Senin, 23 Maret 2026

𝑻𝒆𝒂𝒊 𝒕𝒐𝒍𝒐’ 𝒑𝒖𝒏𝒏𝒂 𝒕𝒐𝒍𝒐, 𝒑𝒖𝒏𝒏𝒂 𝒕𝒐𝒍𝒐 𝒕𝒆𝒂𝒊 𝒕𝒐𝒍𝒐’



 Pesan leluhur manusia makassar,       

👉"𝑻𝒆𝒂𝒊 𝒕𝒐𝒍𝒐’ 𝒑𝒖𝒏𝒏𝒂 𝒕𝒐𝒍𝒐, 𝒑𝒖𝒏𝒏𝒂 𝒕𝒐𝒍𝒐 𝒕𝒆𝒂𝒊 𝒕𝒐𝒍𝒐’, 

terjemahan dari bahasa Makassar ke bahasa Indonesia,  

👉𝑩𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒃𝒐𝒅𝒐𝒉, 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒃𝒐𝒅𝒐𝒉 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈. 

Maknanya dalam—dan relevan sampai sekarang:

Seorang pejuang tidak cukup hanya berani, tapi harus:

Punya akal → tahu mana langkah yang tepat

Punya ilmu → tidak asal nekat

Punya strategi → menang bukan karena kuat, tapi karena cerdas

Karena keberanian tanpa pikiran itu bukan perjuangan…

itu cuma nekat yang menunggu kalah.

Pepatah ini juga mengingatkan:

Dunia tidak dimenangkan oleh yang paling keras, tapi oleh yang paling paham cara bertindak.

Jadi, jadi pejuang itu bukan soal tampil gagah—tapi soal mampu berpikir sebelum melangkah.

Senin, 16 Maret 2026

Istilah dalam Bahasa Makassar

 


Istilah dalam Bahasa Makassar

A

A'bulo sibatang = Bersatu
A'jallo katti-katti = Mengamuk membabi buta
Ammarrang kodi = Berteriak keras, berteriak histeris
Anak kukang = Anak yatim piatu
Angngarru' ca'di = Bersedih hati
Appanai' cera' = Membuat marah, bikin naik darah, bikin emosi
Appua dede' = Ongkang-ongkang kaki

B

Baji' pa'mai' = Baik hati
Balla' lompoa = Rumah besar, istana
Basa paja = Cepat merasa, cepat tersinggung, sensitif

C

Ca'di baji' = Kecil-kecil cabe rawit
Ca'di kune' = Kecil-kecil, kecil sekali

D

Dangnge Ca'di = Sakit flu, influenza
Doi' ca'di = Uang kecil, uang receh

K

Ka alla-alla' = Aneh, ajaib, lain dari yang lain
Kacini'-cini' = Suka mencontoh, ikut-ikutan
Kajili-jili = Tidak tahu sopan santun, tidak tahu aturan, tidak bisa tenang 
Kalumanynyang kalupepeang = Kaya raya
Kapala' Rupa = Tebal muka, tidak tahu malu
Kapau-pau = Bicara sembarang, ngomong sembarang, ngelantur
Kapile-pile = Suka pilih-pilih, tidak sembarang pilih
Karonjo-ronjo = Ceroboh, gegabah,
Kasara' bawa = Mulut kasar, bicara tidak terkontrol, suka membentak
Kasara' lima = Ringan tangan, suka memukul, suka menampar
Kikkiri' gallang = Sangat kikir
Kodi bawa = Mulut kasar, suka menghina
Kurassara = Kurang peduli, acuh tak acuh, cuek
Kurassiri' = Kurang/Tidak punya rasa malu
Kurang pangngali' = Kurang/Tidak punya rasa segan
Kurru sumanga' = Pemberi semangat, beri semangat
Kuttu baloso' = Sangat malas, malas sekali

L

Lamba' doko = Lambat sekali, lelet
Lambusu' basa = Lugu, tidak dapat menahan bicara, ceplas-ceplos 
Lolo bangko = Perawan tua
Lompo nyawa = Besar hati, semangat

M

Mate jangang sikaju = Mati sia-sia, mati konyol 

N

Nyawa cicca' = Susah bernapas, sesak napas

P

Palla' nyawa = Sampai hati
Pa'risi' ati = Sakit hati
Pa'risi' pa'mai' = Sakit hati

R

Rannu kongkong = Gembira seperti gembiranya seekor anjing, gemas

S

Sassa' lalang = Penyesalan
Sikko' boko = Ikat dari belakang
Sipanaikang dalle' = Sejodoh dan mendapat rejeki yang banyak

