Rabu, 05 Agustus 2026

Anyakko' parangko' ri kokonnu na jamai pole galunnu.

 

Hari ini, kita kembali disuguhi sebuah peristiwa yang begitu menyayat hati.

Tak jarang kita melihat seseorang yang diduga mencuri barang bernilai kecil—entah seekor ayam, beberapa umbi singkong, atau sekadar sesuatu untuk menyambung hidup sehari—menjadi sasaran amarah massa. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan kejahatan yang merugikan masyarakat dalam skala jauh lebih besar, seperti korupsi, respons yang kita lihat sering kali terasa berbeda. Perbedaan ini patut menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Setiap kali foto atau video anak ini muncul di hadapan kita, dada terasa sesak. Terlebih saat terdengar suara kecil itu memanggil,

"Bapak... bapak..."

Suara sederhana itu mampu meruntuhkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Mencuri memang salah. Namun, negara memiliki hukum untuk mengadili setiap pelanggaran. Tidak ada kesalahan yang seharusnya dibalas dengan kemarahan yang merenggut nyawa.

Di balik peristiwa ini, ada anak-anak yang kehilangan sosok ayah. Ada keluarga yang harus menjalani hidup dengan luka yang mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.

Satu nyawa yang hilang bukan hanya mengakhiri kehidupan seseorang, tetapi juga menghancurkan harapan sebuah keluarga. Ada anak yang akan terus memanggil, "Bapak...", meski tak akan pernah lagi mendapat jawaban.

Leluhur Makassar telah lama mengingatkan:

"Anyakko' parangko' ri kokonnu na jamai pole galunnu. Didi parennu, puppulanna tiboannu."

Arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia:

"Bersihkanlah rumput di kebunmu dan bajaklah sawahmu. Menguning padimu, panen pula kacang hijaumu."

Pesan ini mengajarkan agar kita mencari rezeki dengan kerja keras dan jalan yang halal. Namun, ketika ada yang terjatuh dalam kesalahan, biarlah hukum yang menegakkan keadilan, bukan amarah yang menghilangkan nyawa.

Semoga peristiwa seperti ini tidak terulang lagi. Semoga kita tetap menjunjung hukum, menjaga nurani, dan tidak membiarkan amarah mengalahkan rasa kemanusiaan. Sebab, ukuran sebuah masyarakat yang beradab bukan hanya bagaimana menghukum orang yang bersalah, tetapi juga bagaimana tetap memanusiakan sesama.


Tidak ada komentar: