𝗕𝗘𝗗𝗔 𝗖𝗔𝗥𝗔, 𝗕𝗘𝗗𝗔 𝗛𝗔𝗦𝗜𝗟.
𝗦𝗔𝗠𝗔 𝗖𝗔𝗥𝗔, 𝗦𝗔𝗠𝗔 𝗛𝗔𝗦𝗜𝗟.
PEMENANG TIDAK BERHENTI MELAWAN TAKDIR DAN ORANG YANG BERHENTI MELAWAN TAKDIR TIDAK PERNAH MENJADI PEMENANG
Ramadhan hampir tiba,
tapi hatimu… sudah siap atau hanya status saja yang berubah?
Jaga badanmu dari lemah,
jaga hatimu dari amarah,
jaga imanmu dari kalah.
Jangan sibuk mengejar dunia,
tapi lupa mengejar ridha-Nya.
🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐔 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐌𝐈𝐒𝐊𝐈𝐍𝐀𝐍!
Miskin harta masih bisa dicari,
tapi miskin iman… gelapnya sampai mati.
🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐓𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐊𝐄𝐊𝐀𝐘𝐀𝐀𝐍!
Kaya bukan soal angka di rekening,
tapi kaya amal sebelum dipanggil pulang.
🔥 Pesan Leluhur Manusia Makassar
“Assala’ erojaki anjama,
tena nia takkulle punna erona Allah Ta’ala.”
📖 Terjemahan (Dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia):
Asalkan mau bekerja,
tidak ada yang tidak bisa jika itu adalah kehendak Allah Ta’ala.
Kalimat ini hidup dalam jiwa masyarakat Makassar di Sulawesi Selatan.
Maknanya tegas:
✔ Mau bekerja adalah syarat utama.
✔ Kesungguhan adalah kunci.
✔ Keberhasilan adalah izin dari Allah.
Kata “punna” (jika) menegaskan bahwa segala kemungkinan terbuka,
selama itu menjadi kehendak Allah Ta’ala.
Artinya, manusia tidak boleh malas.
Tidak boleh menyerah sebelum mencoba.
Tidak boleh takut pada keadaan.
Karena dalam pandangan leluhur Makassar:
👉 Rezeki tidak datang pada yang diam.
👉 Keberhasilan tidak menghampiri yang ragu.
👉 Kemuliaan hanya untuk yang mau berjuang.
🔥 Kerja adalah ikhtiar.
🤲 Doa adalah kekuatan.
✨ Tawakkal adalah penyerahan total.
Selama mau anjama (bekerja),
tidak ada yang mustahil jika Allah telah berkehendak.
🔥 ORANG MAKASSAR ITU...
Orang Makassar itu pemberani.
Slogannya tegas:
“Kualleangi Tallanga Na Towalia.”
Aku pilih karam daripada surut.
Bagi orang Makassar, mundur bukan pilihan.
Lebih baik tenggelam bermartabat, daripada hidup tanpa harga diri.
Tapi keberanian itu kadang membuatnya nekat.
“Eja Tong Pi Na Doang.”
Baru disebut udang jika sudah merah.
Artinya?
Belum lengkap sebelum benar-benar matang.
Belum selesai sebelum benar-benar tuntas.
Sekali jalan — harus total.
Namun jangan salah…
Orang Makassar juga tahu balas budi.
“Rampea’ Golla Na Ku Rampeko Kaluku.”
Kau beri aku gula, kubalas dengan kelapa.
Kebaikan tidak pernah hilang dalam ingatan.
Sekecil apa pun yang kau tanam, akan tumbuh dalam bentuk yang lebih besar.
Orang Makassar juga bijak dalam melangkah.
“Tutuko A’lepa-lepa, A’biseang Rate Bonto. Tallangko Sallang Nana Sakkokko Alimbu’bu’.”
Hati-hati mengayuh perahu kehidupan.
Sebab jika engkau karam, akibatnya tak sederhana.
Berani bukan berarti ceroboh.
Tegas bukan berarti gegabah.
Orang Makassar menjunjung tinggi nilai
“Appa’nia’ Siri’ na Pacce.”
Siri’ — rasa malu menjaga kehormatan.
Pacce — empati yang membuat hati ikut terluka melihat penderitaan orang lain.
Inilah yang membuatnya keras tapi berhati lembut. Tegas tapi penuh solidaritas.
Orang Makassar juga kuat menerima kenyataan.
“Le’ba’ Gangga Na Paria.”
Sudah perih, pahit lagi.
Hidup kadang tidak adil.
Tapi mengeluh bukan tradisi.
Yang pahit ditelan, yang berat dipikul.
Dan ketulusannya luar biasa.
“Punna Tena Bajikku, Kodiku Seng U’rangi.”
Kalau tak ada kebaikanku, kenang saja keburukanku.
Ada kerendahan hati di situ.
Ada jiwa besar di dalamnya.
Dan terakhir… tentang keikhlasan.
“Sareang Ngaseng Ma’ Inakke Kodia, Alle Ngaseng Mi Ikau Bajika.”
arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia,
Yang buruk biar untukku, yang baik semua untukmu.
Inilah jiwa pengorbanan.
Inilah semangat persaudaraan.
Inilah karakter yang tumbuh dalam budaya Makassar.
Orang Makassar bukan hanya keras.
- Ia berani.
- Ia tahu balas budi.
- Ia bijak.
- Ia empatik.
- Ia kuat.
- Ia tulus.
- Ia ikhlas.
Itulah identitas yang diwariskan turun-temurun. 🔥
🔥 Orang Makassar itu pemberani. Slogannya tegas:
“Kualleangi Tallanga Na Towalia.”, arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, Aku pilih karam daripada surut.
