Selasa, 05 Juni 2012

siklus audit SIA

Makalah AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP SIKLUS JASA PERSONEL

KATA PENGANTAR
Tiada kata yang paling awal penyusun ucapkan, selain puja dan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa ( TYME ) karena limpahan rahmat dan hidayah_Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah Auditing II ini tepat pada waktunya dengan judul “Audit Untuk Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif terhadap Siklus Jasa Personel”.
Selesainya tugas Makalah ini, tidak lepas atas bantuan dari segenap pihak. Oleh karena itu,Penyusun menghaturkan terima kasih di iringi do’a kepada Allah SWT, semoga amal baktinya dapat diterima.
“ Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai “, begitulah peribahasa yang sesuai dengan keadaan penyusun dalam menyelesaikan makalah yang sederhana ini. Penyusun berusaha semaksimal mungkin menyerap makalah ini dan menwujudkannya, namun keterbatasan Penyusun sehingga tidak dapat menyajikannya secara sempurna. Untuk itu, Penyusun memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat didalamnya.
Akhirnya, Penyusun mengharapkan dengan hadirnya makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang ekonomi khususnya tentang penggajian dan pengupahan dan SIA pada umumnya. Semoga Tuhan senantiasa memberkahi dan merahmati segala aktivitas keseharian kita dan menilainya sebagai amal ibadah disisi_Nya. Amin.

Makassar, 17 Oktober 2011
Penyusun

Samsulriadi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Deskripsi
Di dalam makalah Auditing II ini akan dibahas tentang “Audit Untuk Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif terhadap Siklus Jasa Personel”, Siklus jasa personel berhubungan dengan sistem informasi akuntansi penggajian dan pengupahan.
1.2. Latar Belakang
Tiada bangsa di dunia ini yang tidak mengingingkan kemakmuran bagi masyarakatnya. Kemakmuran tidak lepas dari kekayaan yang dimiliki dan dikelola oleh suatu masyarakat. Dengan kekayaan yang dimilikinya, suatu masyarakat akan dapat mealukan banyak hal mengisi kehidupan di dunia ini.
Di dalam masyarakat modern, kekayaan dinilai dengan uang dan setiap transaksi aliran kekayaan antarindvidu di dalam masyarakat diukur dengan satuan uang. Untuk mendapatkan berbagai barang dan jasa yang diperlukan, masyarakat modern memerlukan uang sebagai ukuran transaksi. Bahkan masyarakat yang telah maju peradabannya, uang kertas dan uang logam telah mulai digantikan dengan uang elektronik untuk mempercepat dan mempermudah transaksi antarmereka. Bagian masyarakat yang tidak dialiri uang ibarat bagian tubuh yang tidak dialiri darah, miskin dan tidak banyak yang dilakukan untuk mengisi kehidupan ini.
Uang berbicara melalui bahasa komunikasi yang disebut akuntansi. Penggunaan uang telah merembes ke semua aspek kehidupan manusia modern memerlukan akuntansi sebagai komunikasi keuangan antarindividu di dalam masyarakat. Kebutuhan akan informasi akuntansi berkembang sejalan dengan perkembangan kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat.
Setiap pihak yang diserahi wewenang untuk mengelola kekayaan investor, berkewajiaban untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan kekayaan tersebut kepada investor. Dalam mempertanggungjawabkan kekayaan, manajemen perusahaan menggunakan akuntansi sebagai bahasa komunikasi. Untuk itu, perusahaan perlu menyelenggarakan akuntansi yang memungkinkan disajikannya laporan pertanggungjawaban keuangan kepada para investor. Pertanggungajawaban keungan memerlukan dua unsur yaitu:
• Kompetensi dalam bidang akuntansi, dan
• Keandalan informasi akuntansi yang dihasilkan
Semakin kompleks perekonomian suatu masyarakat, semakin kompleks transaksi keuangan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut, sehingga memerlukan kompetensi yang tinggi untuk mencerminkan transaksi keuangan mereka dengan informasi akuntansi. Di samping itu, pertanggungjawaban keuangan kepada pihak investor memerlukan informasi yang tinggi tingkat keandalannya.
Kebutuhan masyarakat tentang informasi keuangan yang andal menyebabkan timbulnya profesi akuntan publik. Pofesi ini berkembang sejalan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat tentang jasa pihak yang kompeten dan dapat dipercaya untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh manajemen kepada pihak luar perusahaan. Untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan diperlukan pengetahuan yang disebut auditing.
Pengetahuan auditing menjadikan orang kompeten untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan, sehingga memungkinkan orang yang terjun dalam profesi akuntan publik mampu menghasilakn jasa yang menjadikan masyarakat keuangan dapat memperoleh informasi keuangan yang andal. Informasi keuangan yang andal bagi masyaraakt keaungan dalam mengambil keputusan pengalokasian sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien.
Sehubungan dengan uraian – uraian diatas, maka diperlukan perancangan program audit terhadap siklus kegiatan perusahaan. Pengujian pengendalian ditujukan oleh akuntan publik untuk menguji efektivitas pengendalian dengan kliennya. Pengujian pengendalian disesuaikan dengan penggolongan siklus kegiatan perusahaan. Dalam makalah ini, siklus kegiatan perusahaan manufaktur akan digunakan sebagai objek pengujian pengendalian khususnya terkait dengan siklus jasa personel. Siklus jasa personel terdiri dari dua sistem informasi akuntansi, yaitu sistem informasi akuntansi penggajian dan siklus informasi akuntansi pengupahan.

1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan judul pada deskripsi dan uraian pada latar belakang diatas, maka untuk menyelesaiakan makalah auditing II ini terlebih dahulu penyusun merumuskan permasalahan – permasalah yang akan dibahas pada bab II, berikut permasalah yang dapat penyusun identifikasi :
a) Bagaimana perancangan program audit untuk pengendalian pengujian terhadap siklus jasa personel ?
b) Apakah saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel atas pengujian substantif ?
1.4. Tujuan
Dari uraian yang dikemukakan sebelumnya dan mengingat begitu pentingnya jasa auditor didalam menghasilkan laporan keuangan yang andal sehingga perlu dirumuskan tujuan penulisan makalah ini, yaitu :
a) Memenuhi tugas kelompok sebagai bahan / acuan untuk memperoleh nilai mid test untuk mata kuliah auditing II.
b) Merancang program audit untuk pengendalian pengujian terhadap siklus jasa personel.
c) Untuk mengetahui audit terhadap siklus jasa personel atas pengujian pengendalian dan pengujian substantif.
d) Menambah dan memperluas wawasan tentang dua sistem informasi akuntansi yang berkaitan dengan siklus jasa personel.
e) Meningkatkan pemahaman tentang fungsi, dokumen, catatan akuntansi dan bagan alir yang terkait dengan siklus jasa personel.
1.5. Sistematika Penyusunan Makalah
Sistematika penulisan di dalam makalah ini, sebagai berikut :
a) Bab I. Pendahuluan, membahas tentang Deskripsi, Latar belakang, Rumusan masalah, tujuan dan Sistematika penyusunan makalah.
b) Bab II. Pembahasan, menjelaskan tentang perancangan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel yang terdiri dari Kerangka perancangan, Fungsi terkait, Dokumen, Catatan akuntansi, Bagan alir siklus jasa personel : bagan alir sistem informasi akuntansi penggajian dan bagan alir akuntansi pengupahan, salah saji potensial atas pengendalian yang diperlukandan prosedur audit untuk pengendalian yang dapat digunakan oleh auditor terhadap siklus jasa personel, aktivitas pengendalian yang diperlukan dalam siklus jasa personel,penyusunan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel dan penjelasan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel. Evaluasi hasil pengujian pengendalian. Pengujian substantif terhadap saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel yang terdiri dari prosedur analitik, penghitungan kembali utang gaji dan upah (Accrued payroll Liabilities) dan Verifikasi terhadap kompensasi bagi eksekutif.
c) Bab III. Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran.




BAB II
PEMBAHASAN
Siklus jasa personel dalam perusahaan manufaktur melibatkan fungsi personalia, fungsi keuangan dan fungsi akuntansi. Siklus jasa personel terdiri dari dua sistem informasi akuntansi. Siklus jasa personel dengan dua sistem informasi akuntansi tersebut, yaitu :
a) Sistem informasi akuntansi penggajian, yang terdiri dari jaringan prosedur :
• Prosedur pencatatan waktu hadir.
• Prosedur pembuatan daftar gaji.
• Prosedur pembayaran gaji.
• Prosedur distribusi biaya gaji.
b) Sistem informasi akuntansi pengupahan, yang terdiri dari jaringan prosedur
• Prosedur pencatatan waktu hadir.
• Prosedur pencatatan waktu kerja.
• Prosedur pembuatan daftar upah.
• Prosedur pembayaran biaya upah.
• Prosedur distribusi upah.
Siklus jasa personel juga berhubungan dengan siklus pengeluaran dan siklus produksi.Pembayaran gaji dan upah berkaitan dengan siklus pengeluaran. Distribusi gaji dan upah ke kos produk dan biaya overhead pabrik berkaitan dengan silus produksi. Dalam bab ini akan dibahas tentang perancangan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel, evaluasi hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif terhadap saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel.
2.1. Perancangan Program Audit untuk Pengujian pengendalian Terhadap Siklus Jasa Personel
2.1.1. Kerangka Perancangan
Kerangka perancangan audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel digambarkan sebagai berikut :

















Model perancangan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel.

