Sabtu, 01 Desember 2012

Teknik & Tips Berdebat

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman saya yang meminta nasehat, bagaimana caranya supaya menang di dalam lomba debat. Secara jujur, debat bukan hal yang asing untuk saya. Walaupun saya masih belum dapat menjadi the best debater, tapi saya cukup mempunyai pengalaman dalam bidang ini.

Semenjak SMA hingga saat ini saya kuliah, saya selalu menjadi anggota dari tim debat. Bukan karena saya hebat, namun lebih kepada saya menggunakan tak-tik dan strategi di dalam saya berdebat untuk memenangkan pertandingan. Seperti yang saya katakan di awal blog saya, untuk DJARUM BLACK BLOG COMPETITION kali ini, saya akan mengangkat unsur-unsur komunikasi di dalamnya. Maka berikut saya akan membagikan sedikit tips dan trik untuk para debater yang saya ringkas dari pengalaman saya berdebat selama ini.

Sebelumnya, banyak orang yang salah kaprah mengenai debat. Debat bukanlah bagaimana anda dapat mematahkan statement dari lawan anda. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari debat. Debat yang sebenernya adalah bagaimana cara kita (debater) untuk membuat orang lain (juri) terpengaruh dan setuju dengan argumen apa yang kita sampaikan. Maka dari pada itu, ketika kita ingin tahu seseorang merupakan debater yang baik atau tidak, kita harus melihat bagaimana caranya dia untuk mempersuasi orang lain dan juga meyakini bahwa apa yang dikatakannya adalah benar, bukan membuktikan bahwa apa kata lawannya salah. Karena dengan meyakini orang lain bahwa argumen kita adalah benar, maka secara langsung kita telah mematahkan argumen dari lawan kita.

Berikut tips untuk debat ala Asian Parlimentery

1. Jangan terlihat gugup maupun grogi
Hal ini sangat penting, mengingat ketika anda mulai gugup maka sesungguhnya secara tidak sadar, anda telah membuat lawan anda menjadi di atas angin dan posisi anda menjadi tertekan. Hal ini berlaku sebaliknya juga, ketika anda terlihat sangat rileks, maka anda telah menaruh tekanan pada lawan anda. Hal ini berlaku untuk sebelum maupun pada saat debat berlangsung. Apalagi pada saat berdebat,  ketika dalam posisi yang terdesak sekalipun, tetap pasang tampang PD dan yakin. Sehingga walaupun argumen kita masih kurang baik dibandingkan lawan, namun kita masih dapat mempengaruhi juri untuk mempercayai argumen kita.

2. Menatap ke juri, bukan ke lawan
Hal ini sangat penting, karena kebanyakan debater selalu memandang ke lawan. Padahal lawan anda tidak dapat membuat anda menang, mereka justru akan mengalahkan anda. Pandanglah ke juri, mereka yang memberi penilaian untuk anda. Persuasikan argumen anda untuk juri dan bukan untuk lawan anda.

3. Penentuan posisi tim
Dalam asian parlimentery digunakan 3 orang pembicara (1st, 2nd, 3rd), dimana ketiganya mempunyai peran yang vital namun berbeda satu dengan yang lainnya. Saran saya berdasarkan pengalaman, orang yang paling berpengalaman (paling hebat) di dalam tim, lebih baik ditaruh di 2nd speaker. Karena dalam posisi ini, seorang debater dapat melakukan argumen baru sekaligus mematahkan argumen lawan/rebattle (hal ini khususnya untuk tim pro). Kemudian anggota yang terlemah biasanya akan ditaruh di 3rd speaker, karena 3rd speaker hanya bertugas untuk merebattle atau mematahkan statement lawan saja dan ia tidak dapat dijadikan reply speech. Untuk mengetahui siapa yang hebat atau kurang, hanya bisa diketahui ketika kita berlatih. Biasanya yang lebih agresif dapat dijadikan 1st atau 2nd speaker.

4. Pergunakan waktu sebaik mungkin
Banyak sekali saya jumpai di dalam kompetisi debat, seorang deater tidak mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin. Biasanya waktu yang diberikan untuk setiap orang adalah 3-4 menit dan biasanya pantia akan memberikan ketukan untuk tiap-tiap menitnya. Otomatis, jika kita menggunakan waktu 4 menit, kita baru akan menyimpulkan argumen kita setidaknya setelah waktu menunjukkan tinggal 1 menit lagi. Jangan sampai kita berhenti di 3 menit kurang, karena hal itu sesungguhnya menunjukkan bahwa kita tidak siap untuk berdebat. Cara mengulur-ulur waktu bisa dengan memperlambat tempo maupun mengulang argumen dari pembicara sebelumnya untuk menguatkan argumen kita.

5. Jangan emosi
Penting sekali! Debat bukanlah adu otot leher. Tidak perlu sampai berlebihan dalam memberikan statement. Justru ketika kita emosi, disitulah letak titik kelemahan kita. Kita tahu sendirikan, kalau orang emosi biasanya sudah tidak dpat dikontrol akan apa yang ingin disampaikan. Inlah terget empuk saya sebenarnya, karena pasti ketika kita menghadapi orang yang emosi, maka akan banyak keslahan yang akan dibuatnya. So stay cool.... Pernah liat Obama dan Mc Cain berdebat?? Keren banget, tanpa emosi yang berlebihan sedikitpun...

6. Berlatih, berlatih, dan berlatih
Tidak ada cara lain untuk mencapai kesuksesan kalau tidak mau berlatih, sama seperti judul blog saya ini. Karena dengan anda berlatih, maka sesungguhnya anda telah mengasah bakat anda dan anda telah melatih kekompakkan di dalam tim anda. Ini sangat penting, karena debat merupakan sebuah tim dan apabila kita  tidak mengenal karakter satu sama lain, maka sesungguhnya lawan telah siap menghancurkan anda. Jika kita sering berlatih, maka ketika kita berhadapan dengan lawan yang tidak sering berlatih, maka akan sangat terlihat jelas hal itu dan sesungguhnya kemenangan sudah ada di satu kaki anda.

7. Berdoa & rendah hati
Tak ada kuasa lain selain doa. Anda bisa sepintar apapun dan sejago apapun, tapi ketika anda lupa dengan Tuhan, maka kehebatan anda tidak akan artinya. Kalau saya boleh jujur, seringkali dulu saya sombong dan menganggap kemengan itu akan sangat mudah saya peroleh, namun yang saya dapat adalah NOL besar! Sangat menyakitkan, maka daripada itu, jangan lupa berdoa dan tetap rendah hati. Kalai kita bisa, itu semua karena Anugerah-Nya.

Demikian tips dari saya kali ini, kalau mau ditanyain, ya monggo... silahkan bertanya dengan meninggalkan komen disini. Jangan lupa juga ikuti terus DJARUM BLACK BLOG COMPETITION, dimana akan lahir jagoan-jagoan blogger baru dari kompetisi ini.

DEBAT ITU BIASA

1. Definisi Debat
Istilah debat berasal dari bahasa Inggris, yaitu debate. Istilah tersebut identik dengan istilah sawala yang ebrasal dari bahasa Kawi yang berarti berpegang teguh pada argumen tertentu dalam strategi bertengkar atau beradu pendapat untuk saling mengalahkan atau memenangkan lidah. Jadi, definisi dari debat sendiri adalah suatu cara untuk menyampaikan ide secara logika dalam bentuk argumen disertai bukti–bukti yang mendukung kasus dari masing–masing pihak yang berdebat.
Debat di Indonesia sendiri dibagi menjadi dua aliran, yang pertama adalah aliran konvensional atau aliran yang jarang dipakai, dan yang kedua adalah aliran yang mengikuti standar internasional atau aliran yang yang sekarang sedang digalakkan pemakaiannya di Indonesia. Sistim inilah yang menjadi acuan dalam makalah kami.
Secara umum debat sendiri dapat dilakukan dengan cara berkelompok, yaitu ada dua pihak yang di sini masing–masing memegang peranan sebagai pihak positif dan negatif. Selain itu, mereka mencoba mempertahankan argumen mereka dengan di dukung oleh bukti–bukti serta fakta–fakta yang mendukung kasus mereka, namun terlebih dahulu sebelum mereka melakukan hal tersebut kedua belah pihak harus memberikan suatu parameter yang jelas mengenai kasus (motion) mereka atau memberikan suatu definisi yang menjelaskan kemana arah dari kasus mereka.