Bagi orang Makassar, mundur bukan pilihan. Lebih baik tenggelam bermartabat, daripada hidup tanpa harga diri.
Tapi keberanian itu kadang membuatnya nekat.
Akibatnya orang Makassar sering nekat, EJA TONG PI NA DOANG (baru disebut udang jika sudah berwarna merah).
Tapi orang Makassar juga toleran dan pantang berutang budi, RAMPEA' GOLLA NA KU RAMPEKO KALUKU (kau beri aku gula, maka saya akan berikan kelapa yang dalam artian jika engkau memberi aku kebaikan, maka akupun akan memberikan kebaikan yang sapatutnya).
Orang Makassar juga bijak lestari, TUTUKO A'LEPA-LEPA, A'BISEANG RATE BONTO. TALLANGKO SALLANG NANA SAKKOKKO ALIMBU'BU' (hati-hati dalam memgarungi kehidupan, karena jika kamu kenapa-napa maka akibatnya tidak sederhana).
Orang Makassar itu tinggi rasa empatinya, APPA'NIA' SIRI' NA PACCE, (punya rasa malu dan rasa iba).
Orang Makassar juga mau menerima kenyataan pahit, LE'BA' GANGGA NA PARIA (sudah perih pahit lagi).
Orang Makassar pun sangat tulus, PUNNA TENA BAJIKKU, KODIKU SENG U'RANGI (jika aku tidak punya kebaikan, keburukkanku sajalah yang kamu kenang).
And the last but not least, ... orang Makassar juga sangat ikhlas, SAREANG NGASENG MA' INAKKE KODIA, ALLE NGASENG MI IKAU BAJIKA (yang buruk biarkan untuk aku, yang baik untuk kamu saja semuanya).
"Katutui siri'ta nasaba sirikami antu ampanassa tauki,
Punna tappelamo sirika olok - olok mami sabbutta"
( Jaga hargadiri dan rasa malu sebab itu adalah pembeda antara manusia dan binatang )
"TUTUKI' RI KANA KANA"
( Menjaga setiap perkataan )
"LAMBUSUKKI' RI KONTU TOJENG"
( Lurus dan bersungguh-sungguh )
"PUNNA TEDONG POTOKNA NI TAGGALA' PUNNA TAU KANANNA DI TAGGALA'"
( Jika kerbau talinya yang di pegang sedangkan manusia yang dipegang adalah ucapannya )
Kehadiran saat menjenguk orang sakit adalah bagian dari silaturahmi keluarga. Di sinilah nilai siri’ na pacce hidup dan terasa nyata.
Siri’ mengajarkan kita menjaga harga diri dan kehormatan keluarga. Pacce mengajarkan kita ikut merasakan penderitaan, hadir bukan sekadar formalitas—tapi sebagai wujud empati dan kepedulian.
Dalam satu momen di Tanah Luwu, di Rumah Sakit Mega Buana, Kota Palopo, kita belajar bahwa kebersamaan tidak diukur dari lamanya waktu, tetapi dari ketulusan langkah yang datang menjenguk.
Karena dalam budaya kita sebagai Manusia Makassar, hadir itu bukan sekadar datang—
tapi tanda bahwa kita tidak membiarkan keluarga berjuang sendirian.
“Baji’ maki kabajiki, kodi’mi kakodiki.”
Arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia:
“Orang akan berbuat baik kepadamu jika kamu juga berbuat baik. Orang akan berlaku buruk jika kamu berlaku buruk.”
Atau maknanya kurang lebih seperti ini, bukan sekadar menyalahkan orang lain, tapi menegaskan bahwa sikap kita sering menjadi cermin bagi perlakuan orang terhadap kita.
🔥 Kebaikan Itu Bukan Soal Terlihat Sibuk, Tapi Soal Sistem Hati. Berhenti Jadi “Pampidokang” dalam Hidup!
Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sering diukur dari:
✔ Sering membantu
✔ Sering menasihati
✔ Sering ikut campur
✔ Sering terlihat peduli
Tapi ada satu pertanyaan yang lebih jujur:
👉 Kalau kamu tidak ada, apakah kebaikan tetap berjalan?
Apakah anak tetap disiplin?
Apakah keluarga tetap saling menghargai?
Apakah tim tetap jujur dan amanah?
✅ Kalau iya, berarti kamu sedang membangun nilai, bukan sekadar hadir.
❌ Kalau tidak? Semua bergantung pada omelanmu, perintahmu, atau kontrolmu.
Masalahnya biasanya dua:
1️⃣ Terlalu ingin mengatur semua
2️⃣ Tidak memberi ruang orang lain bertumbuh
Kebaikan sejati bukan mengontrol, tapi menanamkan.
Bukan memerintah terus, tapi membangun kesadaran.
Jangan jadi “pampidokang” dalam kehidupan .
"Pappidokang", jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia,
orang yang terlalu ikut campur tapi lupa membangun sistem nilai".
💡 Jadilah arsitek karakter.
1. Bangun kebiasaan baik.
2. Tanamkan tanggung jawab.
3. Biarkan orang tumbuh.
Karena kebaikan yang matang adalah
kebaikan yang tetap hidup — bahkan saat kamu tidak ada. 🔥
🔥 Sukses Jualan di PT Percetakan Itu Bukan Soal Paling Sibuk Follow Up, Tapi Soal Sistem Sales. Berhenti Jadi Pampidokang di Penjualan!
