Senin, 09 Maret 2015

RAHASIA BISNIS RASULULLAH

Rahasia Bisnis Rasulullah merupakan buku karangan Prof. Laode Kamaluddin, Ph.D yang menjelaskan tentang Baginda Rasulullah MUHAMMAD SAW dalam membangun megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah. Prof. Laode melihat "MUHAMMAD" sebagai sosok manusia biasa yang memimpin secara sukses, sangat dihormati, sangat disegani oleh kalangan manapun. Buku ini tidak melihat ke ranah ke-RASUL-annya, tetapi lebih kepada bagaimana Muhammad melakukan bisnis.

Muhammad kecil dan muda telah mendobrak mental block tentang pemikiran banyak orang bahwa kekayaan, kejayaan dan kesuksesan hanyalah milik orang kaya ataupun milik orang terpandang dan dari keluarga raja-raja saja. Dalam ranah ini, Prof. Laode menunjukkan bahwa Muhammad adalah prototype anak muda yang tidak mau terpenjara mentalnya (pandangan umum orang terhadap suatu keadaan) :

* Bahwa orang yang lahir dalam kondisi miskin dan yatim piatu seperti dirinya juga berhak dan bisa sukses-kaya-terpandang;
* Bahwa orang yang lahir dengan tidak memiliki modal managerial seperti dirinya juga bisa menjadi orang terkaya asal mau berusaha dengan tekun dan cerdas;
* Bahwa ketidakmampuan dalam baca-tulis bukanlah halangan untuk sukses;
* Bahwa untuk sukses modalnya cukup satu : kepercayaan (trusty); dan seterusnya.

Muhammad tidaklah kongkouw-kongkouw alias duduk-duduk santai saja dan berpangku tangan. Untuk sukses dan berjaya, Muhammad harus berleleran keringat, airmata dan darah kalau perlu.

Bisnis menggembala kambing adalah hal pertama yang dilakukan. Menggembala kambing bukanlah pekerjaan remeh, tetapi tersirat hal yang sarat dengan masalah kepemimpinan (leadership : jika tidak bisa mengatur kambing yang tidak berakal, bagaimana bisa memimpin manusia yang berakal dan penuh tipu daya) sebagai syarat utama manajemen bisnis modern. Selain itu juga, dalam menggembala kambing terdapat pelajaran etika-moral (agar tidak mengganggu tanaman orang lain), emosional-spiritual, dan ketahanan fisik.

Tahap selanjutnya, Muhammad yang telah berumur 12 tahun ikut berdagang dalam rombongan pamannya Abu Thalib ke negeri Syam yang kemudian berkembang ke Irak, Yordania, Bahrain, Ethiopia, Suriah dan Yaman. Muhammad dalam hal ini telah berubah menjadi eksportir muda dalam usia belasan tahun yang menjual barang keluar negeri/daerah.

Ketika Muhammad meminang konglomerat terkaya saat itu, Khadijah binti Khuwailid, Muhammad mampu membayar mahar (mas kawin) yang sangat besar sekali berupa unta dan lain-lain. Jika dikonversikan dengan nilai sekarang, menurut Prof. Laode setara dengan 6 (enam) miliar rupiah. Fantastis........... Serasa belum ada anak muda jaman sekarang yang bisa membayar mahar sebesar itu atas usaha sendiri.

Dalam istilah modern, Muhammad bisa sukses dalam membangun kerajaan bisnisnya, dimulai dari kegigihannya dalam membangun personal reputation dan personal branding yang sangat terpercaya tanpa cacat sedikit pun sejak kecil, sehingga beliau disebut Al Amin atau Mr. Clean, orang yang sangat bisa dipercayai karena bersih dari segala kejahatan.

Dalam personal reputationnya, menempatkan Muhammad sebagai money maker dan money magnet yang selalu dicari oleh pemodal untuk menitipkan modal ataupun barang dagangannya untuk diperjual-belikan oleh Muhammad dengan sistem profit sharing alias bagi hasil. Bahkan orang Yahudi lebih mempercayai Muhammad untuk berdagang dan bekerjasama dalam berdagang.

Dengan tingkat kepercayaan seperti itu, Muhammad telah menerapkan etika bisnis modern yang biasa disebut societal marketing, good corporate governance, corporate social responsibility, corporate mystic, corporate sufi, dan lain sebagainya. Istilah yang tak pernah terdengar ketika jaman itu.

Etika bisnis yang diterapkan Muhammad secara ketat, menjadikan Muhammad sebagai spiritual marketer yang bukan hanya berdagang barang (tangible assets)tetapi juga berdagang ide (intangible assets). Muhammad juga menerapkan prinsip negosiasi dengan proses dialog yang cerdas sebagaimana tercermin ketika proses negosiasi antara Muhammad dan Khadijah binti Khuwailid tentang fee untuk Muhammad.

Prinsip bisnis modern, seperti tujuan dan kepuasan pelanggan (consumer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif, semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Muhammad ketika ia masih muda sampai akhir hayat. Sangatlah tepat dan tidak berlebihan jika Muhammad disebut sebagi peletak dasar atau embrio atas prinsip bisnis modern. Muhammad juga memperkenalkan asas "Facta Sur Servanda" yaitu asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian; bahwa di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi yang dibangun atas dasar saling setuju.

do thing right
do the right thing

12 rahasia besar kepemimpinan Rasulullah dalam membangun megabisnis yang selalu untung sepanjang sejarah :

1. Menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga
2. Dalam dunia bisnis, kejujuran dan kepercayaan tak boleh ditawar sama sekali
3. Tak cuma bisa mimpi, tapi harus pandai mewujudkan mimpi itu
4. Berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan
5. Rasulullah memiliki planning dan goal setting yang jelas
6. Pintar mempromosikan diri
7. Menggaji karyawan sebelum kering keringatnya
8. Mengetahui rumus "bekerja dengan cerdas"
9. Mengutamakan sinergisme
10. Berbisnis dengan cinta
11. Pandai bersyukur dan berucap "terima kasih"
12. Be the best! menjadi manusia paling bermanfaat

