PEMENANG TIDAK BERHENTI MELAWAN TAKDIR DAN ORANG YANG BERHENTI MELAWAN TAKDIR TIDAK PERNAH MENJADI PEMENANG
Sabtu, 04 Agustus 2012
Motivasi SUKSES.mpg.AVI
jilbab
Si cantik berpenampilan seksi disukai pria karena nafsu…
Si cantik berpenampilan sopan disukai pria karena cinta dan agama…
Maka jadilah hijab sebagai sarana cinta & agama, atau lebih tepatnya sarana agama & cinta
Buat sahabat wanita saya, saya hanya berpesan, Jangan pernah ragu untuk berhijrah kepada kebenaran dengan memakai hijab penutup aurat yang bernama JILBAB, Niatkanlah karena Allah semata. Tepis pandangan remeh orang2 sekitar anda yang anti jilbab.
Berbuat baik dan berprilaku sopanlah pada sesama, tunjukan pada mereka bahwa dengan memakai jilbab, segalanya menjadi nyaman, jauh dari godaan lelaki iseng, jauh dari pandangan negatif dan senantiasa bertawadhu dan beristiqomah untuk selalu melaksanakan semua perintah Allah dan segeralah menjauhi semua perbuatan yang dimurkai oleeh Allah SWT
Perbanyaklah dzikir dan selalu meengingat Allah dimanapun anda berada, agar senantiasa segala masalah dan beban hdup yang anda alami akan ada jalan keluarnya dan selalu diudahkan olehNya, karena Allah akan selalu sayang pada hamba-hambaNya yang mengedepankan kecintaan dan kepatuhannya.
Jadikanlah Siti Khodijah sebagai teladan dan panutanmu dalam hal pengorbanan jiwa dan harta, serta jadikanlah Siti A’isyah sebagai teladan dan panutanmu dalam hal pemahaman terhadap agama, serta contohilah keluarga Yasir dalam hal kesabaran berpegang teguh pada agama Allah.
AIR MATA RASULULLAH SAW
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maaf, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahu ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" ("Umatku, umatku, umatku")
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Minggu, 29 Juli 2012
Menuju Surga
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa ketika meletus Perang Badar, Rasulullah saw. berada dalam kubahnya dan berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya saya mengingatkan janji-Mu, ya Allah jika Engkau menghendaki (kekalahan dalam Perang Badar) niscaya Engkau tidak akan disembah setelah hari ini selama-lamanya."
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa ketika meletus Perang Badar, Rasulullah saw. berada dalam kubahnya dan berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya saya mengingatkan janji-Mu, ya Allah jika Engkau menghendaki (kekalahan dalam Perang Badar) niscaya Engkau tidak akan disembah setelah hari ini selama-lamanya."
Abu Bakar kemudian memegang tangan Rasulullah saw. dan berkata,
"Cukup Engkau ya Rasulullah, Engkau telah mendesak Allah, Engkau telah mendesak
Rab, saat itu Rasulullah saw. menggunakan baju besi. Kemudian, beliau keluar dan
membacakan ayat yang artinya, 'Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka
akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan
kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit'." (Al-Qamar:
45--46).
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Ingatlah, sesungguhnya kekalahan itu tidak akan turun kepada orang-orang mukmin yang benar, tetapi ia akan turun kepada orang yang menentang Allah dan sombong kepada-Nya. Kekalahan itu akan turun kepada orang-orang munafik yang memerangi Allah Tabaraka wa Taala.
Ingatlah, sesungguhnya kekalahan itu tidak akan turun kepada orang-orang mukmin yang benar, tetapi ia akan turun kepada orang yang menentang Allah dan sombong kepada-Nya. Kekalahan itu akan turun kepada orang-orang munafik yang memerangi Allah Tabaraka wa Taala.
Ingatlah, bahwa umat Islam tidak akan tinggi, kecuali satu
bendera yang ditulis kalimat Laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah.
Meskipun peristiwa sebelum ataupun sesudah perang telah berubah, ia tetap
berpegang teguh kepada prinsip meskipun peristiwa telah berubah.
Ingatlah, bahwa kondisi kita pada hari ini tidak diridai Allah
dan Rasul-Nya, kita hampir tidak mempercayai bahwa kalau umat ini adalah umat
Muhamad. Apakah ini umat yang bertauhid? Apakah ini umat Islam?
Bila engkau berkunjung ke makam Muhammad saw. dan engkau
melihat tempat tinggal yang besar, air matamu mengalir karena kewibawaan
Rasululullah di antara dinding dan kamar-kamar.
Maka, katakanlah kepada Rasulullah, "Wahai sebaik-baik utusan,
aku memberi tahu kepadamu akan kerugian yang tengah terjadi. Rakyatmu di timur
dan barat bagaikan ashabul kahfi. Mereka memiliki keimanan serta dua
cahaya Quran dan sunah, maka bagaimanakah keadaaan mereka bila tidak ada
cahaya?"
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Seorang sahabat besar Anas bin Nadhr r.a. tengah bersiap-siap pergi menuju Perang Uhud. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan sahabat besar lainnya, Sa'ad bin Mu'adz yang bertanya kepadanya, "Hendak ke manakah engkau Anas? Ia berkata, "Saya hendak ke Uhud, sesungguhnya saya mencium bau surga ada di Uhud."
Seorang sahabat besar Anas bin Nadhr r.a. tengah bersiap-siap pergi menuju Perang Uhud. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan sahabat besar lainnya, Sa'ad bin Mu'adz yang bertanya kepadanya, "Hendak ke manakah engkau Anas? Ia berkata, "Saya hendak ke Uhud, sesungguhnya saya mencium bau surga ada di Uhud."
"Hendak ke Uhud, sesungguhnya di sana saya mencium bau surga."
Sebuah pernyataan yang keluar dari hati yang dipenuhi dengan rasa cinta kepada
Allah SWT. Dari hati yang mengenal Allah.
"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Maidah: 54).
Hendak kemanakah engkau wahai Anas? Hendak ke Uhud,
sesungguhnya di sana saya mencium bau surga. Sebuah jiwa yang penuh dengan
ketenangan dan kebenaran. Sesungguhnya Allah telah mengajari mereka untuk
menjadi yang terbesar dari peristiwa yang tengah terjadi, meskipun kayu bakar
terasa amat panas, musibah dan kesulitan terasa begitu berat.
"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka
sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa.
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar
mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman
(dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur
sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar
Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan
orang-orang yang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabar." (Ali Imron: 140--142).
Allah telah mengajari mereka agar menjadi yang terbesar dari
hari-hari yang sulit.
