Minggu, 26 Agustus 2018

ESES SEORANG PENGUSAHA




ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika orang lain baru mulai bekerja, aku sudah menyelesaikan ¼ dari pekerjaanku hari itu. Tetapi ketika orang lain selesai dengan pekerjaannya, aku baru menyelesaikan ¾ dari pekerjaanku.

ESES Seorang  Pengusaha…
Aku bekerja 2 kali lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, bukan karena ada yang  menyuruh aku melakukannya. Bukan pula karena aku harus melakukannya, tetapi karena aku memang senang melakukannya.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika akhir bulan tiba, orang-orang lain yang bekerja umumnya gembira menerima upah dari pekerjaannya. Akupun gembira, tetapi bukan karena menerima upah dari pekerjaanku – karena aku masih mampu membayar upah para bekerja.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika segala sesuatunya tidak berjalan semestinya, orang lain bisa menyalahkan atasannya, bisa menyalahkan system, bisa menyalahkan pasar, bisa menyalahkan krisis dan bahkan bisa menyalahkan cuaca. Tidak demikian denganku, the buck stops here – nobody else to blame, semua masalah menjadi tanggung jawabku – tidak ada orang lain yang patut disalahkan.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika orang lain melihat masalah di sekitar mereka, aku melihatnya peluang untuk diatasi. Ketika orang lain melihat sampah, aku melihatnya bahan baku untuk industri.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika orang lain sibuk untuk menabung kelebihan uang mereka, aku juga selalu sibuk untuk mencari solusi bagaimana mendanai berbagai ide usaha. Orang lain mendapat bagi hasil yang pasti, tidak demikian dengan dana usahaku – tidak ada yang bisa memberikan jaminan yang pasti.

ESES Seorang  Pengusaha…
Di akhir pekan, di hari liburan – orang lain bisa sepenuhnya istirahat dengan melupakan segala persoalan pekerjaannya. Tidak demikian denganku, tidak ada waktu untuk berlibur dari tanggung jawab – aku harus tetap siaga dimanapun aku berada.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika orang lain berlibur adalah berlibur – tidak ada yang boleh mengganggunya, kadang aku-pun ber –‘libur’ tetapi bukan untuk berlibur – aku mencari peluang dengannya.

ESES Seorang  Pengusaha…
Di akhir malam, ketika orang lain berdoa untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan yang baik dan karir yang cemerlang nanti. Akupun berdoa untuk mampu menjaga amanah, untuk diberi dan dipertemukan dengan orang-orang yang jujur – adil – dan hati-hati agar tidak ada rasa bimbang di hati.

ESES Seorang  Pengusaha…
Orang lain akan pensiun pada waktunya, menikmati hari tua dengan dana pensiunnya atau dengan tunjangan hari tuanya. Tidak denganku, usia tidak menghalangiku untuk tetap bekerja, dana pensiun dan tunjangan hari tua-ku telah habis ketika aku membutuhkan modal usaha.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika istri-istri orang lain sibuk mengelola penghasilan para suami mereka, istriku-pun sibuk – bukan untuk mengelola penghasilanku, tetapi untuk ikut berusaha dan menjaga agar orang lain tetap bisa bekerja.

ESES Seorang  Pengusaha…
Ketika anak-anak orang lain mendapatkan jatah uang saku bulanannya, anak-anakku harus bekerja untuk memperoleh uang sakunya. Bagi anak-anakku, uang saku bukan something to be given (sesuatu yang harus diberikan) kepada mereka, tetapi something to be earned (sesuatu yang harus diusahakan) oleh mereka.

ESES Seorang  Pengusaha…
Satu demi satu usaha terus aku rintis, bukan karena aku ingin terus bertambah kaya – karena memang ternyata tidak semuanya berbuah hasil. Tetapi karena aku memang senang melakukannya, untuk tetap bisa berbuat adil.

ESES Seorang  Pengusaha…
Aku tahu domainku hanya untuk berusaha dan bekerja dengan senang, masalah hasil adalah domain dan kuasa dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku hanyalah pelaku, Dia-lah Sang Penentu.