Rahasia-rahasia berbisnis Ala Nabi Muhammad SAW

1. Jujur di dalam Bisnisnya, Kejuran adalah syarat fundamental dalam berbisnis yang di lakukkan oleh RasullAllah Muhammad SAW. Beliau pernah melarang para pedagang untuk meletakkan barang Busuk/jelek di dalam dagangannya. dan beliau selalu memberikan barang sesuai dengan seadannya dan terbaik bagi Konsumennya.
2. Berprinsip pada nilai Illahi, Bisnis yang di lakukkan tidak terlepas dari pengawasan Tuhan. Dan menyadarkan manusia sebagai makluk Illahiyah (berTuhan).
3. Prinsip kebebasan Individu yang bertanggung Jawab, Bukan bisnis hasil dari Paksaan atau Riba. Yang menjerat kebebasan Individu.
4. Bertanggung Jawab, Bertanggung Jawab moral kepada Tuhan atas perilaku Bisnisnya maupun Orang lain/Partner Bisnisnya maupun Konsumennya.
5. Keadilan dan Keseimbangan, Keadilan dan keseimbangan sosial, bukan hanya keuntungan semata tetapi Kemitraan/bantu membantu di dalam bisnisnya (Win-Win-Solution)
6. Tidak hanya mengejar keuntungan, dan berorientasi untuk menolong orang lain, Atau WIN Win Solution.
7. Berniat baik di Bisnisnya, berniat baik adalah Aset Paling berharga oleh pelaku Bisnis selain untuk menjadi terbaik tapi bermanfaat bagi orang lain.
8. Berani mewujudkan Mimpi, RasullAllah dari seorang penggembala Kambing, berniat untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi, menjadi pedagang, lalu Manager hingga beliau mewujudkan cita-citanya menjadi Owner (Pemilik perusahaan) dengan menikahi Siti Khadijah. Beliau adalah Enterprenur Cerdas.
9. Branding/Menjaga nama baik, RasullAllah selalu menggunakan cara ini sebagai Modal Utama, Track Record sebagai orang Terpercaya (Al Amin), Justru paling di cari dan siapapun ingin bekerja sama dengannya. Sifat inilah yang Sekarang Langka di Jaman ini,Tirulah… :sip:

Cara Merintis Bisnis

1. Fokus dan Konsentrasi, RasulAllah selalu Fokus terhadap bisnis yang beliau tekuni, Tidak mengerjakan bisnis yang satu ke satunya lagi sebelum beliau menyelesaikannya…
2. Mempunyai Goal dan rencana yang jelas
3. Merintis Bisnis Dari NOL, kesuksesan beliau tidak datang dalam satu malam walaupun seorang RasullAllah, tetapi harus dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari seorang Karyawan/Salles hingga jadi Owner. Dan semua tanpa ada praktek KKN.
4. Tidak Mudah Putus Asa, beliau Berkata : Janganlah kamu berdua putus asa dari rizky selama kepalamu masih bergerak. Karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan merahtidak mempunyai baju, Kemudian Allah SWT memberikan rizky kepadanya (HR.Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya)
5. Berusaha Menjadi Trend Center
6. Inovatif, Semua barang yang di Jual Rasul selalu berbeda dari kompetitornya, dengan harga murah tetapi Hight Quality.
7. Memahami kondisi dan analisa Pasar
8. Kemampuan merespon strategi Pesaingnya
9. Belajar menguasai pasar, Dikisahkan Ketika beliau di Mekkah para pedagang dari kaum Quraisy yang ingin menjatuhkan Bisnisnya, dengan menjatuhkan Harga dengan tidak Wajar. Tetapi beliau menerapkan Hukum Suply&Demand, beliau menyiasati dan bersabar. Hingga semua dagangan para Kompetitornya habis semua. Rasul baru Menjual Dagangannya karena Rasul Percaya kalau jumlah Permintaan (Demand) jauh lebih tinggi dari jumlah Penawaran (Supply) di Kota itu. Tak lama kemudian Rakyat Kota tersebut membeli Barang Dagangan Rasul dengan Harga Normal, ketika rombongan Pedagang itu pulang Mekkah gempar. Semua pedagang Rugi akibat banting harga kecuali Nabi Muhammad SAW yang untung besar. Itulah kejelian melihat, menganalisis, dan memahami Pasar. Hingga menguasai Pasar yang ada. :)
10. Mampu Memanagement Organisasi secara Efektif
11. Bisa menghilangkan Mental Blocking, Atau juga yang di sebut dengan Ketakutan yang Berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha. Rasul selalu bisa mengalahkan diri sendiri dari hal-hal Negatif (mujahadah).
12. Mampu menarik dan meyakinkan pemilik Modal untuk ikut serta dalam bisnis yang dilaksanakannya

Cara Menjalankan Bisnisnya

1. Bekerja Sama (bersinergi), Beliau bersabda “Keberkahan sesungguhnya berada dalam Jamaah. Dan, tangan Allah sesungguhnya bersama Jamaah”
2. Kerja Pintar, Kreatif dan Visioner
3. Menerapkan kesepakatan Win-Win-Solution (Saling menguntungkan, dan tidak ada yang dirugikan)
4. Bekerja dengan Prioritas
5. Tidak melakukan Monopoli
6. Selalu berusaha dan Tawakal
7. Tepat Waktu
8. Berani ambil Resiko
9. Tidak menimbun barang dagangan (ihtikar), Rasul melarang Keras pelaku Bisnis dan menyimpan barang pada massa tertentu, hanya untuk keuntungan semata. Rasul bersabda bahwa pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan akan di beri kemudahan. Tapi penjual yang sering menimbun dagangannya akan mendapat kesusahan (Dalam HR Ibnu Majah dan Thusiy).
10. Profesional di Bisnis yang Di kelolannya
11. Selalu Bersyukur di Segala Kondisi
12. Berusaha dengan Mandiri, Tekun dan Tawakal
13. Menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliaan dalam proses interaksi bisnis
14. Melakukan bisnis berdasarkan Cinta (Passion).
15. Tidak MenZhalimi (Merugikan Orang lain)
16. Rajin Bersedekah

Cara memasarkan Produk

1. Memasarkan Produk yang Halal dan Suci
2. Tidak melakukan Sumpah Palsu,
3. Tidak merpura-pura menawar dengan harga tinggi, Agar orang lain tertarik
4. Melakukan timbangan dengan benar
5. Tidak menjelekkan bisnis Orang lain, Beliau bersabda ” Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (HR. Muttafaq ‘alaih)
6. Pintar beriklan/Promosi, Rasul hafal betul dimana ada Bazaar di suatu tempat tertentu. Sehingga makin banyak orang mengenal beliau dan barang dagangannya.
7. Transparansi (keterbukaan), Beliau bersabda “Tidak dibenarkan seorang Muslimin menjual satu-satu jualannya yang mempunyai aib, sebelum dia menjelaskan aibnya” (HR. Al-Quzuwaini)
8. Mengutamakan pelanggan (Customer Satisfaction)
9. Networking (Jejaring) di wilayah lain
10. Cakap dalam berkomunikasi dan bernegosiasi (tabligh)
11. Tidak mengambil Untung yang berlebihan
12. Mengutamakan penawar pertama
13. Menawar dengan harga yang di inginkan
14. Melakukan perniagaan sepagi mungkin, RasulAllah mendoakan orang-orang yang pagi-pagi dalam bekerja. “Ya Allah, berkahilah umatku dalam berpagi-paginya mereka” (HR.Shahr Al Ghamidi)
15. Menjaga Kepercayaan pelanggan
16. Mewujudkan Win-Win Solution
17. Barang Niaga harus bermutu, Murah, Bermanfaat, Mutakhir dan Berkualitas
18. Kemudahan dalam hal transaksi dan pelayanan
19. Menentukan Harga dengan jelas ketika akad (Deal)