2.1.2. Fungsi Yang Terkait
Setiap fungsi yang terkait dalam siklus jasa personel disajikan sebagai berikut :
a) Fungsi penerima pegawai
Bertanggung jawab untuk mencari karyawan baru, menyeleksi calon karyawan, memutuskan penempatan karyawan baru, membuat surat keputusan tarif gaji dan upah karyawan, kenaikan pangkat dan golongan gaji, mutasi karyawan dan pemberhentian karyawan.
b) Fungsi pencatat waktu
Bertanggung jawab untuk menyelenggarakan catatan waktu hadir bagi semua karyawan perusahaan.
c) Fungsi pembuat daftar gaji dan upah
Bertanggung jawab menghitung penghasilan setiap karyawan selama jangka waktu pembayaran gaji dan upah.
d) Fungsi pembuat bukti kas keluar
Bertanggung jawab membuat perintah pengeluaran kas untuk pembayaran gaji dan upah seperti yang tercantum dalam daftar gaji dan upah.
e) Fungsi pembayaran gaji dan upah
Bertantanggung jawab mengisi cek guna pembayaran gaji dan upah serta menguangkan cek tersebut ke bank.
f) Fungsi akuntansi biaya
Bertanggung jawab mencatat distribusi biaya ke dalam kartu kos produk dan kartu biaya berdasarkan rekap daftar gaji dan upah serta kartu jam kerja (untuk tenaga kerja langsung pabrik).
g) Fungsi akuntansi umum
Bertanggung jawab untuk mencatat gaji dan upah dalam jurnal umum.
2.1.3. Dokumen Yang Digunakan
Dokumen atau formulir merupakan media untuk mencatat peristiwa yang terjadi dalam organisasi ke dalam catatan. Dokumen sangat penting dalam akuntansi sebab untuk mencatat dan menghitung gaji dan upah menggunakan bukti-bukti yang terdapat pada dokumen. Dokumen yang digunakan dalam siklus jasa personel disajikan berikut ini :
Dokumen Transaksi Dokumen Sumber Dokumen Pendukung
1. Pencatatan biaya gaji dan upah Bukti kas keluar Rekap daftar gaji dan upah
2. Pencatatan pembayaran gaji dan upah Bukti kas keluar Daftar gaji dan upah
Sedangkan dokumen lengkap yang digunakan dalam siklus penggajian dan pengupahan sebagai berikut :
a) Dokumen pendukung perubahan gaji dan upah
Dokumen ini umumnya dikeluarkan oleh fungsi kepegawaian berupa surat – surat keputusan yang bersangkutan dengan karyawan.
b) Kartu jam hadir
Merupakan dokumen yang digunakan oleh fungsi pencatat waktu untuk mencatat jam hadir setiap karyawan di perusahaan.
c) Kartu jam kerja
Dokumen yang digunakan untuk mencatat waktu yang dikonsumsi oleh tenaga kerja langsungbpabrik guna mengerjakan pekerjaan. Catatan waktu kerja ini hanya diperlukan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan.
d) Daftar gaji dan daftar upah
Merupakan dokumen yang berisi jamlah gaji dan upah bruto setiap karyawan, dikurangi potongan – potongan berupa PPh Pasal 21, utang karyawan, iuran untuk organisasi karyawan, dan potongan lainnya.
e) Rekap rekap daftar gaji dan rekap daftar upah
Merupakan ringkasan gaji dan upah dokumen per departemen, yang dibuat berdasarkan daftar gaji dan upah.
f) Surat pernyataan gaji dan upah
Dokumen ini dibuat berdasarkan oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah bersamaan dalam pembuatan daftar gaji dan upah atau dalam kegiatan yang terpisah dari pembuatan daftar gaji dan upah.
g) Amplop gaji dan upah
Uang gaji dan upah karyawan diserahkan kepada setiap karyawan dalam amlop gaji dan upah. Halaman muka amplop berisi informasi mengenai nama karyawan, nomor identifikasi karyawan dan jumlah gaji bersih yang diterima karyawan dalam bulan tertentu.
h) Bukti kas keluar
Merupakan perintah pengeluaran kas yang dibuat oleh fungsi pembuat bukti kas keluar kepada fungsi pengeluaran kas berdasarkan informasi dalam daftar gaji dan upah yang diterima dari fungsi pembuat daftar gaji dan upah.

2.1.4. Catatan Akuntansi
Dalam siklus jasa personel ada beberapa catatan yang digunakan, sebagai berikut :
a) Jurnal umum
Dalam siklus penggajian dan pengupahan, jurnal ini digunakan untuk mencatat distribusi biaya tenaga kerja ke dalam setiap pesanan dan departemen dalam perusahaan yang memakai jasa tenaga kerja.
b) Kartu kos produk
Catatan ini merupakan buku pembantu yang digunakan upah tenaga kerja langsung yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu. Dokumen sumber untuk pencatatan ke dalam buku pembantu ini adalah rekap daftar upah.
c) Buku pembantu biaya
Catatan ini merupakan buku pembantu yang digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja (selain biaya tenaga kerja langsung) setiap departemen dalam perusahaan. Sumber informasi untuk pencatatn untuk kartu biaya adalah jurnal umum dan rekap daftar gaji dan upah.
d) Kartu penghasilan karyawan
Merupakan catatan mengenai penghasilan dan berbagai potongannya yang diterima oleh setiap karyawan. Informasi dalam kartu penghasilan ini dipakai sebagai dasar penghitungan PPh Pasal 21 yang menjadi beban setiap karyawan.
2.1.5. Bagan Alir Siklus Jasa Personel
Berikut ini akan digambarkan bagan alir siklus jasa personel yang dituliskan dalam sistem informasi akuntansi penggajian dan pengupahan :
• Bagan alir sistem informasi akuntansi penggajian
Pada bagian ini akan digambarkan sistem informasi penggajian, yang merupakan pembayaran atas jasa yang diserahkan oleh karyawan yang bekerja langsung sebagai manajer, kepada karyawan yang gajinya dibayarkan bulanan, tidak tergantung dari jumlah jam atau hari kerja atau jumlah produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, dalam sistem informasi akuntansi penggajian ini tidak diperlukan pencatatan waktu kerja, karena biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak perlu dibebankan kepada produk. Dalam sistem informasi akuntansi penggajian, tanda terima gaji oleh karyawan dibuktikan dengan penanda tanganan karyawan atas kartu penghasilan karyawan, sehingga setiap karyawan hanya dapat melihat gajinya masing – masing. Berikut bagan alir penggajian :

Bagian Pencatat Waktu Bagian Gaji dan Upah



























Keterangan :
KJH = kartu Jam Hadir
RDG = Rekap daftar Gaji
SPG = Surat Pernyataan Gaji
DG = Daftar Gaji
Bagian Utang


























Keterangan :
KPK = Kartu Penghasilan Karyawan
Bagian Kassa




























• Bagan alir sistem informasi akuntansi pengupahan

Sistem informasi akuntansi pengupahan, yang merupakan sistem pembayaran atas jasa yang diserahkan oleh karyawan yang bekerja sebagai karyawan pelaksana atau karyawan yang jasanya dibayar menurut jumlah jam atau hari kerja atau jumlah produk yang dihasilkan. Karena karyawan yang upahnya didasarkan kepada jam atau hari kerja dipabrik ada yang merupakan tenaga kerja langsung dalam hubungannya dengan produk yang dihasilkan, maka dalam sistem informasi akuntansi pengupahan memerlukan pencatatan waktu kerja, untuk membebankan upah tenaga kerja langsung kepada produk. Berikut bagan alir pengupahan :











Bagian – bagian di bawah
Bagian Pencatatan Waktu Departemen Produksi



























Keterangan :
KJK = Kartu Jam Kerja
Bagian Gaji dan Upah























Keterangan :
RDU = Rekap Daftar UPah
SPU = Surat Pernyataan Upah
KPK = Kartu Penghasilan Karyawan



Bagian Utang































Bagian Kassa






























Bagian Akuntansi Umum Bagian Akuntansi Biaya





























2.1.6. Salah Saji Potensial, Aktivitas Pengendalian yang Diperlukan dan Prosedur Audit untuk Pengujian Pengendalian yang Dapat Digunakan oleh Auditor
Salah saji prosedur dalam setiap tahap siklus jasa personel, aktivitas pengendalian yang diperlukan dan prosedur audit yang dapat digunakan oleh auditor untuk melakukan pengujian pengendalian terhadap setiap tahap transaksi. Berikut gambar pengujian pengendalian yang dapat dilakukan oleh auditor :

Tahap Transaksi Salah Saji Potensial Aktivitas Pengendalian yang Diperlukan Pengujian pengendalian yang Dapat Dilakukan KK K HK PA PP
Pembuatan daftar gaji dan upah Orang yang tidak diotorisasi masuk ke dalam daftar gaji dan upah.








Perubahan informasi dalam daftar gaji dan upah tidak diotorisasi oleh manajer yang berwenang.

Salah perhitungan gaji dan upah. Pemisahan fungsi.



Orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah adalah orang yang memiliki surat keputusan pengangkatan dari manajer berwenang.

Otorisasi dari manajer yang berwenang atas daftar gaji dan upah serta dokumen pendukung perubahan daftar gaji dan upah.


Pengecekan independen atas penghitungan gaji dan upah dan pajak penghasilan yang berkaitan. Lakukan pengamatan terhadap pemisahan fungsi.

Periksa surat keputusan pengangkatan semua orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah.



Lakukan pengamatan terhadap prosedur, pelaksanaan kembali.





Lakukan pengamatan terhadap prosedur, pelaksanaan kembali. √












































Pembuatan bukti kas yakeluar Pembayaran gaji dan upah yang tidak diotorisasi.





Biaya tenaga kerja langsung tidak dibebankan kepada kos produk.

Biaya overhead sesungguhnya tidak dicatat.



Salah dalam pembuatan bukti kas keluar Setiap bukti kas keluar untuk pembayaran gaji dan upah harus didasarkan pada daftar gaji dan upah yang telah diotorisasi oleh manajer berwenang.

Penggunaan kartu jam kerja.




Penggunaan bukti kas keluar dan bukti memorial yang diotorisasi oleh manajer berwenang.

Pengecekan independen atas pembuatan bukti kas keluar berdasarkan daftar gaji dan upah. Periksa otorisasi pada bukti kas keluar untuk pembayaran gaji dan upah.




Lakukan pengamatan penggunaan kartu jam kerja.



Periksa dokumen pendukung terjadinya biaya overhead pabrik sesungguhnya.


Lakukan pengamatan terhadap prosedur, pelaksanaan kembali. √

















































Pembayaran gaji dan upah Gaji dan upah dibayarkan kepada orang yang tidak berhak Hanya karyawan yang memiliki identitas yang sah dan berhak menerima gaji dan upah. Lakukan pengamatan terhadap prosedur pembayaran gaji dan upah. √ √
Pencatatan biaya gaji dan upah serta kewajiban yang berkaitan. Biaya gaji dan upah dicatat kedalam akun yang salah.










Catatn biaya dalam buku pembantu biaya tidak sama dengan akun kontrol biaya yang bersangkutan dalam buku besar. Penggunaan bantuan akun: pelaporan biaya gaji dan upah pada waktu yang tepat.



Pertanggungjawabkan semua formulir bernomor urut tercetak : kartu jam kerja, kartu jam hadir, bukti kas keluar, bukti memorial.

Rekonsiliasi periodik buku pembantu biaya dengan akun kontrol yang bersangkutan dalam buku besar. Periksa ketersediaan panduan akun dan amati penggunaanya: mnita keterangan tentang laporan biaya gaji dan upah.

Lakukan pengamatan terhadap prosedur, pelaksanaan kembali.




Lakukan pengamatan terhadap prosedur, pelaksanaan kembali.













