


Ada waktunya menanam, ada waktunya merawat, dan ada waktunya menikmati hasil.


Jalani prosesnya, sabar menunggu waktunya, dan syukuri hasilnya.

Sabtu, 29 Agustus 2026

Link murottal Alqur'an 30 juz tanpa harus download, tinggal play saja. Bisa play walaupun HP ditutup. semoga bermanfaat.



Juz 1 ⇨ http://j.mp/2b8SiNO

Juz 2 ⇨ http://j.mp/2b8RJmQ

Juz 3 ⇨ http://j.mp/2bFSrtF

Juz 4 ⇨ http://j.mp/2b8SXi3

Juz 5 ⇨ http://j.mp/2b8RZm3

Juz 6 ⇨ http://j.mp/28MBohs

Juz 7 ⇨ http://j.mp/2bFRIZC

Juz 8 ⇨ http://j.mp/2bufF7o

Juz 9 ⇨ http://j.mp/2byr1bu

Juz 10 ⇨ http://j.mp/2bHfyUH

Juz 11 ⇨ http://j.mp/2bHf80y

Juz 12 ⇨ http://j.mp/2bWnTby

Juz 13 ⇨ http://j.mp/2bFTiKQ

Juz 14 ⇨ http://j.mp/2b8SUTA

Juz 15 ⇨ http://j.mp/2bFRQIM

Juz 16 ⇨ http://j.mp/2b8SegG

Juz 17 ⇨ http://j.mp/2brHsFz

Juz 18 ⇨ http://j.mp/2b8SCfc

Juz 19 ⇨ http://j.mp/2bFSq95

Juz 20 ⇨ http://j.mp/2brI1zc

Juz 21 ⇨ http://j.mp/2b8VcBO

Juz 22 ⇨ http://j.mp/2bFRxNP

Juz 23 ⇨ http://j.mp/2brItxm

Juz 24 ⇨ http://j.mp/2brHKw5

Juz 25 ⇨ http://j.mp/2brImlf

Juz 26 ⇨ http://j.mp/2bFRHF2

Juz 27 ⇨ http://j.mp/2bFRXno

Juz 28 ⇨ http://j.mp/2brI3ai

Juz 29 ⇨ http://j.mp/2bFRyBF

Juz 30 ⇨ http://j.mp/2bFREcc


Silahkan disebarluaskan. Semoga menjadi ladang amal jariyah bagi kita semua.

🤲🏻🙏🙏

 

Jumat, 28 Agustus 2026

Resopa siagang tambung ri Karaenga naletei pangngamaseang.

 



Usaha itu kadang seperti padi 🌾. Tidak langsung berbuah setelah ditanam. Harus dirawat, dijaga, dan menunggu waktunya sampai tiba masa panen. Begitu juga dengan usaha, terus jalani prosesnya karena hasil akan datang pada waktunya.


Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d: 11)


Pesan Al-Qur’an tersebut berkesesuaian dengan pesan leluhur manusia Makassar:


“Resopa siagang tambung ri Karaenga naletei pangngamaseang.”


Jika diterjemahkan dari Bahasa Makassar ke dalam Bahasa Indonesia, artinya:


Hanya dengan semangat kerja yang tinggi, disertai niat yang ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa, usaha kita akan memperoleh keberhasilan.


Pesan leluhur Makassar lainnya:


“Akkaresoko, nasaba’ tenamo antu ansauru’ lahbiri’ wassele titi songo’ta.”


Jika diterjemahkan dari Bahasa Makassar ke dalam Bahasa Indonesia, artinya:


Bekerjalah dengan giat, karena hasil yang diperoleh dari tetesan keringat sendiri itulah yang paling mulia.


Kalau begitu, tetap berusaha, bekerja, dan bersabar dalam menjalani proses. Karena hasil tidak selalu datang dengan segera, tetapi setiap usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan sampai pada waktunya. Semoga apa yang diusahakan makin maju dan berkembang.