Di bisnis percetakan, sales sering diukur dari:
✔ Banyak chat masuk
✔ Banyak follow up
✔ Banyak meeting
✔ Banyak deal
Tapi ada satu pertanyaan yang lebih jujur:
👉 Kalau Anda tidak pegang HP 3–5 hari, apa yang terjadi?
1. Lead tetap masuk?
2. Follow up tetap jalan?
3. Penawaran tetap terkirim?
4. Closing tetap terjadi?
✅ Kalau iya, selamat. Anda sedang membangun mesin penjualan.
❌ Kalau tidak? Semua macet, admin bingung harga, sales tunggu arahan, customer lari ke kompetitor…
Berarti Anda masih jadi sales tunggal, bukan pemilik sistem sales.
Masalah Utama Biasanya Ada di Dua Hal:
1️⃣ Semua Closing Harus Lewat Owner
Harga harus tanya Anda.
Diskon harus izin Anda.
Komplain harus Anda jawab.
Akhirnya?
Anda sibuk seharian, tapi omzet stagnan.
2️⃣ Tim Sales Tidak Diberi Framework
Sales cuma disuruh “cari order”.
Tapi tidak diberi:
Script penawaran
Batas diskon
Template follow up
Target konversi
Database pelanggan
Tim jadi tergantung, bukan berkembang.
Dalam Dunia Sales Modern
Level tertinggi bukan “jualan sendiri paling jago”, tapi membangun SISTEM PENJUALAN YANG BISA DIGANDAKAN.
Artinya:
✔ Ada database pelanggan yang rapi
✔ Ada SOP follow up (H+1, H+3, H+7)
✔ Ada batas diskon & margin jelas
✔ Ada template penawaran profesional
✔ Ada target & KPI terukur
✔ Ada sistem repeat order & upselling
Delegasi di Sales Percetakan Itu Seperti Apa?
✔ Sales tahu batas diskon tanpa telepon owner
✔ Admin bisa kirim quotation dengan format standar
✔ CS bisa jawab 80% pertanyaan tanpa eskalasi
✔ Sales punya target mingguan & evaluasi rutin
✔ Ada pipeline: Lead → Offer → Negotiation → Closing → Repeat
Delegasi itu bukan lepas tangan.
Delegasi itu memberi otoritas + angka + standar yang jelas.
Jangan Jadi Pampidokang di Penjualan
"Pappidokang", jika diterjemahkan ke dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, "orang terlalu ikut campur".
Pemimpin yang pampidokang itu:
1. Semua chat harus dia balas
2. Semua harga harus dia tentukan
3. Semua negosiasi harus dia turun
4. Tidak percaya tim bisa closing
Padahal…
💡 Sales yang kuat bukan tergantung pada satu orang,
tapi pada sistem yang bisa dijalankan siapa pun.
🔥 Owner percetakan modern bukan yang paling cepat balas chat,
tapi yang punya mesin sales yang bekerja setiap hari.
Karena bisnis yang sehat itu:
1. Lead tetap masuk tanpa Anda.
2. Tim tetap closing tanpa Anda.
3. Repeat order tetap terjadi tanpa Anda.
4. Dan Anda bisa fokus ke strategi, bukan drama operasional.
Naikkan level dari “sales terbaik” menjadi “arsitek sistem penjualan”.
Karena omzet besar bukan lahir dari kerja keras semata,
tapi dari sistem yang bisa digandakan.
🔥 Sukses Memimpin PT Percetakan Itu Bukan Soal Sibuk di Lantai Produksi, Tapi Soal Sistem. Berhenti Jadi Pampidokang!
Di bisnis percetakan, kesuksesan sering diukur dari:
✔ Orderan ramai
✔ Mesin jalan nonstop
✔ Deadline aman
✔ Customer puas
Tapi ada satu pertanyaan yang lebih jujur:
👉 Kalau Anda tidak masuk 3–5 hari, apa yang terjadi?
1. Produksi tetap jalan?
2. Desain tetap on progress?
3. QC (Quality Control) tetap ketat?
4. Pengiriman tetap tepat waktu?
✅ Kalau iya, selamat. Anda sedang membangun perusahaan, bukan sekadar tempat kerja yang bergantung pada Anda.
❌ Kalau tidak? HP berdering terus, operator tunggu instruksi, desainer bingung approve, admin takut ambil keputusan…
Berarti Anda masih jadi “operator utama”, bukan pemimpin sistem.
Masalah Utamanya Biasanya Ada di Dua Hal:
1️⃣ Gagal Mendelegasikan
- Semua approval harus lewat Anda.
- Harga harus Anda tentukan.
- Komplain harus Anda jawab sendiri.
- Akhirnya bisnis tumbuh, tapi Anda tidak pernah benar-benar naik level.
2️⃣ Tidak Mendewasakan Tim
- Tim hanya disuruh kerja, tapi tidak diberi ruang berpikir.
- Operator hanya disuruh cetak, bukan diajarkan standar kualitas.
- Admin hanya input data, bukan dilatih problem solving.
- Dalam Dunia Manajemen Modern
- Level kepemimpinan tertinggi adalah Delegating.
- Kontrol tidak lagi mikro,
Tapi hasil tetap maksimal.
Artinya:
- SOP jelas
- Alur produksi rapi
- Quality Control punya standar baku
- Desainer punya guideline brand
- Admin paham skema harga & margin
- Supervisor berani ambil keputusan
Delegasi di PT Percetakan Itu Seperti Apa?
✔ Kepala produksi berani stop mesin jika hasil tidak standar
✔ Tim desain bisa approve revisi minor tanpa tunggu owner
✔ Admin bisa handle komplain ringan dengan solusi cepat
✔ Sales paham batas diskon tanpa harus telepon atasan
Delegasi itu bukan lepas tangan.
