Pesan Leluhur Manusia Makassar,
“𝗡𝗮𝗶𝗮 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻𝗻𝗮 𝘁𝗮𝘂 𝘁𝗼𝗮𝘆𝗮 𝗶𝘆𝗮𝗺𝗶𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗮𝗺𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸-𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴".
Jika diterjemahkan dari Bahasa Makassar ke dalam bahasa Indonesia:
“𝗞𝗘𝗛𝗔𝗡𝗖𝗨𝗥𝗔𝗡 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗗𝗘𝗪𝗔𝗦𝗔 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗟𝗔𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗧𝗔𝗨 𝗠𝗘𝗡𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧.”
PEMENANG TIDAK BERHENTI MELAWAN TAKDIR DAN ORANG YANG BERHENTI MELAWAN TAKDIR TIDAK PERNAH MENJADI PEMENANG
“𝗡𝗮𝗶𝗮 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻𝗻𝗮 𝘁𝗮𝘂 𝘁𝗼𝗮𝘆𝗮 𝗶𝘆𝗮𝗺𝗶𝗮𝗻𝘁𝘂 𝗮𝗺𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸-𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴".
Jika diterjemahkan dari Bahasa Makassar ke dalam bahasa Indonesia:
“𝗞𝗘𝗛𝗔𝗡𝗖𝗨𝗥𝗔𝗡 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗗𝗘𝗪𝗔𝗦𝗔 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗟𝗔𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗧𝗔𝗨 𝗠𝗘𝗡𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧.”
Potensi menjadi pengusaha ≠ otomatis sukses menjadi pengusaha.
Kalau ESES ingin mencapai level pengusaha yang benar-benar besar, menurut saya tantangan utamanya adalah mengubah ide dan motivasi menjadi sistem bisnis yang bisa berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada dirinya.
Ilmu memberi kemampuan.
Keberanian membuat seseorang mulai.
Konsistensi membuatnya bertahan.
Sistem membuat bisnisnya berkembang.
Tim membuatnya menjadi besar.
ESES BISA, dan secara karakter/gagasan dia memiliki beberapa modal dasar yang kuat. Tetapi ukuran kesuksesan akhirnya bukan seberapa bagus dia berbicara tentang entrepreneurship—melainkan seberapa besar nilai yang berhasil ia ciptakan, bisnis yang berhasil ia bangun, tim yang berhasil ia kembangkan, dan manfaat yang berhasil ia berikan.
Sebagai bagian dari pasangko puppusu, petani yang bekerja dengan alat sederhana untuk membersihkan rumput, kita belajar bahwa usaha tidak selalu dilakukan dalam keadaan mudah.
Usaha itu seperti memanen jagung di musim kemarau. Saat tanah kering dan hasil belum terlihat, banyak orang memilih berhenti. Namun, mereka yang tetap tekun akan terus bekerja, merawat tanaman, dan menjaga harapan hingga tiba waktunya menikmati hasil.
Sambil mengingat pesan leluhur manusia Makassar:
“Akkareso paki naki nganre.”
Artinya dari Bahasa Makassar kedalam bahasa Indonesia: “Kerja dulu, baru makan.”
Pesan ini menggambarkan bahwa hasil adalah buah dari usaha, bukan sesuatu yang datang tanpa perjuangan.
Jangan berhenti hanya karena keadaan sedang sulit. Musim boleh kering, tanah boleh keras, tetapi semangat untuk bekerja jangan ikut kering.
Salah satu bentuk merdeka yang terbaik
adalah “anjari mata je'ne, teai je'ne mata", terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, "jadilah mata air, bukan air mata". Dirgahayu Republik Indonesia 🇮🇩 ke-81 ! 17 Agustus 1945 — 17 Agustus 2026.
.
Menulislah, bismillah
Menulislah, agar tak punah.Menulislah, biar reda sedih.
Menulislah, saat tubuh lelah.
Menulislah, supaya tak kalah.
Menulislah, untuk hapus letih.
Menulislah, ketika hati gelisah.
Dan menulislah, meski dunia tak selalu ramah.