2. Tujuan Debat
Tujuan dari debat sendiri adalah upaya kedua belah pihak yang mencoba membangun suatu kasus dengan didukung oleh argumen–rgumen yang mendukung kasus mereka dimana cara membuat satu argumen yang baik dan benar adalah suatu argumen selalu berdasarkan pada pertanyaan–pertanyaan dasar berupa; Apa (What),Mengapa (Why), Bagaimana (How), dan Kesimpulannya (So What is The conclusion). Di sini selain diperlukan kemampuan berbahasa yang baik dan benar juga dibutuhkan pula logika dan analogi pola pikir yang benar mengenai pengetahuan pengetahuan umum atau kasus – kasus yang sedang terjadi di dalam masyarakat. Selain hal–hal tersebut juga diperlukan kemampuan merespon suatu masalah (rebuttal) dikarenakan disini terjadi adanya suatu proses saling mempertahankan pendapat antara kedua belah pihak. Selain itu di dalam debat sendiri ada suatu pantangan atau batasan pembahasan masalah yang akan dibahas yaitu dilarang mennyangkut pautkan suku, agama, ras, dan adat, dsebabkan di dalam debat sendiri kita masih menggunakan etika sebagai seorang manusia untuk berpendapat.

3. Topik Debat
Topik debat, atau yang biasa disebut motion, adalah suatu permasalahan umum yang terjadi di dalam masyarakat dan diketahui secara global oleh setiap orang. Dalam  membuat suatu topik diperlukan adanya suatu kejelian karena pada dasarnya sebuah topik harus mengikuti analogi “Kacang di dalam kulit”, artinya suatu topik debat harus memiliki kemampuan untuk dapat dikupas atau ditelaah secara mendalam. Hal ini diperlukan karena pada saat proses berdebat mulai para pihak baik positif maupun negatif akan memberikan suatu parameter kasus disertai dengan definisi untuk memeperjelas arah debat tadi. Di dalam memberikan parameter atau definisi dari sebuah topik sendiri ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan diantaranya adalah; Kebenaran alam atau nyata yang tak terbantahkan (Truistic), Tidak memiliki hubungan logika yang jelas (Tautological), Definisi yang melenceng atau tidak masuk akal (Squirelink) dan Memberikan patokan waktu atau tempat yang menguntungkan salah satu pihak (Time and Place Setting). Hal ini tidak boleh dilakukan dikarenakan dalam berdebat kita juga menggunakan kaidah “Fair and Square” atau menang secara adil.
Berikut ini beberapa contoh dari topik yang sering digunakan adalah bahwa
1.                 pasangan homoseksual diperbolehkan memperoleh anak
2.                 debat presiden harus disiarkan di TV
3.                 anak-anak di Aceh tidak boleh diadopsi oleh orang di luar Aceh
4.                 wanita harus menyatakan cintanya terlebih dahulu
5.                 Indonesia harus menyerang Malaysia
6.                 rakyat harus mendukung kenaikan BBM
7.                 prostitusi harus dilegalkan, diberi pajak, tax, dan regulasi (aturan khusus)
8.                 sistem PILKADA langsung tidak efektif
9.                 sistem KBK tidak efektif utnuk diterapkan di Indonesia
10.             euthanasia harus dilegalkan
11.             dll

4. Langkah-langkah Debat
Di dalam melakukan debat kita juga memiliki langkah – langkah yang harus ditempuh di dalam aplikasinya, disini kami akan mengambil satu contoh dari sistim yang biasa digunakan sebagai standar nasional maupun internasional. Adapun sistim ini bernama sistim Australasian Parliamentary System, di mana disini tiap tim mempunyai tiga orang anggota dengan tugas masing – masing, adapun langkah – langkahnya adalah sebagai berikut :
  1. sebelum debat dimulai kedua team akan diberikan kesempatan untuk melakukan suatu proses penyusunan kasus selama 30 menit.
  2. pembicara pertama dari team positif maju kemudian memberikan definisi dari topik yang diberikan kemudian memberikan parameter kasus yang akan dibahas, setelah itu kemudian dia akan menjelaskan bagian – bagian yang akan dibahas oleh pembicara pertama dan kedua, baru setelah itu dia akan membahas kasusnya disertai landasan kasus selama 7 menit.
  3. pembicara pertama dari team negatif maju kedepan kemudian memberikan tanggapan dari topik positif yang diberikan kemudian memberikan parameter kasus yang akan dibahas, setelah itu kemudian dia akan menjelaskan bagian – bagian yang akan dibahas oleh pembicara pertama dan kedua, baru setelah itu dia akan membahas kasusnya disertai landasan kasus selama 7 menit.
  4. pembicara kedua dari team positif maju dan kemudian merespon kasus dari pembicara pertama negatif kemudian dia akan mencoba menghubungkan kasus yang ia bawa dengan kasus pembicara pertama, kemudian dia akan memberikan perpanjangan dari kasus teamnya disertai dengan implementasi dari teamnya selama 7 menit.
  5. pembicara kedua dari team negatif maju dan kemudian merespon kasus dari pembicara pertama dan kedua dari positif kemudian dia akan mencoba menghubungkan kasus yang ia bawa dengan kasus pembicara pertama, kemudian dia akan memberikan perpanjangan dari kasus teamnya disertai dengan implementasi dari teamnya selama 7 menit.
  6. pembicara ketiga dari positif maju dan tugasnya adalah membuat suatu respon terhadap semua kasus dari negatif dan memberikan kesimpulan dari kasus yang dibawakan oleh teamnya. disini seorang pembicara ketiga dilarang untuk membawakan kasus baru selama 7 menit.
  7. pembicara ketiga dari positif maju dan tugasnya adalah membuat suatu respon terhadap semua kasus dari negatif dan memberikan kesimpulan dari kasus yang dibawakan oleh teamnya. disini seorang pembicara ketiga dilarang untuk membawakan kasus baru selama 7 menit.
  8. setelah itu sekarang adalah waktu untuk memberikan pandangan terhadap kasus dari masing – masing  team dimulai dari negatif terlebih dahulu kemudian positif dimana disini yang melakukannya adalah pembicara pertama atau kedua dan yang harus dilakukan disini oleh tiap team selain memberikan pandangan terhadap kasus masing–masing juga memberikan suatu komparasi antara kedua team dan menjelaskan apa – apa saja yang terjadi di dalam debat tersebut serta menunjukkan poin – poin yang menguntungkan dan mendukung kasus mereka selama 5 menit.