Delegasi itu memberi otoritas + tanggung jawab + standar yang jelas.
Jangan Jadi “Pampidokang” di Perusahaan Sendiri.
"Pappidokang", jika diterjemahkan dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, "orang terlalu ikut campur".
Dalam konteks bisnis, pampidokang adalah pemimpin yang:
1. Semua harus dia yang pegang file
2. Semua harus dia yang tanda tangan
3. Semua harus dia yang kontrol
4. Tidak percaya pada sistem
Padahal…
💡 Pemimpin PT percetakan yang modern bukan yang paling sibuk di lantai produksi,
tapi yang paling kuat sistemnya.
Karena bisnis yang sehat itu: Mesin bisa jalan tanpa Anda.
Tim bisa berpikir tanpa Anda.
Perusahaan tetap untung tanpa Anda harus stres setiap hari.
🔥 Naikkan level dari “tukang cetak” menjadi “arsitek sistem”.
Karena kepemimpinan sejati bukan tentang terlihat paling kerja keras, tapi tentang membangun perusahaan yang tetap kuat — bahkan saat Anda tidak di tempat.
🔥 Sukses Jadi Pemimpin Itu Bukan Soal Sibuk, Tapi Soal Sistem
Bicara soal kesuksesan pemimpin itu luas: target tercapai, tim perform, kultur berubah. Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang lebih jujur:
👉 Kalau kamu tidak masuk kantor beberapa hari, apa yang terjadi?
Tim tetap jalan, target tembus, semua rapi?
✅ Selamat, kamu sedang membangun kepemimpinan yang matang.
Atau kamu deg-degan, HP berdering terus, tim bingung ambil keputusan?
❌ Itu tanda kamu belum benar-benar memimpin.
Pemimpin sukses itu bisa tidur nyenyak dan libur tenang, karena sistem dan timnya sudah dewasa.
Masalah Utamanya Apa?
Biasanya ada di dua hal:
1. Gagal mendelegasikan.
2. Tidak mendewasakan tim.
Dalam Teori Situasional Leadership (Hersey–Blanchard), level tertinggi kepemimpinan adalah delegating — ketika kontrol minim, tapi hasil tetap maksimal.
Delegasi Itu Apa?
- Memberi otoritas.
- Memberi kepercayaan.
- Memberi ruang orang lain bertanggung jawab.
Semakin kamu bisa delegasi dengan tepat, semakin efektif kamu sebagai pemimpin.
Jangan Jadi “Pampidokang”
Dalam bahasa Makassar jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, pampidokang itu orang yang terlalu ikut campur.
Dalam manajemen, ini tipe pemimpin yang:
1. Semua mau diurus sendiri.
2. Tidak percaya tim.
3. Ingin terlihat paling hebat.
Padahal, itu bukan tanda kuat — tapi tanda kurang percaya diri.
💡 Pemimpin sejati bukan yang mengerjakan semuanya, tapi yang membuat semua orang bisa mengerjakan bagiannya dengan baik.
Karena kepemimpinan itu bukan tentang jadi pusat segalanya,
tapi tentang membangun sistem yang tetap hidup meski kamu tidak di tempat.
Aku belajar dari jagung,
ia tumbuh lurus—
tak sibuk bercabang mimpi.
Akar ditanam dalam-dalam,
diam,
tapi kuat menahan lapar dan angin.
Ia tidak mengeluh pada musim,
hanya fokus bertumbuh
sampai tiba waktunya memberi.
Jagung tahu satu hal:
hidup terlalu singkat
untuk ragu dan malas.
🔥 Jangan mau hidup dalam kemiskinan!
Karena miskin tekad
lebih mematikan dari miskin harta.
🔥 Jangan mati sebelum memiliki kekayaan!
Sebab mati tanpa makna
adalah gagal panen sebelum masak.
ᨑᨙᨔᨚᨄ ᨔᨗᨕᨁᨀᨛ ᨈᨚᨅᨘᨀᨛ ᨑᨗ ᨀᨑᨕᨙᨂ
ᨊᨒᨙᨈᨙᨗ ᨄᨍᨁᨛᨁᨆᨔᨙᨕᨀᨛ
"Resopa siagang tambung ri Karaenga
naletei pangngamaseang"
,Arti dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia,
"Hanya dengan semangat kerja yang tinggi disertai niat ikhlas kepada Tuhan membuahkan keberhasilan".
Mengapa pepatah Bahasa Makassar Jik diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia ini mengatakan "Berperahu di atas tanah?"
Di syair tua ini kita diingatkan agar berhati-hati berperahu tapi mengapa di atas tanah? Mengapa pula tenggelam dan tersedak debu?
Tafsiran sederhananya adalah hidup ini tak lain adalah pelayaran panjang (kehidupan yang dilalui penuh tantangan, cobaan, penantian, dan perjuangan layaknya sebuah pelayaran, serta memiliki tujuan). Kita dituntut menjadi pelaut ulung (orang yang sukses, sejahtera, berhasil). Pelaut yang gagal akan tenggelam dan binasa oleh tipu daya dan gemerlap dunia.
𝐊𝐚𝐦𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐤𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐝𝐚𝐤,
𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐞𝐬𝐨𝐤 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐚𝐝𝐚.
𝐓𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐭𝐨𝐫 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐡,
𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐡𝐚𝐫𝐚𝐩𝐚𝐧.
𝐒𝐚𝐚𝐭 𝐡𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡,
𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐭𝐚𝐤 𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐫𝐞𝐛𝐚𝐡.