ESES Seorang  Pengusaha…
Karenanya, tidak patut aku berbangga dengan hasil usaha, tetapi syukurku yang terus aku panjatkan atas kesempatan yang telah diberikanNya kepadaku  untuk tetap bisa berusaha. Karena aku seorang pengusaha, tugasku hanya berusaha …

PENGUSAHA ITU ESES





PENGUSAHA ITU ESES, Ketika orang lain MASIH terlelap, aku sudah berkeringat.
Ketika orang lain SUDAH terlelap, aku masih bersemangat
Apakah aku lelah? Tidak, karena kulakukan dengan penuh HASRAT.

PENGUSAHA ITU ESES, Ketika orang bahagia menerima gaji, aku bahagia karena bisa MEMBAYAR GAJI.
Ketika orang lain sibuk menyalahkan orang lain karena bisnis tak sesuai rencana, aku SIBUK BELAJAR agar bisnisku terus bersinar.

PENGUSAHA ITU ESES, Ketika orang lain melihat MASALAH, aku melihatnya di situ ada PELUANG.
Ketika orang lain melihat SAMPAH, aku melihatnya itu bisa menjadi UANG.

PENGUSAHA ITU ESES, Ketika orang lain sibuk menjaga GENGSI, aku sibuk menyiapkan produk atau jasa yang meningkatkan gengsi. Namun, ketika orang lain sibuk ditagih KARTU KREDIT aku justru ditawari banyak kredit dari berbagai lembaga keuangan.

PENGUSAHA ITU ESES, Ketika istri orang lain sibuk mengatur KEUANGAN , istriku justru membanyak belanja untuk menambah barang DAGANGAN.

PENGUSAHA ITU ESES, Ketika orang lain sibuk mencari LEMBURAN, aku sibuk mencari tempat untuk LIBURan

PENGUSAHA ITU ESES, Ketika orang lain takut saat usia PENSIUN, saat itu justru aku sedang amat BAHAGIA karena bisnisku telah menggurita.
Saat usia sudah senja orang lain masih sibuk dengan urusan DUNIA, aku sudah amat sibuk menggapai cinta dari SANG MAHA.

PENGUSAHA ITU ESES, Kelak aku ingin bersanding dengan para saudagar sahabat NABI, di kehidupan yang ABADI.
Akupun ingin mengajak Anda yang membaca tulisan ini, bermain-main di taman SURGAWI. Mau?

ESES SATU ITULAH PENGUSAHA




Seribu jadi satu juta
Satu juta jadi satu milyar
Satu Milyar jadi satu trilyun
Satu Trilyun jadi bangkrut
ESES SATU Itulah Pengusaha

Modalnya adalah dengkulnya
Tak punya dengkul pun,
bisa pinjem dengkul orang lain.
Pengalaman kerjanya adalah,
Tak pernah melamar pekerjaan
Keberaniannya adalah optimisme
terhadap duitnya orang lain
ESES SATU Itulah Pengusaha

Kemandirian adalah jiwanya.
Memulai usaha sendiri
Mengangkat dirinya sendiri
jadi direktur di perusahaannya sendiri
menjual barangnya sendiri
tidak laku ya dibeli sendiri
ESES SATU Itulah Pengusaha

Perjuangan adalah hari-harinya
Hutang adalah darahnya
Keuntungan adalah keringatnya
Tak berhutang hidup pun terasa hampa
baginya berhutang pun tetap mulia
ESES SATU itulah Pengusaha

Hidungnya panjang
Matanya tajam
Senyumnya mekar
Telinganya lebar
ESES SATU Itulah Pengusaha

Jumat, 24 Agustus 2018

UKHTI Siri'NaPacce ZAMAN NOW





Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan cantik
wajahmu yang dilihat.
Tetapi kecantikan konsistenmu dalam menjaga sholatmu.

Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan pesona tubuhmu yang dinilai.
Tetapi pesona komitmen hijab syar'imu di dunia nyata dan mayamu.

Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan banyaknya kebaikanmu yang dihitung.
Tetapi kebaikan niat bismillahmu harus menjadi kebiasaanmu.

Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan suara indahmu yang didengar.
Tetapi yang didengar adalah bahasa suara dakwah mu.

Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan keahlianmu berbicara mu yang dirasa.
Tetapi yang dirasa adalah keteladanmu yang berbicara pada orang muda dan orang tuamu.

Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan keberanianmu hijrahmu yang dipikir.
Tetapi yang dipikirkan adalah tentang keberanianmu menjaga rasa malumu.

Ukhti Siri'NaPacce' Zaman now.
Bukan kehebatan bergaulmu yang dijempol.
Tetapi yang dijempol adalah kehebatanmu yang tetap bergaul dengan tetap menjaga aqidah dan akhlakmu.

Ukhti siri' na pacce



Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari kecantikan paras wajahmu, tetapi dari kecantikan hati yang konsisten menjaga kesucian wudhu dan sholatmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari bentuk tubuhmu yang mempesona, tetapi sejauh mana kamu komitmen dalam menutupi tubuhmu dengan hijab syar'i di dunia nyata dan dunia mayamu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan seberapa  banyak kebaikan yang kamu berikan, tetapi selalu bismillah dalam berbuat dan memberikan kebaikan pada orang lain yang menjadi keikhlasan dan kebiasaanmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaramu, tetapi menda'wahkan kebenaran Al-Qur'an dan As-sunah adalah bahasa pilihan dan tantanganmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat keahlianmu berbahasa, tetapi biarkan keteladanmu yang  berbicara kepada orang muda dan orang tuamu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari keberanianmu dalam berpakaian hijrah, tetapi sejauh mana keberanianmu mempertahankan prinsip malu dan kehormatanmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari kekhawatiranmu digoda orang di jalan, tetapi dari kekhawatiran  yang mengundang orang jadi tergoda karena pengaruh perkataan dan perbuatanmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce'  sejati yang bukan dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang kamu jalani, tetapi dari sejauh mana kemampuan menghadapi ujian itu dengan rasa sabar dan syukurmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari seberapa banyak harta yang kamu kuasai, tetapi sudahkah kamu sisihkan harta itu dengan membantu sesamamu manusia dengan kesederhanaan  dan kemudahanmu.

Kamu seorang ukhti Siri' na Pacce' sejati yang bukan dilihat dari sifat supel kamu dalam bergaul, tetapi dari sejauh mana bisa bergaul dengan tetap sejalan  aqidah dan akhlakmu.

Kamis, 23 Agustus 2018

Makassar tetap Makassar


Makassar tetap Makassar.
Tetap teladani  keberanian ayam jantan dari timur Sultan Hasanuddin.
Tetap contohi
Kesufian tuanta salamaka Syekh Yusuf.

Makassar tetap Makassar.
Jangan biarkan perawan desa ditelanjangi di tengah kota.
Jangan biarkan lipa’ sa’be diganti dengan rok mini.
Jangan biarkan Pemuda kerjanya cuma mabuk-mabukan dan berzina.
Jangan biarkan aru tubarania diganti dengan kata sundala'.

Makassar tetap Makassar.
Persaudaraan harus setinggi puncak bawakaraeng.
Persaudaraan harus
setebal kabut malino.
Persaudaraan harus
sederas air terjun bantimurung.
Persaudaraan harus
seputih pasir pantai bira.
Persaudaraan harus
sebiru laut apparalang.
Persaudaraan harus
 seelok pulau kadingareng.
Persaudaraan harus
sekokoh benteng Rotterdam.

Makassar tetap Makassar.
Biarkanlah Lagu anging mammiri  meliuk- liuk.
Biarkanlah Tari pakarena  berlenggak-lenggok.
Biarkanlah Papui - ’pui disuarakan.
Biarkanlah pakiok bunting bersemayam
Biarkanlah Ganrang pakanjara menggelegar.

Ayo beramal Sholeh


Jika syetan tidak bisa jadikan kita jahat, maka syetan akan jadikan kita orang yang malas beramal sholeh. Di hari
raya haji ini, ayo kita beramal sholeh dan kurbankan sifat kebinatangan yang ada pada diri kita yaitu jahat, sombong, riya, serakah, kikir, dan hanya memikirkan dunia. Selamat hari raya idul adha. Mohon maaf lahir dan batin.

Dilangit Makassar



Di langit Makassar
Warna memancar menembus kabut
Di sana ada ribuan cahaya
Yang setia menghias hitam saat hari tenggelam.

Di langit Makassar
Ada rindu tersimpan untuk seorang hamba
Yang jauh rimbanya
Hingga mata ini buta memandangnya.