T

Tarima kasi = Terima kasih
Tau toa la'lasa' = Orang tua renta
Tinro jangang-jangang = Tidur seperti burung, tidak bisa tidur nyenyak
Titti' songo' = Hasil keringat
Toli Pammaja' = Telinga wajan, tidak mendengar, masuk telinga kiri keluar telinga kanan

Istilah Bahasa Makassar

 





Garring Tena Pa'ballena ( ᨁ ᨑᨗ ᨞ ᨈᨙ ᨊ ᨞ ᨄ ᨅ ᨒᨙ ᨊ ) alias Sakit di Makassar yang tidak ada obatnya


1. Piti ( ᨄᨗ ᨈᨗ )

    Garring Piti ( ᨁ ᨑᨗ ᨞ ᨄᨗ ᨈᨗ ) ini sangat banyak jenisnya di Makassar. Kata Piti kalau berdiri sendiri berarti "Sembarang", tapi jika diikuti dengan kata kerja di belakangnya maka akan berubah arti. Misalnya: Piti Cini'-Ciniki ( ᨄᨗ ᨈᨗ ᨞ ᨌᨗ ᨊᨗ ᨌᨗ ᨊᨗ ᨀᨗ ) bisa diartikan Jelalatan


2. Gi'gili' ( ᨁᨗ ᨁᨗ ᨒᨗ )

    Gi'gili' adalah kata lain dari sibaku' ( ᨔᨗ ᨅ ᨀᨘ ) yang artinya Kikir. Namun dalam bahasa Makassar banyak istilah-istilah yang dipakai untuk menggambarkan betapa kikirnya orang tersebut.

Di antaranya :

- Gi'gili' Paku Jambatang ( ᨁᨗᨁᨗᨒᨗ ᨞ ᨄᨀᨘ ᨞ ᨍᨅᨈ)

- Gi'gili' Paru' Gallang ( ᨁᨗᨁᨗᨒᨗ ᨞ ᨄᨑᨘ ᨞ ᨁᨒ )

- Gi'gili' Ka'bili' Tanru' ( ᨁᨗᨁᨗᨒᨗ ᨞ ᨀᨅᨗᨒᨗ ᨞ ᨈᨋᨘ )

Dan lain sebagainya.


3. Toli Pammaja' ( ᨈᨚ ᨒᨗ ᨞ ᨄᨆᨍ )

    Toli Pammaja' secara Bahasa Berarti Telinga Wajan. Namun secara istilah, Toli Pammaja' ini disematkan kepada orang yang tidak mau mendengar. Bukan orang Tuli, tapi sengaja menulikan dirinya terhadap omongan orangtua ataupun orang lain. Istilah lain yang sama artinya adalah Toli Mangngiwang ( ᨈᨚ ᨒᨗ ᨞ ᨆ ᨂᨗ ᨓ) yang secara Bahasa artinya Telinga Hiu.


4. Tattai Otere' ( ᨈ ᨈ ᨕᨗ ᨞ ᨕᨚ ᨈ ᨑᨙ )

    Secara Bahasa, Tattai Otere' berarti Berak Tali. Tapi bukan berarti orang tersebut mengeluarkan tali saat buang air besar (BAB). Tattai Otere' dialamatkan kepada orang yang izinnya ke belakang untuk BAB, tapi ternyata setelah BAB dia keluyuran dan tidak kembali lagi.


5. Tinggi Langga ( ᨈᨗᨁᨗ ᨞ ᨒᨁ)

     Langga dalam bahasa Makassar mempunyai beberapa arti, di antaranya Tampan, Panggang, Galang dan lain sebagainya. Namun jika ditambah dengan kata Tinggi sebelumnya, maka artinya berubah menjadi Sombong, Angkuh, atau Congkak.

Jumat, 13 Maret 2026

𝚂𝚒𝚙𝚊𝚌𝚌𝚒𝚗𝚒𝚔𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚘𝚖𝚘-𝚕𝚘𝚖𝚘, 𝚝𝚊𝚜𝚒𝚙𝚊𝚌𝚌𝚒𝚗𝚒𝚔𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚞𝚔𝚔𝚊𝚛𝚊





Di zaman yang serba cepat ini, orang berlomba terlihat paling hebat. Pamer harta, pamer kuasa, seolah dunia ini panggung lomba siapa paling kuat.