𝐒𝐚𝐚𝐭 𝐩𝐮𝐩𝐮𝐤 𝐦𝐚𝐡𝐚𝐥,
𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐭𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡.
𝐂𝐚𝐛𝐚𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐚𝐤𝐬𝐢,
𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐩𝐮𝐧
𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧,
𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛 —
𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐰𝐚𝐧.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧,
𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐝𝐮𝐥𝐮
𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐧𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥.
𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐊𝐚𝐦𝐢𝐬 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬.
𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥,
𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐢𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐛𝐚𝐬𝐢.
𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢
𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢𝐧 —
𝐤𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠.
𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 —
𝐤𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐚𝐦-𝐝𝐢𝐚𝐦 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐠𝐢.
𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤 —
𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛,
𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐧.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧,
𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐧-𝐩𝐞𝐥𝐚𝐧,
𝐬𝐞𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬.
Sabar dan ikhlas itu bagian dari iman. Tapi pasrah membisu saat dizalimi bukan ajaran.
Benar, kita hanya berusaha. Allah penentu segalanya. Tapi jangan jadikan takdir
sebagai tameng ketidakadilan.
Daun jatuh memang karena kehendak Allah. Tapi harga jatuh? Sering karena salah kelola, kebijakan tak berpihak, dan suara rakyat yang sengaja dibungkam.
Takdir Allah itu suci. Jangan dicemari oleh kelalaian dan kepentingan manusia.
Berdo'a itu wajib. Berusaha itu perintah. Menegakkan keadilan itu kewajiban.
Allah tidak menurunkan masalah. lalu menyuruh kita diam. Allah menurunkan akal, nurani,
dan keberanian untuk meluruskan yang timpang.
Ikhlas—ya. Diam terhadap ketidakadilan—
Tidak. 🔥.
Leluhur Makassar selalu ingat kan,
👇
“Akkareso kamma ata’, anganreko kamma Karaeng.”
Artinya:
👉 Bekerjalah seperti rakyat jelata—rendah hati, total, tanpa banyak tuntutan.
👉 Tapi hiduplah (makanlah) seperti Karaeng—bermartabat, pantas, dan terhormat.
Maknanya kurang lebih seperti ini:
Kerja: jangan manja, jangan pilih-pilih, jangan merasa tinggi. Kerja harus keras, jujur, dan ikhlas.
Hasil: jangan takut hidup layak. Keringat yang halal wajib berbuah kesejahteraan dan kehormatan.
Harga jagung anjlok. Rakyat disuruh ikhlas.
Impor dibuka lebar, mulut petani dipaku sunyi.
Kami menanam dengan do'a dan keringat,
kalian memanen dengan tanda tangan.
Saat panen tiba, harga dibunuh atas nama “stabilitas”.
🔥 Petani jangan mau hidup dalam kemiskinan! Jika petani miskin di negeri agraris, itu bukan bencana alam—itu kejahatan kebijakan.
🔥 Petani jangan mati tanpa kekayaan! Di negeri ini, petani dianggap penting lima menit sebelum pemilu, lalu dilupakan seumur hidup setelahnya.
𝐂𝐚𝐛𝐞 𝐭𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐛𝐮𝐫
𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭.
𝐃𝐚𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠,
𝐛𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤,
𝐝𝐢𝐬𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐢𝐭—
𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐚𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡,
𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧.
𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐝𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐚𝐧.
𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐚𝐮 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡,
𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐬𝐢𝐛 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡—
𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!
Kita kejar dunia sampai lelah,
tapi lalai mengejar Allah.
Takut miskin di bumi,
tapi santai miskin di akhirat.
Masjid memanggil,
hati menolak.
Jangan hidup miskin pahala,
dan jangan mati
sebelum benar-benar kaya di sisi-Nya.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘴𝘪𝘣
𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩.
𝘋𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯
𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩.
𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪,
𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬.
𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩,
𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢
𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!
𝐏𝐄𝐒𝐀𝐍 𝐋𝐄𝐋𝐔𝐇𝐔𝐑 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐀𝐊𝐀𝐒𝐒𝐀𝐑
❝ Manna ni bissai je’ne si tamparang,
baji kodina punna bija, bija tonji.
Manna baji tau maraenga,
baji tau maraeng tonji. ❞
Maknanya dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia:
Walaupun dicuci selaut, baik–buruk keluarga tetaplah keluarga.
Dan walaupun sebaik apa pun orang lain, ia tetap orang lain.
Karena itu, berbuat baiklah kepada siapa pun,
sebab kebaikan pada orang lain adalah cermin diri kita sendiri.
Jika dalam diri ada pale kodi bija pammanakkanta — niat yang tak lurus, hati yang kotor — maka yang lahir bukan kemuliaan,
melainkan pacce: rasa perih yang suatu hari kembali ke diri sendiri.
Tidak semua yang terlihat baik memiliki siri’ na pacce. Sebab baji’ bisa dibuat-buat, tetapi pacce lahir dari hati yang hidup.
Pengingat untuk Diri Kita. Jika hari ini kita diberi:
1. pangkat
2. harta
3. kegagahan atau kecantikan
4. kecerdasan
5. kebaikan
6. keshalehan
7. atau gelar apa pun
ingatlah:
semuanya hanya titipan dari Allah.
Orang Makassar menyebutnya:
“𝑅𝑎𝑘𝑖-𝑟𝑎𝑘𝑖 𝑟𝑎𝑘𝑘𝑖.”
Ibarat daki yang menempel di badan—ia tidak menambah harga diri, tidak menguatkan martabat, dan tidak membuat manusia lebih mulia.
Bahkan bila disertai kesombongan, ia justru mengotori jiwa dan melukai hati orang lain.