Senin, 24 Agustus 2026

Assala' kucini' injapi Muri-murina Tau toaku Riballa'


 "Manna na pacce mamo anne paccobana lino, lakudallekangji Karaeng Allah Ta ala. Assala' kucini' injapi Muri-murina Tau toaku Riballa'


Terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia


Meskipun  berat penderitaan cobaan hidup di dunia ini. Akan tetap aku hadapi Tuhan Allah Ta' ala, Asalkan aku bisa melihat Orang tuaku senyumannya di rumah".

Rabu, 19 Agustus 2026

JANGAN TINGGALKAN SHOLAT

 


Pesan Leluhur Manusia Makassar, 

“𝗡𝗮𝗶𝗮 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻𝗻𝗮 𝘁𝗮𝘂 𝘁𝗼𝗮𝘆𝗮 𝗶𝘆𝗮𝗺𝗶𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗮𝗺𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸-𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴".


Jika diterjemahkan dari Bahasa Makassar ke dalam bahasa Indonesia:


“𝗞𝗘𝗛𝗔𝗡𝗖𝗨𝗥𝗔𝗡 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗗𝗘𝗪𝗔𝗦𝗔 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗟𝗔𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗧𝗔𝗨 𝗠𝗘𝗡𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧.”

LOGO ESES

 

Potensi menjadi pengusaha ≠ otomatis sukses menjadi pengusaha.

Kalau ESES ingin mencapai level pengusaha yang benar-benar besar, menurut saya tantangan utamanya adalah mengubah ide dan motivasi menjadi sistem bisnis yang bisa berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada dirinya.


Karakter memberi arah.

Ilmu memberi kemampuan.

Keberanian membuat seseorang mulai.

Konsistensi membuatnya bertahan.

Sistem membuat bisnisnya berkembang.

Tim membuatnya menjadi besar.


ESES BISA, dan secara karakter/gagasan dia memiliki beberapa modal dasar yang kuat. Tetapi ukuran kesuksesan akhirnya bukan seberapa bagus dia berbicara tentang entrepreneurship—melainkan seberapa besar nilai yang berhasil ia ciptakan, bisnis yang berhasil ia bangun, tim yang berhasil ia kembangkan, dan manfaat yang berhasil ia berikan.



Bukan bagian dari masalah


 Merdeka itu ketika mampu bekerja cerdas, memikirkan yang baik-baik, senantiasa sabar & bersyukur, tetap kreatif dan inovatif, menjadi bagian dari solusi bukan bagian dari masalah, serta menjalani hidup tetap di jalan yang benar.

Akkareso paki naki nganre.


 

Sebagai bagian dari pasangko puppusu, petani yang bekerja dengan alat sederhana untuk membersihkan rumput, kita belajar bahwa usaha tidak selalu dilakukan dalam keadaan mudah.


Usaha itu seperti memanen jagung di musim kemarau. Saat tanah kering dan hasil belum terlihat, banyak orang memilih berhenti. Namun, mereka yang tetap tekun akan terus bekerja, merawat tanaman, dan menjaga harapan hingga tiba waktunya menikmati hasil.


Sambil mengingat pesan leluhur manusia Makassar:


“Akkareso paki naki nganre.”

Artinya dari Bahasa Makassar kedalam bahasa Indonesia: “Kerja dulu, baru makan.”


Pesan ini menggambarkan bahwa hasil adalah buah dari usaha, bukan sesuatu yang datang tanpa perjuangan.


Jangan berhenti hanya karena keadaan sedang sulit. Musim boleh kering, tanah boleh keras, tetapi semangat untuk bekerja jangan ikut kering.

anjari mata je'ne, teai je'ne mata

 


Salah satu bentuk merdeka yang terbaik 

adalah “anjari mata je'ne, teai je'ne mata", terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, "jadilah mata air, bukan air mata".  Dirgahayu Republik Indonesia 🇮🇩 ke-81 ! 17 Agustus 1945 — 17 Agustus 2026.

Menulislah, meski dunia tak selalu ramah.

.

 

Menulislah, bismillah

Menulislah, agar tak punah.


Menulislah, biar reda sedih.


Menulislah, saat tubuh lelah.


Menulislah, supaya tak kalah.


Menulislah, untuk hapus letih.