5. Beberapa patokan dalam berdebat
Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan ketika anda berdebat atau beberapa patokan yang harus anda perhatikan ketika berdebat :
1.            buatlah suatu definisi dan parameter dari suatu topik yang adil dan dapat diperdebatkan.
2.            berikan dasaran kasus yang kuat terhadap kasus anda.
3.            susunlah selalu argumen dan respon anda menggunakan kaidah apa, mengapa, bagaimana, dan kesimpulannya.
4.            pelajarilah selalu kasus–kasus yang berkembang di masyarakat.
5.            kerjasama team dan buatlah alur penyusunan argumen yang baik secara mengalir antar para pembicara di dalam team.

cara berdebat yang tepat

Tidak ada yang salah dari sebuah perdebatan. Justru berdebat menjadikan hubungan semakin kuat. Namun, berdebat dapat menjadi pertengkaran yang hebat jika masing-masing pasangan tidak dapat mengendalikan diri.

"Konflik merupakan bagian penting dalam menciptakan hubungan yang sehat. Ketika mengekspresikan diri dan memberitahu pasangan apa yang kita butuhkan, bisa saja memicu konflik. Sengaja atau tidak sengaja, kita akan saling menyakiti. Namun semua ini dapat teratasi dari bagaimana kita menyelesaikannya," ujar psikiater, Malcolm Stern, yang juga penulis buku 'Falling In Love'.

Ada seni tersendiri untuk menghindari pertengkaran. Seperti dilansir dari Lifestyle.aol, tips berikut ini merupakan cara berargumen yang baik tanpa menyulut emosi masing-masing pihak.

Jadi pendengar yang baik
Ketika perbedaan pendapat terjadi, jangan langsung menutup telinga dan meninggalkannya. "Dengarkan pendapat pasangan dan coba rasakan ketika Anda berada di posisinya. Cobalah untuk mengertilah posisinya, sebelum Anda ingin dimengerti," ungkap Malcolm.

Cukup katakan sekali dengan penuh perasaan
Seringkali wanita mengucapkan berpuluh-puluh kali hal yang sama dengan cara yang berbeda. Cara seperti ini tidak dapat menyelesaikan masalah, malah menambah emosi kedua belah pihak. "Jika Anda merasa pesan yang disampaikan tidak jelas, sebaiknya katakan, 'aku tidak merasa kamu mendengarkan aku. Aku ingin kamu lebih mengerti keadaanku'," saran Malcolm. Dengan penyampaian yang tenang, membuat pasangan lebih mengerti apa yang Anda inginkan.

Keluar dari masalah
Setelah Anda mengungkapkan perasaan Anda, jangan mengulang kembali fakta-fakta yang sama. Fokuslah pada bagaimana Anda bisa keluar dari situasi tersebut tanpa lebih banyak menyalahkan pasangan. Bantu juga pasangan agar dapat memahami Anda lebih baik lagi.

Jangan mencarinya
Pria cenderung menarik diri ketika memiliki konflik dengan pasangannya. Hal terburuk yang dilakukan wanita adalah berusaha mencari pasangan dan terus meminta penjelasan. Yang dibutuhkan pria ketika sedang mengalami konflik adalah membiarkannya sendiri. Ketika dia sudah lebih tenang, dia akan kembali menemui Anda dan siap membicarakan masalah secara terbuka.

Mendinginkan suasana yang 'panas'
Kata-kata yang menyakitkan dapat keluar dari mulut Anda ketika situasi sedang memanas. Namun, penting bagi Anda untuk menarik lagi kata-kata Anda. Sebaiknya, tunggu beberapa jam atau hari untuk 'menetralkan' suasana.

"Ketika situasinya sudah mencair, akuilah kemarahan Anda yang lalu karena situasinya yang semakin memanas. Katakan Anda mencintai pasangan dan peduli terhadapnya," jelas Malcom.

Meminta bantuan dari orang lain
Untuk memberikan pencerahan, mintalah bantuan dari orang lain, seperti teman dan keluarga. Sudut pandang orang ketiga biasanya lebih netral, sehingga Anda dan pasangan dapat lebih mudah mencari solusi terbaik dari sebuah konflik.

Ambil pelajaran dari sebuah konflik
Banyak pasangan yang menganggap sebuah konflik merupakan masalah besar. Padahal kita hanyalah manusia biasa yang hidup dengan tingkat stres yang cukup tinggi karena pekerjaan atau masalah keluarga. Ditambah lagi situasi hubungan asmara yang sedang tidak harmonis, dapat semakin menyulutkan emosi.

Untuk itu, belajarlah dari sebuah konflik dan saling berkomitmen untuk tidak membahas permasalahan yang sama. Selain itu, saling menghargai, memaafkan dan memahami pasangan sangat penting untuk hubungan yang harmonis.