Yang memuliakan manusia bukan apa yang melekat di luar dirinya, melainkan cara menjaga hati, sikap, dan siri’ na pacce dalam hidupnya.
Tetaplah berbuat baik agar jadi sorotan
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!
Jual Payung Lipat Mini
Beli sekarang
Kamu kehujanan,
bukan karena hujan terlalu deras—
tapi karena kamu
terlalu sering menunda keputusan kecil.
🔥 Jangan mau hidup dalam kemiskinan!
Karena hidup rusak bukan oleh badai besar,
tapi oleh hal sederhana
yang kamu anggap remeh.
🔥 Jangan mati sebelum memiliki kekayaan!
Orang gagal bukan karena tak punya uang,
tapi karena selalu berkata: nanti.
Hari berganti,
tapi diri jangan diam di tempat yang sama.
Kemarin lelah,
hari ini harus lebih kuat.
Jika hidupmu tak bertumbuh,
pelan-pelan kau sedang kehilangan arah.
Bukan takdir yang membuatmu miskin,
tapi kebiasaan menunda perubahan.
Bukan usia yang membunuh mimpi,
tapi rasa puas sebelum waktunya.
Bangun.Belajar. Bergerak.
Karena hidup bukan sekadar bertahan,
tapi tentang naik kelas setiap hari.
🔥 Jangan mau hidup dalam kemiskinan mental.
🔥 Jangan mati sebelum kekayaan makna dan ikhtiar kau miliki.
Sadar sebagai anak desa yang terbuang di kota perantauan, selalu ada ikhtiar untuk meneguhkan diri dengan satu kalimat sederhana “𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐄𝐖𝐀𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐓𝐈.”
Sebab hidup tidak selalu seromantis film Ada Apa Dengan Cinta. Perjuangan tidak selamanya seindah kisah dalam novel Kupinang Kau Dengan Bismillah. Dan keinginan tidak selalu lurus dan perkasa seperti kehebatan Superman yang sering terdengar di telinga.
Di kota perantauan, suka dan duka hadir bersamaan. Ada rindu yang tak pernah benar-benar pergi—rindu pada keluarga di kampung halaman.
Ada masa ketika diri ini dicuci air mata derita,
dipakaikan keringat dan darah juang, serta diwarnai jalan penuh duri yang kerap tampak buruk di mata banyak orang.
Sering kali kata-kata dianggap biasa saja,
bahkan tak jarang dinilai tak berfaedah.
Namun ketika seseorang telah sampai pada titik sukses dan bahagia, setiap kata yang pernah terucap berubah menjadi kebenaran
dan mulai diakui oleh banyak orang.
Bila kenyataan memang harus berjalan seperti ini, bukan berarti menyerah menjadi pilihan.
Bukan berarti langkah harus terhenti
sebelum sukses dan bahagia menemukan jalannya.
Mengapa demikian? Karena hati tak pernah berhenti berteriak—melarang larut dalam kesedihan, melarang diam dalam keputusasaan, dan melarang berhenti berusaha.
Walaupun sejuta ketidakpastian tentang sukses dan bahagia terus menghantui.
Walaupun situasi dan kondisi hidup terasa buntu, sunyi, sedih, dan sangat gelap.
Lalu apa sebenarnya modal dan rahasia para perantau sukses dan bahagia—sebagaimana dimiliki tokoh-tokoh besar dunia dan nasional yang berpengaruh—yang paling sulit dikalahkan oleh keadaan?
Jawabannya tentu bukan semata-mata soal uang. Melainkan niat yang diawali Bismillahirrahmanirrahim, do'a orang tua yang tak pernah putus, keberanian untuk melangkah,
pengetahuan dan keterampilan, sikap yang terjaga, semangat yang terus dipelihara, kejujuran dalam perilaku, kepedulian terhadap sesama, serta ketulusan untuk berbagi—meski dalam keterbatasan.
Ditambah kebiasaan bersikap adil, tidak mudah menyerah pada keadaan, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, ikhlas dalam ujian, bersyukur dalam setiap keadaan, tetap ceria meski lelah, percaya diri meski sederhana, tidak menyia-nyiakan waktu,
terus kreatif dan inovatif, berani tampil berbeda, memiliki jaringan pertemanan yang produktif, serta senantiasa mengandalkan pertolongan Allah SWT.
Intinya satu: yang membuat diri ini tetap bertahan di jalan yang baik adalah kekuatan iman dan keyakinan kepada Allah, serta ada harapan besar bahwa apa yang dapat diubah, diusahakan, dan disempurnakan hari ini harus lebih baik daripada kemarin.
𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣,
𝙩𝙞𝙖𝙙𝙖 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖𝙖𝙣.
𝑱𝒊𝒌𝒂 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒐𝒂𝒍𝒂𝒏,
𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒓𝒕𝒊 𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒆𝒔𝒂𝒊𝒂𝒏.
𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐞𝐭𝐚𝐤 𝐩𝐫𝐞𝐬𝐭𝐚𝐬𝐢,
𝐛𝐞𝐫𝐚𝐫𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐞𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢.
Dan esok harus lebih baik daripada hari ini—
sepasti matahari akan kembali terbit di ufuk pagi.
𝐒𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐝𝐞𝐬𝐚,
𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐬, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐠𝐞𝐧𝐬𝐢.
𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐡𝐢𝐧𝐚,
𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐢𝐧𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡.
𝐌𝐚𝐥𝐚𝐬 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧,
𝐝𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐭𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐢𝐚𝐩.
❝𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐭𝐚?❞
❝𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠?❞
𝐀𝐲𝐨 𝐤𝐞 𝐬𝐚𝐰𝐚𝐡, 𝐚𝐲𝐨 𝐤𝐞 𝐤𝐞𝐛𝐮𝐧,
𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐦𝐚𝐢.