Padahal leluhur manusia Makassar

telah lama berpesan:


“𝚂𝚒𝚙𝚊𝚌𝚌𝚒𝚗𝚒𝚔𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚘𝚖𝚘-𝚕𝚘𝚖𝚘, 𝚝𝚊𝚜𝚒𝚙𝚊𝚌𝚌𝚒𝚗𝚒𝚔𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚞𝚔𝚔𝚊𝚛𝚊𝚔..”


Artinya sederhana dari Bahasa Makassar ke Bahasa Indonesia, namun dalam maknanya:


𝙎𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣,

𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙪𝙡𝙞𝙩𝙖𝙣. 


Hari ini…

banyak yang tersenyum di depan,

tapi menekan dari belakang.

Banyak yang berkata “saudara”,

tapi diam-diam menaruh batu di jalan.


Padahal hidup ini sudah cukup sulit,

tak perlu lagi manusia

membuatnya lebih rumit.


Jika kau punya jabatan,

permudahlah urusan orang.


Jika kau punya ilmu,

terangkanlah jalan yang gelap.


Jika kau punya rezeki,

ringankanlah beban yang lelah.


Karena pada akhirnya,

yang dikenang manusia

bukan seberapa tinggi kursimu,

tapi seberapa banyak

jalan yang kau lapangkan.


Sebab manusia besar

bukan yang membuat orang takut,

melainkan yang membuat orang

mudah bernapas di sekitarnya.


Maka ingatlah pesan itu—

sederhana tapi menampar zaman:


Jangan jadi manusia yang menambah susah hidup orang. Jadilah manusia yang kehadirannya membuat dunia terasa lebih ringan.


Dan jika ingin berlomba,

maka berlombalah dengan cara yang mulia.


Fastabiqul khairat.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.


Bukan saling menjatuhkan,

tetapi saling menguatkan.


Bukan saling menyulitkan,

tetapi saling memudahkan. 






Jangan merasa pemimpin paling jago


Selengkapnya, berikut transkrip ceramah Syahrul di "pesantren" Lapas Klas I Sukamiskin

"Membuat gerakan itu benar-benar mencapai sasaran. Tidak boleh ada pemborosan dalam pembiayaan.

Pemimpin itu, makanya, kalau agak pelit sedikit tidak apa-apa. Karena dia akan terus bertanya, 'Betulkah ini harganya segini?'

Kalau ada pemimpin yang berkata, 'Ah sudahlah, tidak apa-apa boros-boros saja,' itu bukan pemimpin yang baik.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu mengefisienkan gerakan, mengefektifkan gerakan, dan menghindari kebocoran, bahkan menghindari penyelewengan.

Sekali lagi, saya masuk di sini bukan karena penyelewengan. Bukan. InsyaAllah. Saya janjikan dunia akhirat di masjid ini.

Saya berkontribusi kepada negara Rp2.400 triliun. Dalam setiap tahun, yang saya ambil hanya Rp44 miliar, itu pun untuk perjalanan ke luar negeri dan lain-lain.

Ini supaya jelas. Bukan saya mau membela diri di sini. Tidak ada gunanya membela diri. Yang ada adalah menikmati hidayah Allah.

Salah satunya, kalian ada di pesantren ini. Itu sudah betul. Daripada yang tidur di sana, kalian sudah betul. Dan ini tidak boleh kalian sia-siakan.

Karena pekerjaan kalian nanti setelah keluar dari sini luar biasa.

Makanya waktu saya dipanggil, saya bilang: oke, kalau untuk pesantren, saya siap. Semua ilmu yang saya miliki, insyaAllah akan saya bagikan. Dan saya sampaikan apa adanya.

Salah satu tugas pemimpin adalah mengharmonisasi anak buah, membuat anak buah mesra satu dengan yang lain.

Tidak boleh kita menjadi pemimpin yang membuat mereka saling berbenturan.

You’re not a leader kalau kamu membangun polarisasi. Kamu bukan pemimpin kalau mengatakan, 'Oh kamu suku Makassar di sini, kamu suku Bugis di sana.'

Tidak boleh.

Kita pemimpin. Kita bapaknya. Kita harus membuat harmonisasi satu dengan yang lain. Harmonisasi itu membuat semua menjadi bersama dan mesra.

Tugas berikutnya, pemimpin harus memperhatikan kesejahteraan anak buah.

Tidak boleh kamu menyuruh orang pergi ke sana, pergi ke pasar, tetapi tidak diberi ongkos. Itu bukan pemimpin.

Kesejahteraan anak buah, termasuk gaji mereka, harus diperhatikan oleh pemimpin.

Jadi salah kalau ada pemimpin yang suka memalak ke bawah.