Cara berdebat yang baik

10 cara untuk memenangkan sebuah perdebatan. Apabila Anda menerapkannya, saya yakin Anda akan keluar sebagai pemenang.
1. Lembut dan solid
Dalam sebuah perdebatan Anda tidak perlu sampai meninggikan suara.  Anda harus dalam keadaan tenang terus-menerus.  Semakin nyaring suara Anda, lawan Anda akan lebih nyaring lagi – dan akhirnya hanya terjadi pertandingan berteriak.  Dan tentu saja, Anda tidak ingin terjadi kekerasan setelah itu. Anda dapat mencoba untuk berbicara lebih tenang dibanding biasanya, agar Anda bisa menggambarkan dengan lebih jelas bagaimana lawan-lawan debat Anda, dan juga akan memberikan gambaran kepada lawan bahwa Anda seorang yang bijaksana.  Sebuah debat tidak dimenangkan oleh orang bersuara paling nyaring, tetapi perdebatan dimenangkan oleh orang yang mampu memaksakan argumen-argumennya untuk diterima.
2. Tempatkan lawan di sisi kita
Ini merupakan cara yang baik untuk memposisikan lawan sebagai partner bukan musuh. Suasana permusuhan akan tercipta dengan mudah apabila lawan berada di seberang kita, sedangkan jika dia berada di samping kita secara psikologis dia akan mudah untuk memberikan persetujuan.  Ini adalah posisi yang kuat dalam perdebatan.
Anda bahkan tidak perlu menggunakan sebuah fakta untuk mendapatkan persetujuannya, sebagai contoh, Anda hanya perlu berkata “Saya yakin Anda menyetujui pendapat saya ini bahwa …".  Secepat lawanmu setuju setelah – biasanya ditandai dengan tidak bisa memberikan sanggahan yang berarti, Anda sudah memenangkan sebuah pertempuran psikologis (psy battle).  Anda bukan lagi lawan baginya, tetapi sebagai teman.  Teknik efektif ini telah digunakan oleh para salesman yang pandai.
3. Jangan menyerang
Bukan cara yang baik apabila Anda dengan ribut mengatakan kepada lawan bahwa ia salah – sebagai gantinya anda harus menunjukkan bahwa dia salah dengan menggunakan sanggahan-sanggahan yang baik.  Menyebut bahwa lawan Anda salah hanya membuat lawan tertekan sehingga semakin menolak argumen kita.  Itu merupakan sebuah komentar yang subjektif.  Sederhanalah dalam berdebat dan tunjukan keinginan baik Anda. Sikap itu tidak hanya akan membuat Anda kelihatan baik jika anda menang, tapi akan menunjukkan bahwa Anda adalah lawan yang pantas sekali pun Anda kalah.
4. Janganlah menjadi tidak fair
Jangan pernah saling mengejek – usahakan sekali pun lawan Anda melakukan terlebih dulu.  Yang harus serang adalah argumentasinya, bukan orangnya.  Semakin cepat Anda mulai mengkritik lawan Anda, hal itu akan menjadi bukti bahwa Anda sudah kehabisan jalan untuk mempertahankan pendapat Anda. Berbagai macam hinaan dan sindiran adalah jalan yang pasti menuju kekalahan dalam sebuah perdebatan.  Jika lawan Anda sudah mulai kehilangan kendali dan mulai keluar dari alur debat berarti Anda sudah dekat dengan kemenangan.
5. Tunjukkan hal-hal yang mendasar
Ketika adu argumentasi, kedua belah pihak perlu untuk bersepakat untuk memulai debat dengan membahas kebenaran-kebenaran dasar – jika tidak, debat tidak bisa berlangsung dengan baik, karena arah perdebatan menjadi tidak menentu.  Sebagai contoh adalah perdebatan bertema agama. Peserta debat harus sama-sama mengakui bahwa Tuhan itu ada, kalau tidak perdebatan tidak bisa dilanjutkan, karena akan memperbanyak poin-poin perdebatan. Semakin kecil ruang lingkup perdebatan, semakin mudah diikuti oleh audiens dan semakin singkat waktu dibutuhkan untuk mencapai kesimpulan.
6. Kembali ke Pokok Materi
Ketika lawan Anda mulai kehabisan argumen, dia akan berusaha beralih ke topik yang lain – dengan demikian dia berharap Anda terpancing untuk lari dari topik sebelumnya dan membahas hal baru yang mungkin akan mengacaukan Anda.  Ketika ini terjadi, jangan teperdaya, segera kembali ke topik yang asli dengan segera.  Jangan memberi kesempatan kepada lawan Anda untuk lari ke topik-topik yang lain (tak peduli bagaimana pun usahanya untuk mencoba) sampai Anda memenangkan topik itu.
7. Ajukan pertanyaan-pertanyaan
Ini disebut “metoda sokratik”.  Ketika lawan mengemukakan sebuah “fakta”– periksa lebih dalam fakta tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengungkapkan kekurangan-kekurangannya. Biasanya digunakan  pertanyaan-pertanyaan seperti: “Dapatkah Anda memberi saya satu contoh?”, “Cara lain untuk melihat hal itu adalah …,apakah cara ini masuk akal menurut Anda?”. Pertanyaan-pertanyaan ini akan semakin menuntun lawan Anda kepada kebenarannya – dan jika mereka jujur, mereka akan menyetujuinya.  Sayangnya dalam banyak debat yang sering terjadi adalah respon kemarahan karena lawan Anda menganggap Anda sedang “berusaha bermuslihat” kepadanya.  Tapi jangan khawatir karena hal itu pertanda kemenangan Anda sudah dekat.
8. Tenanglah
Setelah membuat sebuah argumentasi yang kuat, biarkan lawanmu berbicara banyak – terutama jika dia sudah kekurangan fakta-fakta untuk menentang Anda.  Ia akan mencerca dengan meraba-raba – memberi Anda berbagai senjata baru untuk menyerang dia.  Dia barangkali tidak rela kalah dalam waktu singkat dan ingin menggiring Anda menjauh dari tema debat – sebenarnya sebuah kemenangan mutlak untuk Anda.  Banyak sebuah debat dapat dimenangkan oleh orang yang tidak membantah sama sekali!  Dari satu sisi, ini adalah sebuah metoda yang sempurna untuk berada pada jalur Anda sendiri – ajukan permintaan Anda dan seketika itu biarkan semua menjadi senyap.  Hal ini biasanya membuat lawan menjadi sangat gelisah (karena tidak ada seorang pun menyukai keheningan) dan lawan akan dipaksa untuk keluar dari satu situasi yang menggelisahkannya itu.
9. Kenalilah fakta-fakta yang Anda ajukan
Jangan mengatakan bahwa sesuatu itu “benar” kecuali jika Anda benar-benar mengetahuinya – itu disiapkan untuk membuktikannya jika perlu.  Anda akan mudah diserang kalau argumentasi Anda mengambang.  Anda tidak usah berdebat kalau Anda tidak bisa mengajukan fakta-fakta dan menguasai keseluruhan informasinya. Apabila lawan Anda ternyata lebih mengetahui kebenarannya, Anda akan “dibantainya”.
10. Ketahuilah di saat Anda mendapatkan pukulan
Jika anda mempunyai semua fakta untuk kembali atas anda, anda harus bisa memenangkan argumentasi Anda jika lawan Anda jujur.  Tetapi ada kalanya lawan menjadi lebih baik dari Anda dan mereka berhasil menyudutkan Anda.  Apabila itu harus terjadi, jadilah seorang jentelmen dan berikan kemenangan kepadanya.  Anda harus selalu tampak lembut dalam kekalahan.  Tidak ada hal yang lebih buruk dalam perdebatan dibanding seseorang yang membantah hanya untuk mengacaukan dan tidak mau mengaku kalah. Jadilah seorang ksatria yang mau mengakui kekalahan Anda, karena di mata audiens Anda adalah pemenang sesungguhnya.
Tapi Wikimuers jangan khawatir, apabila Anda sudah melaksanakan dengan baik saran-saran nomor 1 sampai dengan 9, saya yakin kemenangan sudah berada di tangan Anda. Tetaplah memegang kendali dalam perdebatan, apabila Anda berhasil mengendalikan situasi dan kondisi dalam perdebatan, Anda bisa dengan mudah menjatuhkan lawan Anda.