𝐊𝐞𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐜𝐚𝐧𝐚,
𝐢𝐚 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚.
𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐩𝐚𝐧𝐞𝐧,
𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧.
𝐃𝐢𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐛𝐚𝐫,
𝐝𝐢𝐬𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐦𝐚𝐧.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!
🌱 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐛𝐮𝐫,
💪 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐚𝐭,
🔥 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤.
𝘿𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞
𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥:
𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖,
𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣,
𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝𝙖𝙣.
𝙃𝙪𝙟𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙖𝙜𝙞,
𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙬𝙖𝙗𝙣𝙮𝙖.
𝙅𝙖𝙜𝙪𝙣𝙜, 𝙥𝙖𝙙𝙞, 𝙘𝙖𝙗𝙚—
𝙩𝙖𝙠 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙤𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖,
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙖𝙬𝙖𝙩
𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙡𝙢𝙪.
𝙏𝙖𝙣𝙖𝙢 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙨𝙖𝙡,
𝙥𝙖𝙣𝙚𝙣 𝙥𝙪𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙖𝙡.
𝙍𝙖𝙬𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙩𝙞,
𝙡𝙖𝙮𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙞.
𝘽𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙞𝙢𝙖𝙣.
𝘽𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙩𝙖𝙠𝙬𝙖.
𝙏𝙖𝙠 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙙𝙞𝙪𝙘𝙖𝙥,
𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙩𝙪𝙩 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙜𝙖
𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙝𝙪𝙟𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙖𝙪
𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞.
𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙖𝙙𝙖,
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞.
🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐔 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐌𝐈𝐒𝐊𝐈𝐍𝐀𝐍!
🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐓𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐊𝐄𝐊𝐀𝐘𝐀𝐀𝐍!
𝙎𝙚𝙗𝙖𝙗 𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣 𝙞𝙢𝙖𝙣
𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙜𝙚𝙡𝙖𝙥
𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙟𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙡𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙖.
Di dapur yang kita sepelekan,
jantung pisang bekerja tanpa sorak.
Kaya serat, vitamin, dan mineral—
ia menjaga jantung,
menurunkan tekanan dan kolesterol,
melancarkan perut yang letih,
menjinakkan gula darah,
mengangkat mood lewat magnesium,
mendampingi diet tanpa siksaan,
menguatkan ibu lewat ASI,
menambal darah yang bocor,
menenangkan tubuh saat haid gaduh.
Yang sederhana ternyata menyelamatkan.
Yang murah sering paling berharga.
🔥 𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗨 𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗞𝗘𝗠𝗜𝗦𝗞𝗜𝗡𝗔𝗡!
🔥 𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗠𝗜𝗟𝗜𝗞𝗜 𝗞𝗘𝗞𝗔𝗬𝗔𝗔𝗡!
Kita lahir sebagai anak semua bangsa,
di zaman cepat yang tak memberi ampun pada mereka yang ragu dan diam.
Sekali layar berkembang,
pantang mundur ke belakang.
Karena hidup bukan museum kenangan,
ia adalah medan tempur harapan.
Hari ini harus lebih baik dari kemarin,
bukan karena nasib berubah,
tetapi karena tekad dipaksa dewasa.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
Miskin bukan sekadar tak punya uang,
tapi saat pikiran menyerah,
saat usaha berhenti,
saat mimpi dikubur sebelum tumbuh.
🔥 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!
Kekayaan adalah ketika
iman tetap tegak,
ikhtiar tak putus,
dan syukur tidak hilang
meski hidup belum ramah.
Selamat beraktivitas.
Jadikan hari ini bermakna,
tetap bersyukur,
dan berani baha
gia
di tengah dunia yang bising.
Bangunlah sebelum matahari sempat malas,
sebab bangsa besar tidak lahir dari selimut yang nyaman.
Pagi adalah janji—
siapa yang bangun awal,
sedang menyalip nasibnya sendiri.
Makanlah yang bergizi dan seimbang,
karena mimpi tidak bisa tumbuh
di tubuh yang diabaikan.
Isi piringmu dengan kesadaran,
bukan sekadar kenyang yang lalai.
Gerakkan badanmu,
keringat adalah doa diam-diam
agar hidup tak kaku,
agar semangat tidak karatan
oleh rebahan tanpa tujuan.
Tambah ilmumu,
karena dunia hari ini kejam pada yang malas berpikir.
Gawai bisa membuatmu terkenal,
tetapi ilmu membuatmu bernilai.
Jangan lupa bersujud,
sebab setinggi apa pun kau berdiri,
ada Tuhan yang harus kau ingat
agar hidupmu tidak sombong dan sesat arah.
Hiduplah bermasyarakat,
karena manusia bukan pulau.
Yang hanya memikirkan diri
akan karam di lautan ego.
Tidurlah cepat di malam hari,
bukan kalah oleh layar,
bukan tumbang oleh scroll tak berujung.
Esok hari menunggu orang-orang yang siap.
𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐔 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐊𝐄𝐌𝐈𝐒𝐊𝐈𝐍𝐀𝐍!
miskin disiplin,
miskin mimpi,
miskin keberanian untuk berubah.
🔥 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐓𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐊𝐄𝐊𝐀𝐘𝐀𝐀𝐍!
kekayaan akhlak,
kekayaan ilmu,
kekayaan karya
yang membuat namamu pantas dikenang.
Lentera senja tak datang untuk menghibur,
ia datang untuk menyadarkan:
hari ini masih ada,
selama kau mau bangkit dan berjalan.
Dia tidak sendiri.
