Minggu, 18 Januari 2026

𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐄𝐖𝐀𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐓𝐈

 


Sadar sebagai anak desa yang terbuang di kota perantauan, selalu ada ikhtiar untuk meneguhkan diri dengan satu kalimat sederhana “𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐄𝐖𝐀𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐓𝐈.”


Sebab hidup tidak selalu seromantis film Ada Apa Dengan Cinta. Perjuangan tidak selamanya seindah kisah dalam novel Kupinang Kau Dengan Bismillah. Dan keinginan tidak selalu lurus dan perkasa seperti kehebatan Superman yang sering terdengar di telinga.


Di kota perantauan, suka dan duka hadir bersamaan. Ada rindu yang tak pernah benar-benar pergi—rindu pada keluarga di kampung halaman.


Ada masa ketika diri ini dicuci air mata derita,

dipakaikan keringat dan darah juang, serta diwarnai jalan penuh duri yang kerap tampak buruk di mata banyak orang.


Sering kali kata-kata dianggap biasa saja,

bahkan tak jarang dinilai tak berfaedah.


Namun ketika seseorang telah sampai pada titik sukses dan bahagia, setiap kata yang pernah terucap berubah menjadi kebenaran

dan mulai diakui oleh banyak orang.


Bila kenyataan memang harus berjalan seperti ini, bukan berarti menyerah menjadi pilihan.

Bukan berarti langkah harus terhenti

sebelum sukses dan bahagia menemukan jalannya.


Mengapa demikian? Karena hati tak pernah berhenti berteriak—melarang larut dalam kesedihan, melarang diam dalam keputusasaan, dan melarang berhenti berusaha.


Walaupun sejuta ketidakpastian tentang sukses dan bahagia terus menghantui.

Walaupun situasi dan kondisi hidup terasa buntu, sunyi, sedih, dan sangat gelap.


Lalu apa sebenarnya modal dan rahasia para perantau sukses dan bahagia—sebagaimana dimiliki tokoh-tokoh besar dunia dan nasional yang berpengaruh—yang paling sulit dikalahkan oleh keadaan?


Jawabannya tentu bukan semata-mata soal uang. Melainkan niat yang diawali Bismillahirrahmanirrahim, do'a orang tua yang tak pernah putus, keberanian untuk melangkah,

pengetahuan dan keterampilan, sikap yang terjaga, semangat yang terus dipelihara, kejujuran dalam perilaku, kepedulian terhadap sesama, serta ketulusan untuk berbagi—meski dalam keterbatasan.


Ditambah kebiasaan bersikap adil, tidak mudah menyerah pada keadaan, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, ikhlas dalam ujian, bersyukur dalam setiap keadaan, tetap ceria meski lelah, percaya diri meski sederhana, tidak menyia-nyiakan waktu,

terus kreatif dan inovatif, berani tampil berbeda, memiliki jaringan pertemanan yang produktif, serta senantiasa mengandalkan pertolongan Allah SWT.


Intinya satu: yang membuat diri ini tetap bertahan di jalan yang baik adalah kekuatan iman dan keyakinan kepada Allah, serta ada harapan besar bahwa apa yang dapat diubah, diusahakan, dan disempurnakan hari ini harus lebih baik daripada kemarin.


𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣,

𝙩𝙞𝙖𝙙𝙖 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖𝙖𝙣.


𝑱𝒊𝒌𝒂 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒐𝒂𝒍𝒂𝒏,

𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒓𝒕𝒊 𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊𝒂𝒏.


𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐞𝐭𝐚𝐤 𝐩𝐫𝐞𝐬𝐭𝐚𝐬𝐢,

𝐛𝐞𝐫𝐚𝐫𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐞𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢.


Dan esok harus lebih baik daripada hari ini—

sepasti matahari akan kembali terbit di ufuk pagi.

𝗟𝗘𝗡𝗧𝗘𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗡𝗝𝗔: 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐝𝐞𝐬𝐚 🌾

 

𝐒𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐝𝐞𝐬𝐚,
𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐬, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐠𝐞𝐧𝐬𝐢.
𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐡𝐢𝐧𝐚,
𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐢𝐧𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡.

𝐌𝐚𝐥𝐚𝐬 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧,
𝐝𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐭𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐢𝐚𝐩.

❝𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐭𝐚?❞
❝𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠?❞

𝐀𝐲𝐨 𝐤𝐞 𝐬𝐚𝐰𝐚𝐡, 𝐚𝐲𝐨 𝐤𝐞 𝐤𝐞𝐛𝐮𝐧,
𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐦𝐚𝐢.

𝐊𝐞𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐜𝐚𝐧𝐚,
𝐢𝐚 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚.

𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐩𝐚𝐧𝐞𝐧,
𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧.

𝐃𝐢𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐛𝐚𝐫,
𝐝𝐢𝐬𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐦𝐚𝐧.

🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!

🌱 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐛𝐮𝐫,
💪 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐚𝐭,
🔥 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤.

𝐋𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐀 𝐒𝐄𝐍𝐉𝐀: 𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥

 

𝘿𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞
𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥:
𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖,
𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣,
𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝𝙖𝙣.

𝙃𝙪𝙟𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙖𝙜𝙞,
𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙬𝙖𝙗𝙣𝙮𝙖.
𝙅𝙖𝙜𝙪𝙣𝙜, 𝙥𝙖𝙙𝙞, 𝙘𝙖𝙗𝙚—
𝙩𝙖𝙠 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙤𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖,
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙖𝙬𝙖𝙩
𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙡𝙢𝙪.

𝙏𝙖𝙣𝙖𝙢 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙨𝙖𝙡,
𝙥𝙖𝙣𝙚𝙣 𝙥𝙪𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙖𝙡.
𝙍𝙖𝙬𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙩𝙞,
𝙡𝙖𝙮𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙞.

𝘽𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙞𝙢𝙖𝙣.
𝘽𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙩𝙖𝙠𝙬𝙖.
𝙏𝙖𝙠 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙙𝙞𝙪𝙘𝙖𝙥,
𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙩𝙪𝙩 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙜𝙖
𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙝𝙪𝙟𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙖𝙪
𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞.

𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙖𝙙𝙖,
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞.

🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐔 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐌𝐈𝐒𝐊𝐈𝐍𝐀𝐍!
🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐓𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐊𝐄𝐊𝐀𝐘𝐀𝐀𝐍!

𝙎𝙚𝙗𝙖𝙗 𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣 𝙞𝙢𝙖𝙣
𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙜𝙚𝙡𝙖𝙥
𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙟𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙡𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙖.

𝗟𝗘𝗡TE𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗡𝗝𝗔: Jantung pisang

 





Di dapur yang kita sepelekan,
jantung pisang bekerja tanpa sorak.
Kaya serat, vitamin, dan mineral—
ia menjaga jantung,
menurunkan tekanan dan kolesterol,
melancarkan perut yang letih,
menjinakkan gula darah,
mengangkat mood lewat magnesium,
mendampingi diet tanpa siksaan,
menguatkan ibu lewat ASI,
menambal darah yang bocor,
menenangkan tubuh saat haid gaduh.

Yang sederhana ternyata menyelamatkan.
Yang murah sering paling berharga.

🔥 𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗨 𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗞𝗘𝗠𝗜𝗦𝗞𝗜𝗡𝗔𝗡!

🔥 𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗠𝗜𝗟𝗜𝗞𝗜 𝗞𝗘𝗞𝗔𝗬𝗔𝗔𝗡!

𝗟𝗘𝗡𝗧𝗘𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗡𝗝𝗔: Kita anak bangsa




Kita lahir sebagai anak semua bangsa,

di zaman cepat yang tak memberi ampun pada mereka yang ragu dan diam.


Sekali layar berkembang,

pantang mundur ke belakang.

Karena hidup bukan museum kenangan,

ia adalah medan tempur harapan.


Hari ini harus lebih baik dari kemarin,

bukan karena nasib berubah,

tetapi karena tekad dipaksa dewasa.


🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!


Miskin bukan sekadar tak punya uang,

tapi saat pikiran menyerah,

saat usaha berhenti,

saat mimpi dikubur sebelum tumbuh.


🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!


Kekayaan adalah ketika

iman tetap tegak,

ikhtiar tak putus,

dan syukur tidak hilang

meski hidup belum ramah.


Selamat beraktivitas.

Jadikan hari ini bermakna,

tetap bersyukur,

dan berani baha

gia

di tengah dunia yang bising.

𝗟𝗘𝗡𝗧𝗘𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗡𝗝𝗔 : 𝘛𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘒𝘦𝘨𝘦𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢




Bangunlah sebelum matahari sempat malas,

sebab bangsa besar tidak lahir dari selimut yang nyaman.


Pagi adalah janji—

siapa yang bangun awal,

sedang menyalip nasibnya sendiri.


Makanlah yang bergizi dan seimbang,

karena mimpi tidak bisa tumbuh

di tubuh yang diabaikan.

Isi piringmu dengan kesadaran,

bukan sekadar kenyang yang lalai.


Gerakkan badanmu,

keringat adalah doa diam-diam

agar hidup tak kaku,

agar semangat tidak karatan

oleh rebahan tanpa tujuan.


Tambah ilmumu,

karena dunia hari ini kejam pada yang malas berpikir.