Ruang lingkup, tujuan dan faedah mempelajari akhlak


A. Ruang lingkup mempelajari akhlak
       Dengan memperhatikan definisi ilmu akhlak secara seksama, maka akan tampak bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah tentang perbuatan-perbuatan manusia secara kategorisnya apakah suatu perbuatan itu tergolong baik atau buruk. Ilmu Akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk. Dengan demikian, maka obyek pembahasan ilmu akhlak itu berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Untuk menilai sesuatu baik atau buruk, maka kita menggunakan ukuran yang bersifat normatif. Untuk menilai sesuatu benar atau salah, maka kita menggunakan kalkulasi yang digunakan oleh akal fikiran.
       Karena ilmu akhlak sebagai ilmu yang berdiri maka banyak para pemikir dan cendekiawan yang membidangi serta mengkajinya antara lain : Muhammad Ghozali dalam kitabnya : ” Khuluq al-Muslim ( Akhlak orang Muslim ) ”, Ahmad Amin dalam kitabnya : ” Al-Akhlaq ( Ilmu Akhlaq ) ” . Akan tetapi sebelumnya dapat pula kita jumpai Abu Ali al-Khozin Ahmad Ibnu Muhammad bin Ya’kub atau yang lebih terkenal dengan Ibn Miskawaih dalam kitabnya : ” Tahdzib al-Akhglaq ( Pendidikan Akhlaq ) ” dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid al-Ghozali dalam kitabnya : ” Ihya’ Ulum ad-Din ( menghidupkan Ilmu-ilmu Agama ) ”. Selain itu Murtadha Muntahari dalam kitabnya : ” Falsafah Akhlaq ” serta Mustofah Zuhri dalam bukunya : ” Kunci Memahami Ilmu Tasawuf ” dan lain-lain. Dengan mengemukakan beberapa literatur tersebut diatas, telah membuktikan bahwa keberadaan ilmu akhlak sebagai disiplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, taukhid, fiqih, sejarah Islam dan sebagainya.
       Maka dari pokok masaalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah ” perbuatan manusia ”. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kreterianya apakah baik atau buruk. Dalam kaitan dengan ini Ahmad Amin mengatakan : ” Obyek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia, selalu menentukannya mana yang baik dan mana yang buruk ”[1]. Sedangkan Muhammad al-Ghozali menjelaskan bahwa kawasan pembahasan Ilmu Akhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu ( perseorangan ) maupun kelompok[2]. Jadi, ilmu akhlak tidak hanya membahas tingkah laku yang bersifat individual, melainkan juga tingkah laku yang bersifat sosial atau dengan kata lain ” ada akhlak yang bersifat perorangan dan ada pula akhlak yang bersifat kolektif ”.
       Dengan memperhatikan uraian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia dalam keadaan sadar, atas kemauannya sendiri, tidak dipaksakan, secara sungguh-sungguh dan sebenarnya, serta bukan perbuatan yang pura-pura atau bersandiwara. Untuk menilai apakah perbuatan itu baik ataukah buruk diperlukan tolak ukur, yaitu baik dan buruk menurut siapa dan apa ukurannya.
B. Tujuan mempelajari Akhlak
       Sebenarnya manusia itu mampu untuk menyelidiki gerakan jiwanya, perkataan dan perbuatannya, lalu memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Maka dengan mempelajari ilmu akhlak, manusia akan mampu mengekspresikan perbuatan, tingkah laku, perkataan yang yang baik dan bijak. Sebenarnya pelajaran akhlak merupakan penjabaran dari takwa sebagai manifestasi penerapan akidah dan praktik ibadah, sehingga dengan mempelajarinya manusia diharapkan mampu mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk menuju ridha Allah Saw. Apa yang dilakukan oleh manusia mungkin bersangkutan dengan dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat. Setelah manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, kemudian diresapkan di dalam hati sehingga perbuatannya akan timbul dari kesadaran sendiri, bukan paksaan dari luar. Lalu seseorang itu akan tersadar bahwa dirinya adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Sebagaimana Ahmad Amin mengatakan :
” Dengan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya, kita lalu dapat memilih mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat dholim termasuk perbuatan buruk, membayar hutang kepada pemiliknya termasuk baik, sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan buruk ”[3].
 Adapun tujuan mempelajari akhlak adalah untuk membersihkan kalbun dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur Cahaya Tuhan[4].
Dari paparan tersebut diatas telah menunjukkan kepada kita bahwa ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Setelah mengetahui hal-hal yang baik, maka seseorang terdorong untuk melakukannya dan mendapatkan manfaat darinya, akan tetapi sebaliknya setelah mengetahui hal-hal yang buruk, maka seseorang terdorong untuk meninggalkannya. Selain itu, ilmu akhlak juga berguna untuk membersihkan diri manusia dari perbuatan dosa dan maksiat. Manusia memiliki unsur jasmani dan rohani. Aspek jasmani kita bersihkan secara lahiriah melalui ” fiqih ”, sedangkan aspek ruhani kita bersihkan secara bathiniah melalui ” akhlak ”. Jika hal ini tercapai, maka manusia akan memiliki kebersihan batin yang bisa melahirkan perbuatan terpuji. Dari perbuatan terpuji lalu terciptalah masyarakat damai, harmonis, rukun dan sejahtera lahir dan batin, serta bahagia di dunia dan akhirat.
C. Faedah mempelajari Akhlak
       Ilmu akhlak atau akhlak yang mulia itu berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusiadi segala bidang. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan tehnologi modern dan berakhlak mulia tentu saja akan memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan hidup manusia. Sebaliknya, orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan tehnologi modern, memiliki pangkat, harta, kekuasaan dan sebagainya namun tidak diserta dengan akhlak yang mulia, maka dia akan menyalahgunakan apa yang dimilikinya dan menimbulkan bencana di muka bumi ini.
       Maka dari itu faedah akhlak bukan hanya dirasakan oleh manusia dalam kehidupan perseorangan, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat dan bernegara. Manusia tanpa akhlak akan kehilangan derajat kemanusiaannya, bahkan akanb lebih rendah derajatnya dari pada binatang.
       Apabila aktivitas akal manusia tidak dibimbing dengan akhlak yang mulia, maka kehancuran dalam masyarakat tidak dapat dibendung lagi. Akal dangan modal tanpa moral tidak akan menyejahterakan manusia, melainkan sebaliknya justru akan menghancurkan manyarakat serta menimbulkan kerusakan baik di daratan maupun di lautan, karena ulah manusia yang tidak bermoral. Dengan mempelajari, menghayati serta mengamalkan ilmu akhlak diharapkan manusia mampu untuk mengendalikan diri, memperhatikan kepentingan orang lain, penuh tenggang rasa, mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Kesemuanya ini memerlukan penanaman iman dan takwa kepada Allah Swt.
       Suatu umat atau bangsa yang tinggi ilmunya akan tetapi rendah akhlaknya, maka kehidupannya akan kacau balau dan berantakan sebagaimana hal ini dinyatakan oleh salah seorang penyair bernama Syauqi beik yang berbunyi :
اِنَّمَا الاْ ُمَمُ الاْ َخْلاَقُ مَابَقِيَتْ * فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا
Artinya : “ Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlak yang mulia; Maka apabila akhlak yang mulia itu telah hilang maka hancurlah bangsa itu “[5].
 Untuk menghindari kehancuran suatu bangsa, masyarakat ( khususnya para pemimpin yang menjadi suri tauladan ) harus berusaha mempraktekkan akhlak dan moralitas yang baik. Sebagaimana firman Allah Swt surat al-Ra’d ( 13 ) ayat 11 yang berbunyi :
اِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِاَنْفُسِهِمْ وَاِذَا اَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّلَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَّالٍ   
Artinya : ” Sesungguhnya Allah tidak akan merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia “[6].
        Dengan demikian ilmu akhlak diperlukan untuk memberantas penyakit kejahatan, kekejian, kemungkaran, kedholiman, kemaksiatan, pemerasan dan segala keburukan lainnya yang ada pada diri manusia.

Contoh Kata Pengantar


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan bagi seluruh alam yang telah memberikan rahmat, taufik, nikmat dab hidayah-Nya, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancer. Sholawat dan Salam-Nya semoga selalu tercurahlimpahkan kepada Rasul utusan Allah, Muhammad SAW, kepada keluarganya dan juga kepada para sahabatnya.
Makalah ini adalah tugas terstruktur dari Mata Kuliah Tasawuf, yang akan membahas “Akhlak islami dalam kaitannya dengan status pribadi”.
Mengingat sangat pentingnya pembelajaran akhlak dan juga pengaplikasian di kehidupan sehari-hari baik di kalangan anak-anak, remaja dan orang tua. Di dalam makalah ini kami menjelaskan secara terperinci muali dari pengertian, cirri-ciri akhlak islami samapi pengaplikasian di kehidupan sehari-hari.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu ikut serta dalam penyempurnaan makalah ini, baik secara langsung atau tidak langsung, terutama kepada dosen pendamping mata kuliah Tasawuf dengan senang hati membimbing kami untuk mempelajari keluhuran budi pekerti agama islam.
Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kelompok kami dan semua kalangan. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kami mengharapkan kritik, saran dari pembaca guna pengembangan lebih lanjut makalah ini.