Jika malam datang terlalu cepat,
rembulan setia menunggu—
tak pernah ingkar pada gelap.
Jika dada terasa sempit,
ada api kecil di dalam jiwa
yang menolak padam,
itulah semangat yang belum menyerah.
Pagi selalu datang membawa senyum,
lewat wajah orang tua yang berdoa diam-diam,
keluarga yang tetap percaya,
teman yang hadir tanpa banyak tanya.
Mereka seperti matahari—
tidak selalu terlihat,
tapi selalu menyinari bumi.
Namun dengar baik-baik, wahai diri:
kemiskinan bukan sekadar tak punya harta,
ia adalah pikiran yang menyerah,
hati yang takut bermimpi,
dan jiwa yang berhenti berjuang.
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐦𝐢𝐬𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧!
Lebih berbahaya dari miskin adalah mati pelan-pelan
dalam rasa cukup yang palsu,
dalam malas yang dibenarkan,
dalam doa tanpa usaha.
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧!
Kekayaan bukan sekadar angka,
ia adalah keberanian untuk bangkit,
akal yang bekerja,
tangan yang bergerak,
dan hati yang bersih.
Dan jika semua terasa berat,
ingat—
ada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
yang tidak pernah tidur,
tidak pernah lalai,
dan tidak pernah salah menepati janji.
Maka mulai hari ini,
mulailah dengan BISMILLAH—
doa, usaha, dan ikhtiar.
Melangkah dengan iman,
berjalan dengan harapan,
dan menang dengan izin Tuhan
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯.
𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯,
𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.
𝘓𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘸𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘨𝘪𝘢𝘯,
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘮𝘶 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘤𝘪𝘭𝘢𝘯.
𝘉𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯,
𝘏𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘬𝘰𝘬𝘰𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘢𝘴 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘬𝘴𝘦𝘴𝘢𝘯,
𝘔𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘱𝘪𝘢𝘯.
𝘒𝘦𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯,
𝘒𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯,
𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘧𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.
𝘒𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘢𝘯,
𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯.
𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘢𝘯,
𝘔𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱𝘢𝘯.
𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯,
𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯.
𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘴𝘢𝘯,
𝘈𝘨𝘢𝘳 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢, 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘰𝘵𝘢𝘯.
𝘛𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯,
𝘛𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢𝘢𝘯.
𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯,
𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯.
𝘈𝘬𝘳𝘦𝘴𝘰𝘱𝘪 𝘯𝘢 𝘯𝘨𝘯𝘨𝘢𝘯𝘳𝘦, 𝘈𝘯𝘫𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘮𝘮𝘢 𝘢𝘵𝘢' 𝘢𝘯𝘨𝘯𝘨𝘢𝘯𝘳𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘦𝘯𝘨, 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘴𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢" 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘳𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘥𝘢𝘬, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘶𝘢𝘯.
Jangan pikir aneh-aneh❗ Di tahun 2026 ini, pikirkan saja hal-hal yang baik. Dari pikiran yang baik itu, pilih satu hal yang paling kamu senangi, lalu kerjakan dengan sungguh-sungguh.
Jadikan ia kebiasaan. Jadikan ia hobi yang terus kamu latih dan kembangkan secara konsisten. Insya Allah, cepat atau lambat,
yang awalnya biasa akan menjadi pintar,
yang pintar akan menguasai, dan yang menguasai akan menjadi ahli.
Di sanalah kamu akan menemukan dirimu yang sesungguhnya: menemukan biasamu menjadi bisamu, serta menemukan jalan yang kelak menentukan masa depanmu.
Yakinilah dan percayalah akan hal itu.
Orang Makassar berkata:
“Tappa paki nampa nigaukangi, gaukangi nampa akulle anjari.” Artinya: percayalah lalu kerjakan; kerjakan, maka sesuatu akan terjadi.
Inilah yang disebut kekuatan iman — The Power of Faith.
Karena itu, percayalah pada setiap kebiasaan dan hobi yang kamu tekuni, selama ia berguna dan bermanfaat, tidak melanggar hukum agama, hukum negara, serta tidak bertentangan dengan adat dan nilai luhur.
Don’t stop here. Jangan berhenti di sini.
Teruslah melangkah dan berkembang.
Abaikan keraguan dan bisik-bisik, selama yang kamu lakukan adalah kebaikan.
Yakin dan percayalah, manfaatnya bukan hanya kamu rasakan sendiri, tetapi juga akan dirasakan oleh orang lain.
Pada akhirnya, kamu akan memiliki nilai di mata orang lain dan bangga pada dirimu sendiri. Di tahap inilah kamu merasakan kepuasan sejati: kepuasan batin, kepuasan materi, dan kepuasan karena telah menjadi dirimu sendiri.
Don’t stop here. Jangan berhenti sampai di sini. Teruslah maju dan berkembang.
Pelajarilah hal-hal baru, dan belajarlah menyukai hal-hal baru, agar apa pun yang kamu kerjakan memberi pengaruh positif
bagi dirimu, keluargamu, masyarakat, dan tentu saja agamamu.
Berhentilah mencela.
Ingat pesan leluhur orang Makassar:
“Te’ mako accalla-callai niatonja antu callannu.”
Artinya: jangan saling mencela, karena setiap orang pun memiliki cela.
Maka tetaplah bersemangat.
Jangan menyerah dan jangan kalah oleh keadaan.
Teruslah berusaha, dan percayalah:
setiap ikhtiar yang sungguh-sungguh akan menemukan jalannya menuju puncak pencapaian.
Dan selanjutnya, jangan pikir aneh-aneh❗
Kalau ingin scan, edit, fotocopy, dan print
👉 hubungi ESES 📞 081 338 567 456