√ √


Catatan :
K = Kelengkapan PA = Penilaian atau Alokasi
HK = Hak dan Kewajiban PP = penyajian dan Pengungkapan

2.1.7. Penjelasan Aktivitas Pengendalian yang Diperlukan dalam Siklus Jasa personel
Berdasarkan salah saji potensial dalam setiap tahap siklus jasa personel sebagaimana telah dirinci pada poin 2.1.6., aktivitas pengendalian yang dapat mencegah salah saji tersebut mencakup :
a) Fungsi pencatatan waktu harus terpisah dari fungsi operasi
Waktu hadir merupakan waktu yang dipakai sebagai salah satu dasar untuk penghitungan gaji dan upah karyawan. ketelitian dan keandalan data waktu hadir karyawan sangat menentukan ketelitian dan keandalan data gaji dan upah setiap karyawan. Untuk menjamin keandalan data waktu hadir karyawan, pencatatan waktu hadir tidak boleh dilaksanakan oleh fungsi operasi.
b) Otorisasi dari manajer yang berwenang untuk :
• Setiap orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah.
• Setiap perubahan gaji dan upah karyawan karena perubahan pangkat, perubahan tarif gaji dan upah, tambahan keluarga.
• Setiap potongan atas gaji dan upah karyawan selain dari pajak penghasilan karyawan.
• Kartu jam hadir.
• Perintah lembur.
• Daftar gaji dan upah.
• Bukti kas keluar untuk pembayaran gaji dan upah.
• Bukti memorial untuk pembebanan biaya tenaga kerja.
c) Penggunaan formulir bernomor urut tercetak dan penggunaannya dipertanggungjawabkan
Formulir ini diawasi pemakaiannya melalui pertanggungjawaban pemakaian nomor urut tercetaknya. Penggunaan kartu jam kerja bernomor urut tercetak menjamin kelengkapan data pemakaian jam kerja karyawan.
d) Pengecekan independen atas :
• Tarif upah yang dicantumkan dalam kartu jam kerja.
• Kartu jam hadir.
• Pemasukan kartu jam hadir ke dalam mesin pencatat waktu.
• Pembuatan daftar gaji dan upah.
• Pembayaran gaji dan upah
e) Rekonsiliasi :
• Perubahan dalam kartu penghasilan karyawan dengan daftar gaji dan upah karyawan.
• Penghitungan pajak penghasilan karyawan dengan kartu penghasilan karyawan
f) Penggunaan kartu penghasilan karyawan sebagai tanda penerimaan gaji dan upah oleh karyawan
Selain berfungsi sebagai kartu penghasilan yang diterima oleh karyawa selama setahun, juga berfungsi sebagai tanda telah diterimanya gaji dan upah oleh karyawan yang berhak. Oleh karena itu, dalam sistem informasi akuntansi penggajian dan pengupahan setelah diisi data gaji dan upah karyawan oleh fungsi pembuat daftar gaji, kartu penghasilan karyawan kemudian dikirimkan ke fungsi pembayaran gaji dan upah untuk dimintakan tanda tangan karyawan yang bersangkutan sebagai tanda terima gaji dan upah. Setelah ditanda tangani oleh karyawan yang bersangkutan, kartu penghasilan karyawan disimpan kembali oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah ke dalam arsip menurut abjad nama karyawan.
g) Penggunaan panduan akun pelaporan biaya tenaga kerja pada waktu yang tepat.
Keakuratan postig transaksi ke dalam buku pembantu biaya dan ke register bukti kas keluar ditentukan oleh pemberian kode akun dalam pembuatan dokumen sumber (bukti kas keluar).aktivitas pengendalian ini ditujukan untuk menjamin asersi penyajian dan pengungkapan siklus jasa personel. Oleh karena itu, ketersediaan buku panduan kode akun dan review terhadap pemberian kode akun pada saat pembuatan dokumen sumber menjamin keakuratan posting sehingga asersi penyajian dan pengungkapan menjadi andal.
2.1.8. Penyusunan Program Audit untuk Pengujian Pengendalian terhadap Transaksi yang Bersangkutan
Berdasarkan daftar prosedur audit yang dapat digunakan oleh auditor untuk melakukan pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel dapat disusun program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus tersebut. Prosedur audit yang terdapat pada poin 2.1.6. diklasifikasikan kembali menurut asersi yang dituju “keberadaan atau keterjadian, kelengkapan dan penilaian atau alokasi”. Program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel di sajikan dalam :
Prosedur Audit Kertas
Kerja Tanggal
Pelaksanaan Pelak-sana

Keberadaan atau keterjadian :
a) Lakukan pengamatan terhadap pembayaran gaji dan upah dan pemisahan fungsi.
b) Lakukan pengamatan terhadap pencatatan waktu hadir dan jam kerja.
c) Ambel sampel daftar gaji dan upah, kartu jam hadir karyawan dan kartu jam kerja karyawan. Dan lakukan pemeriksaan terhadap :
• Kesahihan nama karyawan yang tercantum dalam dokumen tersebut.
• Bukti adanya pengecekan independen terhadap pembuatan dokumen tersebut.
Kelengkapan :
a) Periksa bukti digunakannya formulir kartu jam kerja dan kartu jam hadir bernomor urut tercetak dan pertanggungjawaban pemakaian formulir tersebut.
b) Ambil sampel dokumen sumber bukti kas keluar dan lakukan pengusutan ke catatan akuntansi berikut ini :
• Daftar gaji dan upah karyawan
• Kartu kos produk
• Pencatatan ke dalam register bukti kas keluar dan jurnal umum
Penilaian atau alokasi :
a) Untuk sampel yang diambil pada langkah ke-3 diatas, periksa buki adanya :
• Persetujuan semestinya untuk setiap aktivitas tenaga kerja langsung dan tidak langsung.
• Pengecekan independen terhadap dokumen sumber (bukti kas keluar dan bukti memorial).
b) Periksa adanya pengecekan independen terhadap posting ke buku pembantu biaya dan register bukti kas keluar dan jurnal umum untuk memperoleh keyakinan bahwa tidak terjadi kekeliruan posting jumlah moneter atau akun.

2.1.9. Penjelasan Program Audit untuk Pengujian Pengendalian terhadap Transaksi yang Bersangkutan
Untuk membuktikan adanya pemisahan fungsi pembuatan daftar gaji dan upah dari fungsi pembayaran gaji dan upah, auditor melakukan pengamatan terhadap kedua fungsi tersebut dalam pelaksanaan pembayaran gaji dan upah. Auditor juga melakukan pengamatan terhadap fungsi pencatatan waktu hadir dari fungsi operasi dalam melaksanakan pengumpulan jam hadir karyawan untuk salah satu dasar pembuatan daftar gaji dan upah. Berikut penjelasan prosedur audit yang dapat dilakukan :
a) Lakukan pengamatan terhadap pembayaran gaji dan upah
Ditujukan untuk mendapatkan bukti bahwa gaji dan upah diterima oleh karyawan yang berhak dan tidak diterima oleh karyawan fiktif.
b) Lakukan pengamatan terhadap pencatatan waktu hadir dan jam kerja karyawan
Untuk membuktikan ketelitian dan keandalan data jam hadir yang dicatat oleh fungsi pencatat waktu dan jam kerja karyawan yang dicatat oleh fungsi produksi, auditor melakukan pengamatan pencatatan jam hadir dan jam kerja karyawan oleh kedua fungsi tersebut. Dalam pengamatan terhadap pencatatan waktu hadir, auditor mengumpulkan informasi tentang :
• Adanya pengawasan dari fungsi pencatat waktu terhadap pemasukan kartu jam hadir kedalam mesin pencatat waktu yang dilakukan oleh setiap karyawan.
• Adanya pemeriksaan oleh fungsi pencatat waktu terhadap identitas karyawan yang memasukkan kartu hadir kedalam mesin pencatat waktu.
c) Ambil sampel daftar gaji dan upah
Auditor mengambil sampel gaji dan upah yang disimpan oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah. Daftar gaji dan upah yang disimpan dalam arsip di fungsi pembuat daftar gaji dan upah merupakan dokumen pendukung bukti kas keluar. Daftar gaji dan upah yang dipilih kemudian diperiksa mengenai :
• Surat keputusan pengangkatan karyawan yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah tersebut.
• Surat kputusan mengenai pengangkatan karyawan baru yang namanya tercantum dalam daftar gaji dan upah.
• Surat keputusan mengenai tarif gaji dan upah yang digunakan sebagai dasar pembuatan daftar gaji dan upah.
• Surat otorisasi pemotongan gaji dan upah.
• Bukti pengecekan kebenaran dan ketelitian penghitungan gaji dan upah yang tercantum dalam daftar gaji dan upah.
• Tanada tangan otorisasi dari pejabat yang berwenang atas gajidan upah.
• Kesesuaian data gaji dan upah yang tercantum dalam daftar gaji dan upah dengan jumlah yang dicatat kedalam jurnal umum.
• Kesesuaian dagta gaji dan upah yang tercantum dalam daftar gaji dan upah dengan yang tercantum dalam kartu penghasilan karyawan (dalam arsip kartu penghasilan karyawan yang diselenggarakan oleh fungsi pembuatan daftar gaji dan upah).
d) Ambil sampel kartu jam hadir karyawan
Kartu jam hadir karyawan disimpan dalam arsip di fungsi pembuat daftar gaji dan upah. Auditor mengambil sampel kartu jam hadir dan kemudian melakukan pemeriksaan terhadap :
• Surat pernyataan lembur jika dalam kartu jam hadir tersebut tercantum jam kerja lembur.
• Tanda tangan otorisasi kartu jam hadir oleh fungsi pencatatan waktu.
• Kesesuaian data jam hadir karyawan dengan data jam kerja yang tercantum dalam kartu jam kerja karyawan yang bersangkutan.
e) Ambil sampel kartu jam kerja karyawan
Kartu jam kerja karyawan disimpan dalam arsip di fungsi pembuatan daftar gaji dan upah. Auditor mengambil sampel kartu jam kerja dan melakukan pemeriksaan terhadap :
• Kebenaran tsrif upah yang dicantumkan dalam kartu jam kerja karyawan.
• Kebenaran distribusi upah yang tercantum dalam rekap daftar upah dan pencatatan upah langsung ke dalam kartu kos produk yang bersangkutan.
f) Periksa bukti digunakannya formulir bernomor urut tercetak dan pertanggungjawaban pemakaian formulir tersebut
Penggunaan nomor urut tercetak menjamin kelengkapan transaksi pembelian yang dicatat dalam catatan akuntansi. Dalam siklus jasa personel, formulir kartu jam kerja, bukti kas keluar, bukti memorial, harus bernomor urut tercetak dan pemakaian formulir tersebut dipertanggungjawabkan melalui pemakaian nomor urut tercetak tersebut. Auditor memeriksa apakah klien menggunakan formulir bernomor urut tercetak pada waktu auditor mengambil sampel kartu jam kerja.
g) Ambil sampel bukti kas keluar yang disetujui untuk pembayaran gaji dan upah dan lakukan pengusutan ke dokumen pendukung dan catatan akuntansi yang bersangkutan
Untuk membuktikan bahwa setiap pembayaran gaji dan upah didahului dengan adanya otorisasi dalam pembuatan daftar gaji dan upah, auditor mengambil sampel bukti kas keluar dari arsip dokumen tersebut yang disimpan oleh fungsi utang (unfaid voucher file) dan yang disimpan oleh fungsi akuntansi biaya (paid voucher file). Bukti kas keluar dalam arsip tersebut dilampiri dengan daftar gaji dan upah dan rekap daftar gaji dan upah. Dalam pemeriksaan terhadap bukti kas keluar , auditor melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan nomor urut tercetak dalam dokumen itu dan pertanggungjawaban penggunaan dokumen bernomor urut tercetak tersebut. Jika dalam pemeriksaan kas keluar auditor menemukan adanya nomor bukti kas keluar yang tidak ada, auditor meminta pertanggungjawaban mengenai hal tersebut dari fungsi utang. Jika fungsi utang dapat mempertanggungjawabkan tidak adanya nomor bukti kas keluar, auditor dapat memperoleh keyakinan mengenai adanya unsur pengendalian intern yang baik dalam sistem informasi akuntansi pembelian. Di samping itu, auditor juga melakukan pemeriksaan terhadap tanda tangan otorisasi yang tercantum dalam bukti kas keluar. Auditor juga mengusut posting data dalam bukti kas keluar ke buku pembantu biaya, kartu kos produk, register bukti kas keluar dan jurnal umum.
h) Periksa adanya pengecekan independen terhadap posting ke buku pembantu dan jurnal
Untuk menguji keandalan prosedur pencatatan siklus jasa personel, auditor menguji ketelitian ketelitian posting ringkasan register bukti kas keluar dan jurnal umum kedalam akun yang bersangkutan dalam buku besar. Auditor mengambil sampel rekapitulasi bulanan register bukti kas keluar dan jurnal umum kemudian membandingkannya dengan jumlah yang di posting dalam akun yang bersangkutan dalam buku besar.