AKHLAK ISLAMIYAH DALAM KAITANNYA DENGAN STATUS PRIBADI

Keberadaan akhlak mulia bagi setiap pribadi unggul, adalah buah dari keimanan yang kental. Dan ini merupakan kekayaan yang tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sejak awal, kita harus berusaha memburu keilmuan tentang itu sebagai bekal dalam membangun kehidupan. Dalam hal ini, kita telah sepakat bahwa kemuliaan akhlak bangsa ini akan tumbuh dengan baik, bila individu-individu dalam keluarga itu telah memiliki akhlak mulia. Dan Rasulullah SAW adalah contoh utama pembentuk akhlak dalam kehidupan setiap muslim. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Harapan demikian, insya Allah akan terwujud, manakala setiap diri kita meniatkan secara sungguh-sungguh lagi ikhlas mengharap ridhaNya. Sehingga dari sini, akan terbentuk sebuah tatanan yang terjalin dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Dan melalui nilai-nilai ini dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat, maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmonis, dan diselimuti ruhiah Islam. Berikut ini, ada beberapa nilai akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan, sehingga patut dikedepankan bagi setiap muslim dalam melahirkan individu/pribadi unggul. 1. Ikhlas. Ikhlas adalah inti dari setiap ibadah dan perbuatan seorang muslim.Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Anggota masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan mencapai kebaikan lahir-bathin dan dunia-akherat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, perdamaian, serta kesejahteraan. 2. Amanah. Yaitu sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Dalam suatu sumber menyebutkan, amanah adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan, dan roh kepada keadilan. Singkatnya, amanah berarti sesuatu yang dipercayakan, sehingga kita harus menjaga amanah tersebut. 3. Adil. Bersifat adil, berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Nabi SAW bersabda 4. Bersyukur. Bersyukur pada tataran menjadi pribadi unggul berlaku pada dua keadaan, yaitu: a) Sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah sama, baik sedikit atau banyak. b) Bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah, supaya kebajikan senantiasa dibalas dengan kebajikan. Allah berfirman. 5. Tekun. Ketekunan ini tidak lain adalah usaha dengan rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh. Islam sendiri, jauh-jauh hari telah menggalakan umatnya untuk tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan. Sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan berjaya. Perilaku ketekunan seseorang ini, maka akan meningkatkan produktivitasnya, melahirkan suasana kerja yang aman, dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat sekitarnya. 6. Disiplin. Yaitu ketaatan pada aturan dan tata tertib. Untuk itu, berdisiplin dalam menjalankan suatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Lebih dari itu, dengan berdisiplin diri, seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang serta prestatif (unggul). 7. Ketujuh, sabar. Yaitu sifat tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah; tidak lekas patah hati; tidak lepas putus asa; dan sebagainya). Di dalam menghadapi cobaan hidup, ternyata kesabaran ini sangat penting untuk membentuk individu/pribadi unggul. Antara cirri-ciri akhlak Islamiyyah ialah: 1. Bersifat mutlak dan menyeluruh: Akhlak Islamiyyah bersifat mutlak, dikenakan kepada seluruh individu tanpa mengira keturunan, warna kulit, pangkat, tempat, dan masa. 2. Melengkapkan dan menyempurnakan tuntutan: Ditinjau dari sudut kejadian manusia yang dibekalkan dengan pelbagai naluri, akhlak Islamiyyah adalah merangkumi semuaaspek kemanusiaan rohaniyyah, jasmaniyyah dan aqliyyah, sesuai dengan semua tuntutan naluri dalam usaha mengawal sifat-sifat yang tercela (sifat-sifat mazmumah) untuk kesempurnaan insan, bukan untuk mengawal kebebasan peribadi seseorang. 3. Bersifat sederhana dan seimbang: tuntutan akhlak dalam Islam adalah sederhana, tidak membebankan sehingga menjadi pasif dan tidak pula membiarkan sehingga menimbulkan bahaya dan kerosakan. 4. Mencakupi suruhan dan larangan: Bagi kebaikan manusia, perlaksanakan akhlak Islamiyyah meliputi suruhan dan larangan dengan tidak boleh mengutamakan atau mengabaikan mana-mana aspek tersebut. 5. Bersih dalam perlaksanaan: Untuk mencapai kebaikan, akhlak Islmaiyyah memerintah supaya cara dan metode perlaksanaan sesuatu perbuatan dan tindakan itu hendaklah dengan cara yang baik dan saluran yang benar yang telah ditetapkan oleh akhlak Islamiyyah. Artinya untuk mencapai suatu matlamat, cara perlaksanaannya mestilah bersih menurut tata cara Islam. Islam tidak menerima falsafah: Matlamat tidak menghalalkan cara. 6. Keseimbangan: Akhlak dalam Islam membawa kesinambungan bagi tuntutan realiti hidup antara rohaniyyah dan jasmaniyyah serta aqliyyah, dan antara kehidupan dunia dan akhirat sesuai dengan manusia itu sendiri. 7. Akhlak rabbani; adalah akhlak yang bersumber kepada wahyu Ilahi yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw. Akhlak rabbani menekankan pada tujuan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sumber akhlak rabbani adalah bukan etika dan moral (seperti penjelasan di atas). Kebenaran nilai dalam akhlak ini bersifat mutlak dan terhindar dari nilai moral yang kacau. Ayat yang berhubungan dengan akhlak sekitar 1500 ayat dan banyak hadits Nabi .Seperti isyarat dalam QS al-Baqarah [2]: 153 Inilah jalan-Ku yang lurus, hendaklah kamu mengikutinya jangan kamu ikuti jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai-berai dari jalan-Nya. 8. Akhlak manusiawi; adalah ajaran akhlak untuk manusia yang membutuhkan kebahagiaan yang hakiki. Ajaran ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan fitrahnya, karena untuk memelihara eksistensi manusia sebagai mahluk terhormat. 9. Akhlak universal; adalah ajaran akhlak yang mencakup semua aspek kehidupan manusia baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Seperti kandungan QS al-An’am [6] : 151, bahwa manusia wajib menghindari sepuluh keburukan, yaitu:1) syirik, 2) ’aq lil walidain, 3) qatlul walad lil imlaq, 4) perbuatan keji terbuka atau tertutup, 5) qatlu nafs illa bil haq, 6) aklu malil yatim, 7) tathfif fil kail wal wazn, 8) membebani orang lain lampaui batas, 9) persaksian tidak adil dan 10) khianat. 10. Ahlak keseimbangan; manuisia mempunyai akhlak yang bersumber pada hati nurani, akal dan kekuatan buruk yang didorong hawa nafsu. Setiap orang mempunyai naluriah hewani dan naluriah malaikat. Juga mempunyai unsur ruhani dan jasmani. Masing-masing membutuhkan pelayanan yang seimbang. Kerena manusia menghendaki dua kebahagiaan yang seimban, yaitu dunia-akhirat, maka pemenuhan kebutuhan tersebut juga dilakukan secara seimbang. 11. Akhlak realistik; manusia mempunyai kelemahan di sisi kelebihan yang dimilikinya. Manusia biasa melakukan kesalahan-kesalahan atau pelanggaran. Ajaran ini memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dengan bertaubat.