Di langit Makassar
Bintang bintang menari bersama dingin
Sepi dan sunyi mendukung malam hingga subuh
Menanti sang surya kembali.

Di langit Makassar
Bisa terlihat kerlap- kerlip
Manik langit menyanyi dengan bisu
Menghibur hati hamba yang remuk.

Di langit Makassar
Bintang bulan bersama
Bercengkrama dalam jarak
Hingga jasad takbisa merengkuh.

Di langit Makassar
Bintang mencumbu dingin
Hitam kembali membawa kantuk
Menutup mulut yang terbuka
Membawa ke  mimpi.

Di langit Makassar
Hitam mencekat
Menutup warna
Membawa deru angin.

Di langit Makassar
Mata memandang buram
Jauh di sana terlihat bintang bulan
Bersama hanya saat hitam membayang mata.

Di langit Makassar
Disini menanti di bawah
Menikmati malam hingga larut terbawa
Berdiri di bawah tempat di mana bintang mengoyahkan langit.

Di langit Makassar
Terasa sangat indah
Menusuk mata hingga otak
Keindahannya hanya malam hitam yang punya.

Sabtu, 18 Agustus 2018

ESES KAWAN LAWAN KAWAN



ESES KAWAN LAWAN KAWAN
Mengaku kawan tapi melawan
melawan kawan
kawan melawan
Perkawanan berubah
Perlawanan

ESES KAWAN LAWAN KAWAN
Dulu kawan
Sekarang lawan
lawan Sekarang
Tunggu dulu kawan

ESES KAWAN LAWAN KAWAN
Kawan lawan kawan
Perkawanan jangan berlawanan
Kita kawan harus berkawanan
Kita jangan lawan melawan

ESES KAWAN LAWAN KAWAN
Lupakan lawan kawan
Berlawanan sudah usang
Bergandengan lawan masa mendatang

ESES KAWAN LAWAN KAWAN
Maaf kawan maaf
Semua biar terkenang
Lupakan berlawanan
Mari kawan
Lawan masa depan dengan berkawan

Kamis, 09 Agustus 2018

Mari ke masjid



Kita boleh saja tahu pantai, gunung, dan bukit sebagai tempat terindah bagi pandangan mata. Tapi,  ke Masjid saja dulu! Karena sangat sedikit dari kita yang tahu bahwa masjid adalah tempat terindah dan mendamaikan yang sebenarnya ada di sekitar kita .

Kamu hebat



Kamu hebat jika kamu tetap rendah hati dikala berada diketinggian dan kamu hebat jika kamu tetap percaya diri dikala kamu berada diketerpurukan.

Pembuktian sekarang



Akan ku sambut
Kata-kata pesimismu
Dengan pembuktian
Yang Akan membuatmu percaya.

Ayo ke masjid





Cita-cita  jadi imam! Cita-cita  jadi guru! Cita-cita jadi dokter! Cita-cita jadi tentara! Cita-cita jadi polisi! Cita-cita jadi Presiden! Cita-cita jadi pengusaha! Cita-cita jadi penghapal 30 juz Al-Qur'an.

Itu kata-kata yang masih teringat saat kita masih kecil yang kepolosan, saat dimana kita berbicara cita-cita  masa depan,  dan pada saat juga itu kita masih aktif belajar mengaji di Masjid Al-Amin, yang terletak di Sanrangan.

Ya, masa kecil yang penuh cerita lucu dan mengukir sejuta kenangan, terutama saat kita berlari kesana-kemari, tertawa, bercanda bersama, dan bahkan ada aksi konyol-konyolan.

Tetapi, kini diantara kita sudah ada yang mulai lupa masjid ini atau  masjid yang ada  dimana saja. Apakah karena kita sudah merasa perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang lelaki atau perempuan adalah perjalanan ke mesjid?

Jawabannya mungkin sebagian dari kita ada yang sudah menjadi orang kaya yang sudah tidak sanggup berkunjung ke masjid untuk shalat berjamaah.

Jangankan sehari lima waktu, bahkan banyak pula dari kita yang seminggu sekalipun terlupa, tidak jarang pula seumur hidup kita tidak pernah singgah ke masjid lagi. Astagfirullah, mudah-mudahan itu bukan kita!