2.2. Evaluasi Hasil pengujian Pengendalian
Materi yang dibahas Dalam makalah ini merupakan keseluruhan proses yang ditempuh oleh auditor di dalam memperkirakan risiko pengendalian terhadap siklus jasa personel. Taksiran risiko pengendalian ini berdampak terhadap strategi audit yang ditempuh oleh auditor.
Berbagai tahap penaksiran risiko pengendalian terhadap berbagai sistem informasi akuntansi yang membentuk siklus jasa personel merupakan proses audit yang dilaksanakan oleh auditor dalam rangka memperoleh pemahaman tentang struktur pengendalian intern terhadap siklus jasa personel. Setelah memperoleh pemahaman atas kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang relevan dengan pelaporan siklus jasa personel dan setelah menaksir risiko pengendalian untuk berbagai asersi akun yang terkait dengan siklus jasa personel (barang dalam proses-tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik, biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum, utang gaji dan upah, utang pajak penghasilan karyawan).
Auditor harus membandingkan tingkat risiko pengendalian sesungguhnya atau final dengan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk asersi tersebut. Jika tingkat pengendalian risiko final sama dengan yang direncanakan, auditor dapat melanjutkan untuk mendasain pengujian substantif khusus berdasarkan tingkat pengujian substantif yang direencanakan. Jika tingkat risiko pengendalian final tidak sama dengan yang direncanakan, auditor harus m1engubah tingkat pengujian substantif sebelum auditor mendesain pengujian substantif khusus untuk menampung tingkat risiko deteksi tyang dapat diterima.
2.3. Pengujian Substantif Terhadap Saldo Akun Yang Terkait Dengan Siklus Jasa Personel
Berbagai saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel merupakan akun utang lancar, pengujian substantif terhadap saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel mirip dengan pengujian substantif terhadap saldo utang usaha. Saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel, yaitu :
a) Utang gaji dan upah.
b) Utang pajak penghasilan karyawan.
c) Utang dana pensiun.
d) Utang bonus.
e) Utang komisi.
Pengujian substantif secara spesifik berlaku terhadap berbagai saldo akun yang terkait dengan siklus jasa personel terletak pada tiga cara, sebagai berikut :

2.3.1. Prosedur Analitik

Penerapan prosedur analitik terhadap berbagai saldo utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel, yaitu :
a) Perbandingan biaya karyawan (gaji, upah, komisi, bonus, tunjangan, kompensasi, dan lain-lain) tahun yang diaudit dengan biaya karyawan tahun sebelumnya (setelah di adjust dengan perbedaan tarif gaji dan upah) dan dengan biaya karyawan menurut anggaran.
b) Perbandingan saldo utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel yang tercantum dalam neraca yang diaudit dengan saldo utang tersebut dalam neraca tahun sebelumnya.
c) Perhitungan ratio biaya pajak penghasilan karyawan dengan total biaya karyawan dan perbandingan ratio tersebut dengan ratio tahun sebelumnya.
d) Rekonsiliasi jumlah pajak penghasilan karyawan dengan jumlah yang tercantum dalam SPT pajak penghasilan karyawan.
Jika dari prosedur analitik ini tidak terdapat fluktuasi signifikan, auditor dapat memperoleh bukti tentang asersi “keberadaan atau keterjadian, kelengkapan dan penilaian atau alokasi”.

2.3.2. Penghitungan Kembali Utang Gaji dan Upah (accrued Payroll Liabilities)

Auditor berkepentingan untuk memverifikasi kemungkinan adanya understatement panyajian utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel dan konsistensi metode yang digunakan untuk menghitung tersebut. Utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Utang kepada karyawan, dan
b) Utang kepada pemerintah sehubungan dengan gaji dan upah serta kompensasi lain yang dibayarkan kepada karyawan.
Dalam memperoleh bukti mengenai kewajaran utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel, auditor harus mereview perhitungan yang dilakukan oleh manajemen atas utang gaj, upah, kompensasi, komisi, bonus, tunjangan cuti, tunjangan rekreasi dan tunjangan pajak penghasilan karyawan. Cara lain yang dapat ditempuh oleh auditor adalah dengan melakukan perhitungan sendiri berbagai kewajiban perusahaan terhadap karyawan dan negara pada tanggal neraca dan kemudian membandingkan hasil perhitungannya dengan utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel yang tercatat. Bukti tambahan dapat diperoleh auditor dengan memeriksa pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk berbagi utang yang berkaitan dengan siklus jasa personel yang terjadi setelah tanggal neraca.

2.3.3. Verifikasi Terhadap Kompensasi bagi Eksekutif

Kompensasi bagi eksekutif merupakan objek audit yang paling sensitif karena eksekutif berada pada posisi yang dapat mengabaikan aturan yang telah ditetapkan. Kompensasi eksekutif dapat berupa gaji, bonus, stock option, biaya representasi (biaya yang disediakan bagi eksekutif untuk membangun hubungan kemitraan dengan mitra bisnis). Oleh karena itu, dalam pemeriksaan terhadap kompensasi bagi eksekutif, auditor melakukan verifikasi jumlah kompensasi dengan cara membandingkan otorisasi tentang kompensasi dari dewan komisaris dengan kompensasi yang dicatat.










BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Siklus jasa personel terdiri dari dua sistem informasi akuntansi penggajian dan sistem informasi pengupahan. Perancangan program audit untuk pengujian pengendalian berbagai sistem informasi akuntansi yang membentuk jasa personel dilaksanakan melalui lima tahap sebagai berikut :
a) Pemahaman terhadap sistem informasi akuntansi untuk pelaksanaan transaksi.
b) Penentuan kemungkinan salah saji potensial dalam setiap tahap pelaksanaan transaksi.
c) Penentuan aktivitas pengendalian yang dioerlukan untuk mendeteksi dan mencegah salah saji potensial dalam setiap tahap pelaksanaan transaksi.
d) Penentuan prosedur audit untuk mendeteksi efetivitas aktivitas pengendalian.
e) Penyusunan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap transaksi.
Pada tahap pemahaman terhadap sistem informasi akuntansi untuk pelaksanaan transaksi, untuk setiap sistem informasi akuntansi yang membentuk jasa personel diuraikan dengan :
a) Fungsi terkait,
b) Dokumen,
c) Catatan akuntansi, dan
d) Bagan alir sistem informasi akuntansi.
Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asresi, yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (mencakup sifat, saat dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit. Jika pengendalian risiko pengedalian ditaksir terlalu rendah, risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai sehingga auditnya tidak efektif. Sebaliknya, jika risiko pengendalian ditaksir terlalu tinggi, auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan, sehingga auditor melakukan audit yang tidak efisien.
Hasil pelaksanaan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus jasa personel didokumentasikan oleh auditor dalam kertas kerja sebagai bagian dari pelaksanaan standar pekerjaan lapangan kedua.

3.2. Implikasi makalah
Globalisasi yang melanda semua negara didunia, termasuk Indonesia, menuntut profesi akuntan publik untuk memiliki kandungan pengetahuan tingkat dunia, agar mampu berperan dalam kegiatan ekonomi. Kandungan pengetahuan tingkat dunia hanya dapat dimiliki melalui pendidikan dan pelatihan yang ditempuh secara berkelanjutan karena ilmu dan pengetahuan senantiasa mengalami perubahan pesat dalam era teknologi informasi. Semoga makalah ini senantiantiasa memberikan sumbangan bagi pengembangan pengetahuan bagi para mahasiswa (i) agar memiliki kompetensi dalam bidang auditing, sehingga suatu saat bisa menjadi auditor dan dapat menjawab tuntutan kebutuhan masayarakat keuangan tentang informasi keuangan yang andal. Untuk makalah auditing Ii ini, diharapkan mampu memberikan implikasi terhadap :
a) Para Auditor agar dapat mempertahankan keprofesionalan terhadap audit untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif terhadap siklus jasa personel.
b) Dosen Auditing II sebagai bahan atau tambahan pengajaran, sehingga dapat menjunjung tinggi nilai – nilai yang terkandung didalamnya.
c) Para Mahasiswa (i) agar dapat menambah dan memperluas pengetahuan tentang audit terhadap siklus jasa personel ; pengujian pengendalian dan pengujian substantif khususnya yang mencakup 2 (dua) sistem informasi akuntansi, yaitu sistem informasi akuntansi penggajian dan sistem informasi akuntansi pengupahan.
d) Para Penyusun makalah selanjutnya agar hasil makalah ini dapat mendorong untuk melakukan penyusunan yang mencakup pemahaman yang lebih luas dengan mengkaji lebih dalam aspek – aspek yang terkandung didalam audit pengujian pengendalian dan pengujian substantantif terhadap siklus jasa personel.



DAFTAR PUSTAKA


Mulyadi. Universitas gaja Mada. Auditing:Audit terhadap siklus jasa personel atas pengujian pengendalian dan pengujian substantif. Edisi 6. Buku 2. Jakarta: PT. Salemba Empat, 2002.

Mulyadi. Sistem Informasi Akuntansi. Edisi ke-3. Jakarta: PT. Salemba Empat, 2001.