Sesungguhnya risalah Islam bukanlah sekadar kata-kata. Risalah
Islam adalah pendidikan, pemusatan, dan pengarahan. Bagaimana kita mendidik kaum
lelaki bila kita lalai mendidik hati dan membangun jiwa? Untuk memasuki
peperangan, kita harus membangun hati kita. Dengarkanlah apa yang dikatakan Anas
bin Nadhir r.a. Anas yang telah menorehkan sejarah dengan kedua lututnya dan
meletakkan dunia di bawah kedua telapak kakinya. "Sesungguhnya saya mendapatkan
bau surga di Uhud." Ia telah terjun ke medan perang sebagai dan meninggal dalam
keadaan syahid. Orang-orang kemudian datang untuk mengenali jasadnya, tetapi
mereka kesulitan untuk mengenalinya, lantaran banyaknya luka dalam tubuhnya.
Lebih dari 80 luka antara sabetan pedang, tusukan anak panah, dan lemparan
tombak berkumpul dalam tubuhnya. Tanda-tanda untuk mengenali jasadnya telah
berubah, karena dahsyatnya luka yang menimpa dirinya. Tatkala ia terkena
lemparan tombak ia berkata, "Laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah."
Sesungguhnya luka itu meskipun banyak dan dahsyat, namun ia
tidak merasakan rasa sakit, ia tengah berada dalam rasa dingin dan damai.
Kemudian, datanglah saudara perempuan Anas untuk mengenal
jasadnya, ia kemudian mengamati jasad yang mulia itu, tetapi ia tidak dapat
mengenalinya, kecuali dengan jari-jari tangannya.
Ia berkata, "Sesungguhnya dia adalah saudaraku, namun siapakah
yang telah mengirimkan jasad sang syahid? Sesungguhnya yang telah mengirimkan
jasadnya adalah para malaikat. Allah Azza wa Jalla berduka cita terhadap kaum
mukminin, dan Jibril membawa duka cita kepada mereka dan Nabi kita yang mulia
mengumumkannya. Allah SWT berfirman, "Di antara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di
antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)."
(Al-Ahzab: 23).
Sesungguhnya kita membutuhkan kaum lelaki yang mengenal Allah.
Manakala Shalahuddin al-Ayyubi terjun ke medan perang melawan tentara Eropa, ia
senantiasa mengerjakan salat sebelum subuh dan berdoa memohon kemenangan atas
kaum mukminin. Ia berkata, "Mintalah doa pada waktu sahur untuk mengalahkan
musuh-musuh Allah."
Suatu saat Shalahuddin duduk di antara para sahabatnya, saat
itu masjid Al-Aqsa masih dalam genggaman kaum salib. Ia duduk terdiam. Para
sahabatnya lalu berkata kepadanya, "Mengapa Anda tidak tersenyum, wahai
Shalahuddin? Ia berkata, "Saya takut Allah melihat saya tersenyum, sementara
Masjidil Aqsa masih di tangan kaum salib."
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Sesungguhnya musuh-musuh Islam datang untuk menghancurkan dan merusak. Sementara, Islam datang untuk membangun dan mengadakan kemakmuran. Para sahabat Rasulullah saw. tidak pernah berjalan dengan meraba-raba dalam kegelapan, namun ia berjalan dalam garis yang jelas dan benar.
Sesungguhnya musuh-musuh Islam datang untuk menghancurkan dan merusak. Sementara, Islam datang untuk membangun dan mengadakan kemakmuran. Para sahabat Rasulullah saw. tidak pernah berjalan dengan meraba-raba dalam kegelapan, namun ia berjalan dalam garis yang jelas dan benar.
Engkau, wahai kaum muslimin, janganlah putus asa dari rahmat
Allah, janganlah putus asa dari rahmat Allah, karana kemenangan itu pasti akan
datang. Allah SWT telah berfirman, "Dan Kami selalu berkewajiban menolong
orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 45).
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong
(agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
(Al-Hajj: 40).
Sesungguhnya telah datAng waktu untuk kembali kepada Allah Azza
wa Jalla. Karena banyaknya dosa akan menyempitkan rezeki, merusak akhlak,
menghilangkan perilaku, dan mencabut rahmat dari dada para hamba.
Hamba Allah, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, dan
tolonglah (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian. Ingatlah Allah,
niscaya Allah akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada Allah, niscaya ia
akan menambah kalian. Allah Akbar, Allah akan memberikan pertolongan. Allah akan
memberikan kemenangan. Allah akan menghinakan orang yang kafir dan memuliakan
orang yang menolong kaum mukmin. Wallahu a'lam.
Waktu adalah Kehidupan
"Dan Allah telah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah
mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu
itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah
(bagimu) dari Alquran." (Al-Muzzammil: 20).
Waktu adalah emas! Pernyataan ini benar bila diukur dengan
nilai-nilai materialisme dan benar pula menurut orang-orang yang mengukur segala
sesuatu dengan kenikmatan dunia. Akan tetapi, orang-orang yang memandang jauh ke
depan akan mengatakan, "Waktu adalah kehidupan."
Kaum muslimin yang mulia bukankah hidup kita di dunia ini
merupakan waktu yang terbentang antara kelahiran sampai kematian? Terkadang emas
hilang dan habis, namun kita dapat mendapatkannya lagi, bahkan mampu mendapatkan
berlipat ganda dari yang telah hilang. Akan tetapi, waktu yang telah hilang dan
masa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan lagi. Dengan demikian,
waktu lebih berharga daripada emas, bahkan lebih berharga dari permata apa pun
dan kekayaan berapa pun, sebab waktu adalah kehidupan itu sendiri.
Keberhasilan seseorang tidak hanya bertumpu pada rencana yang
matang dan prasarana yang mendukung, namun juga sangat tergantung pada
kesempatan dan peluang yang ada. Manusia selalu takut dengan masa depan dan
sedih dengan masa yang sudah berlalu, padahal yang mendapat taufik adalah
orang-orang yang melakukan amal tepat pada waktunya.
"Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang."
(Al-Muzzammil: 20).
Oleh karenanya, manusia yang paling rugi dan yang terancam
mendapatkan kegagalan adalah orang-orang yang lalai dan terlena.
"Dan sesungguhnya kami jadikan (untuk isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A?raf: 179).
"Dan sesungguhnya kami jadikan (untuk isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A?raf: 179).
Di antara doa yang sering diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq
ra Adalah, "Ya Allah, jangan biarkan kami dalam kesengsaraan, jangan siksa kami
secara tiba-tiba, dan jangan jadikan kami temasuk orang-orang yang lupa."
