PEMENANG TIDAK BERHENTI MELAWAN TAKDIR DAN ORANG YANG BERHENTI MELAWAN TAKDIR TIDAK PERNAH MENJADI PEMENANG
Rabu, 24 Desember 2014
Supardi Saminja
Senin, 15 Desember 2014
Cinta Rasul
Assalamu alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi
Rabbil Alamin, Maha Suci Allah yang di tangannya segala kerajaan dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjadikan hidup menjadi mati
sebagai bahan ujian bagi kalian untuk mengetahui siapa diantara kalian yang
lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, dan kita semua
bersyukur atas karunia seiman satu dalam keyakinan kepada Allah SWT dan kita
sama berbahagia karena satu dalam akidah yakni satu syariat Islam dan kita sama
senang karena satu dalam ikatan silaturahim semuanya kita hanya menghadapkan
hanya Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan
kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabat-sahabat beliau, juga pengikut setia
beliau hingga akhir jaman. Satu riwayat di katakan kelak pada saat kondisi
sangat genting seluruh manusia datang menghadap kepada Rasulullah Adam AS untuk
mengharap pertolongan atas syafaat agar manusia di doakan oleh Nabi Adam AS
sebagai Bapak seluruh manusia semoga mendapatkan pertolongan dan bisa masuk ke
dalam surga namun pada waktu itu Nabi Adam AS menolak, mengingat dosa besar
yang pernah dilakukannya hingga ia malu kepada Allah SWT dan menyuruh manusia
seluruhnya untuk datang kepada Nabi Nuh AS, tapi apa yang terjadi, Nabi Nuh AS
juga merasa malu memohonkan ampunan kepada Allah SWT karena mengingat seringnya
meminta kepada Allah SWT untuk mendatangkan pertolongannya seperti misalnya
permohonan besarnya kepada Allah SWT pada saat menyebarkan ketauhidan agar
manusia menyembah kepada Allah saja, tapi apa yang terjadi, ia menyeru selama
15 tahun tapi yang ikut kepadanya bersama menyembah Allah hanya sekitar 30
orang saja hingga juga meminta kepada Allah SWT agar menenggelamkan dunia
beserta isinya, inilah yang menyebabkan Nabi Nuh AS merasa malu kepada Allah
SWT sampai akhirnya ia menyuruh manusia menghadap kepada Nabi Ibrahim AS hingga
manusia berbondong-bondong pergi meninggalkan Nabi Nuh AS. Kepada Nabi Ibrahim
AS, mengingat Nabi Ibrahim AS adalah bapak ketauhidan, hingga segala hajat
manusia dapat terpenuhi bila menghadapnya hingga manusia juga kecewa karena
Nabi Ibrahim AS juga menolak memberi doa kepada Allah SWT agar didatangkan
syafaatnya kepada umat manusia. Beliau Nabi Ibrahim AS banyak mengingat memohon
ampun kepada Allah SWT agar didatangkan syafaatnya kepadanya seperti ketika
menyebarkan ketauhidan agar manusia menyembah kepada Allah SWT semata. Tapi
manusia menolak hingga Nabi Ibrahim agak putus asa dan berdoa kepada Allah agar
seketika mendatangkan azab dan seketika itu pula manusia seluruhnya mati di
azab sampai akhirnya Nabi Ibrahim AS menyuruh manusia mendatangi Rasulullah
Nabi Besar Muhammad SAW. Yang akhirnya Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khatamul Anbiya penutup para nabi
pemilik Nubuwah yang sempurna menyampaikan hajat umat manusia untuk di doakan
dan diselamatkan hingga masuk kedalam surga Jannatun
Naim (surga tertinggi ke tujuh sempurna) yang Allah SWT ciptakan untuk
manusia sebagai balasan perjuangan manusia dalam memperoleh kebaikan-kebaikan
atau amal sholeh (perbuatan benar) selama hidup kita di dunia dan sebaliknya
mereka yang banyak amal-amal Tholehnya (salah) sungguh sangat merugi karena
akan mendapatkan pula balasan-balasan yang tidak menyenangkan karena berada
pada tempat yang sangat mengerikan yakni Neraka yang penuh dengan penyiksaan.