Sabtu, 02 Juni 2012

6 Ciri Orang Sukses


Bila mengamati orang sukses di sekitar kita, maka ada hal menarik yang bisa kita buktikan bersama, yakni bahwa ternyata mereka memiliki ciri-ciri yang hampir sama. Saya mencoba merangkum ciri-ciri tersebut ke dalam 6 poin yang akan saya uraikan berikut ini. Tentu ciri-ciri tersebut tidak terbatas pada 6 poin itu, malah mungkin jauh lebih banyak dari itu. Namun, saya merasa bahwa 6 ciri inilah yang paling sentral dan dimiliki oleh hampir semua orang sukses.
  • Pandai mengelola waktu
Seperti yang pernah saya tulis dalam postingan Bangun Siang, semua orang sejatinya memiliki jumlah waktu yang sama dalam sehari, yakni 24 jam. Orang yang sukses sangat pandai mengelola waktu yang “sedikit” itu sehingga produktivitasnya demikian tinggi. Sebaliknya, “orang gagal” cenderung membuang-buang waktu sehingga tingkat produktivitasnya pun sangat rendah.
  • Senantiasa berpikir positif
Orang-orang sukses di sekitar saya terkenal memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Saya rasa ini bukan masalah skill semata, melainkan juga karena mereka memiliki pola pikir yang positif dan optimis. Dengan memiliki pola pikir seperti itu, berbagai ide berupa solusi atas satu masalah bisa datang dengan derasnya. Sebaliknya, pikiran yang negatif dan pesimis akan membuat kita tidak melakukan apa-apa sehingga masalah pun tidak kunjung teratasi, bahkan semakin runyam.
  • Memiliki visi yang kuat
Orang sukses cenderung memiliki visi yang kuat dan senantiasa mengarahkan pandangan ke depan. Mereka tidak terlalu lama tenggelam dalam kejayaan yang pernah diraih dan kesalahan yang pernah dilakukan pada masa lampau. Visi yang kuat mendorong mereka untuk melakukan sesuatu, mengambil tindakan konkret untuk meraih mimpi-mimpi mereka.
  • Fleksibel
Sependek pengamatan saya, orang-orang sukses cenderung terbuka dengan berbagai perubahan, misalnya dalam hal kemajuan teknologi. Mereka tidak gagap ketika diharuskan menjalankan sistem baru. Mereka juga terbuka dengan berbagai alternatif yang tidak biasa. Sifat fleksibel ini membuat mereka mudah beradaptasi dalam kondisi apa pun.
  • Menjaga integritas
Karena memiliki visi yang kuat, maka orang sukses senantiasa menjaga integritas, sebab hal ini penting demi perkembangan usaha atau karier mereka dalam jangka panjang. Dalam berbisnis atau bekerja, mereka memang cerdik, namun tidak mau merusak integritas diri dengan berbuat licik. Menipu, bertindak curang, atau memanipulasi memang bisa mendatangkan keuntungan, namun sifatnya jangka pendek, sebab selanjutnya justru bisa menghancurkan diri sendiri. Hal-hal seperti ini sangat dihindari oleh orang sukses.
  • Supel
Salah satu kemampuan istimewa yang dimiliki oleh orang sukses adalah supel atau pandai bergaul. Karena itulah mereka disenangi oleh banyak orang sehingga kemudian bisa memiliki relasi yang luas. Dalam dunia bisnis, relasi yang luas merupakan salah satu kunci yang banyak dimiliki oleh para pebisnis sukses.
Demikian 6 ciri orang sukses yang saya maksud. Mungkin di antara teman-teman semua ada yang berniat untuk menambahkan. Bila iya, silakan menuliskannya di kolom komentar. Terima kasih, lho

Jumat, 01 Juni 2012

Inilah 7 Titik Rangsang Wanita yang Pria Suka Lupa Menyentuhnya



Untuk Anda para pria-pria, Mau tahu dimana saja titik rangsang wanita yang sering Anda lupakan ? ini dia jawabannya dan pastikan Anda tidak melewatkan ketujuh titik ini jika ingin membuat pasangan Anda bergairah dan meminta Anda mengulanginya lagi dimalam berikutnya.
Langsung aja baca semuanya disini…







1. The Mons
Bisa jadi Anda tidak terlalu familiar dengan ‘the mons’ ini. The Mons sebenarnya adalah kelamin wanita bagian luar. “The Mons atau area yang ada di bawah vagina, tempat bulu kemaluan tumbuh, merupakan titik yang sangat menarik jika dihubungkan dengan hal seksual,” jelas Direktur Eksekutif Southern California Center for Sexual Health and Survivorship Medicine, dr. Michael Krychman, asal California.
Untuk merangsang titik tersebut, sentuh saja dengan lembut area itu. Jika ingin menambah sensasi tersendiri, Kychman menyarankan menggunakan minyak dari tumbuh-tumbuhan. Penggunaan minyak tersebut bisa meningkatkan sensitifitas dan gairah.
2. Belakang Lutut
Bisa jadi area belakang lutut bukanlah titik yang suka disentuh oleh pasangan. Area itu memang cukup tersembunyi dan kerap membuat Anda geli jika disentuh. Krychman menyarankan mintalah pasangan untuk menyentuh area tersebut dengan bibirnya. Anda juga bisa meminta si dia memijat bagian tubuh tersebut dengan minyak atau lotion. “Beberapa wanita merasa sangat bergairah saat titik belakang lutut di sentuh dengan lembut,” ujarnya.
Pakar pendidikan seks, Ava Cadell menambahkan, jangan lupa juga untuk menyentuh bagian depan lutut. “Lutut adalah titik rangsang yang penting, semua bagian lutut bisa membuat wanita terangsang,” jelasnya.
3. Perut
“Membiarkan pasangan menyentuh atau bahkan memijat lembut perut Anda bisa jadi pengalaman yang sangat erotis untuk beberapa wanita,” ujar Amy Levine, seorang pakar pendidikan seks dan juga penggagas situs SexEdSolutions. Ia menambahkan, dalam kasus yang langka, wanita bisa mencapai orgasme hanya karena melakukan latihan di bagian perut. “Memang sangat jarang sebagian besar dari wanita bisa merasakan efek yang sama. Tapi dengan melakukan beberapa latihan perut bisa membuat Anda mood (bercinta),” tambah Levine.
4. Bibir
Ingin melakukan hubungan seks yang berbeda malam ini? Coba habiskan waktu selama lima menit untuk berciuman dengan pasangan sebelum bercinta. “Bibir adalah area paling erotis dari tubuh wanita,” ujar Krychman. Untuk membuat suasana semakin ‘panas’, variasakan kekuatan dan intensitas ciuman tersebut. “Sentuhan di bibir dengan lembut juga tetap membuat wanita bergairah,” tambahnya.
5. Kepala
Sebagian besar dari Anda tentu suka saat kepala Anda dipijat oleh penata rambut di salon. Well, kenapa Anda tidak minta suami melakukan hal serupa. Cadell menjelaskan di kepala ada banyak syaraf yang sangat sensitif dengan sentuhan. Pijatan yang lembut di kepala tentu saja bisa membuat seseorang rileks dan membuat aliran darah ke tubuh lebih lancar. Pijatan tersebut juga dapat membuat tubuh melepaskan hormon dopamine dan serotonin. Dua hormon tersebut bisa membuat seseorang merasa senang dan percaya diri.
6. Kaki
“Ritual yang membuat rileks dan menenangkan setelah menjalani hari melelahkan juga bisa membuat Anda dan pasangan bergairah,” jelas Levine.
Ritual yang bisa membuat rileks itu salah satunya adalah dengan memijat kaki. Menurut Levive, beberapa pria menganggap kaki wanita sangat menarik. Sentuhan di titik yang benar di kaki juga bisa memicu Anda bergairah.
7. Leher
“Leher adalah bagian terseksi dari tubuh wanita,” ujar Levine. “Tidak ada hal yang lebih menggairahkan selain ketika seorang pria berdiri di belakang wanitanya, lalu memijat pundak dan memberikan ciuman rayuan mulai dari rambut sampai leher,” tambahnya.

Senin, 28 Mei 2012

Akuntansi kepribadian

. Sikap

 
    Sikap adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan untuk memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang. Ketiga komponen sikap: pengertian
(cognition), pengaruh
(affect), dan perilaku
(behavior). Susunan sikap yang dipandang berdasarkan ketiga komponen tersebut membantu untuk memahami kerumitan sikap dan hubungan potensial antara sikap dan perilaku.
Komponen Sikap
    Sikap disusun oleh komponen teori, emosional, dan perilaku. Komponen teori terdiri atas gagasan, persepsi, dan kepercayaan seseorang mengenai penolakan sikap. Komponen emosional atau afektif mengacu pada perasaan seseorang yang mengarah pada objek sikap. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana satu kekuatan bereaksi terhadap objek/sikap.
Fungsi Sikap
    Sikap memiliki empat fungsi utama: pemahaman,kebutuhan akan kepuasan, defensif ego, dan ungkapan nilai. Pemahaman atau pengetahuan berfungsi untuk membantu seseorang dalam memberikan maksud atau memahami situasi atau peristiwa baru. Sikap juga melayani suatu hal yang bermanfaat atau fungsi kebutuhan yang memuaskan. Sikap juga melayani fungsi defensif ego dengan melakukan pengembangan guna melindungi manusia dari pengetahuan yang berlandaskan kebenaran mengenai dasar manusia itu sendiri atau dunianya. Sikap juga melayani fungsi nilai ekspresi.
Sikap dan Konsistensi
    Orang-orang mengusahakan konsistensi antara sikap-sikapnya serta antara sikap dan perilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha untuk menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan menyelaraskan sikap dengan perilaku mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan konsisten.
Formasi Sikap dan Perubahan
    Formasi sikap mengacu pada pengembangan suatu sikap yang mengarah pada suatu objek yang tidak ada sebelumnya. Perubahan sikap mengacu pada substitusi sikap baru untuk seseorang yang telah ditangani sebelumnya. Sikap dibentuk berdasarkan karakter faktor psikologis, pribadi dan sosial. Hal pokok yang paling fundamental mengenai cara sikap dibentuk sepenuhnya berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi terhadap suatu objek, yaitu pengalaman yang menyenangka maupun tidak, traumatis, frekuensi kejadian, dan pengembangan sikap tertentu yang mengarah pada gambaran hidup baru.

