Minggu, 20 September 2026

Battuirawaki appaenteng

 


Pesan Leluhur Manusia Makassar

“Battuirawaki appaenteng”, terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia: “Dari bawah kita membangun.”


Obsesi membangun manusia seutuhnya tidak perlu terlalu besar dan tidak perlu terlalu muluk. Sangat bersyukur apabila kita mampu membangun keluarga kecil kita, tentunya mulai dari diri sendiri, istri, dan anak-anak; menata dan menjaga kelestarian halaman rumah, membersihkan tempat tidur, menjaga kebersihan WC, dan sebagainya.


Demikian juga bagi mereka yang mendapat amanah lebih besar, misalnya Ketua RT, Ketua RK, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/Wali Kota, Gubernur, Menteri, Presiden, ataupun sebagai owner dan founder, Direktur, bawahan, dan seterusnya. Hendaknya memulai perubahan dari hal-hal kecil sesuai dengan jabatan dan amanah yang diembannya.


Kalau begitu, tetaplah berbuat baik. Tidak ada hari tanpa perubahan dan tiada hari tanpa penyempurnaan, agar yang menjadi sorotan  hanyalah kebaikan.

Antama appa’ assulu lima

 



Usaha itu seperti memetik kacang gude, yang dalam bahasa Makassar disebut bintatoeng.


Ketika sudah mendapatkan hasil, kita patut bersyukur dan menjaganya dengan baik.


Pesan leluhur manusia Makassar juga mengajarkan:


“Antama appa’ assulu lima”,

terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia: “Masuk empat, keluar lima.”


Pesannya untuk kita yang ingin menjalani hidup dengan baik: jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Oleh karena itu, hemat adalah bagian dari menjaga hasil usaha.


Kalau begitu, mari kita tetap semangat:

berusaha untuk mendapatkan rezeki,

bersyukur atas hasilnya, hemat dalam menggunakannya, dan sabar jika belum tercapai suatu keinginan yang baik.


Karena setiap hasil membutuhkan usaha, dan setiap keinginan yang baik membutuhkan kesabaran.

Teako Pakei Punna Teai Bulubulunnu

 





Uwi atau ubi kelapa tidak langsung bisa dinikmati setelah ditanam. Ada proses yang harus dilalui: menanam, merawat, menunggu, menggali, membersihkan, lalu memasaknya.


Begitu juga dengan usaha. Hasil membutuhkan proses, waktu, kesabaran, ikhtiar, dan doa.


Jangan terburu-buru ingin menikmati hasil sebelum waktunya. Jalani proses dengan apa yang kita punya dan nikmati hasil dari usaha kita sendiri.


Seperti pesan leluhur manusia Makassar:


ᨈᨙᨕᨀᨚ ᨄᨀᨙᨕᨗ ᨄᨘᨊ ᨈᨙᨕᨕᨗ ᨅᨘᨒᨘᨅᨘᨒᨘᨊᨘ


“Teako Pakei Punna Teai Bulubulunnu.”


Terjemahan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia


“Janganlah memakai kalau bukan bulumu.”


Ada waktunya menanam, ada waktunya merawat, dan ada waktunya menikmati hasil.


Jalani prosesnya, sabar menunggu waktunya, dan syukuri hasilnya.