Wahai dikau yang masih sehat selagi masih
hayat dikandung badan perbanyaklah mencintai Allah dan Rasulnya dan salah satu
manivestasi iman kita kepada Allah SWT adalah mencintai Rasulullah SAW. Mengapa
kita harus cinta Rasul SAW ? Karena :
Pertama, sebab itu perintah Baginda Rasul SAW.
Kedua, karena tidak sempurna iman seseorang sebelum
mencintai Rasulullah SAW melebihi segalanya. Diriwayatkan dari Anas RA. bahwa
Rasulullah SAW bersabda :
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang
di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya,
dan segenap umat manusia." (HR. Bukhari - Muslim).
Hadits shahih tersebut adalah dalil tentang
wajibnya mencintai Rasulullah SAW dengan kualitas cinta tertinggi, yakni
kecintaan yang benar-benar melekat di hati, yang mengalahkan kecintaan kita
terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan terhadap orang-orang
terdekat sekalipun, seperti : anak, istri, ibu dan bapak. Bahkan cinta Rasul
itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri sendiri.
Dalam shahih Bukhari diriwayatkan, Umar bin
Khatthab RA. berkata kepada Nabi SAW.
"Sesungguhnya engkau wahai
Rasulullah adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain
diriku sendiri. Nabi SAW bersabda : "Tidak, demi Zat yang jiwaku ada di
TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri." Maka
Umar berkata kepada beliau, "Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada
diriku sendiri." Maka Nabi bersabda, "Sekarang (telah sempurna
kecintaanmu / imanmu padaku) wahai Umar." (HR. Bukhari)
Jadi, cinta Rasul adalah perintah agama.
Tidak boleh kita mengekspresikan cinta kepada Rasul SAW itu menurut selera dan
hawa nafsu sendiri, tanpa memperhatikan tuntunan dari Baginda Rasul SAW. Sebab
jika cinta rasul itu kita ekspresikan serampangan tanpa mengindahkan syariat
agama, maka bukan pahala yang kita raih, tetapi dosa yang kita dapatkan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Cinta Rasul tidaklah berupa kecenderungan
sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus dengan acara-acara tertentu,
misalnya. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin, dan
senantiasa terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi
hidup, melahirkan amal shalih, dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Orang yang mengaku cinta Rasul itu ada
tanda-tandanya. Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul itu antara lain :
1.
Mentaati Rasulullah SAW dengan menjalankan
perintahnya dan menjauhi larangannya. Allah berfirman yang artinya :
“Apa yang diberikan
Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS.
Al-Hasyr : 7)
Bahkan, hakekat cinta
Rasul itu ya taat kepada Rasul itu dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan siapa
yang taat kepada Rasul, berarti ia taat kepada Allah. Allah berfirman yang
artinya :
“Barang siapa yang
mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang
berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara
bagi mereka." (QS. An-Nisa' : 80)
Maksudnya, Rasul tidak
bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar
mereka tidak berbuat kesalahan. Seorang pencinta sejati Rasulullah SAW,
manakala ia mendengar Nabi SAW bersabda memerintahkan sesuatu, ia akan segera
menunaikannya. la tidak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan
keinginan dan hawa nafsunya.
Adapun orang yang dengan
mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Rasul, serta menerjang
berbagai kemungkaran, maka pada dasarnya ia hanya mencintai dirinya sendiri.
Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat 5 waktu, puasa
Ramadhan, meninggalkan pakaian muslimah yang menutup auratnya dsb. Padahal Nabi
SAW sangat mengagungkan syariat tersebut. Dan orang jenis ini akan dengan
ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na'udzubillahi min
dzalik.
2. Menolong
dan mengagungkan Rasul SAW, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para
sahabat sebelum dan sesudah beliau wafat, yakni dengan menyebarkan dan
mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun
tantangan dan risiko yang dihadapinya. Nah, untuk ini, tidak bisa tidak, kita
harus sering dan banyak membaca serta mempelajari hadits Nabi, dan Sirah Nabi SAW.
3. Tidak
menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui Rasul SAW. Dan
rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan
sesuatupun dari sunnah-sunnahnya. Adapun selain beliau, termasuk para ulama dan
shalihin, maka mereka adalah para pengikut Nabi SAW. Tidak seorangpun dari
mereka boleh diterima perintah dan larangannya kecuali berdasarkan apa yang
datang dari Nabi SAW.
4.
Mengikuti dan menghidupkan Sunnah Rasul SAW serta
mengikuti beliau dalam segala hal; dalam hal shalat, wudhu, dan berbagai
macam ibadah lainnya, juga dalam hal akhlak dan adab, seperti : kasih sayang,
rendah hati, dermawan, kesabaran, zuhud, adab berpakaian, bergaul, dll.
5.
Memperbanyak shalawat atas Nabi SAW kapan
saja dan di mana saja berada. Allah berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Allah
dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS.
Al-Ahzab : 56)
Bershalawat artinya :
kalau dari Allah berarti memuji dan memberi rahmat; dari Malaikat berarti
memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi
rahmat seperti dengan perkataan : Allahuma shalli ala Muhammad.
Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa
bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali. “ (HR.
Muslim).
Adapun contoh bentuk
shalawat Nabi adalah sebagai mana yang diajarkan Nabi SAW ketika ditanya
sahabat, yaitu : “Allahumma shalli ‘ala
Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad” yang artinya, “Ya Allah, berilah rahmat
atas Muhammad dan keluarga Muhammad.” (HR.
Bukhari).
6.
Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi SAW,
seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah RA. dan lain-lain yang disebutkan
Nabi dalam haditsnya. Kita harus mencintai orang yang dicintai Nabi, dan
(sekaligus) membenci orang yang dibenci Nabi. Lebih dari itu, hendaknya kita
juga mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi termasuk ucapan, perbuatan,
dan sesuatu yang lain.
Ma'asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Itulah tanda-tanda orang
yang cinta kepada Rasul SAW. Kalau tidak memenuhi itu, berarti pengakuan kita
hanya sekedar pengakuan tanpa bukti, alias omong kosong belaka, meskipun dengan
melakukan berbagai aktivitas yang mengatasnamakan “Cinta Rasul.”
Semoga uraian tadi dapat
membuka hati kita untuk benar-benar mencintai Rasululllah SAW dengan bentuk
yang benar, sesuai dengan Sunnah Rasul SAW. Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.
Wassalamu alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Laporan Keuangan
A. Kerangka Dasar
1.Tujuan laporan keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi
tentang posisi keuangan, kinerja, perubahan ekuitas, arus kas dan informasi
lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan
ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber
daya yang dipercayakan kepada mereka.
2.Tanggung jawab atas laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian
laporan keuangan.
3.Komponen laporan keuangan
Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca, laporan
laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan.
4.Bahasa laporan keuangan
Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Jika
laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia,
maka laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan
waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan periode). Selanjutnya, laporan
keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu yang sama
dengan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia.
5. Mata uang pelaporan
Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. Apabila
transaksi bank menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan
tersebut harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs
laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Keuntungan atau kerugian dalam periode
berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan
menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
6. Kebijakan akuntansi
Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian
dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK.
Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau
pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka manajemen harus
menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan
informasi:
a.
relevan terhadap kebutuhan
para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan;dan
b.
dapat diandalkan, dengan pengertian:
(1)
mencerminkan kejujuran
penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan;
(2)
menggambarkan substansi
ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk
hukumnya;
(3)
netral, yaitu bebas dari
keberpihakan;
(4)
mencerminkan kehati-hatian;
dan
(5)
mencakup semua hal yang
material.
Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan
kebijakan akuntansi yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan
keuangan. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan:
a.
persyaratan dan pedoman
PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait;
b.
definisi, kriteria
pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan beban yang ditetapkan
dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK); dan
c.
pernyataan yang dibuat oleh
badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten
dengan huruf a dan b.