Gawai bisa membuatmu terkenal,

tetapi ilmu membuatmu bernilai.


Jangan lupa bersujud,

sebab setinggi apa pun kau berdiri,

ada Tuhan yang harus kau ingat

agar hidupmu tidak sombong dan sesat arah.


Hiduplah bermasyarakat,

karena manusia bukan pulau.

Yang hanya memikirkan diri

akan karam di lautan ego.


Tidurlah cepat di malam hari,

bukan kalah oleh layar,

bukan tumbang oleh scroll tak berujung.

Esok hari menunggu orang-orang yang siap.


𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐔 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐌𝐈𝐒𝐊𝐈𝐍𝐀𝐍!


miskin disiplin,

miskin mimpi,

miskin keberanian untuk berubah.


🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐓𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐊𝐄𝐊𝐀𝐘𝐀𝐀𝐍!


kekayaan akhlak,

kekayaan ilmu,

kekayaan karya

yang membuat namamu pantas dikenang.


Lentera senja tak datang untuk menghibur,

ia datang untuk menyadarkan:

hari ini masih ada,

selama kau mau bangkit dan berjalan.

Lentera senja: Dia tidak sendiri






 LENTERA SENJA


Dia tidak sendiri.

Jika malam datang terlalu cepat,

rembulan setia menunggu—

tak pernah ingkar pada gelap.


Jika dada terasa sempit,

ada api kecil di dalam jiwa

yang menolak padam,

itulah semangat yang belum menyerah.


Pagi selalu datang membawa senyum,

lewat wajah orang tua yang berdoa diam-diam,

keluarga yang tetap percaya,

teman yang hadir tanpa banyak tanya.

Mereka seperti matahari—

tidak selalu terlihat,

tapi selalu menyinari bumi.


Namun dengar baik-baik, wahai diri:

kemiskinan bukan sekadar tak punya harta,

ia adalah pikiran yang menyerah,

hati yang takut bermimpi,

dan jiwa yang berhenti berjuang.


𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!


Lebih berbahaya dari miskin adalah mati pelan-pelan

dalam rasa cukup yang palsu,

dalam malas yang dibenarkan,

dalam doa tanpa usaha.


𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!


Kekayaan bukan sekadar angka,

ia adalah keberanian untuk bangkit,

akal yang bekerja,

tangan yang bergerak,

dan hati yang bersih.


Dan jika semua terasa berat,

ingat—

ada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

yang tidak pernah tidur,

tidak pernah lalai,

dan tidak pernah salah menepati janji.


Maka mulai hari ini,

mulailah dengan BISMILLAH—

doa, usaha, dan ikhtiar.

Melangkah dengan iman,

berjalan dengan harapan,

dan menang dengan izin Tuhan

𝑱𝑨𝑵𝑮𝑨𝑵 𝑴𝑨𝑼 𝑯𝑰𝑫𝑼𝑷 𝑫𝑨𝑳𝑨𝑴 𝑲𝑬𝑴𝑰𝑺𝑲𝑰𝑵𝑨𝑵 𝑫𝑨𝑵 𝑱𝑨𝑵𝑮𝑨𝑵 𝑴𝑨𝑻𝑰 𝑺𝑬𝑩𝑬𝑳𝑼𝑴 𝑴𝑬𝑴𝑰𝑳𝑰𝑲𝑰 𝑲𝑬𝑲𝑨𝒀𝑨𝑨𝑵




𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯,

𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯.


𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯,

𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.


𝘓𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘸𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘨𝘪𝘢𝘯,

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘮𝘶 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘤𝘪𝘭𝘢𝘯.


𝘉𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯,

𝘏𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘬𝘰𝘬𝘰𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯.


𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘢𝘴 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘬𝘴𝘦𝘴𝘢𝘯,

𝘔𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘪𝘢𝘯.


𝘒𝘦𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯,

𝘒𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯.


𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯,

𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘧𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.


𝘒𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘢𝘯,

𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯.


𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘢𝘯,

𝘔𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱𝘢𝘯.


𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯,

𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯.


𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘴𝘢𝘯,

𝘈𝘨𝘢𝘳 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢, 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘰𝘵𝘢𝘯.


𝘛𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯,

𝘛𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢𝘢𝘯.


𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯,

𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯.


𝘈𝘬𝘳𝘦𝘴𝘰𝘱𝘪 𝘯𝘢 𝘯𝘨𝘯𝘨𝘢𝘯𝘳𝘦, 𝘈𝘯𝘫𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘮𝘮𝘢 𝘢𝘵𝘢' 𝘢𝘯𝘨𝘯𝘨𝘢𝘯𝘳𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘦𝘯𝘨, 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢" 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘳𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘥𝘢𝘬, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘶𝘢𝘯.