 
2. Beberapa Teori Terkait dengan Sikap

 
Teori Perubahan Sikap
    Teori perubahan sikap dapat membantu untuk memprediksikan pendekatan yang paling efektif. Sikap, mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan dan keadaan.
Teori Pertimbangan Sosial
    Teori pertimbangan sosial ini merupakan suatu hasil perubahan mengenai bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek dan bukannya hasil perubahan dalam memercayai suatu objek. Teori ini menjelaskan bahwa manusia dapat menciptakan perubahan dalam sikap individu jika mau memahami struktur yang menyangkut sikap orang laindan membuat pendekatan setidaknya untuk dapat mengubah ancaman.
Konsistensi dan Teori Perselisihan
    Teori konsistensi menjaga hubungan antara sikap dan perilaku dalam ketidakstabilan, walaupun tidak ada tekanan teori dalam sistem. Teori perselisihan adalah suatu variasi dari teori konsistensi.
Teori Disonansi Kognitif
    Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori Disonansi Kognitif. Teori ini menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku. Disonansi dalam hal ini berarti adanya suatu inkonsistensi. Festinger mengatakan bahwa hasrat untuk mengurangi disonansi akan ditentukan oleh pentingnya unsur-unsur yang menciptakan disonansi itu, derajat pengaruh yang diyakini dimiliki oleh individu terhadap unsur-unsur itu, dan ganjaran yang mungkin terlibat dalam disonansi. Teori ini dapat membantu kecenderungan untuk mengambil bagian dalam perubahan sikap dan perilaku.
Teori Persepsi Diri
    Teori persepsi diri menganggap bahwa orang-orang mengembangkan sikap berdasarkan bagaimana mereka mengamati dan menginterpretasikan perilaku mereka sendiri. Teori ini mengusulkan fakta bahwa sikap tidak menentukan perilaku, tetapi sikap itu dibentuk setelah perilaku terjadi guna menawarkan sikap yang konsisten dengan perilaku.
Teori Motivasi dan Aplikasinya
    Terdapat keyakinan bahwa perilaku manusia ditimbulkan oleh adanya motivasi. Dengan demikian, ada sesuatu yang mendorong (memotivasi) seseorang untuk berbuat sesuatu.
Teori Motivasi Awal
    Tiga teori spesifik dirumuskan selama kurun waktu tahu 1950-an. Ketiga teori ini adalah teori hierarki kebutuhan,teori X dan Y, dan teori motivasi higiene. Teori-teori ini bersifat awal karena: 1) teori-teori ini mewakili suatu dasar dari mana teori-teori kontemporer berkembang, dan 2) para manajer mempraktikkan penggunaan teori dan istilah-istilah ini untuk menjelaskan motivasi karyawan secara teratur.
Teori Kebutuhan dan Kepuasan
Moslow menjelaskan suatu bentuk teori kelas. Teorinya menjelaskan bahwa masing-masing individu mempunyai beraneka ragam kebutuhan yang dapat mempengaruhi perilaku mereka.
Hierarki kebutuhan manusia oleh Moslow
  • Kebutuhan fisiologis (physiologis needs ), yaitu kebutuhan fisik , seperti rasa lapar, rasa haus, kebutuhan akan perumahan, pakaian, dan lain sebagainya.
  • Kebutuhan akan keamanan (safety needs ), yaitu akan kebutuhan keselamatan dan perlindungan dari bahaya, ancaman, perampasan atau pemecatan.
  • Kebutuhan sosial (social needs ), yaitu kebutuhan akan rasa cinta dan kepuasan dalam menjalin hubunnga dengan orang lain, kebutuhan akan kepuasan dan perasaan memiliki serta diterima dalam suatu kelompok, rasa kekeluargaan, persahabatan, dan kasih sayang.
  • Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs ), yaitu kebutuhan akan status atau kedudukan, kehormatan diri, reputasi, dan prestasi.
  • Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs ), yaitu kebutuhan pemenuhan diri untuk mempergunakan potensi ekspresi diri dan melakukan apa yang paling sesuai dengan dirinya.
    
Teori Prestasi
Teori ini pada awalnya dikembangkan oleh McClelland pada awal tahun 1990. Teori McClelland mempunyai suatu faktor hierarki yang memotivasi perilaku. Dalam kasus ini, terdapat tiga faktor yaitu prestasi, kekuatan dan afiliasi. Riset yang dilakukan oleh McClellandmembri hasil bahwa terdapat tiga karakreristik dari orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi, yaitu :
  • Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pelaksanaan suatu tugas atau pencarian solusi atas suatu permasalahan.
  • Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi cenderung menetapkan tingkat kesulitan tugas yang moderat dan menghitung risikonya.
  • Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi memiliki keinginan yang kuat untuk memperoleh umpan balik (feed back ) atau tanggapan atas pelaksanaan tugasnya.
Teori Motivasi
Pada pertengehan tahun 1960-an Herzberg mengajukan suatu teori motivasi yang di bagi kedalam beberapa faktor. Asumsi terpenting dari bentuk teori Herzberg adalah factor yang mempunyai pengaruh positif dalam motivasi dan menjadi bahan perbedaan yang menyenangkan dari seluruh pengaruh negatif. Faktor-faktor ini meliputi : kebijakan perusahaan , kondisi pekerjaan, hubungan perseorangan, keamanan kerja dan gaji. Faktor motivasi meliputi : prestasi, pengakuan, tantangan pekerjaan, promosi, dan tanggung jawab.

 
Teori Keadilan
Teori keadilan pertama kali dipublikasikan oleh Adam pada tahun1963. Dalam teori keadilan, kunci ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang individu adalah jika orang tersebut membandingkannya dengan lingkungan lainnya.
Teori ERG
Teori ERG (existence, relatedness, growth ) menganggap bahwa kebutuhan akan manusia memilki tiga hierarki kebutuahan, yaitu kebutuhan akan eksistensi ( existence needs), kebutuhan akan keterikatan ( relatedness needs ) dan kebutuhan akan pertumbuhan (growth needs ).
Teori Harapan
Teori ini dikembangkan sejak tahun 1930-an oleh Kurt Levin dan Edward Tolman. Teori harapan disebut juga teori valensi atau teori instrumentalis. Ide dasar teori ini adalah bahwa motivasi ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan diperoleh seseorang sebagai akibat dari tindakannya. Variabel-variabel kunci dalam teori harapan adalah: usaha (effort), hasil (income),harapan (expectancy), instrumen-instrumen yang berkaitan dengan hubungan antara hasil tingkat pertama dengan hasil tingkat kedua,hubungan antara prestasi dan imbalan atas pencapaian prestasi, serta valensi yang berkaitan dengan kader kekuatan dan keinginan seseorang terhadap hasil tertentu.
Teori penguatan
Teori penguatan memiliki konsep dasar yaitu :
  • Pusat perhatian adalah pada perilaku yang dapat diukur, seperti jumlah yang dapat diproduksi, kualitas produksi, ketepatan pelaksanaan jadwal produksi, dan sebagainya.
  • Kontinjensi penguatan (contingencies of reinforcement), yaitu berkaitan dengan urutan-urutan antara stimulus, tanggapan, dan konsekuensi dari perilaku yang ditimbulkan.
  • Semakin pendek interval waktu antara tanggapan atau respon karyawan (misalnya prestasi kerja) dengan pemberian penguatan (imbalan), maka semakin besar pengaruhya terhadap perilaku.
Teori Penetapan Tujuan
Teori ini dikembangkan oleh Edwin Loceke(1986) konsep dasar dari teori ini adalah bahwa karyawan yang memahami tujuan (apa yang diharapkan organisasi terhadapnya) akan terpengaruh perilaku kerjanya.
Teori Atribusi
Teori ini dikembangkan oleh Fritz Heider yang berargumentasi bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal(internal forces), yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemampuan atau usaha, dan kekuatan eksternal (eksternal forces), yaitu factor-faktor yang berasal dari luar seperti kesulitan dalam pekerjaan atau keberuntungan.
Teori Agensi
Teori ini mengasumsikan kinerja yang efisien dan bahwa kinerja organisasi ditentukan oleh usaha dan pengaruh kondisi lingkunngan. Teori ini secara umum mengasumsikan bahwa principal bersikap netral terdadap risiko sementara agen bersikap menolak usaha dan risiko.
Pendekatan Dyadic
Pendekatan tersebut menyatakan bahwa ada dua pihak, yaitu atasan (superior) dan bawahan (subordinate), yang berperan dalam [proses evaluasi kinerja. Pendekatan ini dikembangkan oleh Danserau et al. pada tahun 1975. Danserau menyatakan bahwa pendekatan ini tepat untuk menganalisis hubungan antara atasan dan bawahan karena mencerminkan proses yang menghubungkan keduanya.

 
3. Persepsi

 
Persepsi adalah Bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasikan peristiwa, objek, serta manusia. Menurur kamus Bahasa Indonesia Persepsi adalah sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indra. Sedang dalam lingkup yang lebih luas Persepsi merupakan suatu proses yang melibatkan pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterprestasikan stimulus yang ditunjukkan oleh panca indra.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
  • Faktor Dalam Situasi
Yang terdiri dari waktu, keadan (tempat kerja), keadan social.
  • Faktor Pada Pemersepsian
Yang terdiri dari sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan.
  • Faktor Pada Target
Yang terdiri dari hal baru, gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang, kedekatan.
Rangsangan Fisik VS Kecenderungan Individu
Rangsangan Fisik adalah input yang berhubungan dengan perasaan, seperti pegelihatan dan sentuhan. Sedang Kecenderungan Individu meliputi alas an, kebutuhan, sikap, pelajaran dari masa lalu dan harapan. Perbedaan persepsi antar orang-orang disebabkan karena perasaan individu yang menerimanya berbeda fungsi dan hal ini terutama disebabkanoleh kecenderungan perbedaan. Empat factor lain yang berhubungan dengan kecenderungan individu adalah kekerabatan, perasaan, arti penting dan emosi.
Keterkaitan Persepsi Bagi Para Akuntan
Perilaku para akuntan dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap banyak aktifitas organisasi. Misalnya dalam evaluasi kinerja, cara penilaian atas seseorang mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi penyeia. Kesalahan atau bias penilaian mungkin diakibatkan oleh sandiwara yang mencoba untuk menakut-nakuti sehingga karyawan mrasa tidak puas dan meninggalkan perusahaan. Oleh karena itu para penyelia perlu mengenali perasaan mereka terhadap bawahannya. Bawahan tertentu dapat mempengaruh evaluasi mereka, dan harus waspada terhadap sumber penyimpangan persepsi ini. Kesalahan persepsi dapat juga mendorong kearah ketegangan hubungan antar pribadi karyawan. Ketika sesuatu dilihat sebagai sesuatu yang menegangkan seorang penyelia perlu menentukan penyebab terjadinya peristiwa bisnis yang dipandang berbeda oleh orang-orang yang berbeda.
Persepsi Orang Membuat Penilaian Mengenai Orang Lain
Dalam bahasan mengenai persepsi orang dalam membuat penilaian terhadap orang lain, hal ini akan dikaitkan dengan teori atribusi. Teori atribusi merupakan dari penjelasan cara-cara manusia menilai orang secara berlainan,bergantung pada makna apa yang dihubungkan ke suatu prilaku tertentu. Pada dasarnya teori ini menyarankan bahwa jika seseorang mengamati prilaku seorang individu, orang tersebut berusaha menentukan apakah prilaku itu disebabkan oleh factor internal atau eksternal, tetapi penentan tersebut sebagian besarbergantung pada tiga factor berikut:
  • Kekususan (ketersendirian) merujuk pada apakah seorang individu memperlihatkan prilaku-prilaku yang berlainan dalam situasi yang berlainan.
  • Konsesus yaitu jika semua orang yang menghadapi suatu situasi yang serupa bereaksi dengan cara yang sama. Contoh perilaku karyawan yang terlambat akan memenuhi criteria ini jika semua karyawan yang mengambil rute yang sama ke tempat kerja juga terlambat.
  • Konsistensi. Disini dicari konsistensi dari tindakan seseorang apakah orang tersebut memberikan reaksi yang sama dari waktu kewaktu.Contoh Apabila seorang karyawan datang terlambat beberapa menit saja tidak dipersepsikan dengan cara yang sama oleh karyawan yang baginya keterlambatan itu kasus yang luabiasa (karena tidak pernah terlambat).