7. Penyajian
a. Laporan keuangan harus
menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, perubahan ekuitas,
dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
b. Aset disajikan berdasarkan
karakteristiknya menurut urutan likuiditas, sedangkan kewajiban disajikan
menurut urutan jatuh temponya.
c. Saldo transaksi sehubungan
dengan kegiatan operasi normal bank, disajikan dan diungkapkan secara terpisah
antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan pihak-pihak yang
tidak mempunyai hubungan istimewa. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak
yang mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan
ketentuan Bank Indonesia.
d. Laporan laba rugi
menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan
secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank dan kegiatan
lainnya.
e. Catatan atas laporan keuangan
harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen
utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Informasi
dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca,
laporan laba rugi dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan,
baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif, termasuk komitmen dan
kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya.
f. Dalam catatan atas laporan
keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata “sebagian besar” untuk
menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah
nominal atau persentase.
g. Perubahan akuntansi wajib
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Perubahan estimasi akuntansi
Estimasi akuntansi dapat diubah
apabila terdapat perubahan kondisi yang
mendasarinya. Selain itu, juga
wajib diungkapkan pengaruh material dari
perubahan yang terjadi baik pada
periode berjalan maupun pada periode-
periode berikutnya.
2) Perubahan kebijakan akuntansi
Kebijakan akuntansi dapat diubah
apabila:
a)
penerapan suatu kebijakan
akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar
akuntansi keuangan yang berlaku; atau
b)
diperkirakan bahwa
perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang
lebih sesuai dalam laporan keuangan. Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus
diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh
periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Dalam
hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan
alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku apabila terdapat
aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru.
3) Terdapat kesalahan mendasar
Koreksi kesalahan mendasar
dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh
periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian.
h. Pada setiap lembar neraca,
laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas harus diberi
pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak
terpisahkan dari laporan keuangan”.
i. Di samping hal-hal di atas,
penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti ketentuan yang dikeluarkan
Bank Indonesia.
8. Konsistensi penyajian
a. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan
antar-periode harus
konsisten, kecuali:
1) terjadi perubahan yang
signifikan terhadap sifat operasi perbankan; atau
2) perubahan tersebut
diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
b. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangan diubah, maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk
memastikan daya banding, sifat, dan jumlah. Selain itu alasan reklasifikasi
juga harus diungkapkan. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka
cukup diungkapkan alasannya.
9. Materialitas dan agregasi
a. Penyajian laporan keuangan
didasarkan pada konsep materialitas.
b. Pos-pos yang jumlahnya material
disajikan tersendiri dalam laporan keuangan, sedangkan yang jumlahnya tidak
material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.
c. Informasi dianggap material
apabila kelalaian untuk mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat
(misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil.
10. Saling hapus (Off se« ng)
a. Jumlah aset dan kewajiban yang
disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset
lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan
prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban.
b. Pos-pos pendapatan dan beban
tidak boleh disalinghapuskan, kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung
nilai, serta dengan aset dan kewajiban yang disalinghapuskan sebagaimana
dimaksud di atas.
11. Periode pelaporan
Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan
tahun takwim. Dalam hal bank baru berdiri, laporan keuangan dapat disajikan
untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. Selain itu untuk
kepentingan pihak lainnya, bank dapat membuat dua laporan yaitu dengan
menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif, dengan mencantumkan:
a. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu
tahunan.
b. Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam neraca, laporan
laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan.
12. Informasi komparatif
a. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan
secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sedangkan
untuk laporan laba rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku
sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan.
b. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif
dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila
relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
13. Laporan keuangan
interim
a. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang
diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai
bagian integral dari laporan periode tahunan. Penyusunan laporan interim dapat
dilakukan secara bulanan, triwulanan atau periode lain yang kurang dari satu
tahun.
b. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama
seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi,
laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.
14. Laporan keuangan
konsolidasi
Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi, laporan
keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan
unsur-unsur yang sejenis dari aset,
kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan beban. Agar laporan keuangan konsolidasi
dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai
satu kesatuan ekonomi, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut:
a. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan
dan anak perusahaan harus dieliminasi.
b. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi, yang
timbul dari transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi.
c. Untuk tujuan konsolidasi, tanggal laporan keuangan anak
perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank.
Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan
konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan sepanjang:
1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3
(tiga) bulan; dan
2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara
tanggal pelaporan
tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan
konsolidasi.
d. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan
kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama
atau sejenis.
e. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan
tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak
minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi.
B. Komponen Laporan Keuangan
1.Laporan keuangan bank untuk tujuan umum terdiri dari:
a. Neraca;
b. Laporan laba rugi;
c. Laporan arus kas;
d. Laporan perubahan ekuitas; dan
e. Catatan atas laporan keuangan.
2. Perbankan wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan
kepada bank sentral dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, perubahan posisi keuangan, dan catatan atas laporan keuangan. Oleh
karena itu, dibutuhkan adanya laporan keuangan bank yang menyediakan
informasi-informasi tersebut untuk pengambilan keputusan, seperti dicerminkan
dalam laporan-laporan berikut ini:
a. Laporan Posisi Keuangan
Posisi keuangan bank dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi
yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas, dan solvabilitas, serta
kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Informasi ini berguna untuk
memprediksi kemampuan bank di masa depan dalam menghasilkan kas dan setara kas,
kebutuhan investasi, pendistribusian hasil pengembangan dan arus kas,
memprediksi kemampuan bank dalam memenuhi komitmen keuangan pada saat jatuh
tempo, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Informasi posisi keuangan bank
tergambar dalam neraca.
b. Laporan Kinerja
Informasi kinerja bank diperlukan untuk menilai perubahan
potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan.
Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas bank dalam menghasilkan arus kas
dari sumber daya yang ada. Selain itu, informasi ini berguna dalam perumusan
tentang efektivitas bank dalam memanfaatkan sumber daya. Informasi kinerja bank
tergambar dalam laporan laba rugi.
c. Laporan Perubahan Posisi Keuangan
Informasi perubahan posisi keuangan bank, antara lain:
1) Perubahan kas dan setara kas
Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai
kemampuan bank menghasilkan arus kas dan setara kas serta kebutuhan bank untuk menggunakan
arus kas pada setiap aktivitas. Informasi ini bermanfaat untuk menilai aliran
kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan
pendanaan. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus
kas.
2) Perubahan ekuitas
Informasi perubahan ekuitas bank menggambarkan peningkatan
atau penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan
berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam
laporan keuangan. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan aset
bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan
atau kerugian yang berasal dari kegiatan bank selama periode yang bersangkutan.
Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas.
C. Keterbatasan Laporan Keuangan
Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata
didasarkan atas informasi
yang terdapat dalam laporan keuangan. Hal ini disebabkan
laporan keuangan memiliki
keterbatasan, antara lain:
1. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan
peristiwa yang telah lampau.
2. Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat
bagi pihak pengguna. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak
tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan
saja.
3. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan
taksiran.
4. Hanya melaporkan informasi yang material.
5. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian.
Apabila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu
pos, maka dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang
paling kecil.
6. Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa
sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya
(formalitas).
7. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat
digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis
dan tingkat kesuksesan antar-bank.
D. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing
1. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam
Rupiah dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia, yaitu kurs tengah yang merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual
berdasarkan Reuters pada pukul 16.00 WIB setiap hari.
2. Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing
terdapat dua metode yang dapat digunakan yaitu:
a. single currency (satu jenis mata uang);
b. multi currency (lebih dari satu jenis mata uang).
3. Pengertian dan karakteristik:
a. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang
asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang
digunakan yaitu mata uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR).
Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut:
1) neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah;
2) saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara
extracomptable;
3) penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata
uang asing;
4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan
langsung per
rekening yang bersangkutan.
b. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang
asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal (original
currency) yang digunakan pada transaksi tersebut. Karakteristik dari multi currency
adalah sebagai berikut:
1) neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing
asal (original currency) yang digunakan;
2) untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata
uang, diterbitkan neraca dalam base currency;
3) penjurnalan menggunakan pos rekening perantara; dan
4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing
dilakukan melalui rekening perantara mata uang asing. Penjabaran ekuivalen
rupiah dari rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan
neraca.
4. Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan
sebagai berikut:
a. Jika menggunakan single currency
Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam
Rupiah.
b. Jika menggunakan multi currency
1) Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat
dalam mata uang asal.
2) Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak
menimbulkan selisih kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari, saldo rekening
biaya dan pendapatan mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya
dan pendapatan rupiah.
Rahasia dibalik rahasia makna Akuntansi
Berdasarkan
realita yang terjadi dewasa ini, makin banyak manusia pandai dalam
bidang akuntansi namun mereka justru menjadi orang yang hancur karena
ulah mereka sendiri yang menyalahgunakan kepandaiannya. Lain dari itu,
ada tinjauan mendasar argumentasi perilaku mereka tersebut yakni belum
adanya pemahaman mengenai makna akuntansi seutuhnya. Selama ini, yang
dikedepankan hanyalah definisi akuntansi secara apa adanya yang diambil
dari buku-buku teks belaka. Hasilnya pun mentah karena makna yang
terkandung menjadi apa adanya bukan ada apanya. Sesungguhnya banyak
makna tersirat dibalik makna akuntansi yang dapat diambil fungsi yang
mendidik, baik secara harfiah maupun semantik.
Dalam
bahasa yang antik dan unik, wawasan akuntansi memiliki pengertian
sebagai suatu seni pencatatan maju masa depan. Jika kita bongkar per
kata, maka kita hasilkan:
Seni = keindahan cipta, rafsa, dan karsa.
Pencatatan = Disiplin Perhatian
Maju = Konsisten Taat, Semangat Potensial
Masa depan = Pemetik buah masa sekarang
Sedangkan dalam bahasa karakter, kita temukan lautan makna dari akuntansi secara harfiah per suku kata. Yakni:
A
= Agung (Besar). Seorang yang berhati besar dengan kata lain dingin
kepala, lapang dada. Kuncinya ialah 3M : Mau, Mampu, dan Menyempatkan.
Kun
= Kuncoro (Termahsyur). Seorang yang dikenal karena pribadi utama
sebagai kebanggaan seluruh lapisan masyarakat atau dengan kata lain
seorang mahal yang dipertimbangkan kawan maupun lawan. Kuncinya 3P :
Perhatian, Pengambil hati, dan Penarik Orientasi.
Tan
= Tanggung jawab. Seorang yang sanggup mikul duwur, mendem jero.
Maksudnya dipercaya mampu menutup kekurangan orang tua, masyarakat
sekitar, bangsa dan negara seraya menjunjung tinggi kelebihan mereka.
Kuncinya 3…i : Ahli, Rendah hati, dan Berprestasi.
Si
= Siap menjadi berlian masa depan. Seorang yang memiliki cita-cita
tinggi dan mulia yakni menghancurkan langit kebodohan dan bukit
ketertinggalan seraya memfokuskan pandangan dalam usaha menggapainya.
Kuncinya 3…tas : Identitas, Moralitas, dan Kualitas.
Demikian
rumusan global yang saya tawarkan tuk direnungkan dan ditanamkan dalam
hati setiap orang yang sedang menggeluti profesi, belajar maupun
mengajar akuntansi. Semoga berguna meskipun keluar dari orang yang
sangat hina ini. Akuntansi merupakan ilmu ruang samudera fungsi yang
memberikan lautan makna bagi penikmatnya tuk menjadi orang yang sukses.
Semoga kita termasuk orang didalamnya. Amin.
Selasa, 07 Oktober 2014
Pertanyaan umum wawancara di bank
Apakah Anda tengah mencari pekerjaan dan berencana untuk melamar ke
sebuah Bank? Jika jawabannya benar, maka ada baiknya jika sebelum Anda
melamar pekerjaan, Anda harus memahami beberapa pertanyaan umum yang
sering muncul ketika proses wawancara kerja tengah berjalan. Dan berikut
ini beberapa pertanyaan umum beserta cara menjawabnya yang memang bisa
Anda pelajari guna kelangsungan karir Anda.