Cara berhubungan dengan Karyawan

1. Berbagi perhatian kepada karyawan, Tidak memilih-milih karyawan Istimewa semua sama.
2. Bermitra Bisnis, Karyawan dan Majikan seperti hubungan kekeluargan yang kental. Bukan seperti Tuan dan Budak.
3. Memberi gaji yang Cukup kepada Karyawannya
4. Memberi gaji tepat Waktu kepada Karyawannya, Sebelum keringat karyawan kering
5. Tidak membebani Karyawan dengan tugas diluar kemampuannya
6. Karyawan di Wajibkan kerja sungguh-sungguh dengan seluruh kekuatannya
7. Sering memberikan Bonus-bonus tambahan di luar gaji pokok

12 Cara Promosi di Internet Yang Efektif

Bagi pebisnis online pemula, mungkin masih mencari cara promosi di internet yang paling efektif bagi usaha yang dikelolanya. Dan untuk kalangan ini, sering melakukan semua tips yang mereka dapatkan tanpa menyaringnya terlebih dahulu tanpa menyesuaikan kebutuhan. Hal ini dapat menjadikan over budget beriklan dan menghabiskan waktu serta tenaga. Ide inilah yang menjadikan saya tertarik berbagi tips efektif metode promosi untuk bisnis internet.
Adapun 12 cara terbaik memperkenalkan bisnis dengan mudah, murah dan cepat, perlu memperhatikan beberapa tips berikut ini:
  1. Kenali jenis produk anda dan market bidikannya. Jika berupa aksesoris untuk wanita, cobalah bergabung pada beberapa komunitas social media yang berhubungan dengan produk tersebut. Anda bisa memanfaatkan komunitas yang bersifat umum tetapi cukup banyak diikuti wanita. Salah satu yang yang saya rekomendasikan adalah forum jomblo di google plus. Sebaiknya hindari komunitas bisnis online karena biasanya diisi sesama pengelola usaha. Kecuali jika anda mencari reseller produk.
  2. Rajin mengungkapkan ide atau komentar dan sebaiknya bukan mengkritik pada komunitas atau blog atau forum internet. Ingat, jumlah orang yang suka disanjung lebih banyak daripada yang suka dikritik. Dan sebaiknya ide anda cukup unik serta dengan gaya bahasa “ringan” saja.
  3. Jika anda ingin beriklan, sebaiknya gunakan bahasa yang lucu tetapi terlihat “sinyal” produk yang anda jual. Terlalu terang-terangan berpromosi kadang malah membuat situs jarang dikunjungi.
  4. Walaupun bisnis anda dikelola di internet, sangat disarankan “menyentuh” media offline juga. Yang sederhana adalah dengan menyebarkan kartu nama, brosur, spanduk bahkan iklan radio, koran dan TV. Jangan lupa menyebutkan alamat situs pada media periklanan tersebut.
  5. Jangan malas untuk belajar dari pihak lain atau bahkan kompetitor anda. Amati dengan cermat cara mereka berpromosi.
  6. Jika diperlukan, buatlah komunitas di media social yang terkait dengan bisnis anda. Tidak perlu berhubungan langsung, tetapi terapkan pola menjaring market yang potensial. Misalnya anda mengelola situs kosmetik, buatlah komunitas sharing cara make up wajah. Biarkan saja bila ada kompetitor yang ikut berbagi di situ. Agar terkesan forum anda lebih obyektif. Yang penting, “tunjukkan sinyal” bahwa komunitas tersebut di kelola oleh situs anda. Caranya dengan memasang banner nama situs anda (bukan nama atau jenis produk).
  7. Jika memungkinkan, cara lain dengan menggunakan jasa pihak ketiga (marketing online) yang membantu anda mempromosikan produk atau situs. Anda dapat menggunakan jasa seo, jasa iklan google, atau jasa social media. Silakan ke menu tentang saya, ada beberapa bisnis yang tertera yang dapat membantu anda
  8. Sebaiknya lakukan kegiatan promosi yang sinergi. Memasang iklan berupa banner dengan link menuju situs anda pada website yang memiliki visitors tinggi memang efektif untuk kunjungan, tetapi “bencana” bagi penampakan situs di penelusuran google. Saran terbaik, teknik ini diarahkan ke halaman khusus pada situs anda (bukan homepage).
  9. Manfaatkan jaringan pertemanan dalam dunia nyata. Misalnya membuat program “member get member” diantara para sahabat. Berkorbanlah sedikit dana fee atau hadiah untuk mereka yang berhasil mengajak calon pembeli untuk bertransaksi.
  10. Bekerja sama dengan beberapa toko atau usaha yang berbeda tetapi memiliki market yang sama dengan bisnis yang anda kelola. Atau bisa juga dengan usaha yang memiliki market lebih luas. Contoh, bisnis TV Cable sering bekerjasama dengan Supermarket.
  11. Pahami bahwa metode promosi dapat berakibat terjadi transaksi saat itu juga atau bisa juga akan terjadi transaksi di masa depan. Jadi anda perlu melakukan kombinasi, jangan terpaku pada traksaksi jangka pendek saja. Apalagi jika produk yang anda jual bukan berupa kebutuhan primer dan memiliki harga yang cukup mahal.
  12. Pastikan mencatat pola promosi yang anda lakukan, dan lakukan rotasi pengulangan model beriklan. Jangan sampai anda membuat pemirsa iklan merasa bosan dengan iklan anda.

Sulapa' Eppa' : Falsafah Alam Raya


Orang Bugis-Makassar (juga orang Luwu', Mandar dan Toraja), mengenal kosmologi ruang yang mencerminkan suatu pandangan terhadap dunia. Pandangan tersebut dikenal dengan Konsep Sulappa Eppa' Wala Suji (segi empat belah ketupat). Menurut Budayawan Mattulada, Sulapa' Eppa' diambil dari walasuji sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa Eppa dalam wacana klasik kepercayaan Bugis-Makassar memiliki banyak makna.

Bentuk aksara lontara menurut Mattulada, berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata walayang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).