Umar bin Khathab ra selalu berdoa kepada Allah agar diberi
barokah dalam waktu-waktu yang dilalui dan diberi kebaikan dalam saat-saat yang
dilewati. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti kaki
hamba tidak akan bergeser dari tempatnya sebelum ditanya oleh Allah tentang
umurnya: dalam hal apa ia habiskan; tentang hartanya: darimana ia peroleh dan
dalam hal apa ia belanjakan.
Di antara gambaran mengagumkan tentang nilai waktu yang
dilukiskan oleh Rasulullah saw adalah sabdanya, "Tiada suatu hari pun yang
fajar terbit padanya, kecuali berseru, 'Wahai manusia, saya adalah makhluk baru
yang menjadi saksi atas amalmu. Karena itu berbekallah dariku, sebab aku tidak
akan kembali lagi padamu sampai hari kiamat'."
Dengan demikian, tiada sesuatu di dunia ini yang lebih berharga
dari waktu. Setiap waktu mempunyai barokah dan manfaat berbeda-beda: ada satu
waktu yang lebih bernilai di sisi Allah daripada hari-hari lainnya, dan satu
bulan yang lebih mulia di sisi Allah dibanding dengan bulan-bulan lainnya.
Kesungguhanlah yang membedakan mata satu dengan yang lainnya dan menjadikan
suatu hari lebih berarti dari lainnya.
Waktu utama itu diberikan oleh Allah kepada kita kaum mukmin
agar dapat kita gunakan untuk mengusir kabut kelalaian, kembali pada ingatan dan
kesadaran, serta meraup keutamaan saat angin keredhaan Allah bertiup. Sebab,
terkadang satu kebaikan dilipatgandakan bila dilakukan pada saat-saat yang
diberkahi, sehingga Allah mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang saleh,
sebagaimana Ia juga membuka pintu taubat seluas-luasnya agar orang-orang yang
dikehendaki.
Ayat-ayat Alquran banyak memberikan isyarat pada hari, pekan,
serta bulan yang berbarokah tersebut. Sunnah Nabi pun mempertegas isyarat
tersebut. Allah SWT berfirman, "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu
berada di petang hari dan di saat kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya-lah
segala puji di langit dan di bumi, dan di waktu kamu berada di petang hari dan
di saat kamu berada di waktu zhuhur." (Ar-Ruum: 17-18).
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan
diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan
petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Al-A?raf:
205).
"Demi fajar dan malam yang sepuluh (sepuluh malam terakhir
dari bulan Ramadhan)." (Al-Fajr: 1-2).
"Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka
dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (tanggal
10, 11, 12, dan 13 dari bulan Dzulhijjah)." (Al-Hajj: 28).
Bahaya Syirik Dan Keutamaan Tauhid
Khutbah pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لله
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنْ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،
وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَّرَ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحِسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Ibadallah ! Saya wasiatkan kepada
Anda sekalian dan juga kepada saya untuk selalu bertaqwa kepada Allah di mana
saja kita berada. Dan janganlah kita mati melainkan dalam Islam.
Telah banyak penjelasan yang menerangkan makna taqwa. Di
antaranya adalah pernyataan Thalq bin Habib:
إِذَا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ
فَأَطْفِئُوهَا بِالْتَّقْوَى. قَالُوْا: وَما الْتَّقْوَى؟ قَالَ:
أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ الله عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ
تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ وَأنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ
تَخَافُ عِقَابَ اللهِ.
“Apabila
terjadi fitnah, maka padamkanlah dengan taqwa”. Mereka bertanya: “Apakah taqwa
itu?” Beliau menjawab: “Hendak-nya engkau melaksanakan keta’atan kepada Allah,
di atas cahaya Allah, (dengan) mengharap keridhaan-Nya; dan hendaknya engkau
meninggalkan kemaksiatan terhadap Allah, di atas cahaya Allah, (karena) takut
kepada siksaNya.
Ketaatan terbesar yang wajib kita laksanakan adalah
tauhid; sebagaimana kemaksiatan terbesar yang mesti kita hindari adalah syirik.
Tauhid adalah tujuan diciptakannya makhluk, tujuan
diutusnya seluruh para rasul, tujuan diturunkannya kitab-kitab samawi,
sekaligus juga merupakan pijakan pertama yang harus dilewati oleh orang yang
berjalan menuju Rabbnya.
Dengarkanlah firman Allah:
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu.” (Adz-Dzaariyaat: 56)
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu.” (Adz-Dzaariyaat: 56)
Juga firmanNya: QS AnNahl:36
)وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوت[(النحل: من
الآية
“Dan tidaklah kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’: 25)
Demikian pula firmanNya:
“Alif laam Raa, (inilah) satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, serta dijelaskan (makna-maknanya) yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian jangan beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada kalian daripadaNya.” (Hud: 1-2)
“Alif laam Raa, (inilah) satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, serta dijelaskan (makna-maknanya) yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian jangan beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada kalian daripadaNya.” (Hud: 1-2)
Allah juga berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Ketahuilah,
bahwasanya tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah dan
mohonlah ampunan bagimu dan bagi kaum Mukminin (laki-laki dan wanita).”
Jama’ah sekalian rahimakumullah. Kalau kedudukan
tauhid sedemikian tinggi dan penting di dalam agama ini, maka tidaklah aneh
kalau keutamaannya juga demikian besar. Bergembiralah dengan nash-nash
seperti di bawah ini:
عَنْ عُبَادَةْ بِنْ الصَّامِتْ
رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ النَّارَ.
Dari Ubadah bin Shamit Radhiallaahu anhu , ia berkata:
“Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan
Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah (niscaya) Allah mengharamkan Neraka
atasnya (untuk menjilatnya).” (HR. Muslim No. 29)
Hadits lain, dari Utsman bin Affan Radhiallaahu anhu ,
bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam
bersabda:
عَنْ
عُثْمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ
مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ الله دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa
yang meninggal dunia, sedangkan dia menge-tahui bahwa tidak ada ilah yang
berhak disembah melainkan Dia (Allah) niscaya akan masuk Jannah.”
(HR. Muslim No. 25)
Demikian juga sabdanya Rasulullah
Shallallaahu alaihi wasallam , kami petik sebagiannya:
وَعَنْ أَبِي ذَرًّ رَضِىَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الله
عَزَّ وَجَلَ: وَمَنْ لَقِيَنِيْ بِقُرِابِ الأَرْضِ خَطَايًا لاَ يُشْرِكُ بِيْ
شَيْئًا لَقَيْتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً.
“Dan barangsiapa yang menemuiKu dengan
(membawa) dosa sepenuh bumi sekalipun, namun dia tidak menye-kutukan Aku dengan
sesuatu apapun, pasti Aku akan menemuinya dengan membawa ampunan yang semisal
itu.”