Dalam konsep kepemimpinan orang Bugis, justru raja yang memberi uang kepada rakyatnya, bukan sebaliknya.

Bukan rakyat yang memberi uang kepada pemerintah.

Saya masih ada materi, tetapi saya kira waktunya sudah cukup. Kalau Pak Tommy masih membutuhkan, masih ada tiga lembar lagi.

Baik, saya sampaikan yang terakhir saja.

Kalau kalian ingin menjadi pemimpin yang baik, kalian harus bisa menjadi anak buah yang baik.

Kamu baru bisa menjadi pemimpin yang baik kalau ketika menjadi anak buah kamu taat kepada komandanmu.

Kalau kamu menjadi anak buah yang jahat atau pengkhianat, kamu tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik.

Yang kedua, kalau ingin menjadi pemimpin yang baik, kamu harus menemukan harapan dan kebutuhan anak buah.

Harapan dan kebutuhan rakyat.

Harapan dan kebutuhan pimpinan yang ada di atasmu.

Waktu saya menjadi menteri, salah satu yang harus saya penuhi adalah bagaimana Presiden Pak Jokowi bisa merasa puas.

Bagaimana saya menemukan harapan dan kebutuhan Presiden.

Saya juga berusaha menemukan harapan dan kebutuhan para staf saya, para dirjen saya.

Saya berusaha menemukan harapan dan kebutuhan para petani terhadap sektor pertanian.

Bisa paham sampai di sini?

Jadi kalau kita bersama lima orang, kita harus tahu apa kebutuhan mereka dan apa harapan mereka kepada kita. Itu baru pemimpin.

Yang berikutnya, semua masalah yang kita hadapi tidak boleh hanya dipecahkan sendiri oleh pemimpin.

Jangan merasa pemimpin paling jago, paling pintar.

Pemimpin yang baik adalah yang menyelesaikan masalah bersama rakyat.

Kalau saya gubernur dan melihat suatu tempat kumuh, maka saya akan mencari solusi bersama.

Misalnya membuatkan penerangan listrik agar masyarakat bisa bergotong royong memperbaikinya.

Selasa, 03 Maret 2026

Boleh lelah, tidak boleh menyerah.

 


Karena lelah itu manusiawi.

Menyerah itu pilihan.

Lelah tanda kamu sedang berjalan.

Menyerah tanda kamu berhenti sebelum sampai.


Tidak apa-apa duduk sebentar.

Tarik napas.

Diam.

Menangis kalau perlu.

Tapi jangan kubur mimpimu hanya karena hari ini berat.

Ingat—


yang kuat bukan yang tak pernah goyah,

tapi yang tetap berdiri walau berkali-kali hampir roboh.

Kalau pundakmu terasa berat, itu berarti kamu sedang memikul sesuatu yang besar.

Dan sesuatu yang besar memang tidak lahir dari orang yang gampang menyerah.


Pelan saja.

Asal tetap jalan.

Karena badai pasti lewat.

Dan kamu…

tidak diciptakan untuk kalah.

Sikatutui

 


.

🎉 Dek Suhandi Saminja, hari lahir kembali terulang. Jangan pernah memilih hidup yang biasa-biasa saja. Setiap tahun adalah kesempatan untuk naik level dan memperbesar mimpi.


Semoga usia yang bertambah membawa kesehatan yang semakin kuat, rezeki yang semakin luas dan berlimpah, serta langkah yang tiga kali lebih berkembang dan makin maju dari sebelumnya.


🔥 Jangan pernah mau hidup dalam kemiskinan.

🔥 Jangan berhenti berjuang sampai memiliki kekayaan dan keberhasilan.


Terus naik kelas.Terus bertumbuh. Terus berani bermimpi besar dan menaklukkannya.


Jadilah versi terbaik dari dirimu setiap hari.

Semoga tahun ini dan tahun-tahun mendatang menjadi titik loncatan menuju pencapaian yang jauh lebih besar dan lebih gemilang🚀. Tetap hadirkan prinsip sikatutui (saling menjaga)

Berhenti sembunyi di balik kata “nanti”!

 




Berhenti sembunyi di balik kata “nanti”! Waktu tak pernah menunggumu siap. Banyak orang gagal bukan karena tak mampu, tapi karena terlalu lama ragu. Potensi bukan untuk disimpan, melainkan dipakai dan dibuktikan. Jangan terus menunda dan mengecilkan diri. Hidup terlalu singkat untuk tampil setengah-setengah—kalau bukan sekarang, kapan lagi? 

#ESES #100PersenProsesJadiSukses