Menulislah, ketika hati gelisah.


Dan menulislah, meski dunia tak selalu ramah.

Rabu, 05 Agustus 2026

Anyakko' parangko' ri kokonnu na jamai pole galunnu.

 

Hari ini, kita kembali disuguhi sebuah peristiwa yang begitu menyayat hati.

Tak jarang kita melihat seseorang yang diduga mencuri barang bernilai kecil—entah seekor ayam, beberapa umbi singkong, atau sekadar sesuatu untuk menyambung hidup sehari—menjadi sasaran amarah massa. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan kejahatan yang merugikan masyarakat dalam skala jauh lebih besar, seperti korupsi, respons yang kita lihat sering kali terasa berbeda. Perbedaan ini patut menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Setiap kali foto atau video anak ini muncul di hadapan kita, dada terasa sesak. Terlebih saat terdengar suara kecil itu memanggil,

"Bapak... bapak..."

Suara sederhana itu mampu meruntuhkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Mencuri memang salah. Namun, negara memiliki hukum untuk mengadili setiap pelanggaran. Tidak ada kesalahan yang seharusnya dibalas dengan kemarahan yang merenggut nyawa.

Di balik peristiwa ini, ada anak-anak yang kehilangan sosok ayah. Ada keluarga yang harus menjalani hidup dengan luka yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.

Satu nyawa yang hilang bukan hanya mengakhiri kehidupan seseorang, tetapi juga menghancurkan harapan sebuah keluarga. Ada anak yang akan terus memanggil, "Bapak...", meski tak akan pernah lagi mendapat jawaban.

Leluhur Makassar telah lama mengingatkan:

"Anyakko' parangko' ri kokonnu na jamai pole galunnu. Didi parennu, puppulanna tiboannu."

Arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia:

"Bersihkanlah rumput di kebunmu dan bajaklah sawahmu. Menguning padimu, panen pula kacang hijaumu."

Pesan ini mengajarkan agar kita mencari rezeki dengan kerja keras dan jalan yang halal. Namun, ketika ada yang terjatuh dalam kesalahan, biarlah hukum yang menegakkan keadilan, bukan amarah yang menghilangkan nyawa.

Semoga peristiwa seperti ini tidak terulang lagi. Semoga kita tetap menjunjung hukum, menjaga nurani, dan tidak membiarkan amarah mengalahkan rasa kemanusiaan. Sebab, ukuran sebuah masyarakat yang beradab bukan hanya bagaimana menghukum orang yang bersalah, tetapi juga bagaimana tetap memanusiakan sesama.


𝗗𝗶𝗱𝗶 𝗽𝗮𝗿𝗲𝗻𝗻𝘂, 𝗽𝘂𝗽𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗻𝗮 𝘁𝗶𝗯𝗼𝗮𝗻𝗻𝘂.

 



𝗟𝗲𝗹𝘂𝗵𝘂𝗿 𝗠𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁 𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝘀𝗮𝗿 𝗧𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗟𝗮𝗺𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻. 

❝ 𝗔𝗻𝘆𝗮𝗸𝗸𝗼' 𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗼' 𝗿𝗶 𝗸𝗼𝗸𝗼𝗻𝗻𝘂 𝗻𝗮 𝗷𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗽𝗼𝗹𝗲 𝗴𝗮𝗹𝘂𝗻𝗻𝘂. 𝗗𝗶𝗱𝗶 𝗽𝗮𝗿𝗲𝗻𝗻𝘂, 𝗽𝘂𝗽𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗻𝗮 𝘁𝗶𝗯𝗼𝗮𝗻𝗻𝘂. ❞


Arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia:


❝Bersihkanlah rumput di kebunmu dan bajaklah sawahmu. Ketika padimu menguning, kacang hijaumu pun telah siap dipanen.❞


Petuah ini mengajarkan pentingnya memiliki lebih dari satu sumber penghidupan. Ketika satu usaha belum menghasilkan, usaha lainnya dapat menjadi penopang. Inilah kebijaksanaan leluhur dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga.