(HR. Muslim No. 2687)
Demikian pula tidak akan aneh, bila lawan tauhid, yaitu
syirik; juga memiliki banyak bahaya yang mengerikan, dimana sudah seharusnya
kita benar-benar merasa takut terhadapnya. Diantara bahaya syirik itu adalah
sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Jabir:
عَنْ جَابِرٍ
رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاء أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الْمُوْجِبَتَانِ ؟ فَقَالَ:
مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ.
“Seorang
Arab Badui datang menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam , lalu
bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang pasti itu?” Beliau
menjawab: “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan
Allah dengan suatu apapun, niscaya dia akan masuk Jannah. Dan barangsiapa yang
meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya dia
akan masuk Neraka”. (HR. Muslim No. 93)
Firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki”. (An-Nisa: 48,116)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki”. (An-Nisa: 48,116)
Firman Allah:
“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pastilah gugur amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88).
“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pastilah gugur amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88).
Firman Allah:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, (sedangkan) mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amalan-amalan mereka, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17).
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, (sedangkan) mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amalan-amalan mereka, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17).
Maka merupakan musibah jika seseorang jahil (bodoh)
terhadap perkara tauhid dan perkara syirik, dan lebih musibah lagi jika
seseorang telah mengetahui perkara syirik namun dia tetap melakukannya. Dengan
ini hendaklah kita terpacu untuk menam-bah/menuntut ilmu sehingga bisa
melaksanakan tauhid dan menjauh dari syirik dan pelakunya.
وَ اللهَ نَسْأَلُ أَنْ يَرْزُقَنَا
عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً،
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Khutbah kedua:
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِمًا.
أَمَّا بَعْدُ:
Hadirin jama’ah Jum’at Arsyadakumullah,
Tatkala kita membicarakan masalah syirik, janganlah kita
menganggap bahwa syirik itu hanya ada di kalangan orang-orang Yahudi, Nashrani,
Hindu, Budha, Konghuchu dan lain-lain. Sedangkan kaum Muslimin sendiri dianggap
sudah terbebas dari dosa ini. Padahal tidaklah demikian. Banyak juga kalangan
kaum Muslimin yang tertimpa dosa sekaligus penyakit ini, baik sadar maupun
tidak. Karena makna atau pengertian syirik adalah: mempersekutukan peribadatan
kepada Allah; yakni memberikan bentuk-bentuk ibadah yang semestinya hanya
dipersembahkan kepada Allah, namun dia berikan kepada selain-Nya. Baik itu
kepada para malaikat, nabi, orang shalih, kuburan, patung, matahari, bulan,
sapi dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk-bentuk ibadah (yang dipersembah-kan)
kepada selain Allah itu bisa berupa: Do’a, berkurban, nadzar, puncak kecintaan,
puncak rasa takut dan lain-lain.
Saudara-saudaraku
fillah, pada khutbah kedua di sini, sengaja
kami ringkaskan sebagian keutamaan tauhid sebagaimana yang telah dibahas pada
khutbah yang pertama:
- Diharamkannya Neraka itu bagi kaum Muwahhidin (Ahli Tauhid). Kalaupun mereka masuk Neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya.
- Dijanjikannya mereka untuk masuk Jannah.
- Diberikan kepada mereka ampunan dari segala dosa.
Sedangkan di antara bahaya-bahaya syirik adalah:
- Diancamnya orang yang melakukan syirik akbar untuk masuk Neraka dan kekal di dalamnya.
- Tidak akan diampuni dosanya itu selama ia belum bertaubat.
- Gugurlah amal perbuatannya.
- Syirik adalah perbuatan dzalim yang terbesar.
Inilah yang dapat kami berikan. Fa’tabiru ya ulil
albab.
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلَّونَ عَلَى الَّنِبْيِّ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
أَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا
بِالإِيْمَانِ وَلاَ
تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُواْ رَبَّنَا إِنَّكّ رَؤُوْفُ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ
الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نًافِعًا وَرِزْقًا
طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبِلاً. رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ
Diposkan oleh
Asep Hidayat
di
21:18
Hikmah Ramadhan
Perjalanan waktu terus berlangsung. Tanpa terasa sekian ramadhan
telah dilewati. Ini membuktikan bahwa masa sudah saling berdekatan
sebagaimana yang di beritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Barangkali sebagian kita telah melalui ramadhan selama enam puluh tahun,
ada pula yang lima puluh tahun, empat puluh tahun, tiga puluh tahun,
dua puluh tahun, atau lebih maupun kurang. Namun apa hasil yang sudah
kita raih untuk kebaikan agama dan akherat kita. Sudahkah tempaan bulan
suci ramadhan mampu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah.
Atau masihkah tingkah laku kita sama dengan masa sebelumnya bahkan malah
lebih parah. Kita memohon kepada Allah ampunan dan rahmat-Nya.
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita merenungi Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berikut ini, (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang –orang yang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa (kepada Allah)”. (Al Baqarah: 183)
Apabila bertakwa kepada Allah menjadi tujuan yang utama dalam melaksanakan puasa ramadhan berarti pemenangnya adalah orang yang berhasil meningkatkan mutu ketakwaannya selepas bulan yang suci ini. Tentu sangat ironis, jika seorang yang berpuasa di bulan ramadhan justru lebih jauh dari Allah pada bulan-bulan yang berikutnya. Bahkan merupakan kesalahan yang besar bila seorang yang berpuasa mau menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat hanya dalam bulan suci ramadhan dan tak lebih dari itu. Semestinya, fenomena rasa antusias yang sedemikain tinggi untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi kemaksiatan dalam bulan suci ramadhan bisa ditularkan pada perputaran waktu yang selanjutnya.
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita menghilangkan dari benak kita asumsi bahwa ramadhan hanya sekadar seremonial ritual agama yang di gelar karena adat istiadat umat islam. Selepasnya, kita kembali kepada kemerosatan keyakinan dan moral yang sudah berlangsung sebelumnya dengan sangat parah dan rendah. Marilah kita menjadikan ramadhan sebagai pendidikan spiritual yang mampu membentuk kita sebagai manusia-manusia berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya bulan suci ramadhan ini mengandung berbagai pelajaran dan hikmah yang cukup banyak. Ibarat buah yang sudah ranum diatas pohonnya dan hanya tinggal menanti siapa yang datang untuk memetiknya. Dalam tulisan yang ala kadarnya ini, kami mencoba untuk menyuguhkan sebagian pelajaran dan hikmah bulan suci ramadhan bagi para pembaca yang budiman, dengan harapan semoga Allah memberkati kehidupan kita dari waktu ke waktu yang kita lalui, sehingga kita menjadi semakin baik dan lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
1.Berpuasa
Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alihi wasalam. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan. Selain puasa ramadhan disana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Yang wajib, misalnya seperti puasa qadha`, puasa kaffarah, dan puasa nadzar. Adapun yang sunnah, misalnya seperti puasa nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, Puasa hari senin dan kamis, puasa hari-hari putih yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan limas belas dari setiap pertengahan bulan hijriyah dan lain sebagainya.
Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu ketakwaan kita. Disamping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan diri dari amukan api neraka. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan api neraka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad yang hasan)
Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak? Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah radhiyallahu ‘anha)
Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita. Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya):
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai segenap kaum muslimin, ketahuilah, bahwa lambung yang penuh merupakan sarang syaithan yang paling kotor. Dari lambung yang penuh itu, dia akan menggoda seorang manusia untuk durhaka kepada Allah. Seorang hamba yang lambungnya penuh memiliki tenaga, kekuatan, daya, dan potensi yang cukup besar untuk berbuat apa saja. Maka syaithan menggunakan peluang emas ini untuk menggodanya agar memuaskan segenap hawa nafsu dan syahwat dunia yang diinginkannya tanpa harus memperdulikan syariat Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin mampu mengendalikan berbagai dorongan hawa nafsu dan syahwat kesenangan dunia yang sedang bergejolak hebat dalam dirinya, maka hendaklah dia berpuasa. Maka dengan berpuasa, dia akan terbebas dari segala ajakan hawa nafsu dan syahwat yang bisa menjerongkokkannya ke dalam berbagai lembah hitam yang rendah lagi nista. Termasuk syahwat dunia yang bisa dia redam dengan berpuasa adalah syahwat terhadap wanita-wanita yang diharamkan atasnya. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah dia segera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena yang demikian itu buat dirinya adalah tameng”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Betapa banyak para pria yang terjungkal ke dalam lembah neraka jahannam disebabkan oleh fitnah wanita. Intinya, bahwa berpuasa adalah senjata ampuh guna meredam dan mengendalikan hawa nafsu dan syahwat yang durjana. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka berpuasa bukan hanya amalan rutinitas pada bulan suci ramadhan. Akan tetapi lebih daripada itu, berpuasa adalah kebutuhan rohani yang semestinya ditunaikan sesuai prosedur syariat islam yang benar demi menggapai kebaikan dunia dan akherat, sehingga kita menjadi manusia-manusia yang lebih bertakwa dan berkualitas di mata Allah
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita merenungi Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berikut ini, (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang –orang yang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa (kepada Allah)”. (Al Baqarah: 183)
Apabila bertakwa kepada Allah menjadi tujuan yang utama dalam melaksanakan puasa ramadhan berarti pemenangnya adalah orang yang berhasil meningkatkan mutu ketakwaannya selepas bulan yang suci ini. Tentu sangat ironis, jika seorang yang berpuasa di bulan ramadhan justru lebih jauh dari Allah pada bulan-bulan yang berikutnya. Bahkan merupakan kesalahan yang besar bila seorang yang berpuasa mau menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat hanya dalam bulan suci ramadhan dan tak lebih dari itu. Semestinya, fenomena rasa antusias yang sedemikain tinggi untuk melaksanakan ibadah dan menjauhi kemaksiatan dalam bulan suci ramadhan bisa ditularkan pada perputaran waktu yang selanjutnya.
Wahai segenap kaum muslimin, marilah kita menghilangkan dari benak kita asumsi bahwa ramadhan hanya sekadar seremonial ritual agama yang di gelar karena adat istiadat umat islam. Selepasnya, kita kembali kepada kemerosatan keyakinan dan moral yang sudah berlangsung sebelumnya dengan sangat parah dan rendah. Marilah kita menjadikan ramadhan sebagai pendidikan spiritual yang mampu membentuk kita sebagai manusia-manusia berkualitas di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya bulan suci ramadhan ini mengandung berbagai pelajaran dan hikmah yang cukup banyak. Ibarat buah yang sudah ranum diatas pohonnya dan hanya tinggal menanti siapa yang datang untuk memetiknya. Dalam tulisan yang ala kadarnya ini, kami mencoba untuk menyuguhkan sebagian pelajaran dan hikmah bulan suci ramadhan bagi para pembaca yang budiman, dengan harapan semoga Allah memberkati kehidupan kita dari waktu ke waktu yang kita lalui, sehingga kita menjadi semakin baik dan lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
1.Berpuasa
Berpuasa adalah syariat dahulu kala yang diwarisi oleh para nabi dan rasul sampai kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alihi wasalam. Berpuasa menyimpan keberkatan dan kemanfaatan yang banyak sekali, baik dari sisi agama maupun kehidupan. Oleh karena itu, islam mensyariatkan amalan yang mulia ini bukan hanya pada bulan suci ramadhan. Selain puasa ramadhan disana masih terdapat puasa-puasa yang lainnya, Ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Yang wajib, misalnya seperti puasa qadha`, puasa kaffarah, dan puasa nadzar. Adapun yang sunnah, misalnya seperti puasa nabi Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, Puasa hari senin dan kamis, puasa hari-hari putih yaitu tanggal tiga belas, empat belas, dan limas belas dari setiap pertengahan bulan hijriyah dan lain sebagainya.