Pandangan kosmologis suku Bugis-Makassar mengenal adanya tiga macam pengklasifikasian, yakni klasifikasi tingkatan dunia (dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah), klasifikasi struktur tubuh manusia (kepala, badan dan kaki), dan klasifikasi empat penjuru mata angin (utara, selatan, barat dan timur).  Segi empat belah ketupat ditafsirkan sebagai model dari kosmos. Model kosmos dihubungkan dengan adanya empat sarwa alam, yaitu: udara, air, api, dan tanah, yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Keempat unsur ini adalah empat jenis sifat yang dimiliki oleh "manusia yang berbicara".

Sifat air adalah sifat yang dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Ketika air dituang ke dalam bejana  segiempat, maka ia akan berbentuk segiempat, bila ke dalam bejana bundar, maka ia pun berbentuk bundar. Sifat ini dipandang tidak konsisten karena keputusannya tergantung dimana ia berada, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai pembuat keputusan. Sifat air yang tidak tetap dan mengalir ke tempat yang paling rendah, tidak sesuai bila dimiliki seorang pemimpin, yang seharusnya memberi bentuk kepada bawahannya.

Sifat api yaitu sifat seseorang yang gampang dikuasai oleh amarah, jika sekali saja disinggung perasaannya, ia akan  membalas dendam kapan pun bila ia punya kesempatan. Ia tidak mempertimbangkan apa yang terbaik bagi semua orang tetapi hanya bagi dirinya sendiri. Sifat ini akan menimbulkan perselisihan antara dirinya dan orang yang dipimpinnya. Ia tidak memperdulikan saran dan kemauan orang banyak, lebih banyak mementingkan diri sendiri, dan jika ada yang melebihinya makan akan ditentangnya.

Sifat angin, yaitu orang yang tergantung pada arah angin. Jika angin bertiup dari Barat, maka  ia ikut ke Timur, jika bertiup dari Selatan, ia ke Utara. Ia tidak memiliki sikap tegas, keputusannya tergantung pada orang banyak, bukan pada apa yang terbaik menurut pertimbangan terbaiknya.

Sifat tanah, merupakan sifat yang terbaik, sebab ia tidak pernah goyah, ia dapat bertahan bila dibanjiri air, dihempas angin dan terbakar api. Bila dialiri air, ia menjadi lunak, dibakar dengan api ia mengeras bagai batu-bata dan bila diterpa angin ia tak bergeming. Inilah sifat terbaik yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin.


Orang Bugis-Makassar memandang alam raya sebagai sulapa' eppa wala suji (segi empat belah ketupat). Menurut budayawan Mattulada, konsep tersebut ditempatkan secara horizontal dengan dunia tengah. Dengan pandangan ini, masyarakat Bugis-Makassar memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu utara, selatan, barat dan timur. Secara makro, alam semesta adalah satu kesatuan yang tertuang dalam sebuah simbol aksara Bugis-Makassar, yaitu /sa/ yang berarti seuwwa, artinya tunggal atau esa. Begitu pula secara mikro, manusia adalah sebuah kesatuan yang diwujudkan dalam sulapa' eppa'. Berawal dari mulut manusia segala sesuatu berawal dari bunyi yang menjadi  kata, dari kata menjadi perbuatan, dan perbuatan mewujudkan jati diri manusia.
Huruf /sa/ di atas juga melambangkan “empat unsur alam” yang menjadi sifat manusia, yakni air, api, tanah dan angin. Keempat unsur alam ini bertalian dengan warna, yaitu kuning, putih, merah dan hitam. Lebih jauh, simbol /sa/ di atas melambangkan “empat sisi tubuh manusia”. Paling atas adalah kepala, sisi kiri dan kanan adalah kedua tangan, dan paling bawah adalah kaki. Orang bugis-makassar mengidealisasikan manusia sulapa appa’, manusia yang menjaga prinisp keseimbangan atas-bawah (keadilan) dan kiri-kanan (kesetaraan). Dengan alam, manusia sulapa appa’ mengemban tanggung jawab untuk merawat kearifan lokal dan keselarasan dalam tata kelolanya. Dengan demikian, konsep  Sulapa' Eppa' (juga dilafalkan Sulapa' Appa') dalam dunia ini, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang. Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah kabara-niang (keberanian), akkarungeng (kebangsawanan), asugireng (kekayaan), dan akkessi-ngeng (ketampanan/kecantikan).
Lebih lanjut sulapa' eppa' diproyeksikan terhadap asas kehidupan manusia yang  terdiri atas empat azas, yakni:
1. Azas kehidupan tentang eksistensi kelahiran manusia
2. Azas kehidupan tentang eksistensi kehadiran manusia
3. Azas kehidupan tentang eksistensi pengabdian manusia dalam makrokosmos dan,
4. Azas kehidupan tentang kematian manusia.

Manusia menjadi khalifah bagi alam raya harus memenuhi syarat nilai-nilai Sulapa' Eppa' yang terkandung dalam kearifan dan ajaran tradisi lokal manusia. Manifestasi nyata harmonisasi humanosphere tersebut dapat dilihat pada perilaku, perayaan, upacara maupun bentuk arsitektur. Pada perilaku manusia Bugis-Makassar ada kebiasaan; "taro ada taro gau, sipatuo-sipatokkong" (adat menunjukkan perbuatan, saling menghidupi-saling menolong).

Model sulapa' eppa' wala suji sebagai model makrokosmos harus diikuti sebagai model dari mikrokosmos. Empat asas kehidupan manusia Bugis  terpancar pula pada model rumah tradisionalnya yang biasa disebut bola ugi. Bola ugi sebagai rumah keturunan/ keluarga, rumah adat, tempat pemeliharaan dan pembinaan sistem religi/kepercayaan dan penyelenggaraan aturan-aturan agama. Bola ugi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan (Saoraja). Arsitektur rumah adat Makassar juga mengadopsi falsafah Sulapa' Eppa' dimana hal itu merupakan penerjemahan terhadap lapisan konsep kosmologi. Dari konsep ini, mengilhami bentuk struktur bola ugi yang senantiasa mengikuti model makrokosmos, yang secara konseptual harus mengikuti model persegi empat. Kemudian model bola ugi ini mengikuti pula struktur makrokosmos yang terdiri atas tiga tingkatan atau lapisan dunia yakni: bagian atas (rakkeang), bagian tengah (alle bola), dan bagian bawah (awa bola). Arsitektur rumah adat Bugis-Makassar terbagi atas bagian paling tinggi yang disebut coppo' bola, diasosiakan sebagai dengan alam arasy (Alam Lauh Mahfuds). Lapisan bawahnya adalah lapisan sakral. Lapisan yang merupakan penggambaran alam bagi makluk Tuhan yang suci. Lapisan tersebut pada rumah Bugis disebut Rakkeang. Rakkeang, dulunya, di rumah kuno orang Bugis merupakan tempat penyimpanan padi. Padi, dalam mitologi manusia Bugis, dipandang sebagai penjelmaan dari Dewi Sangiang Seri. Selanjutnya adalah lapisan alam manusia, dan yang paling bawah adalah lapisan alam lingkungan dan makhluk lainnya.