𝗔𝗽𝗮 𝗽𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮𝗮𝗻𝗺𝘂, usahakan memiliki pekerjaan atau usaha sampingan. Jangan hanya bergantung pada satu sumber penghasilan atau menunggu bayaran dari orang lain.


𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗹𝗮𝗵 sesuatu yang menjadi milikmu sendiri. Rezeki yang lahir dari jerih payah sendiri akan menjaga kehormatan, menumbuhkan kemandirian, menguatkan mental pantang menyerah, dan insyaallah menghadirkan keberkahan.


𝗟𝗲𝗹𝘂𝗵𝘂𝗿 𝗸𝗶𝘁𝗮, meskipun banyak yang hanya pasangko puppusuji dengan peralatan sederhana untuk membersihkan kebun dan mengolah sawah, tetap menjaga kehalalan rezekinya. Mereka memastikan makanan, minuman, dan pakaian berasal dari usaha yang halal karena meyakini bahwa keberkahan dunia adalah bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat.


𝗔𝗻𝗷𝗮𝗺𝗮𝗸𝗶—bekerjalah dengan sungguh-sungguh, berusahalah dengan tekun, dan jangan pernah berhenti menciptakan peluang. Masa depan yang lebih baik dibangun oleh mereka yang terus belajar, bekerja, dan berusaha, bukan oleh mereka yang hanya menunggu.


𝗝𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻.


Karena pekerjaan mencukupi kebutuhan hari ini, sedangkan usaha yang terus dibangun dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan di masa depan.


𝗕𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗺𝗮𝗻𝗮𝗵, 𝗯𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀, 𝗱𝗮𝗻 𝗷𝗮𝗴𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗵𝗮𝗹𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗿𝗲𝘇𝗲𝗸𝗶. 𝗦𝗲𝗺𝗼𝗴𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗺𝗽𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗮𝘁. 𝗔𝗮𝗺𝗶𝗶𝗻.

Rabu, 29 April 2026

Pappasanna Tau Toayya ri Mangkasara (Pesan Orang Tua Terdahulu di Makassar)





Langere’ baji’-bajiki anne ana’, pantamai ri lalang atinnu, nanu gaukangki!


Dengarkanlah baik-baik wahai anakku, masukkanlah ke dalam hatimu, lalu kerjakanlah!


Teako attinroi punna tena natangkasa kalennu siagang atinnu. Teako a’jappai punna tena nuboliki katallassannu ri patanna linoa. Anjo kakodianga aa’rurungangi kabajikanga. Ikatte mami ammilei kerea ero’ ri pinawang!


janganlah engkau tidur jika belum engkau perbaiki tubuh dan hatimu. Janganlah engkau melangkah bila tidak kau simpan kehidupanmu kepada Sang pemilik. Karena keburukan beriringan dengan kebaikan. Kamulah yang memilih, mana yang akan engkau bawa!


Su’jukku teai ulunna bawang, pasu’juki atinnu siagang akkala’nu. Tena ruanna, tena singkammanna Karaeng Allah Ta’ala. Nu angkaki limannu nanu lappassang anne cinnanu rilino, Saba’ niami Karaeng Allah Ta’ala antayangko nanu sa’bumi KalompoanNa!


Bersujud Bukan Kepala saja, sujudkan hati beserta akalmu. Tidak ada duanya, tidak ada yang menyerupai Allah SWT. Engkau angkat tanganmu, lalu lepaskan keinginanmu pada dunia, Karena Allah SWT sudah menunggumu, lalu engkau menyebut kebesaran-Nya!


Je’ne Sambayang anjari pa’bissa kalennu. Zikkiri anjari pa’bissa atinnu. Tafakkoro’nu anjari pa’bissa pikkirannu. Sukkuru na ikhlaska anjari pa’bissa cinnanu rilinoa. Sa’bara anjari pa’bissa kalarroannu.


Wudhumu akan jadi pembersih Tubuhmu. Dzikirmu akan jadi Pembersih hatimu. Tafakurmu akan jadi pembersih Pikiranmu. Syukur dan Ikhlas menjadi pembersih kecintaanmu pada dunia. Sabar menjadi Pembersih Kemarahanmu.