Ada juga diantara kita yang merasa perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid juga, padahal bisa jadi kita sudah menjadi orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukan masjid.

Walaupun kita sudah mampu mencari ilmu hingga ke universitas di kota Makassar ataupun ke Jakarta , mudah melangkahkan kaki ke Bali, Surabaya  dan ke universitas luar negeri dengan semangat yang membara.

Namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu kita datangi, padahal kita sudah tamat sekolah SD, SMP, SMA, S1, S2, dan bahkan bertitle S3.

Memang ini perasaan yang sangat menakutkan sebenarnya bagi yang menyadari.  kita merasa perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.

Padahal kita ini seorang pemuda-pemudi yang kuat dan bertubuh sehat,  yang kadang diantara ada yang mampu menaklukan puncak gunung Bawakaraeng dan Lompobattang pun.

Realita yang ada, kita sering mengeluh ketika kita di ajak ke mesjid, alasan kita pun bermacam-macam,
ada kata "sebentar saja", "santai nikmati masa muda", dan ada juga ucapan merasa tidak nyaman di cap sebagai "orang alim".

Sudah lupakah pesan Guru mengaji di kampung? Guru mengaji kita berpesan,  jangan jadikan perjalanan terjauh dan terberat itu adalah  masjid!

Berbahagialah di antara kita yang bila sejak kecil telah terbiasa dan terus- menerus melangkahkan kaki ke masjid . Karena bagi kita yang tahu mengenai sejauh manapun kita melangkahkan kaki
tidak ada perjalanan yang paling kita banggakan selain perjalanan ke masjid.

Mudah-mudahan dengan mengingat masa kecil kita waktu belajar mengaji di masjid ini atau di masjid mana saja, kita terdorong untuk
mengetahui rahasia
sejati perjalanan ke mesjid.

Perjalanan ke masjid sejatinya adalah perjalanan untuk menjumpai Rabb kita. Perjalanan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw
serta perjalanan yang akan membedakan kita dengan orang-orang yang lupa dengan keberadaan Allah SWT.

Ayo ke masjid! Jangan  biarkan diri kita di didik dengan pemikiran tentang perjalanan dan terberat  itu adalah perjalanan ke mesjid.

Teruslah datang ke masjid jika adzan telah berkumandang. Kita harus lakukan itu,  walaupun kita harus merangkak dalam gelap subuh demi mengenal nikmat Allah SWT yang diberikan kepada kita disetiap waktu.

Selasa, 31 Juli 2018

Beraksilah








Ingin melihat dunia, membacalah.
Ingin dilihat dunia, menulislah.
Ingin memahami dunia, mendengarlah.
Ingin pembeda dunia, berpikirlah.
Ingin menggerakkan dunia, berbicaralah.
Ingin merasakan dunia, berjalanlah
Ingin meraih dunia, beraksilah.
Ingin mengubah dunia, pimpinlah
Ingin mengusai dunia, bermedialah.
Ingin menaklukkan dunia, berimanlah
#supardisaminja

Minggu, 15 Juli 2018

Manusia Sulappa Appa


Dreaming, believing, and making it happen. Itu karakter kamu sebagai Manusia Makassar, Manusia Siri'na pacce, dan sekaligus karaktermu selaku Manusia Sulappa Appa. Kalau ada yang kamu impikan, kalau ada yang kamu mau gapai, harus kamu percaya apa yang kamu mau gapai, harus kamu jangkau apa yang kamu mau gapai.

Kalau mau gapai pulau harapan dibalik fatamorgana, harus mau melepas tambat perahu dari dermaga, mau kehilangan pandangan pantai saat ini, mau kehilangan selimut hangat dipantai itu. Mau mengarungi samudera, mau berhadapan dengan badai dan gelombang.

 Kalau ada badai gelombang menghadangmu, jangan bawa menyamping perahumu! Hadapi badai itu dengan badai tenang! Karena kebenaran melalui cita-citamu adalah bagian dari takdir dari Tuhan yang maha kuasa.

Manusia Siri' na pacce







Selain itu kamu mesti bisa mengatakan dan  mengerjakan sesuatu yang menjadi kekuatan imanmu.