Dalam mitologi suku Bugis, sistem upacara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok atau anggota masyarakat (individu) tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip menurut sistem kepercayaan. Dalam sistem kepercayaan attauriolong, dikenal adanya tiga unsur yang disembah dan diberi upacara. Pertama, mereka percaya kepada dewa-dewa yang dipimpin oleh dewata seuwaE. Kedua, mereka percaya kepada roh nenek moyang. Ketiga, mereka percaya kepada kekuatan gaib. Hal ini terlihat misalnya, pada perayaan dan upacara  saat ingin melaut, membuat perahu, atau pada saat ingin menanam padi- pasca panen.


 Jika Anda pernah mengunjungi acara adat atau perkawinan Kerabat Bangsa Bugis, tentu Anda akan melihat suatu Baruga (gerbang) yang dikenal dengan nama Wala Suji di depan pintu rumah mempelai atau yang melaksanakan hajatan. Wala Suji ini terbuat dari anyaman bambu. Mengapa Wala Suji harus menggunakan pohon bambu, karena pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi . Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya. Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya. Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang.
Metafora tersebut mengajarkan kepada manusia agar tumbuh, berkembang dan mencapai kesempurnaan bergerak dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu tersebut, bahwa menjadi apa sesungguhnya kita ini sangat tergantung pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kita tentang “Keimanan kepada Allah SWT” yang terdapat dalam hati (qalbu) kita masing-masing.

"Tau" atau "To" dalam terminologi Bugis-Makassar adalah manusia, dalam perspektif kebudayaan Sulawesi Selatan dianjurkan memiliki sipa’ tau (sifat manusia). Artinya bahwa karakteristik sifat manusia harus merujuk pada sistem nilai dan norma-norma masyarakat Sulawesi Selatan. Konsep ‘tau’ dalam kebudayaan ini merupakan spirit dalam memperoleh wujud kesempurnaan manusia yang biasa di simbolkan sebagai sulapa appa walasuji (segi empat belah ketupat) yang menurut Mattulada dapat juga disimbolkan dengan huruf aksara lontara yaitu /sa/ yang dapat di artikan sebagai Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam tradisi Makassar, disebutkan:  ”Nikanaya sulapak appakna taua iami antu niak sirikna, niak paccekna, niak pangngalikna, na todong pangngadakkangna”.  (yang disebut manusia berhati ‘sulapa appa’ yaitu manusia yang memiliki harga diri, memiliki rasa kesetiakawanan, menghargai orang lain dan memiliki sifat sopan santun). 
Dari simplikasi tersebut akan ditemukan bahwa konsep ‘tau’ di Sulawesi Selatan pada dasarnya berimplikasi dari konsep sulapa appa’, yang dapat diperoleh dari ‘magguru’ (belajar) dan massompe (merantau). Implementasi konsep tesebut menghantarkan perilaku sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan), sipakatuo (saling menghidupi), dan sipakatokkong (saling membantu). Sehingga jelas bahwa falsafah tersebut selain sebagai wasiat kebudayaan, juga menjadi sebuah sistem nilai dalam pedoman hidup masyarakat Sulawesi Selatan. Oleh sebab itu, masyarakat Sulawesi Selatan dikenal memiliki keunggulan diaspora (menyebar dan hidup mandiri). Tidak sedikit masyarakat Sulawesi Selatan mencapai keberhasilan dan kesuksesan di luar tanah kelahirannya. Mereka berpijak pada prinsip-prinsip yang dianutnya sebagai sebuah falsafah hidup. Namun demikian bukan berarti semuanya berhasil, ada juga diantara beberapa diantaranya yang melebur dalam kehidupan yang justru memalukan (mappakasiri). Karena itu,  dituntut untuk memiliki konsep hidup sebagai sebuah falsafah kebudayaan; yaitu: warani (berani), lempu (jujur), sugi (kaya) dan acca (pintar). Bila dirangkai dalam Bahasa Bugis menjadi : "macca na malempu, warani na magetteng" (pandai dan jujur, berani dan teguh bertindak).
“Warani” atau "barani", berani, sebagai sifat pemimpin ideal yang pada prinsipnya tidak takut menghadapi segala macam risiko. Keberanian ini hanya dapat dimiliki  dengan modal “kalambusang” (kejujuran), dan tanpa pamrih. Sifat pemberani pada hakekatnya mengandung empat unsur yakni tammallakkai nipariolo (tidak takut jadi pelopor), tammallakkai nipariboko (tak takut berdiri di belakang) dalam artian memberi kesempatan kepada orang lain yang lebih potensial ataupun dalam rangka pengembangan potensi orang lain, tammallakkai allangngere kabara (tak gentar mendengar kabar yang baik maupun buruk, menerima kritik dan saran dari orang lain, berjiwa besar dan mempunyai sifat ingin tahu), serta tammallakkai accini bali (tak gentar dalam menghadapi lawan -baik dalam berunding maupun berperang-tegas dan konsisten).


"Lambusu" atau "lempu",  jujur, mengandung sifat mengatakan yang benar dan tidak suka berbohong, akkontu tojengi (dia bekerja dengan penuh kesungguhan dan bertanggung jawab), baji bicarai (dia bicara yang benar/baik), tutui ri kanakananna (dia cermat dalam bertutur), tunai ripanggaukangna (dia sederhana dalam perbuatannya), appanggaukang bajiki (dia melakukan perbuatan yang bermanfaat). Seorang pemimpin yang jujur mencerminkan pribadi pemaaf, dan tidak pendendam, artinya jika orang berbuat salah padanya dia lantas memberi maaf, sepanjang orang yang berbuat salah itu mengakui secara jujur tentang kesalahan yang diperbuatnya. Jika diserahi amanat dia tidak khianat, dan jika bukan haknya dia tidak menserakahinya. Dia bekerja untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk dirinya sendiri.

"Sugi" atau "kalamannyang",  kaya, tidak berarti banyak harta saja, akan tetapi menyiratkan pada sifat yang tamakurangi ri nawa-nawa (dia tidak kehabisan imajinasi, senantiasa berinisiatif dan penuh kreativitas dan inovatif), tamakurangi ri bali bicara (dia tidak kekurangan jawaban, kaya akan pengetahuan), masagenai ri singkamma gau (dia mahir dan terampil dalam setiap pekerjaan), tamakkurangi ri sikamma pattujuang (dia tidak kekurangan usaha karena memiliki modal).
Manusia yang memiliki dan mengamalkan keempat sifat ini secara menyeluruh akan menjadi Tu Panrita, menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Sudah barang tentu manusia yang utuh adalah manusia yang senantiasa memelihara dan mengembangkan fitrahnya sebagai manusia. Hanya manusia seperti ini yang akan terbebas dari alienasi maupun tipu daya dunia yang seringkali menyesatkan.