 
4. Nilai

 
Nilai secara mendasar dinyatakan sebagai suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas dan lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan dengan suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanaan.
Arti Penting Nilai
Dalam mempelajari perilaku dalam organisasi, nilai dinyatakan penting karena nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap serta motivasi dan karena nilai memengaruhi sikap manusia.seseorang memasuki organisasi dengan gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya.
Nilai dan Dilema Etika
Permasalahan profesi akuntansi sekarang ini banyak dipengaruhi masalah kemerosotan standar etika dan krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para akuntan untuk lebih berbenah diri, memperkuat kedisiplinan mengatur dirinya dengan benar, serta menjalin hubungan yang lebih baik dengan para klien atau masyarakat luas. Misal: skandal Enron yang melibatkan Arthur Anderson, serta skndal Worldcom, Merck, dan Xerox, profesi akuntan menjadi gempar.
Ihksan menambahkan cara yang lebih baik dan ideal dalan mengatasi dilema ini adalah dengan mempertimbangkan kecukupan dari kesempatan yang ada selanjutnya memberikan reaksi terhadap apa yng menjadi kekawatiran di dalamnya.

 
5. Pembelajaran

 
Pembelajaran adalah proses dimana perilaku baru diperlukan. pembelajaran terjadi sebagai hasil dari motivasi, pengalaman, dan pengulangaan dalam merespon situasi. Kombinasi dari motivasi, pengalaman dan pengulangan dalam merespons situasi ini terjadi dalam tiga bentuk: pengaruh keadaan klasik, pengaruh keadaan operant, dan pembelajaran sosial.
Pengondisian Keadaan Klasik
Dapat diringkaskan bahwa pengondisian klasik pada hakikatnya merupakan proses pembelajaran suatu respons dan suatu rangsangan yang tidak terkondisi. Dengan menggunakan rangsangan yang berpasangan, yang satu memaksa yang lain netral, rangsangan yang netral menjadi suatu rangsangan terkondisi yang kemudian meneruskan sifat-sifat dari rangsangan tidak terkondisi.
Pengondisian Operant
Pengondisian operant menyatakan bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari konsekuensi-konsekuensi. Perilaku operant berarti perilaku yang bersifat sukarela atau perilaku yang dipelajari sebagai kontras terhadap perilaku semacam itu, yang dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya pungutan yang ditrimbulkan oleh konsekuensi-konsekuensi dari perilaku tersebut.
Pembelajaran Sosial
Walaupun teori pembelajaran sosial merupakan suatu perpanjangan dari pengondisian operant, di mana teori tersebut mengandalkan perilaku sebagai suatu fungsi dari konsekuensi-konsekuensi, teori itu juga mengakui eksistensi pembelajaran observasional(lewat pengamatan) dan pentingya persepsi dalam belajar.

 

 
6. Kepribadian

 
Aplikasi utama dari teori kepribadian dalam organisasi adalah memprediksikan perilaku. Pengujian terhadap perilaku ditentukan oleh banyaknya efektivitas dalam tekanan pekerjaan, siapa yang akan menanggapi kritikan dengan baik, siapa yng pertama harus dipuji dahulu sebelum berbicara mengenai perilaku tidak diinginkan, siapa yang menjadi seorang pemimpin potensial. Semuanya itu merupakan bentuk-bentuk pemahamaan atau kepribadian.
Penentu Kepribadian
Suatu argumen dini dalam riset kepribadian adalah apakah kepribadian seseorang merupakan hasil keturunan atau lingkungan. Kepribadian tampaknya merupakan hasil dari kedua pengaruh tersebut. Selain itu, dewasa ini dikenal faktor ketiga, yaitu faktor situasi
a.Keturunan
Pendekatan keturunan beragumentasi bahwa penjelasan paling akhir dari kepribadian seseorang individu adalah struktur molekul dari gen yang terletak dalam kromosom.
b.Lingkungan
Di antara faktor-faktor yang menekankan pada pembentukan kepribadian adalah budaya dimana seseorang dibesarkan, pengondisian dini, norma-norma di antara keluarga, temam-teman, dan kelompok-kelompok social, serta pengaruh lain yang dialmi.
c.Situasi
Faktor ini mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap kepribadian. Kepribadian seseorang walaupun kelihatannya mantap dan konsisten , dapat berubah pada kondisi yang berbeda.

 
Sumber: Ikhsan, Arfan, dan Muhammad Ishak, 2005, "Akuntansi Keperilakuan," Salemba Empat.

 

Kamis, 16 Juli 2009

PENGANTAR AKUNTANSI KEPERILAKUAN

Akuntansi keperilakuan – tinjauan umum
Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Motivasi dan perilaku dari pelaksana sistem informasi akuntansi menjadi aspek penting dari suatu sistem informasi akuntansi. Pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu pemakai internal (internal user) dan pemakai eksternal (external user). Pemakaian oleh pihak internal dimaksudkan untuk melakukan serangkaian evaluasi kinerja. Pihak eksternal juga memiliki suatu rangkaian perilaku yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan organisasi. Pihak eksternal sama dengan pihak internal, tetapi mereka labih berfokus pada jumlah investasi yang mereka lakukan dalam organisasi tersebut.
Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan dalam lima aliran (school) , yaitu :
  1. Pengendalian manajemen (management control)
  2. Pemrosesan informasi akuntansi (accounting information processing)
  3. Desain sistem informasi (information system design)
  4. Riset audit (audit research)
  5. Sosiologi organisasional (organizational sociology)
Informasi akuntansi dirancang untuk suatu dasar bagi pengambilan banyak keputusan penting di dalam maupun diluar perusahaan. Sistem informasi dimanfaatkan untuk membantu dalam proses perencanaan, pengkoordinasian dan pengendalian yang kompleks, serta aktivitas yang saling berhubunga untuk memotivasi orang-orang pada semua tingkatan didalam perusahaan Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi manajemen khususnya penganggaran (budgeting), namun yang dominan dalam hal ini terus berkembang dan bergeser searah akuntansi keuangan, sistem informasi akuntansi, dan audit. Banyak volume riset atas akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik, akan memberikan manfaat untuk beberapa tujuan berikut ini :
  1. Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang ingin diperkenankan
  2. Membantu dalam mengindentifikasikan kesenjangan riset
  3. Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui sebidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen dan perpajakan
Perkembangan yang pesat dalam akuntansi keperilakuan lebih disebabkan karena akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu social secara menyeluruh. Akuntansi keperilakuan menggunakan metodelogi ilmu pengetahuan perilaku untuk melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan melaporkan faktor manusia yang mempengaruhi keputusan bisnis dan hasil mereka. Akuntansi keperilakuan menyediakan suatu kerangka yang disusun berdasarkan teknik berikut ini :
  1. Untuk memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan kinerja perusahaan
  2. Untuk mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap perencanaan strategis
  3. Untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan keberhasilan implementasi kebijakan perusahaan
Akuntansi Konvensional
Merupakan akuntansi sebagai suatu disiplin jasa yang mampu memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu mengenai masalah keuangan perusahaan dan untuk membantu pemakai internal dan eksternal dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Informasi keuangan melalui pelaporan keuangan sebagai hasil dari sistem informasi keuangan memiliki tujuan yang beberapa diantaranya adalah :
  1. Menyediakan informasi laporan keuangan yang dapat dipercaya dan bermafaat bagi investor serta kreditor sebagai dasar pengambilan keputusan dan pemberian kredit.
  2. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan perusahaan dengan menunjukan sumber-sumber ekonomi (kekayaan) perusahaan serta asal dari kekayaan tgersebut
  3. Menyediakan informasi keuangan yang dapat menunjukkan kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba
  4. Menyediakan informasi keuangan yang dapat menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya
  5. Menyediakan informasi keuangan yang dapat menunjukkan sumber-sumber pendanaan perusahaan
  6. Menyediakan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam memperkirakan arus kas masuk ke dalam perusahaan.
Akuntansi sebagai Suatu Sistem Informasi
Sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang kompleks dan dibentuk dari berbagai komponen yang saling berkaitan. Karakteristik sistem secara keseluruhan harus memiliki sasaran, input output, dan lingkungan untuk mencapai target geser yang telah ditetapkan.
Akuntansi adalah Sistem
Sistem informasi yang baru dapat juga menimbulkan hubungan kerja yang baru diantara karyawan yang ada, perubahan pekerjaan, bahkan mungkin perubahan struktur organisasi. Dukungan manajemen puncak merupakan suatu faktor penting yang menent penting yang menentukan efektukan efektivitas penerimaan sistem informasi dalam organisasi. Jackson (1986) mengemukakan beberapa alasan mengapa keterlibatan manajemen puncak dalam pengembangan sistem informasi merupakan hal yang penting, yaitu :
  1. Pengembangan sistem merupakan bagian yang terintegrasi dengan perencanaan perusahaan.
  2. Manajemen puncak merupakan fokus utama dalam proyek pengembangan sistem.
  3. Manajemen puncak menjamin penekanan tujuan perusahaan daripada aspek teknisnya.
  4. Pemilihan sistem yang akan dikembangkan didasarkan pada kemungkinan manfaat yang akan diperoleh dan manajemen puncak mampu untuk menginterprestasikan hal tersebut.
  5. Keterlibatan manajemen puncak akan memberikan kegunaan dan pembuatan keputusan yang lebih baik dalam pengembangan sistem.
Keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi adalah bagian integral dari kesuksesan suatu sistem informasi. Keterlibatan pemakai ini harusnya ada pada semua tahap yang dinamakan siklus hidup pengembangan sistem. Tahapan tersebut adalah perencanaan, analisis, perancangan, implementasi dan pascaimplementasi. Untuk mengukur keterlibatan pemakai ini, Ives dan Olson (1984) mengemukakan enam tingkatan keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi, yaitu :
  1. Tidak ada keterlibatan (no-involvement)
  2. Keterlibatan simbolis (symbolic involvement)
  3. Keterlibatan atas saran orang lain (involvement by advice)
  4. Keterlibatan dengan pengendalian yang lemah (involvement by weak control)
  5. Keterlibatan dengan melakukan (involvement by doing)
  6. Keterlibatan dengan pengendalian yang kuat (involvement by strong control)
    Keterlibatan Manajemen Puncak Dalam Pengembangan Sistem
Perencanaan Strategis
Perencanaan Sistem
Implementasi
a. Kandungan proses perencanaan strategis
a. Integrasi Sistem
a. Pengendalian rencana implementasi
b. Kegunaan rencana
b. Tingkat rincian rencana proyek
b. Keterbatasan sumber daya
c. Keterpaduan dalam rencana
c. Integrasi hardware
c. Pencapaian tujuan perencanaan
d. Pengkoordinasian tindakan perencanaan
d. Perencanaan proyek