Berpuasa disyariatkan oleh Allah melalui Rosul-Nya adalah dalam rangka meningkatkan mutu ketakwaan kita. Disamping itu, berpuasa dapat menghindarkan kita dari segala gejolak hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan. Singkatnya, dengan berpuasa, kita bisa menyelamatkan diri dari amukan api neraka. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Berpuasa itu adalah tameng yang dengannya seorang hamba bisa membentengi diri dari amukan api neraka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan sanad yang hasan)
Ya, berpuasa adalah tameng yang membentengi kita dari amukan api neraka. Bagaimana tidak? Dengan berpuasa, kita telah menutup pintu-pintu syaithan yang berada dalam tubuh kita. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Sesungguhnya syaithan itu mengalir pada diri seorang anak Adam laksana aliran darah”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah radhiyallahu ‘anha)
Maka dengan berpuasa, kita telah menutup pintu syaithan untuk menyelusup ke dalam diri kita. Sebab kita telah meninggalkan makan, minum, dan syahwat kita selama berpuasa karena Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya):
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai segenap kaum muslimin, ketahuilah, bahwa lambung yang penuh merupakan sarang syaithan yang paling kotor. Dari lambung yang penuh itu, dia akan menggoda seorang manusia untuk durhaka kepada Allah. Seorang hamba yang lambungnya penuh memiliki tenaga, kekuatan, daya, dan potensi yang cukup besar untuk berbuat apa saja. Maka syaithan menggunakan peluang emas ini untuk menggodanya agar memuaskan segenap hawa nafsu dan syahwat dunia yang diinginkannya tanpa harus memperdulikan syariat Allah. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin mampu mengendalikan berbagai dorongan hawa nafsu dan syahwat kesenangan dunia yang sedang bergejolak hebat dalam dirinya, maka hendaklah dia berpuasa. Maka dengan berpuasa, dia akan terbebas dari segala ajakan hawa nafsu dan syahwat yang bisa menjerongkokkannya ke dalam berbagai lembah hitam yang rendah lagi nista. Termasuk syahwat dunia yang bisa dia redam dengan berpuasa adalah syahwat terhadap wanita-wanita yang diharamkan atasnya. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (yang artinya):
“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu, maka hendaklah dia segera menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena yang demikian itu buat dirinya adalah tameng”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Betapa banyak para pria yang terjungkal ke dalam lembah neraka jahannam disebabkan oleh fitnah wanita. Intinya, bahwa berpuasa adalah senjata ampuh guna meredam dan mengendalikan hawa nafsu dan syahwat yang durjana. Jika kita telah mengetahui hal ini, maka berpuasa bukan hanya amalan rutinitas pada bulan suci ramadhan. Akan tetapi lebih daripada itu, berpuasa adalah kebutuhan rohani yang semestinya ditunaikan sesuai prosedur syariat islam yang benar demi menggapai kebaikan dunia dan akherat, sehingga kita menjadi manusia-manusia yang lebih bertakwa dan berkualitas di mata Allah
BAHAYA SIFAT SOMBONG
Firman Allah tentang Sombong
Firman Allah Q.S. Al-Isra : 37 – 38
Artinya : dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (37). semua itu kejahatannya Amat dibenci di sisi Tuhanmu (38).
Allah benci dengan orang-orang yang sombong:
Firman Allah Q.S. Lukman (31) ayat 18
Artinya: dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Firman Allah tentang kesombongan Iblis yang tidak mau sujud kepada Adam :
Q.S Al-A’raf (17) ayat : 13
Artinya : Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina".
Hadis Nabi tentang Sombong
Nabi berkata bahwa orang yang sombong meski hanya sedikit saja niscaya tidak akan masuk surga:
”Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]
Nabi juga berkata bahwa orang yang sombong niscaya akan disiksa oleh Allah di akhirat nanti:
Dari al-Aghar dari Abu Hurarirah dan Abu Sa’id, Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt berfirman; Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya”. [HR Muslim]
Ada empat bahaya Sombong
1. Memiliki rasa paling benar dan merasa menang sendiri. Penyebab perasaan orang ini karena kelebihan yang ada pada dirinya tanpa melihat bahwa orang lain juga memiliki kelebihan yang sama atau lebih baik. Merasa menjadi orang yang paling baik dan benar sehingga ia menjadi orang yang mau menang sendiri.
2. Tidak menyukai saran dan kritik dari orang lain karena merasa sudah sempurna dan benar. Dia merasa tidak kurang satupun. Saran pun sulit diterima maka kritik pun akan langsung dia tolak mentah-mentah dan membenci dinasehati.
3. Tidak suka jika orang lain berhasil dan maju dari dia. Setelah itu orang sombong akan menjadi iri hati terhadap orang lain yang lebih hebat. Sikap ekstrim paling berbahaya dari orang sombong adalah pembunuhan karena kebenciannya terhadap orang lain.
Menolak kebenaran yang ada meskipun dia sadar itu benar. Orang ini akan membangkang terus saat kebenaran datang karena keras hatinya akibat sombong.
BAHAYA LIDAH
Perintah berkata baik
Kemampuan berbicara adalah salah satu
kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi dan
menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan yang keluar
dari mulut manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji, dsb.
Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini menjadi bermakna dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman :
“Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku. “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” QS. 17: 53
”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” QS. 16:125
Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Muttafaq alaih
“
Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya maka
dengan ucapan yang baik “ Muttafaq alaih
“Ucapan yang baik adalah sedekah” HR. Muslim.
KEUTAMAAN DIAM
Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak ada yang dapat menahannya kecuali diam. Oleh karena itu dalam agama kita dapatkan anjuran diam dan perintah pengendalian bicara. Sabda Nabi:
“ Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga” HR. Al Bukhariy
“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya” HR Ahmad
Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab : “dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan” HR. At Tirmidziy
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang bisa menjaga mulutnya, Allah akan tutupi keburukannya” HR. Abu Nuaim.
Ibnu Mas’ud berkata : “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”
Abu Darda berkata : “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar dari pada berbicara.
MACAM-MACAM AFATUL-LISAN, PENYEBAB DAN TERAPINYA
Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat kelompok : murni membahayakan, ada bahaya dan manfaat, tidak membahayakan dan tidak menguntungkan, dan murni menguntungkan.
Ucapan yang murni membahayakan maka harus dijauhi, begitu juga yang mengandung bahaya dan manfaat. Sedangkan ucapan yang tidak ada untung ruginya maka itu adalah tindakan sia-sia, merugikan. Tinggallah yang keempat yaitu ucapan yang menguntungkan.
Berikut ini akan kita bahas afatul lisan dari yang paling tersembunyi sampai yang paling berbahaya. Ada beberapa macam bahaya lisan, yaitu :
1. Berbicara sesuatu yang tidak perlu
Rasulullah SAW bersabda : “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” HR At Tirmidziy
Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam tidak berdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke orang lain “apakah anda puasa, jika dijawab YA, membuat orang itu riya, jika dijawab TIDAK padahal ia puasa, maka dusta, jika diam tidak dijawab, dianggap tidak menghormati penanya. Jika menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari – cari bahan, dst.
Penyakit ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu. Atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekedar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan ini termasuk dalam perbuatan tercela.
Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang paling berharga. Jika tidak dipergunakan secara efektif maka akan merugikan diri sendiri. selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi tangga ke sorga atau jaring jebakan ke neraka. Secara aplikatif kita coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.
2. Fudhulul-Kalam ( Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua ini “fudhul” (kelebihan). Firman Allah : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma’ruf, atau perdamaian di antara manusia” QS.4:114.
Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya “ HR. Al Baghawiy.
Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidak diucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka) sesungguhnya lisannya mengalir saja”
Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di antara fitnah orang alim adalah ketika ia lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Jika orang lain sudah cukup berbicara, maka mendengarkan adalah keselamatan, dan dalam berbicara ada polesan, tambahan dan pengurangan.