Dalam pandangan lain, Sulapa’ Eppa dikaitkan dengan arah mata angin dan filosofi kepememimpinan Khalafaur Rasyidin (empat khilafah pasca meninggalnya Nabi Muhammad). Manorang atau Utara diartikan memiliki sifat seperti Usman Bin Affan (adil), Maniyang atau Selatan diartikan memiliki karakter seperti Umar Bin Khattab (tegas dan berani), Rilau atau Timur diibaratkan memiliki sifat seperti Ali Bin Abi Thalib (cerdas), dan Riaja atau Barat dikiaskan memiliki karakter sifat seperti Abu Bakar (bijaksana). 
Ajaran ini oleh orang Bugis-Makassar dituturkan secara lisan kepada generasi berikutnya : "... langkahkan kakimu kemana pun juga, tetapi ingat, janganlah engkau berpisah dengan Sulapa Eppa'na Nabitta, yaitu katakan... "Abu Bakar berdiri dihadapanku, Umar berdiri disisi kananku, Ali disisi kiriku, Usman berdiri dibelakangku"... Insya Allah engkau akan selamat dunia akhirat…

Abu Bakar merupakan simbol sifat dermawan, sabar, sederhana, amanah dan membenarkan yang haq dengan cepat sehingga digelar As-Siddiq. Sifat ini menjadi ukuran pertama dalam memilih pemimpin. Umar merupakan simbol kekuatan yang diwujudkan dengan cepat bertindak, berani, tegas tetapi bijaksana. Sifat ini merupakan kategori kedua dalam memilih pemimpin. Ali merupakan simbol kecerdasan, pengorbanan, keberanian, ketegasan seperti halnya Umar (kanan), maka kiri adalah pelengkap tangan kanan. Umar merupakan simbol  kekayaan, kesabaran, seperti Abu Bakar, sehingga didepan dan belakang terdapat  sifat sabar, selain itu Usman dikenal dgn sifat tawaddu dan dalam diamnya ada zikir.  

Referensi :
- Pena.aminuddinsalle.com
- Fajar.co.id

Minggu, 08 Maret 2015

KARAKTER ORANG BUGIS MAKASSAR

        Suku Bugis Makassar dikenal penaik darah, suka mengamuk, membunuh dan
mau mati untuk sesuatu perkara, meski hanya masalah sepele saja. Apa sebab sehingga demikian?

Ada apa dengan jiwa karakter suku bangsa ini? Tidak diketahui apa sebab orang Bugis Makassar terpaksa membunuh atau melakukan pertumpahan darah, biarpun hanya perkara kecil. Jika ditanyakan kepada mereka apa sebabnya terjadi hal demikian, jarang bahkan tak satupun yang dapat menjawab dengan pasti –sehingga dapat dimengerti dengan jelas- apa penyebab ia menumpahkan darah orang lain atau ia mau mati untuk seseorang.
Ahli sejarah dan budaya menyarankan untuk mengenal jiwa kedua suku
bangsa ini lebih dekat lagi dengan cara mempelajari dalil-dalil, pepatah-pepatah, sejarah, adat istiadat dan kesimpulan-kesimpulan kata mereka yang dilukiskan dengan indah dalam syair-syair atau pantun-pantunnya.
Laksana garis cahaya di gelap malam, apabila kita selidiki lebih mendalam, tampaklah bahwa kebanyakan terjadinya pembunuhan itu ialah lantaran soal malu dan dipermalukan. Soal malu dan dipermalukan banyak diwarnai oleh kejadian-kejadian yang dilatari adat yang sangat kuat. Sebut saja satu, silariang (kawin lari) misalnya, atau dalam bahasa Belanda:Schaking.
Apabila seorang pemuda ditolak pinangannya, maka ia merasa malu. Lalu
ia berdaya upaya agar sang gadis pujaan hati Erangkale (si gadis datang membawa dirinya kepada pemuda), atau si pemuda itu berusaha agar gadis yang dipinangnya dapat dilarikannya (silariang)
Apabila hal ini terjadi, maka dengan sendirinya pihak orang tua (keluarga) gadis itu juga merasa mendapat "Malu Besar" (Mate Siri’). Mengetahui anak gadisnya silariang, segera digencarkan pencarian untuk satu tujuan: membunuh pemuda dan gadis itu! Cara ini sama sekali tidak dianggap sebagai tindakan yang kejam, bahkan sebaliknya, ini tindakan terhormat atas perbuatan mereka yang memalukan. Oleh orang Bugis
Makassar menganggap telah menunaikan dan menyempurnakan salah satu
tuntutan tata hidup dari masyarakatnya yang disebut adat. Selain itu, kedua suku Bugis Makassar tersohor sebagai kaum pelaut yang berani sejak dahulukala hingga sekarang. Sebagai pelaut yang kerap ‘bergaul’ dan akrab denganangin dan gelombang lautan, maka sifat-sifat dinamis dari gelombang yang selalu bergerak tidak mau tenang itu, mempengaruhi jiwa dan karakter orang Bugis Makassar.
Ini lalu tercermin dalam pepatah, syair atau pantun yang berhubungan dengan keadaan laut, yang kemudian memantulkan bayangan betapa watak atau sifat kedua suku bangsa itu. Contoh salah satu pantun: Takunjunga’ bangung turu’ Nakugunciri’ gulingku Kualleangna talaanga natolia Artinya: "saya tidak begitu saja mengikuti arah angin, dan tidak begitu saja memutar kemudi saya.
Saya lebih suka tenggelam dari pada kembali." Maksudnya, kalau langkah sudah terayun, berpantang surut –lebih suka tenggelam- daripada kembali dengan tangan hampa. Jadi kedua suku bangsa ini memiliki hati yang begitu keras. Tapi,
benarkah begitu? Justru sebaliknya, orang Bugis Makassar memiliki hati yang halus dan lembut.
Dari penjelasan di atas nampaklah bahwa kedua suku bangsa ini lebih banyak mempergunakan perasaannya daripada pikirannya. Ia lebih cepat merasa. Begitu halus perasaannya sampai-sampai hanya persoalan kecil saja dalam
cara mengeluarkan kata-kata di saat bercakap-cakap, bisa menyebabkan kesan yang lain pada perasaannya, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman.
Tapi, kalau kita telah mengenal jiwa dan wataknya atau adat istiadatnya, maka kita tengah berhadapan dengan suku bangsa yang peramah, sopan santun, bahkan kalau perlu ia rela mengeluarkan segala isi hatinya –bahkan jiwanya sekalipun- kepada kita.
Jika ada orang Makassar telah mengucapkan perkataan "Baji’na tau" atau
"Baji’tojengi tau I Baso" (maksudnya: Alangkah baiknya orang itu atau alangkah baik hati si Baso), maka itu cukup menjadi suatu tanda, bahwa apabila ada kesukaran yang akan menimpa si Baso, maka ia rela turut merasakannya. Ia rela berkorban untuk kepentingan si Baso.
Apabila ada seseorang yang hendak mencelakai atau menghadang si Baso di
tengah jalan, jika didengarnya kabar itu, maka ia rela maju lebih awal menghadapi lawan itu, meski tidak dimintai bantuannya.
Ia mau mati untuk seseorang, dikarenakan orang itu telah dipandangnya sebagai orang baik. Olehnya, orang Bugis Makassar dikenal sebagai orang yang setia, solider dan kuat pendirian. Meski tak jarang yang memplesetkan kata Makassar sebagai "Manusia Kasar".
Makassar, Great Expectation to the World!!!!!!
Top of Form