1. Produk Perbankan
Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling umum, sebuah perusahaan pastinya akan bertanya kepada para calon karyawannya, apakah mereka benar-benar telah memahami dengan benar pekerjaan seperti apa yang nantinya akan mereka geluti. Dan biasanya pertanyaan yang akan diajukan seperti berikut ini:
Pastinya Anda akan menemukan beberapa pertanyaan yang akan menjebak Anda secara tidak langsung, hal ini guna mengetahui seberapa besar Anda ingin bekerja di perusahaan tersebut, serta guna mengukur minat yang Anda miliki untuk bekerja di Bank tersebut. Dan berikut ini beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh pihak perekrut:
Pertanyaan yang diajukan biasanya akan menyangkut seputar sapi, kuda nil, kerbau, serta beberapa kasus lainnya yang memang bersifat lucu, dan kamu harus bisa menyelesaikan pertanyaan itu, pastinya dengan cara yang kamu gunakan sendiri. Hal ini guna mengukur tingkat emosional Anda, tingakt kecerdasan, cara berfikir Anda serta logika. Sebagai contoh:
Kalau dunia sedang perang, dan semua orang meninggal, lalu tersisa 6 (enam) orang:
1 Orang mantan narapidana
1 Orang suster tua
1 Orang gadis cantik tapi mandul
1 Orang tukang bangunan
1 Orang tentara
1 Orang dokter tapi suka sejenis
Nah, kamu hanya boleh menyelamatkan tiga orang, siapa saja yang kamu pilih untuk membentuk dunia baru? Sebutkan alasan, visi dan misi kamu?
Nah, seperti itu pertanyaannya, dan kamu bisa menjawabnya sendiri.
4. Ada Pertanyaan yang ingin di tanyakan?
Jika pihak HRD telah bertanya seperti itu, maka Anda bisa menanyakan hal yang memang belum kamu ketahui namun yang masuk akal. Dan inilah saatnya yang tepat untuk Anda bertanya mengenai gaji dan beberapa hal lainnya yang memang ingin Anda ketahui. Namun satu hal yang harus Anda ingat, bertanyalah dengan, menggunakan bahasa yang baik dan benar, jangan bertanya dengan menggunakan kalimat yang salah.
Misalkan Anda bisa bertanya seperti ini mengenai gaji, “Apa saja imbalan yang saya dapat setelah saya melakukan kewajiban saya apabila saya diterima sebagai karyawan?”
Dan jangan pernah Anda bertanya mengenai gaji dengan menggunakan kalimat seperti ini, “Berapa gaji yang saya dapat?” Sebab hal ini akan menghancurkan Anda, dan kesempatan Anda untuk bekerja di Bank akan hilang begitu saja.
1. Produk Perbankan
Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling umum, sebuah perusahaan pastinya akan bertanya kepada para calon karyawannya, apakah mereka benar-benar telah memahami dengan benar pekerjaan seperti apa yang nantinya akan mereka geluti. Dan biasanya pertanyaan yang akan diajukan seperti berikut ini:
- Apa saja produk dari bank ini?
Nah, pertanyaan inilah yang akan sering muncul, pihak Bank pastinya ingin mengetahui seberapa besar keinginan calon karyawannya untuk bekerja di perusahaan tersebut. Maka Anda bisa mempelajari semua produk yang memang ada di perbankan, jenis-jenis tabungan, giro, cek, hutang, serta produk-produk lainnya. - Menurut kamu, apa kelebihan bank ini dari bank lain?
Agar Anda bisa menjawab pertanyaan ini, sebelum Anda melangsungkan sesi wawancara kerja, Anda bisa mengambil brosur terlebih dahulu yang memang ada di Bank tempat Anda melamar kerja, setelah itu pelajarilah. Dan pastinya Anda akan menemukan kelebihan dari Bank tersebut.