Manna Ronro linoa, gesara butta maraeng, Tu Mangkasaraka Abulo sibatang tonjo, accera’ sitongka-tongka tonji.


Biar dunia bergemuruh, Bercerai berai negeri seberang, Orang Makassar, bersatu padu, bertanah air satu jua.


Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tamassaile punna teai labuang.


Bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju.


Ku alleangi tallanga na toalia.


Lebih baik tenggelam dari pada kembali (latar belakang kata tersebut dari seorang pelaut yang telah berangkat melaut)!


Eja pi nikana doang.


Merah baru disebut Udang

(Seseorang baru dapat dikenali atas karya dan perbuatannya).


Teai mangkasara’ punna bokona loko’.


Bukanlah orang Makassar kalau yang tidak bengkok tulang belakangnya. (Adalah simbol keberanian agar tidak lari dari masalah apapun yang dihadapi”).


Oe ana’ku… a’ngu’rangiko, nia’ antu tallu cappa (cappa Lila, cappa kabura’neang na cappa badi’) nuerang, Punna joengko ri bori maraeng, jagai baji-baji tallu cappaka. I kau assawala iyareka su’lu, battu rikauji antekamma gionu siagang tallu cappa nueranga.


Duhai anakku… ingatlah selalu, ada tiga ujung (ujung Lidah, Ujung Kemaluan dan ujung Badik) yang harus kau bawa sebagai bekal Kalo dikampungnya orang, jaga baik-baik ketiga ujung itu. Kau akan jadi untung atau merugi, tergantung bagaimana kau berperilaku dengan tiga ujung yang kau bawa.


Manna Intang Ballanu, Bulaeng Co’corannu, tamanaika ka iratei la’baku.. La’baku sibungkeng. Pa’risikku sikapoyang. Jene matangku ma’solong si lepa-lepa.


Walau Intan Rumahmu. walau emas titian tanggamu, aku tak mau naik, karena diataslah kesedihanku. Kesedihanku menumpuk, kugenggam sakitku, Air mataku mengaliri perahu kecil itu.


Sa’ribattangaji tojeng. Iyaji kalli majarre. Pindu cikali. Naempoi ranggasela.


Saudara yang sebenarnya adalah saudara kebenaran. Merekalah yang pantas menjadi pelindung.


Apayya kau nupasang Punna nakku ri amma’nu. Inakke iya Anginga punna lammiri.


Kepada siapa engkau akan berpesan, jika engkau rindu kepada ibumu. Adapun saya akan berpesan kepada angin yang akan bertiup.


Punna boko’mo lampaku Teako rampea kodi Rampea golla Nakurampeko kaluku.


Jika aku sudah meninggalkan tempatku Jangan kau membicarakan kejelekanku Bicarakanlah kelakuan baikku Saya pun akan berlaku demikian.


Lompobattammonjo cini Ti’rinna bawakaraeng Iya tea gio Iya tena ta’lenggang-lenggang!


Tirulah gunung Lompobattang Tinggi menyamai Bawakaraeng Tapi dia tidak banyak bergerak Juga tidak melenggok-lenggok!


Niaka anne mammempo Angngerang kasi asiku Saba’ nia’na Hajjakku lakupabattu.


Kamilah datang menghadap Membawa kemiskinanku karena ada hajat yang ingin kusampaikan.


Kamase-mase kuerang Taddongko rimangko kebo Naki’minasa Nipaempo kalabbirang.


Kesederhanaan kubawa Kutaruh di mangkuk putih, Kami berharap Didudukkan pada acara adat.


Apa nikanre ri anja Nikaddo ri padatari Sambayangiya Puasa sibulangiya.


Apa yang akan disantap di akhirat Lauk pauk di alam baqa Adalah shalat Dan puasa satu bulan ramadhan.

Senin, 13 April 2026

SEMUA MILIK ALLAH

 




Orang sering bicara tentang brand.
Tentang nama besar.
Tentang kepemilikan.

“Ini usaha saya.”
“Ini brand saya.”
“Ini hasil kerja keras saya.”