3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil adalah pembicaraan ma’siyat, seperti menceritakan tentang perempuan, perkumpulan selebritis, dsb, yang tidak terbilang jumlahnya. Pembicaraan seperti ini adalah perbuatan haram, yang akan membuat pelakunya binasa. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya
ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga
akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga hari kiamat” HR Ibn
Majah.
“ Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil” HR Ibnu Abiddunya.
Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya, mereka menjawab: “ …dan adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya” QS. 74:45
Terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan Al Qur’an, Allah SWT memperingatkan orang-orang beriman :”…maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka.” QS. 4:140
5. Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan)
Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan menyerang dan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat. Biasanya orang yang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin menunjukkan kesalahan orang lain agar terlihat kelebihan dirinya.
Hal ini biasanya disebabkan oleh taraffu’ (rasa tinggi hati) karena kelebihan dan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan” HR. At Tirmidziy
Imam Malik bin Anas berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan”
6. Al Khusumah (pertengkaran)
Jika orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkan lawan dan mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah adalah sikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak atau harta orang lain, yang bukan haknya. Sikap ini bisa merupakan reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari awal berbicara.
Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar” HR. Al Bukhariy
7. Taqa’ur fil-kalam (menekan ucapan)
Taqa’ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakan diri bersyaja’ dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”. HR. Ahmad.
Tidak termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam memberikan nasehat, selama tidak berlebihan atau penggunaan kata-kata asing yang membuat pendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama dari khutbah adalah menggugah hati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di sinilah dibutuhkan bentuk-bentuk kata yang menyentuh.
8. Berkata keji, jorok dan caci maki
Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn seksual, dsb. Hal ini termasuk perbuatan tercela yang dilarang agama. Nabi bersabda :
“Jauhilah perbuatan keji. Karena sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yang keji dan perbuatan keji” dalam riwayat lain :”Surga itu haram bagi setiap orang yang keji”. HR. Ibnu Hibban
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” HR. At Tirmidziy.
Ada seorang A’rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi : Sabda Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencela kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapapun. Kata A’rabiy tadi : “Sejak itu saya tidak pernah lagi mencaci maki orang”. HR. Ahmad.
“Termasuk dalam dosa besar adalah mencaci maki orang tua sendiri” Para sahabat bertanya : “Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua sendiri ? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orang tuanya”. HR. Ahmad.
Perkataan keji dan jorok disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yang menyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan dengan orang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang durhaka lainnya.
9. La’nat (kutukan)
Penyebab munculnya kutukan pada sesama manusia biasanya adalah satu dari tiga sifat berikut ini, yaitu : kufur, bid’ah dan fasik. Dan tingkatan kutukannya adalah sebagai berikut :
Kutukan dengan menggunakan sifat umum, seperti : semoga Allah mengutuk orang kafir, ahli bid’ah dan orang-orang fasik.
Kutukan dengan sifat yang lebih khusus, seperti: semoga kutukan Allah ditimpakan kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi, dsb.
Kutukan kepada orang tertentu, seperti : si fulan la’natullah. Hal ini sangat berbahaya kecuali kepada orang-orang tertentu yang telah Allah berikan kutukan seperti Fir’aun, Abu Lahab, dsb. Dan orang-orang selain yang Allah tentukan itu masih memiliki kemungkinan lain.
Kutukan yang ditujukan kepada binatang, benda mati , atau orang tertentu yang tidak Allah tentukan kutukannya, maka itu adalah perbuatan tercela yang haus dijauhi. Sabda Nabi :
“ Orang beriman bukanlah orang yang suka mengutuk” HR At Tirmidziy
“Janganlah kamu saling mengutuk dengan kutukan Allah, murka-Nya maupun jahanam” HR. At Tirmidziy.
“Sesungguhnya orang-orang yang saling mengutuk tidak akan mendapatkan syafaat dan menjadi saksi di hari kiamat” HR. Muslim
10. Ghina’ (nyanyian) dan Syi’r (syair)
Syair adalah ungkapan yang jika baik isinya maka baik nilainya, dan jika buruk isinya buruk pula nilainya. Hanya saja tajarrud ( menfokuskan diri) untuk hanya bersyair adalah perbuatan tercela. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya memenuhi rongga dengan nanah, lebih baik dari pada memenuhinya dengan syair” HR Muslim. Said Hawa mengarahkan hadits ini pada syair-syair yang bermuatan buruk.
Bersyair
secara umum bukanlah perbuatan terlarang jika di dalamnya tidak terdapat
ungkapan yang buruk. Buktinya Rasulullah pernah memerintahkan Hassan bin Tsabit
untuk bersyair melawan syairnya orang kafir.
11. Al Mazah (Sendau gurau)
Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama, kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan sering kali terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalah gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan. Seperti gurauan Nabi dengan istri dan para sahabatnya.
Kebiasaan bergurau akan membawa seseorang pada perbuatan yang kurang berguna. Disamping itu kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.
Umar bin Khatthab berkata : “Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan/dianggap hina”.
Said ibn al Ash berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, janganlah bercanda dengan orang mulia, maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula bercanda dengan bawahan maka nanti akan melawanmu”
12. As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza’( cemoohan)
Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan aib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau peragaan di hadapannya. Jika dilakukan tidak di hadapan orang yang bersangkutan disebut ghibah (bergunjing).
Perbuatan ini terlarang dalam agama. Firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok “ QS. 49:11
Muadz bin Jabal ra. berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Barang siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya” HR. At Tirmidziy
13. Menyebarkan rahasia
Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan mengecewakan orang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalah orang laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia ceritakan rahasianya”. HR. Muslim
14. Janji palsu
Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.
Firman Allah : “Wahai orang-orang beriman tepatilah janji…” QS 5:1
Pujian Allah SWT pada Nabi Ismail as: “Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya..” QS 19:54
Rasulullah SAW bersabda : “ada tiga hal yang jika ada pada seseorang maka dia adalah munafiq, meskipun puasa, shalat, dan mengaku muslim. Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khiyanat” Muttafaq alaih dari Abu Hurairah
15. Bohong dalam berbicara dan bersumpah
Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang paling busuk. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pembohong” Muttafaq alaih.
“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menegur dan memandangnya di hari kiamat, yaitu : orang yang membangkit-bangkit pemberian, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang memanjangkan kain sarungnya” HR Muslim.
“Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang, celaka dia, celaka dia” HR Abu Dawud dan At Tirmidziy
16. Ghibah (Bergunjing)
Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat: ”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi: “ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya.” Para sahabat bertanya : “Jika yang diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi : ”Jika memang ada itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada” HR Muslim.
11. Al Mazah (Sendau gurau)
Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama, kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan sering kali terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalah gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan. Seperti gurauan Nabi dengan istri dan para sahabatnya.