Pastinya Anda akan menemukan beberapa pertanyaan yang akan menjebak Anda secara tidak langsung, hal ini guna mengetahui seberapa besar Anda ingin bekerja di perusahaan tersebut, serta guna mengukur minat yang Anda miliki untuk bekerja di Bank tersebut. Dan berikut ini beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh pihak perekrut:
- Apa yang kamu lakukan kalau kamu diterima? Mengapa kamu ingin bekerja sebagai ini (contoh:teller)?
Dengan pertanyaan seperti ini, maka Anda harus memiliki konsep yang tepat, konsep yang jelas terkait pekerjaan yang Anda lamar. Jika Anda melamar pekerjaan pada posisi teller, maka Anda bisa menjawabnya dengan menyangkutkan pekerjaan seorang teller. Dalam menjawab, Anda jangan terlalu banyak berbasa-basi, kamu harus to-the-point dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pihak perekrut. - Mengapa kamu ingin bekerja di bank ini?
Anda harus lebih berhati-hati dalam menjawab pertanyaan ini, awas jangan tertipu. Anda bisa memberikan jawaban, “Saya ingin berkarya untuk perusahaan, sekaligus meningkatkan potensi saya sebagai karyawan dengan mutu dan kualitas yang semakin baik.” Dan itu merupakan jawaban yang terbaik jika dibandingkan Anda hanya menjawab, “Saya ingin mencari pengalaman dalam bekerja,” owh, itu akan sangat menggagalkan Anda.
3. Pertanyaan Aneh-Aneh
Jika saat wawancara kerja muncul beberapa pertanyaan yang
aneh, maka ingatlah, kalau Anda harus menanggapi hal ini dengan serius.
Jangan pernah Anda menertawakan pertanyaan yang diajukan oleh pihak
perekrut. Dan biasanya pertanyaan seperti ini diajukan bertujuan untuk
mengukur seberapa besar Anda bisa menilai suatu hal yang terjadi, dan
sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak hanya akan muncul ketika sesi
wawancara kerja di Bank saja, namun perusahaan lain juga pastinya akan
mengajukan pertanyaan seperti ini.Pertanyaan yang diajukan biasanya akan menyangkut seputar sapi, kuda nil, kerbau, serta beberapa kasus lainnya yang memang bersifat lucu, dan kamu harus bisa menyelesaikan pertanyaan itu, pastinya dengan cara yang kamu gunakan sendiri. Hal ini guna mengukur tingkat emosional Anda, tingakt kecerdasan, cara berfikir Anda serta logika. Sebagai contoh:
Kalau dunia sedang perang, dan semua orang meninggal, lalu tersisa 6 (enam) orang:
1 Orang mantan narapidana
1 Orang suster tua
1 Orang gadis cantik tapi mandul
1 Orang tukang bangunan
1 Orang tentara
1 Orang dokter tapi suka sejenis
Nah, kamu hanya boleh menyelamatkan tiga orang, siapa saja yang kamu pilih untuk membentuk dunia baru? Sebutkan alasan, visi dan misi kamu?
Nah, seperti itu pertanyaannya, dan kamu bisa menjawabnya sendiri.
4. Ada Pertanyaan yang ingin di tanyakan?
Jika pihak HRD telah bertanya seperti itu, maka Anda bisa menanyakan hal yang memang belum kamu ketahui namun yang masuk akal. Dan inilah saatnya yang tepat untuk Anda bertanya mengenai gaji dan beberapa hal lainnya yang memang ingin Anda ketahui. Namun satu hal yang harus Anda ingat, bertanyalah dengan, menggunakan bahasa yang baik dan benar, jangan bertanya dengan menggunakan kalimat yang salah.
Misalkan Anda bisa bertanya seperti ini mengenai gaji, “Apa saja imbalan yang saya dapat setelah saya melakukan kewajiban saya apabila saya diterima sebagai karyawan?”
Dan jangan pernah Anda bertanya mengenai gaji dengan menggunakan kalimat seperti ini, “Berapa gaji yang saya dapat?” Sebab hal ini akan menghancurkan Anda, dan kesempatan Anda untuk bekerja di Bank akan hilang begitu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)
































