Kita ulang-ulang itu,
sampai lupa satu hal paling mendasar:

Apa benar itu milik kita?

Tanah tempat usaha berdiri bukan kita yang ciptakan.
Bahan baku bukan kita yang tumbuhkan dari nol.
Bahkan tenaga dan napas untuk bekerja pun bukan kita yang buat.

Semua hanya titipan.
Semua hanya amanah.

Tapi manusia mudah terjebak.
Saat usaha berkembang, mulai merasa hebat.
Saat keuntungan bertambah, mulai merasa berkuasa.
Seolah semua terjadi karena dirinya semata.

Padahal tidak.

Dalam pandangan Islam,
Allah adalah Pemilik mutlak.
Sedangkan manusia hanyalah pengelola sementara.

Harta bukan mahkota.
Bukan bukti kehebatan.
Melainkan ujian.

Ujian apakah kita tetap adil,
atau justru jadi rakus.
Tetap jujur,
atau mulai menindas.

Lihat dunia hari ini.
Yang kuat menguasai pasar.
Yang kecil terdesak.
Harga dimainkan.
Kebutuhan dikuasai segelintir pihak.

Kita sering silau pada nama besar:
Apple, Microsoft, Saudi Aramco, Alphabet (Google), Amazon, NVIDIA, Tesla, Meta (Facebook), Berkshire Hathaway, TSMC, Samsung, Tencent, Visa, JPMorgan Chase, Walmart, ExxonMobil, LVMH, Procter & Gamble, Nestlé, Coca-Cola.

Dua puluh brand raksasa dunia.
Nilainya triliunan.
Pengaruhnya lintas negara.

Namun satu hal tetap sama:

Mereka tidak memiliki bumi tempat mereka berdiri.
Tidak menciptakan sumber daya yang mereka olah.
Tidak menciptakan waktu yang mereka gunakan.

Semua tetap dalam kuasa Allah.

Karena sejatinya,
semua brand,
semua usaha,
sekecil warung pinggir jalan
hingga sebesar perusahaan dunia,

adalah milik Allah.

Kita hanya dititipi.
Sebentar saja.

Dan saat waktu itu habis,
kita pulang dengan tangan kosong.

Yang tersisa bukan nama besar,
bukan logo,
bukan angka di rekening.

Tapi amal
dan bagaimana kita menjaga amanah itu.

Selasa, 07 April 2026

The power “𝑻𝒆𝒂𝒌𝒐 𝒏𝒂𝒓𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒊 𝒂𝒍𝒍𝒐 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒆 𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒎𝒂-𝒋𝒂𝒎𝒂𝒏𝒏𝒖

 



𝙈𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪𝙢𝙪, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙢𝙤𝙙𝙖𝙡𝙢𝙪


“𝑻𝒆𝒂𝒌𝒐 𝒏𝒂𝒓𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒊 𝒂𝒍𝒍𝒐 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒆 𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒎𝒂-𝒋𝒂𝒎𝒂𝒏𝒏𝒖.”


𝘼𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙚𝙧𝙝𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧 𝙠𝙚 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, 𝙣𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙠𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖:


𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙞𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙩𝙖𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖𝙢𝙪


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒕𝒂𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕𝒎𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕—

𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂 𝒌𝒂𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒎𝒃𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒘𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊.

𝑩𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏𝒍𝒂𝒉… 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈𝒈𝒊𝒍 𝒏𝒂𝒎𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒏𝒂,

𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒓𝒆𝒛𝒆𝒌𝒊 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒆𝒃𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒅𝒖𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒖𝒓 𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑲𝒂𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈?

𝑴𝒂𝒌𝒂 𝒃𝒖𝒏𝒖𝒉𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒔𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒇𝒂𝒋𝒂𝒓.

𝑻𝒆𝒃𝒂𝒔 𝒓𝒂𝒈𝒖𝒎𝒖 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒍𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒈𝒆𝒍𝒂𝒑.

𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒑𝒆𝒑𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒋𝒂𝒎

𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒎𝒆𝒅𝒂𝒏—

𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒖 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏𝒂𝒏—

𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒅𝒂𝒓 𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒕𝒂,

𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏 𝒕𝒆𝒌𝒂𝒅,

𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒊𝒂𝒏,

𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒎𝒂𝒍𝒖 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒊𝒎𝒑𝒊 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑫𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒌𝒆𝒋𝒂𝒎,

𝒊𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒖𝒋𝒖𝒓:

𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒎𝒃𝒂𝒕 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒕𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍,

𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒓𝒂𝒈𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒈𝒈𝒆𝒍𝒂𝒎,

𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒖𝒓 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒍𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑫𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒖…

𝒂𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒆𝒍𝒂𝒑

𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒊

𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒋𝒂𝒓 𝒕𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓𝒏𝒚𝒂?


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒕𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏—

𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒆𝒎𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂,

𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝒋𝒊𝒘𝒂

𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒌 𝒕𝒖𝒏𝒅𝒖𝒌 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒏𝒂𝒔𝒊𝒃,

𝒌𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒔𝒂𝒌𝒔𝒊,

𝒅𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒅𝒊𝒓𝒊

𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒌 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒍𝒊.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒕𝒊𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒔𝒖𝒏𝒚𝒊

𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒏𝒂𝒑𝒂𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒆𝒏𝒕𝒊—

𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖

𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓

𝒌𝒂𝒖 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━


“𝑻𝒆𝒂𝒌𝒐 𝒏𝒂𝒓𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒊 𝒂𝒍𝒍𝒐 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒆 𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒎𝒂-𝒋𝒂𝒎𝒂𝒏𝒏𝒖.”

𝑩𝒂𝒏𝒈𝒌𝒊𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒄𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒏𝒕𝒖𝒉 𝒘𝒂𝒋𝒂𝒉𝒎𝒖—

𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒂𝒑𝒍𝒂𝒉 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑

𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈-𝒃𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈

𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒅𝒖𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒊.

𝙩𝙤𝙡𝙤’ 𝙩𝙚𝙣𝙖 𝙣𝙖 𝙩𝙤𝙡𝙤, 𝙥𝙪𝙣𝙣𝙖 𝙩𝙤𝙡𝙤 𝙩𝙚𝙖𝙞 𝙩𝙤𝙡𝙤’

 



𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜, 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙏𝙖𝙠 𝙈𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜,


𝙄𝙣𝙜𝙖𝙩…𝙆𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙞𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣, 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨, 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞—𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙧𝙖𝙝𝙢𝙪… 𝙠𝙤𝙨𝙤𝙣𝙜.


𝙆𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙚𝙢𝙤𝙨𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧.


𝙇𝙚𝙡𝙪𝙝𝙪𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙚𝙨𝙖𝙣:


"𝙩𝙤𝙡𝙤’ 𝙩𝙚𝙣𝙖 𝙣𝙖 𝙩𝙤𝙡𝙤, 𝙥𝙪𝙣𝙣𝙖 𝙩𝙤𝙡𝙤 𝙩𝙚𝙖𝙞 𝙩𝙤𝙡𝙤’ ".


Artinya sederhana dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, namun dalam maknanya:


"𝙋𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙙𝙤𝙝, 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙤𝙙𝙤𝙝 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜".


𝙋𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙡𝙖 𝙠𝙤𝙨𝙤𝙣𝙜.

𝙄𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜—𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙖𝙟𝙖𝙢.

𝙄𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢—𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙞𝙩𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣.


𝙆𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙡

𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙤𝙧𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣—𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙗𝙪𝙣𝙜𝙠𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙞.


𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙣𝙚𝙠𝙖𝙩,

𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞—𝙞𝙩𝙪… 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙧𝙖𝙝.


𝙆𝙖𝙪 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜…

𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧.


𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜, 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙡𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣.


𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜— 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙚𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣.


𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙠𝙪𝙧𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙢𝙥𝙖𝙖𝙣.


𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙚𝙠𝙖𝙮𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙩𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙩𝙖—𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙡, 𝙝𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨.

𝘽𝙖𝙩𝙩𝙪 𝙍𝙖𝙩𝙩𝙚 𝙈𝙖 𝙍𝙞 𝘽𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜





 𝙎𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 NASA - National Aeronautics and Space Administration 𝙢𝙚𝙡𝙪𝙣𝙘𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙞𝙨𝙞 Artemis II 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙡𝙞𝙡𝙞𝙣𝙜𝙞 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙖𝙧𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖.


𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙠𝙚 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙩𝙚𝙠𝙣𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞—𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞.


𝘼𝙙𝙖 𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙡𝙖𝙜𝙪 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧:


“𝘽𝙖𝙩𝙩𝙪 𝙍𝙖𝙩𝙩𝙚 𝙈𝙖 𝙍𝙞 𝘽𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜”, 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙚𝙢𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙨𝙖𝙧 𝙠𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, “𝙎𝙖𝙮𝙖 𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙋𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙆𝙚 𝘽𝙪𝙡𝙖𝙣”.


𝙎𝙚𝙙𝙚𝙧𝙝𝙖𝙣𝙖, 𝙣𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙢𝙖𝙠𝙣𝙖. 𝙅𝙖𝙪𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 Neil Armstrong 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙟𝙖𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙙𝙞 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙨𝙩𝙞𝙬𝙖 Apollo 11 Moon Landing, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙙𝙪𝙡𝙪 “𝙠𝙚 𝙨𝙖𝙣𝙖” 𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩 𝙞𝙢𝙖𝙟𝙞𝙣𝙖𝙨𝙞, 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙮𝙖𝙞𝙧 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙬𝙖𝙧𝙞𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙜𝙚𝙣𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙠𝙚 𝙜𝙚𝙣𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞.


𝙄𝙣𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙙𝙖𝙧 𝙡𝙖𝙜𝙪, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙩𝙞 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙪𝙙𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖. 𝘽𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙞𝙩 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙩𝙖𝙨—𝙢𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣.


𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙙𝙖𝙗𝙖𝙣 𝙝𝙚𝙗𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙙𝙞𝙖𝙬𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙞 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣.

𝑻𝒆𝒂𝒌𝒐 𝒏𝒂𝒓𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒊 𝒂𝒍𝒍𝒐 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒆 𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒎𝒂-𝒋𝒂𝒎𝒂𝒏𝒏𝒖

 


𝙋𝙀𝙎𝘼𝙉 𝙈𝘼𝙉𝙐𝙎𝙄𝘼 𝙈𝘼𝙆𝘼𝙎𝙎𝘼𝙍
“𝑻𝒆𝒂𝒌𝒐 𝒏𝒂𝒓𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒊 𝒂𝒍𝒍𝒐 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒆 𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒎𝒂-𝒋𝒂𝒎𝒂𝒏𝒏𝒖.”

𝙏𝙀𝙍𝙅𝙀𝙈𝘼𝙃𝘼𝙉
𝙆𝙀 𝘿𝘼𝙇𝘼𝙈 𝘽𝘼𝙃𝘼𝙎𝘼 𝙄𝙉𝘿𝙊𝙉𝙀𝙎𝙄𝘼
👉 Jangan sampai kamu terkena terik matahari saat menuju pekerjaanmu.

𝙈𝘼𝙆𝙉𝘼 𝙈𝙀𝙉𝘿𝘼𝙇𝘼𝙈
Peribahasa ini mengajarkan tentang disiplin, semangat, dan kecerdikan dalam bekerja.

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙟𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠:
🌅 Bangun lebih awal
⏰ Memulai pekerjaan tepat waktu
⏳ Tidak menunda-nunda
🚫 Tidak bermalas-malasan

𝙋𝙀𝙉𝙀𝙂𝘼𝙎𝘼𝙉
𝘼𝙂𝘼𝙍 𝘽𝙄𝙎𝘼 𝙎𝙐𝙆𝙎𝙀𝙎 𝘿𝘼𝙉 𝘽𝘼𝙃𝘼𝙂𝙄𝘼
Karena orang yang siap dan bersungguh-sungguh, tidak akan memulai kerja saat hari sudah panas ☀️.

𝙆𝘼𝙏𝘼 𝙀𝙎𝙀𝙎  𝙃𝘼𝙍𝙄 𝙄𝙉𝙄
“𝙂𝙚𝙧𝙖𝙠 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙖𝙬𝙖𝙡, 𝙧𝙖𝙞𝙝 𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙢𝙖𝙠𝙨𝙞𝙢𝙖𝙡.”