 
Akuntansi adalah Informasi
    Akuntansi dapat dipandang sebagai suatu informasi. Perusahaan harus berupaya untuk mengoptimalkan peran informasi ini untuk mencapai tujuannya. Informasi yang diperlukan oleh manajemen harus memiliki karakteristik seperti akurat dan tepat waktu. Tersedianya informasi secara cepat, relevan, dan lengkap lebih dikarenakan adanya kebutuhan yang sangat dirasakan oleh masing-masing unit bisnis untuk mendapatkan posisi keunggulan kompetitif. Agar proyek pengembangan sistem informasi tidak sia-sia, perlu dipahami tahapan-tahapan dalam pengembangan sistem tersebut seperti yang diutarakan oleh Bodnar dan Hopwood (1995), yaitu :
  1. Perencanaan dan analisis sistem yang meliputi formulasi dan evaluasi solusi-solusi masalah sistem dan penekanannya pada tujuan keseluruhan sistem
  2. Perancangan sistem yaitu proses menspesifikan rincian solusi yang dipilih oleh proses analisis sistem
  3. Implementasi sistem yaitu proses menempatkan rancangan prosedur-prosedur dan metode baru atau revisi ke dalam operasi
Sebagai sistem informasi, akuntansi juga sering disebut "bahasa bisnis" yang dapat menyediakan atau memberikan informasi penting mengenai kegiatan ekonomi. Dikatakan seperti itu sebab akuntansi dapat berperan sebagai media komunikasi yang mengkomunikasikan berbagai fenomena, gejala, dan peristiwa ekonomi yang terjadi disuatu organisasi bisnis kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan fenomena, gejala dan peristiwa ekonomi tersebut.
Perkembangan Sejarah Akuntansi Keperilakuan
Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas berhubungan dengan perilaku individu, kelompok, dan organisasi bisnis, terutama yang berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Studi terhadap perilaku akuntan atau perilaku dari non akuntan telah banyak dipengaruhi oleh fungsi akuntan dan laporan (Hofstede dan Kinerd, 1970). Riset akuntansi keperilakuan meliputi masalah yang berhubungan dengan:
  1. Pembuatan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor.
  2. Pengaruh dari fungsi akuntansi seperti partisipasi dalam penyusunan anggaran, karakteristik sistem informasi, dan fungsi audit terhadap perilaku baik karyawan, manajer, investor, maupun Wajib Pajak.
  3. Pengaruh dari hasil fungsi tersebut, seperti informasi akuntansi dan pengunaan pertimbangan dalam pembuatan keputusan
Pada bulan Juni 1951, Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk menyelidiki dampak anggaran terhadap manusia. Sejumlah penjelasan dan kesimpulan dari hasil riset mengenai perangkap keperilakuan pada anggaran dan pembuatan anggaran dalam banyak pemikiran masih bersifat sementara, dan oleh karena itu masih perlu disempurnakan.
Paradigma riset perilaku yang dilakukan oleh Steadry (1960) dalam disertasinya telah menggali pengaruh anggaran motivasional dengan menggunakan suatu eksperimen analog. Selanjutnya disusul oleh karya Benston (1963) serta Churcil dan Cooper (1965) yang memfokuskan pada akuntansi manajerial dan pengaruh fungsi akuntansi pada perilaku. Riset-riset ini berlanjut pada tahun 1970-an dengan satu rangkaian studi oleh Mock (1969-1973), Barefield (1972), Magee dan Dickhout (1978), Benbasat dan Dexter (1979). Fokus dari studi-studi tersebut adalah pada akuntansi manajerial, namun penekanannya mengalami pergeseran dari pengaruh fungsi akuntansi ke perilaku terhadap pemrosesan informasi oleh pembuat keputusan. Studi yang mempengaruhi bidang ini dilakukan oleh Ashton (1974) dan Libby (1975), yang membantu membentuk suatu standar dalam desain eksperimental dan validitas internal untuk pertimbangan riset yang diikuti.
Mulai dari tahun 1960 sampai 1980-an, jumlah artikel mengenai akuntansi keperilakuan semakin meningkat. Artikel pertama menggambarkan mengenai akuntansi keperilakuan, sementara artikel selanjutnya membahas mengenai teori dan konsep ilmu pengetahuan keperilakuan dalam kaitannya dengan akuntansi serta implikasinya bagi prinsip-prinsip akuntansi dan praktisnya. Pertumbuhan studi akuntansi keperilakuan mulai muncul dan berkembang, terutama diprakarsai oleh akademisi profesi akuntan. Penggabungan aspek-aspek perilaku pada akuntansi menunjukkan adanya pertumbuhan minat akan bidang riset ini. Berbagai variabel perilaku yang terus dipelajari oleh para akuntan terkait dengan akuntansi dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
Landasan Teori dan Pendekatan Akuntansi Keperilakuan
Hidayati (2002) menjelaskan bahwa sebagai bagian dari ilmu keperilakuan (behavior science), teori-teori akuntansi keperilakuan dikembangkan dari riset empiris atas perilaku manusia dalam organisasi. Dengan demikian, peranan riset dalam pengembangan ilmu itu sendiri tidak diragukan lagi.
Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif
Pada awal perkembangannya, desain riset dalam bidang akuntansi manajemen masih sangat sederhana, yaitu hanya memfokuskan pada masalah-masalah perhitungan harga pokok produk. Seiring dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset diperluas dengan diangkatnya topic mengenai penyusunan anggaran, akuntansi pertanggungjawaban, dan masalah harga transfer. Meskipun demikian, berbagai riset tersebut masih bersifat normatif.
Pada tahun 1952 C. Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952, desain riset akuntansi manajemen mengalami perkembangan yang signifikan dengan dimulainya usaha untuk menghubungkan desain system pengendalian manajemen suatu organisasi dengan perilaku manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan diharapkan lebih bisa menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku organisasi.
Dari Pendekatan Universal ke Pendekatan Kontijensi
Riset keperilakuan pada awalnya dirancang dengan pendekatan universal (universalistic approach), seperti riset Argyris (1952), Hopwood (1972), dan Otley (1978). Tetapi, karena pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, maka segera muncul pendekatan lain yang selanjutnya mendapat perhatian besar dalam bidang riset, yaitu pendekatan kontinjensi (contingency approach).
Berbagai riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi berbagai variabel kontinjensi yang mempengaruhi perancangan dan penggunaan sistem pengendalian manajemen. Secara ringkas, berbagai variabel kontinjensi yang mempengaruhi desain system pengendalian manajemen tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Ketidakpastian (uncertainty) seperti tugas, rutinitas, repetisi, dan faktor-faktor eksternal lainnya.
  2. Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependence) seperti proses produksi, produk masal, dan lainnya.
  3. Industri, perusahaan, dan unit variabel seperti kendala masuk ke dalam industri, rasio konsentrasi, dan ukuran perusahaan.
  4. Strategi kompetitif (competitive strategy) seperti penggunaan biaya rendah atau keunikan.
  5. Faktor-faktor yang dapat diamati (observability factor) seperti desentralisasi, sentralisasi, budaya organisasi dan lainnya
Chenhall dan Morris meneliti tentang hubungan antara variabel kontinjensi ketidakpastian lingkungan dan ketergantungan organisasi terhadap hubungan antara struktur organisasi dan persepsi atas manfaat sistem akuntansi.
Daftar Pustaka
Binberg, G. Jacob, dan Jeffrey F. Shields, 1989, "Three Decades of Behavioral Accounting Research: A Search for Order, " Behavioral Research in Accounting, Vol. 1, hal. 23-74.
Jackson, I. F., 1986, "Corporate Information Management," New Jersey: Prentice-hall.
Ives, B., dan Olson, M. H., 1984, "Use involvement and MIS Success: A Review of Research," Management Science, Vol. 30, hal. 386-603.
Bodnar dan Hopwood, 1995, Accounting Information Systems, Edisi ke-6, New Jersey: Prentice-Hall.
Hofstede dan Kinerd, 1970, "A Strategy for Behavioral Research," The Accounting Review, Januari, hal. 38-54.
Steadry, 1960, "Budgets Control and Cost Behavior," Prentice-Hall. Englewood Cliffs N.J.
Benston, G., 1963, "The Role of The Firm's Accounting System for Motivation," The Accounting Review, April, hal. 374-354.
Churcil, N., dan W. Cooper, 1965, "A Fields Study of Audit Internaling," The Accounting Review, Oktober, hal. 767-781.
Mock , T., 1969, "Comparative Value of Information Structures," Journal of Accounting Research, Suplemen, hal. 124-159.
……………., 1973, "The Value of Budget Information," The Accounting Revief, Juli, hal. 520-534.
Barefield , R., 1972, "The Effect of Aggregation on Decision Making Success: A Laboratory Study," Journal of Accounting Research, Musim Gugur, hal. 229-242.
Magee, R., dan J. Dickhould, 1978, "Effects of Compensation Plans on Heuristic in Cost Variance Investigation," Journal of Accounting Research, Musim Gugur, hal. 292-314.
Benbasat, I., dan A. S. Dexter, 1982. "Individual Differences in The Use of Decision Support Aids," Journal of Accounting Research, Musim Semi, hal 1-11.
Ashton, A. H., 1992, "Experience and Error Frequency Knowledge as Potential Determinants of Audit Expertise," The Accounting Review 66 (April), hal. 218-239
Libby, 1975, " Accounting Ratios and Prediction of Failure: Some Behavioral Evidence," Journal of Accounting Research, Musim Semi, hal. 150-161
Hidayati, Ataina, 2002, "Perkembangan Riset Akuntansi Keperilakuan Berbagai Teori dan Pendekatan yang Melandasi," JAAI, Vol. 6 No.2, Desember.
Argyris , C., 1952, "The Impact of Budgets on People," New York, The Controllership Foundation.
Hopwood , Anthony, 1972, "An Empirical Study of The Role of Accounting Data in Performance Evaluation," The Accounting Review 40 (Juli), hal. 485-495.
Otley , D. T., 1978, "Budget Use and Managerial Performance," Journal of Accounting Research, hal 122-149.
Ikhsan, Arfan, dan Muhammad Ishak, 2005, "Akuntansi Keperilakuan," Salemba Empat.