Siapakah Wanita itu

Keberadaan akhlak mulia bagi setiap pribadi unggul, adalah buah dari keimanan yang kental. Dan ini merupakan kekayaan yang tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sejak awal, kita harus berusaha memburu keilmuan tentang itu sebagai bekal dalam membangun kehidupan. Dalam hal ini, kita telah sepakat bahwa kemuliaan akhlak bangsa ini akan tumbuh dengan baik, bila individu-individu dalam keluarga itu telah memiliki akhlak mulia. Dan Rasulullah SAW adalah contoh utama pembentuk akhlak dalam kehidupan setiap muslim. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Harapan demikian, insya Allah akan terwujud, manakala setiap diri kita meniatkan secara sungguh-sungguh lagi ikhlas mengharap ridhaNya. Sehingga dari sini, akan terbentuk sebuah tatanan yang terjalin dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Dan melalui nilai-nilai ini dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat, maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmonis, dan diselimuti ruhiah Islam. Berikut ini, ada beberapa nilai akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan, sehingga patut dikedepankan bagi setiap muslim dalam melahirkan individu/pribadi unggul. 1. Ikhlas. Ikhlas adalah inti dari setiap ibadah dan perbuatan seorang muslim.Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Anggota masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan mencapai kebaikan lahir-bathin dan dunia-akherat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, perdamaian, serta kesejahteraan.
2. Amanah. Yaitu sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Dalam suatu sumber menyebutkan, amanah adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan, dan roh kepada keadilan. Singkatnya, amanah berarti sesuatu yang dipercayakan, sehingga kita harus menjaga amanah tersebut. 3. Adil. Bersifat adil, berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Nabi SAW bersabda 4. Bersyukur. Bersyukur pada tataran menjadi pribadi unggul berlaku pada dua keadaan, yaitu: a) Sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah sama, baik sedikit atau banyak. b) Bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah, supaya kebajikan senantiasa dibalas dengan kebajikan. Allah berfirman. 5. Tekun. Ketekunan ini tidak lain adalah usaha dengan rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh. Islam sendiri, jauh-jauh hari telah menggalakan umatnya untuk tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan. Sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan berjaya. Perilaku ketekunan seseorang ini, maka akan meningkatkan produktivitasnya, melahirkan suasana kerja yang aman, dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat sekitarnya. 6. Disiplin. Yaitu ketaatan pada aturan dan tata tertib. Untuk itu, berdisiplin dalam menjalankan suatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Lebih dari itu, dengan berdisiplin diri, seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang serta prestatif (unggul). 7. Ketujuh, sabar. Yaitu sifat tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah; tidak lekas patah hati; tidak lepas putus asa; dan sebagainya). Di dalam menghadapi cobaan hidup, ternyata kesabaran ini sangat penting untuk membentuk individu/pribadi unggul. Antara cirri-ciri akhlak Islamiyyah ialah: 1. Bersifat mutlak dan menyeluruh: Akhlak Islamiyyah bersifat mutlak, dikenakan kepada seluruh individu tanpa mengira keturunan, warna kulit, pangkat, tempat, dan masa.
2. Melengkapkan dan menyempurnakan tuntutan: Ditinjau dari sudut kejadian manusia yang dibekalkan dengan pelbagai naluri, akhlak Islamiyyah adalah merangkumi semuaaspek kemanusiaan rohaniyyah, jasmaniyyah dan aqliyyah, sesuai dengan semua tuntutan naluri dalam usaha mengawal sifat-sifat yang tercela (sifat-sifat mazmumah) untuk kesempurnaan insan, bukan untuk mengawal kebebasan peribadi seseorang
. 3. Bersifat sederhana dan seimbang: tuntutan akhlak dalam Islam adalah sederhana, tidak membebankan sehingga menjadi pasif dan tidak pula membiarkan sehingga menimbulkan bahaya dan kerosakan.
 4. Mencakupi suruhan dan larangan: Bagi kebaikan manusia, perlaksanakan akhlak Islamiyyah meliputi suruhan dan larangan dengan tidak boleh mengutamakan atau mengabaikan mana-mana aspek tersebut. 5. Bersih dalam perlaksanaan: Untuk mencapai kebaikan, akhlak Islmaiyyah memerintah supaya cara dan metode perlaksanaan sesuatu perbuatan dan tindakan itu hendaklah dengan cara yang baik dan saluran yang benar yang telah ditetapkan oleh akhlak Islamiyyah. Artinya untuk mencapai suatu matlamat, cara perlaksanaannya mestilah bersih menurut tata cara Islam. Islam tidak menerima falsafah: Matlamat tidak menghalalkan cara. 6. Keseimbangan: Akhlak dalam Islam membawa kesinambungan bagi tuntutan realiti hidup antara rohaniyyah dan jasmaniyyah serta aqliyyah, dan antara kehidupan dunia dan akhirat sesuai dengan manusia itu sendiri. 7. Akhlak rabbani; adalah akhlak yang bersumber kepada wahyu Ilahi yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw. Akhlak rabbani menekankan pada tujuan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sumber akhlak rabbani adalah bukan etika dan moral (seperti penjelasan di atas). Kebenaran nilai dalam akhlak ini bersifat mutlak dan terhindar dari nilai moral yang kacau. Ayat yang berhubungan dengan akhlak sekitar 1500 ayat dan banyak hadits Nabi .Seperti isyarat dalam QS al-Baqarah [2]: 153 Inilah jalan-Ku yang lurus, hendaklah kamu mengikutinya jangan kamu ikuti jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai-berai dari jalan-Nya. 8. Akhlak manusiawi; adalah ajaran akhlak untuk manusia yang membutuhkan kebahagiaan yang hakiki. Ajaran ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan fitrahnya, karena untuk memelihara eksistensi manusia sebagai mahluk terhormat. 9. Akhlak universal; adalah ajaran akhlak yang mencakup semua aspek kehidupan manusia baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Seperti kandungan QS al-An’am [6] : 151, bahwa manusia wajib menghindari sepuluh keburukan, yaitu:1) syirik, 2) ’aq lil walidain, 3) qatlul walad lil imlaq, 4) perbuatan keji terbuka atau tertutup, 5) qatlu nafs illa bil haq, 6) aklu malil yatim, 7) tathfif fil kail wal wazn, 8) membebani orang lain lampaui batas, 9) persaksian tidak adil dan 10) khianat. 10. Ahlak keseimbangan; manuisia mempunyai akhlak yang bersumber pada hati nurani, akal dan kekuatan buruk yang didorong hawa nafsu. Setiap orang mempunyai naluriah hewani dan naluriah malaikat. Juga mempunyai unsur ruhani dan jasmani. Masing-masing membutuhkan pelayanan yang seimbang. Kerena manusia menghendaki dua kebahagiaan yang seimban, yaitu dunia-akhirat, maka pemenuhan kebutuhan tersebut juga dilakukan secara seimbang. 11. Akhlak realistik; manusia mempunyai kelemahan di sisi kelebihan yang dimilikinya. Manusia biasa melakukan kesalahan-kesalahan atau pelanggaran. Ajaran ini memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dengan bertaubat.

Tujuan mempelajari akhlak

BAB I
PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang
Untuk memahami pengertian akhlak terdapat beberapa sumber yang dijadikan referensi untuk mengetahu maknanya. Dari sudut bahasa, akhlak berasal dari kata اخلق – يخلق yang berarti berbudi pekerti atau berakhlak. Ilmu akhlak ialah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut baik atau buruk. Dengan demikian objek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih rinci tentang ilmu akhlak, ruang lingkup, dan manfaat mempelajari ilmu akhlak.
  1. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian ilmu akhlak?
  2. Apa saja ruang lingkup ilmu akhlak?
  3. Apa manfaat yang diperoleh dari mempelajari ilmu akhlak?
  1. Tujuan Pembahasan
  1. Untuk mengetahui pengertian ilmu akhlak.
  2. Untuk mengetahui ruang lingkup ilmu akhlak.
  3. Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh dari mempelajari ilmu akhlak.