Kata Kata Bijak Bahasa Makassar



Langere' baji'-bajiki anne ana', pantamai ri lalang atinnu, nanu gaukangki

Dengarkanlah baik-baik wahai anakku, masukkan dalam hatimu, lalu kerjakanlah.

Teako attinroi punna tena natangkasa kalennu siagang atinnu. Teako a'jappai punna tena nuboliki katallassannu ri patanna linoa. Anjo kakodianga aa'rurungangi kabajikanga. Ikatte mami ammilei kerea ero' ri pinawang...

jangalah tidur jika belum bersih tubuhhmu dan suci hatimu. Jangan berjalan bila tidak menyimpan kehidupanmu kepada Sang Khalik. Karena keburukan berbarengan dengan kebaikan. Andalah yang memilih, mana yang akan dikuti...

Su'jukku teai ulunna bawang, pasu'juki atinnu siagang akkala'nu. Tena ruanna, tena singkammanna Karaeng Allah Ta'ala. Nu angkaki limannu nanu lappassang anne cinnanu rilio. Saba' niami Karaeng Allah Ta'ala antayangko nanu sa'bumi KalompoanNa....

Bersujud Bukan Kepala saja, sujudkan hati serta akalmu. Tidak ada duanya, tidsak ada samanya Gusti Allah SWT. Engkau angkat tanganmu, lalu melepaskan cinta duniamu, Karena Tuhan sudah menunggumu, lalu negkau menyebut-Nya...

Je'ne Sambayang anjari pa'bissa kalennu.  Zikkiri anjari pa'bissa atinnu. Tafakkoro'nu anjari pa'bissa pikkirannu. Sukkuru na ikhlaska anjari pa'bissa cinnanu rilinoa.  Sa'bara anjari pa'bissa kalarroannu....
Wudhumu akan jadi pembersih Tubuhmu. Dzikirmu akan jadi Pembersih hatimu. tafakurmu akan jadi pembersih Pikiranmu.  Syukur dan Ikhlas menjadi pembersih kecintaanmu pada dunia. Sabar menjadi Pembersih Kemarahanmu...
Manna Ronro linoa, gesara butta maraeng, Tu Mangkasaraka Abulo sibatang tonjo, accera' sitongka-tongka tonji..
Biarlah geger Dunia, Becerai berai negeri seberang, Orang Makassar, bersatu padu, bertanah air satu jua...
Le'ba kusoronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang

Bila perahu telah kudorong,layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju.

Ku alleangi tallanga na toalia

Lebih baik tenggelam dari pada kembali (latar belakang kata tersebut dari seorang pelaut yang telah berangkat melaut)

Eja pi nikana doang..

Seseorang baru dapat dikenali atas karya dan perbuatannya

Teai mangkasara' punna bokona loko'

Bukanlah orang Makassar kalau yang luka di belakang. Adalah simbol keberanian agar tidak lari dari masalah apapun yang dihadapi.

Oe ana’ku… a’ngu’rangiko, nia’ antu tallu cappa (cappa Lila, cappa laso na cappa badi') nuerang, Punna joengko ri bori maraeng, jagai baji-baji tallu cappaka. I kau assawala iyareka su'lu, battu rikauji antekamma gionu siagang tallu cappa nueranga.

Duhai anakku... ingatlah selalu, ada tiga ujung (ujung Lidah, Ujung Kemaluan dan ujung Badik) yang harus kau bawa sebagai bekal Kalo dikampungnya ko orang jaga baik-baik tiga ujung itu. Kau akan jadi untung atau merugi, tergantung bagaimana kau berperilaku dengan tiga ujung yang kau bawa.

Manna Intang Ballanu, Bulaeng Co'corannu, tamanaika ka iratei la'baku.. La'baku sibungkeng. Pa'risikku sikapoyang. Jene matangku ma'solong si lepa-lepa...

Walau Intan Rumahmu. walau emas titian tanggamu, aku tak mau naik, karena diataslah kesedihanku... Kesedihanku menumpuk, sakit hatik segenggam, Air mataku mengalir seperahu...


Sa’ribattangaji tojeng . Iyaji kalli majarre. Pindu cikali. Naempoi ranggasela...

Saudara yang sebenarnya adalah saudara sekandung. Merekalah yang pantas menjadi pelindung. Sepupu satu kali atau dua kali masih diragukan kesetiaannya.

Apayya kau nupasang  Punna nakku ri ammatnu. Inakke iya Anginga punna lammiri...

Kepada siapa engkau akan berpesan, jika engkau rindu kepada ibumu. Adapun saya akan berpesan kepada angin yang akan bertiup...

Punna bokomo lampaku Teako rampea kodi Rampea golla Nakurampeko kaluku...

Jika aku sudah meninggalkan tempat Jangan membicarakan kejelekanku Bicarakanlah kelakuan baikku Saya pun akan berlaku demikian..

Lompobattammonjo cini Ti’rinna bawakaraeng Iya tea gio Iya tena ta’lenggang-lenggang...

Tirulah gunung Lompobattang Tinggi menyamai Bawakaraeng Tapi dia tidak banyak gerak  Juga tidak melenggok-lenggok...

Niaka anne mammempo Angngerang kasi asiku Saba' nia'na Hajjakku lakupabattu....

Kamilah datang menghadap Membawa kemiskinanku Adanya hajat Inginlah kusampaikan...

Kamase-mase kuerang Taddongko rimangko kebo Naki'minasa Nipaempo kalabbirang...

Sederhana kami bawa Kutaruh di mangkuk putih Kami berharap Didudukkan pada adat...

Apa nikanre ri anja Nikaddo ri padatari Sambayangiya Puasa sibulangiya...

Apa yang akan disantap di akhirat Lauk pauk di alam baqa Adalah shalat Dan puasa satu bulan ramadhan.