Dan kamu harus mampu menuliskan kata-kata untuk dinikmati oleh orang banyak, bagai secangkir minuman buat dahaga kehidupan. Kamu harus memilih kata sederhana agar tak sulit di cerna, tapi dimengerti.

Kamu harus percaya bahwa kekuatan menulis kata  sebagai bentuk kesaksian terhadap suasana batin yang bergelora, mengekspresikan kejujuran bagi kalbu dan nurani.

Memang, menulis sesuatu kata itu punya hak untuk hidup sebagai lambang kebebasan dan kesejukan dalam situasi hidup yang diwarnai konflik, kekacauan, dan kekerasan.

Mungkin kamu tidak bisa hidup 1.000 tahun lagi, tetapi tulisan Kata-katamu bisa hidup 1.000 tahun lagi dan bahkan sampai lebih dari itu. Karena tulisan Kata-katamu menjadi sangat berarti bagi dirimu dan orang lain.

Tulisan Kata-katamu ini adalah sebuah interpretasi terhadap nilai dan norma yang tumbuh dalam dirimu sebagai manusia Makassar berkarakter siri na pacce .

Terus biasakan dirimu menulis! Tak perlu alasan atau syarat yang mengharuskan kamu seorang sastrawan. Karena mungkin hanya dengan menulis pesanmu sampai, hatimu nyaman, kenanganmu tersimpan, dan 
kamu tidak usah risau dengan kata-katamu dibaca atau tidak baca, suka atau tidak disuka. Yang penting menulislah! Karena mungkin dengan menulis, kamu akan dikenang.

Sekali lagi tulisan kata-katamu harus mengajak  dirimu dan orang banyak untuk bernyanyi tentang keadilan, motivasi, renungan diri sendiri dan orang lain, menegur secara halus tentang perlawanan, dan tentang kedamaian, oh betapa indahnya hidup.

ESES

 


SAYA itu apa yg saya impikan, apa yg saya percaya, dan saya buat itu semua menjadi nyata, itulah SAYA

Ciptakan karaktermu


Ciptakan karaktermu sebelum kamu menjadi pemimpin. Kamu harus menjadi dirimu sendiri, tidak perlu menjelma menjadi apapun. Jangan buang keberanianmu sebab karaktermu terbangun dari sana.

Selamat jalan Ramadhan




Aku masih melihat bangunan itu masih  berdiri kokoh diluar sana. Tetapi, mengapa kamu terlalu cepat  meninggalkanku? Sedangkan aku sendiri masih berdiri disini, belum siap menghadapi perpisahan ini.

Mengingat kemesraan ini  baru saja tercipta, masih ingin kurasakan lebih lama denganmu. Kamu telah banyak mengajari diriku, mendidik jiwaku, dan membimbing hatiku dengan segala lemah-lembutmu dan juga nasehat-nasehat baikmu.

Mengapa berat sekali rasanya hati dan pikiranku  menghadapi perpisahan ini. Sedangkan aku masih saja haus, masih butuh, dan masih ingin terus belajar mencintaimu. Karna belum sempurna kumencintaimu.

Maka ijinkan aku tetap mencoba mencintaimu, di sisa waktu ini. Dipenghabisan pertemuan diriku dan dirimu.  Ramadhan  kembalilah dilain waktu! Berjanjilah Ramadhan! Aku masih setia menunggu kembali dirimu!

Dan kamu tidak pernah mengatakan, "jangan terlalu berharap!". Makanya aku selalu berharap apa bila kamu kembali lagi kesini, temuilah aku, dan seandainya kamu tidak melihat lagi diriku disini, berarti aku sudah dipanggil oleh Allah SWT. Selamat jalan Ramadhan!

Hadirkan yang baik-baik

Hadirkan yang baik-baik itu di pikiran baikmu,  di hati baikmu, di niat baikmu, di tulisan baikmu, di perkataan baikmu, dan di perbuatan baikmu.  Taburkan kebaikan itu di manapun bisamu. Percaya dan yakinlah bahwa kebaikan-kebaikan yang kamu taburkan aman diatas di angin, di air, di tanah, dan di api. Itu semua akan menjadi investasimu untuk menjadi kebaikan padamu, keluargamu, agamamu, dan juga pada bangsa dan negaramu.