BAB II
PEMBAHASAN


  1. Pengertian Ilmu Akhlak
Kata “Akhlak” berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun (خُلُقٌ) yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun (جَلْقٌ) yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq (جَالِقٌ) yang berarti sang pencipta, demikian pula dengan mkhluqun (مَجْلُوْقٌ) yng berarti yang diciptakan.
Kata akhlak adalah jamak dari kata khalqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlak sebagaimana telah disebutkan di atas. Baik kata akhlak atau pun khuluk kedua-duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam Al Qur’an maupun Al Hadits, sebagai berikut:
وَ اِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( القلم : 4 )
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam: 4)
اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا وَ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمذى)
Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya. (HR. Tirmidzi)
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk. Dalam pengertian yang hampir sama dengan kesimpulan di atas, Dr. M Abdullah Dirroz, mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:
“Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat).”
Selanjutnya menurut Abdullah Dirroz, perbuatan-perbuatan manusia dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya, apabila dipenuhi dua syarat, yaitu:
  1. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga menjadi kebiasaan.
  2. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi-emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang datang dari luar seperti paksaan dari orang lain sehingga menimbulkan ketakutan, atau bujukan dengan harapan-harapan yang indah-indah dan lain sebagainya.
Keseluruhan definisi akhlak tersebut di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki satu kemiripan antara satu dengan lainnya. Definisi-definisi akhlak tersebut secara substansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu:
  1. Pebuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
  2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.
  3. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.1
  4. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara.
  5. Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.
Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, yaitu ilmu yang memiliki ruang lingkup pokok bahasan, tujuan, rujukan , aliran dan para tokoh yang mengembangkannya. Kesemua aspek yang terkandung dalam akhlak ini kemudian membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.
Ma’arif ilmu akhlak adalah:
اْلعِلْمُ بِالْفَضَائِلِ وَ كَيْفِيَةِ اِقْتِنَائِهَا لِتَتَعَلَّى اْلنَفْسُ بِهَا وَ بِالرَّذَائِلِ وَكَيْفِيَةِ تَوْقِيْهَا لِتَتَغَلَّى
Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong dari padanya.2
Di dalam Mu’jam al-Wasith disebutkan bahwa ilmu akhlak adalah:
اْلعِلْمُ مَوْضُوْعُهُ اَحْكَامٌ تَتَعَلَّقُ بِهِ اْلأَعْمَالُ الَّتِى تُوْصَفُ بِاْلحَسَنِ وَ اْلقُبْحِ
Ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik atau buruk.3
Selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu tentang tata krama.4
  1. Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk.
Dengan demikian objek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk. Dalam hubungan ini Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut:
Bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut ditentukan baik atau buruk.5
Dengan demikian terdapat akhlak yang bersifat perorangan dan akhlak yang bersifat kolektif.
Jadi yang dijadikan objek kajian Ilmu Akhlak di sini adalah perbuatan yang memiliki ciri-ciri sebagaimana disebutkan di atas, yaitu perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan kemauan. Sebenarnya, mendarah daging dan telah dilakukan secara terus-menerus sehingga mentradisi dalam kehidupannya. Perbuatan atau tingkah laku yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut tidak dapat disebut sebagai perbuatan yang dijadikan garapan Ilmu Akhlak, dan tidak pula termasuk ke dalam perbuatan akhlaki.
Dengan demikian perbuatan yang bersifat alami, dan perbuatan yang dilakukan dengan tidak senganja, atau khilaf tidak termasuk perbuatan akhlaki, karena dilakukan tidak atas dasar pilihan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
اِنَّ اللهَ تَعَالَى تَخَاوَرَّ لِى وَ عَنْ أُمَّتِى اْلخَطَأَ وَ النِّسْيَانَ وَ مَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ ( رواه ابن المخة عن ابى الزار )
Bahwasanya Allah memaafkanku dan ummatku yang berbuat salah, lupa dan dipaksa. ( HR. Ibnu Majah dari Abi Zar )
Dengan memperhatikan keterangan tersebut di atas kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan Ilmu Akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh-sungguh, bukan perbuatan yang pura-pura. Perbuatan-perbuatan yang demikian selanjutnya diberi nilai baik atau buruk. Untuk menilai apakah perbuatan itu baik atau buruk diperlukan pula tolak ukur, yang baik atau buruk menurut siapa, dan apa ukurannya.
Imam Al-Ghazali membagi tingkatan keburukan akhlak menjadi empat macam, yaitu:
  1. Keburukan akhlak yang timbul karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan nafsunya, sehingga pelakunya disebut al-jahil ( الخاهل ).
  2. Perbuatan yang diketahui keburukannya, tetapi ia tidak bisa meninggalkannya karena nafsunya sudah menguasai dirinya, sehingga pelakunya disebut al-jahil al-dhollu ( الجاهل الضّالّ ).
  3. Keburukan akhlak yang dilakukan oleh seseorang, karena pengertian baik baginya sudah kabur, sehingga perbuatan buruklah yang dianggapnya baik. Maka pelakunya disebut al-jahil al-dhollu al-fasiq ( الجاهل الضّالّ الفاسق ).
  4. Perbuatan buruk yang sangat berbahaya terhadap masyarakat pada umumnya, sedangkan tidak terdapat tanda-tanda kesadaran bagi pelakunya, kecuali hanya kekhawatiran akan menimbulkan pengorbanan yang lebih hebat lagi. Orang yang melakukannya disebut al-jahil al-dhollu al-fasiq al-syarir ( الجاهل الضّالّ الفاسق الشّرير ).
Menurut Imam Al-Ghazali, tingkatan keburukan akhlak yang pertama, kedua dan ketiga masih bisa dididik dengan baik, sedangkan tingkatan keempat sama sekali tidak bisa dipulihkan kembali. Karena itu, agama Islam membolehkannya untuk memberikan hukuman mati bagi pelakunya, agar tidak meresahkan masyarakat umum. Sebab kalu dibiarkan hidup, besar kemungkinannya akan melakukan lagi hal-hal yang mengorbankan orang banyak.6
Banyak sekali petunjuk dalam agama yang dapat dijadikan sarana untuk memperbaiki akhlak manusia, antara lain anjuran untuk selalu bertobat, bersabar, bersyukur, bertawakal, mencintai orang lain, mengasihani serta menolongnya. Anjuran-anjuran itu sering didapatkan dalam ayat-ayat akhlak, sebagai nasihat bagi orang-orang yang sering melakukan perbuatan buruk.
  1. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak
Berkenaan dengan manfaat mempelajari Ilmu Akhlak ini, Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut:
Tujuan mempelajari Ilmu Akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk. Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk perbuatan buruk, membayar hutang kepada pemiliknya termasuk perbuatan baik, sedangkan mengingkari hutang termasuk perbuatan buruk.7
Selanjutnya Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersihkan kalbu dari kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi bersih.
BAB III
PENUTUP


  1. Kesimpulan
Akhlak adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, baik itu pebuatan baik ataupun perbuatan buruk. Sedangkan Ilmu Akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan, kemudian menetapkan apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan baik atau perbuatan buruk.
Ruang lingkup atau objek ilmu akhlak mencakup seluruh perbuatan manusia yang sadar dan tanpa paksaan, yang kemudian dari perbuatan manusia tersebut disimpulkan ke dalam kriteria baik dan buruk. Segala aspek seperti sifat dan kebiasaan sehari-hari manusia juga berpengaruh dalam menilai criteria akhlak seseorang.
Manfaat dari mempelajari Ilmu Akhlak adalah agar kita dapat mengerti dan memahami criteria perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk, sehingga kita dapat membedakan mana yang merupakan perbuatan baik dan mana yang merupakan perbuatan buruk. Dan sangat diharapkan setelah kita mengerti tentang ilmu akhlak, kita dapat mengerjakan perbuatan-perbuatan manusia yang baik dan meninggalkan perbuatan yang jelek.
  1. Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik yang kami sengaja maupun yang tidak kami sengaja. Maka dari itu sangat kami harapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga dengan berbagai kekurangan yang ada ini tidak mengurangi nilai-nilai dan manfaat dari mempelajari Ilmu Akhlak Tasawuf.


DAFTAR PUSTAKA


MUSTOFA, Drs. H. A. 1999. Akhlak-Tasawuf. Bandung: CV. Pustaka Setia.
NATA, Prof. Dr. H. ABUDDIN, M.A. 2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Taja Grafindo Persada.
AMIN, AHMAD. __________.Kitab al-Akhlaq. __________: Mesir-Daral-Kutubal-Mishriyah, cet. III.
AL-HABSYI, HUSIN. ___________. Kamusal-Kautsar. Surabaya: Assegaf.
MAHJUDIN, Drs. 1991. Kuliah Akhlak-Tasawuf. Jakarta: Kalam Mulia.