Demikianlah kata kata bijak bahasa Makassar, semoga memberikan inspirasi tentunya

Sabtu, 07 Maret 2015

KONSEP BISNIS ORANG CINA

Uang digunakan untuk menghasilkan uang
   Pedagang sejati tidak takut pada persaingan dan kerugian.
Orang Cina menentang konsep zero sum game dalam perdagangan. Perdagangan sebaiknya memberikan manfaat kepada semua pihak, baik sesama pedagang, pesaing, ataupun pelanggan. Perdagangan hanya akan berkembang maju seandainya situasi win win dapat diwujudkan dalam suatu kegiatan dagang.
    Konsep perdagangan orang Cina tidak sama dengan konsep berdagang orang Melayu. Orang Cina tidak suka „makan“ atau mencari untung sendiri. Mereka tidak dianjurkan meraup semua keuntungan dan kekayaan. Sebaliknya jika perlu, mereka berbagi semua keuntungan yang diperoleh dengan pedagang lain. Pedagang tidak boleh mementingkan diri sendiri. Sebab, tidak ada pedagang yang dapat hidup seorang diri. Mereka bergantung pada pedagang lain untuk mendapatkan bahan, pelanggan dan keterampilan. Konsep ini penting untuk menjamin keberhasilan suatu perdagangan. Namun sayangnya, orang Melayu gagal menerjemahkan konsep ini dalam bidang perdagangan. Akibatnya terjadi persaingan negatif yang akhirnya secara keseluruhan akan menghancurkan perdagangan orang Melayu.
    Sering kali terjadi, pedagang Melayu berdagang barang yang sama di kawasan yang sama. Jika satu toko menjual tomyam (sup asam pedas), semua toko akan menjual makanan yang sama. Jika ada yang menjual kue, keesokan harinya akan bermunculan toko-toko lain yang menjual kue. Hal ini seolah-olah menjadi suatu budaya dan tren di kalangan pedagang Melayu di mana pun mereka membuka perdagangan. Konsep perdagangan seperti ini tidak menguntungkan dan menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Akhirnya, bukan saja semua pedagang tidak mendapat untung, bahkan semuanya terpaksa gulung tikar ataupun berganti jenis perdagangan. Keadaan ini juga terjadi pada bulan puasa. Pada saat itu, akan muncul banyak pedagang seperti jamur pada musim hujan. Mereka berdagang hanya untuk mendapatkan keuntungan pada waktu yang singkat dan akan beristirahat ketika bulan Ramadhan berakhir. Perdagangan ala mee maggi (seperti makanan mie maggi) ini tidak akan menjadikan pedagang tersebut berhasil dalam bidang perdagangan . Banyak yang muncul secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba juga.
   Pedagang seperti fungus atau jamur ini tidak memiliki tempat dalam dunia perdagangan orang Cina. Golongan ini tidak layak disebut sebagai pedagang dan pengusaha yang seharusnya menunjukkan kesungguhan dan komitmen yang tinggi agar terus berdagang tanpa mengenal musim. Orang Cina tidak suka berdagang secara musiman meskipun ada di antara mereka yang mengusahakan perdagangannya secara kecil-kecilan. Berdagang kecil-kecilan itu lebih baik daripada berdagang musiman karena pedagang itu memiliki peluang untuk berkembang. Pedagang musiman bukan saja tidak berkembang, melainkan akan menghadapi masalah modal dan likuiditas (ketersediaan dana yang siap dicairkan) untuk memulai kegiatan berdagangnya. Mereka berdagang untuk mendapatkan uang saku dan uang belanja. Padahal, tujuan utama dalam perdagangan adalah keuntungan. Uang digunakan untuk menghasilkan uang . Uang digunakan untuk melakukan investasi dan menambah modal kerja. Uang tidak seharusnya dibelanjakan untuk hal lain, apalagi jika uang itu merupakan keuntungan dari perdagangan.
    Sudah menjadi hal yang biasa di kalangan pedagang Melayu, mereka tidak mempunyai uang kecil (receh) untuk digunakan sebagai uang kembalian kepada pelanggan. Untung yang mereka dapat hari ini akan digunakan untuk membeli barang dagangan. Mereka berpikir bahwa hasil pendapatan yang diperoleh hari ini adalah modal kerja. Seorang pedagang harus mempunyai sedikit modal sebagai modal kerja untuk perdagangan. Bagi yang berdagang makanan, mereka perlu menyediakan sejumlah uang receh sebagai modal untuk uang kembalian. Pedagang Cina dan India jarang menghadapi masalah uang kembalian ini. Namun, masalah ini sering dialami oleh kebanyakan pedagang Melayu sehingga mempengaruhi kepercayaan pelanggan pada mereka. Pedagang harus berusaha menumbuhkan rasa percaya kepada pelanggan dengan memberikan pelayanan yang terbaik.
    Secara psikologis, pelanggan menginginkan pelayanan yang cepat, efisien, dan cermat. Pedagang tidak boleh mengeluh di hadapan pelanggan apalagi menunjukkan emosi yang negatif, seperti marah, bosan, menunjukkan rasa tidak senang, dsb. Jangan sekali-kali menghardik pelanggan karena mereka membayar bukan untuk mendapatkan kata-kata yang tidak enak didengar. Dalam perdagangan setiap pedagang harus berpegang pada konsep „pelanggan adalah partner“. Merekalah yang membuat laku dagangan kita dan mereka juga yang akan menentukan maju mundurnya suatu perdagangan. Konsep ini dipegang oleh orang Cina dan dilaksanakan dalam segala kegiatan dagang mereka. Pedagang harus berkompromi dengan pelanggan. Mereka juga harus bersikap fleksibel dalam kegiatan usahanya untuk memuaskan hati pelanggan.
  Sebab itulah, pedagang Cina membolehkan terjadinya tawar-menawar. Meskipun proses ini memakan waktu dan mengurangi keuntungan, hal ini dapat mengembirakan hati pelanggan. Pelanggan yang gembira akan datang lagi. Jangan berharap pelanggan yang marah, tidak puas hati, dan merasa dipermalukan akan datang lagi kepada pedagang yang bersikap kurang baik padanya. Banyak orang yang suka berurusan dagang dengan pedagang Cina. Orang Cina selalu dipilih untuk pekerjaan-pekerjaan, seperti bertukang, memasang listrik, memperbaiki kendaraan, membangun, dan merenovasi bangunan. Salah satu faktornya adalah, karena orang Cina lebih diyakini dan dipercaya. Meskipun bayarannya mungkin lebih mahal sedikit, setidaknya mereka dapat memenuhi apa yang diinginkan pelanggan. Itulah yang membedakan pedagang Cina dengan pedagang Melayu.