Kebiasaan bergurau akan membawa seseorang pada perbuatan yang kurang berguna. Disamping itu kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.
Umar bin Khatthab berkata : “Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan/dianggap hina”.
Said ibn al Ash berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, janganlah bercanda dengan orang mulia, maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula bercanda dengan bawahan maka nanti akan melawanmu”
12. As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza’( cemoohan)
Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan aib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau peragaan di hadapannya. Jika dilakukan tidak di hadapan orang yang bersangkutan disebut ghibah (bergunjing).
Perbuatan ini terlarang dalam agama. Firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok “ QS. 49:11
Muadz bin Jabal ra. berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Barang siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya” HR. At Tirmidziy
13. Menyebarkan rahasia
Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan mengecewakan orang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalah orang laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia ceritakan rahasianya”. HR. Muslim
14. Janji palsu
Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.
Firman Allah : “Wahai orang-orang beriman tepatilah janji…” QS 5:1
Pujian Allah SWT pada Nabi Ismail as: “Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya..” QS 19:54
Rasulullah SAW bersabda : “ada tiga hal yang jika ada pada seseorang maka dia adalah munafiq, meskipun puasa, shalat, dan mengaku muslim. Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khiyanat” Muttafaq alaih dari Abu Hurairah
15. Bohong dalam berbicara dan bersumpah
Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang paling busuk. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pembohong” Muttafaq alaih.
“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menegur dan memandangnya di hari kiamat, yaitu : orang yang membangkit-bangkit pemberian, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang memanjangkan kain sarungnya” HR Muslim.
“Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang, celaka dia, celaka dia” HR Abu Dawud dan At Tirmidziy
16. Ghibah (Bergunjing)
Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat: ”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi: “ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya.” Para sahabat bertanya : “Jika yang diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi : ”Jika memang ada itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada” HR Muslim.
Al Qur’an menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara sendiri (QS. 49:12)
Ghibah bisa terjadi dengan berbagai macam cara, tidak hanya ucapan, bisa juga tulisan, peragaan. dsb.
Hal-hal
yang mendorong terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut ini :
-Melampiaskan kekesalan/kemarahan
-Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita
-Merasa akan dikritik atau dcela orang lain, sehingga orang yang dianggap hendak mencela itu jatuh lebih dahulu.
-Membersihkan diri dari keterikatan tertentu
-Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya
-Hasad/iri dengan orang lain
-Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu
-Menghina dan meremehkan orang lain
-Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu dengan ilmu dan amal.
-Secara umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan dengan murka Allah. Kemudian mencari sebab apa yang mendorongnya melakukan itu. Sebab pada umumnya penyakit itu akan mudah sembuh dengan menghilangkan penyebabnya.
-Menceritakan kekurangan orang lain dapat dibenarkan jika terdapat alasan berikut ini:
-Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi
Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran
-Meminta fatwa,seperti yang dilakukan istri Abu Sufyan pada Nabi.
-Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang
-Orang yang dikenali dengan julukan buruknya, seperti al a’raj (pincang), dst.
-Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan terang-terangan (mujahir)
-Melampiaskan kekesalan/kemarahan
-Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita
-Merasa akan dikritik atau dcela orang lain, sehingga orang yang dianggap hendak mencela itu jatuh lebih dahulu.
-Membersihkan diri dari keterikatan tertentu
-Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya
-Hasad/iri dengan orang lain
-Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu
-Menghina dan meremehkan orang lain
-Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu dengan ilmu dan amal.
-Secara umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan dengan murka Allah. Kemudian mencari sebab apa yang mendorongnya melakukan itu. Sebab pada umumnya penyakit itu akan mudah sembuh dengan menghilangkan penyebabnya.
-Menceritakan kekurangan orang lain dapat dibenarkan jika terdapat alasan berikut ini:
-Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi
Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran
-Meminta fatwa,seperti yang dilakukan istri Abu Sufyan pada Nabi.
-Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang
-Orang yang dikenali dengan julukan buruknya, seperti al a’raj (pincang), dst.
-Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan terang-terangan (mujahir)
Hal-hal
penting yang harus dilakukan seseorang yang telah berbuat ghibah adalah :
1. Menyesali perbuatan ghibahnya itu
2. Bertaubat, tidak akan mengualnginya lagi
3. Meminta maaf/dihalalkan dari orang yang digunjingkan.
1. Menyesali perbuatan ghibahnya itu
2. Bertaubat, tidak akan mengualnginya lagi
3. Meminta maaf/dihalalkan dari orang yang digunjingkan.
Siksa orang orang yang meremehkan shalat
Enam petaka yang diberikan kepada orang orang yang meremehkan sholat tersebut di antaranya adalah; Allah akan mencabut berkah umurnya, Allah akan mencabut berkah rezekinya, Allah akan menghapus ciri orang shaleh dari mukanya, semua amal yang dilakukannya tidak diberi pahala, doanya tidak terangkat ke langit, dan tidak mendapat bagian di dalam do’a orang orang shaleh.
Tiga petaka lainnya yang akan ditimpakan oleh Allah kepada orang yang meremehkan sholat di antaranya adalah; atinya dalam keadaan terhina, lapar dan kehausan, rasa hausnya tersebut tidak akan hilang andaikan ia diberi minum satu sungai secara penuh.
Tiga perkara lainnya yang menimpa orang-orang yang meremehkan shalat di dalam kubur yaitu; Allah akan menyerahkan kepada malaikat yang menakutkan (mengerikan), kubur akan menjepitnya, kuburnya gelap gulita. Sedangkan tiga lagi siksaan yang akan ditimpakan kepada orang yang meremehkan shalat adalah; Allah akan menyerahkan kepada malaikat dengan siksa malaikat tersebut akan menyeretnya dengan posisi terbalik, di hisab oleh Allah secara detail, Allah tidak akan menoleh padanya dan tidak mensucikannya dan baginya adzab yang pedih. (tafsir al muin: 576)
Puasa Sebagai Penghayatan Kepada Sang Maha Hadir
Makna puasa adalah imsak atau mencegah makan, minum dan masuknya sesuatu yang mempunyai hubungan dengan kerongkongan. Termasuk juga mengekang hawa nafsu hubungan intim dengan suami-isteri sejak terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari, disertai dengan niat berpuasa. Perintah puasa ini didasarkan atas QS. Al baqoroh ayat: 183 dan beberapa hadits diantaranya adalah “berpuasalah karena melihat (hilal ramadhan) dan berbukalah (idul fithri) karena melihat hilal, apabila terhalang maka genapkanlah bilangan sya’ban menjadi 30 hari”.aktivitas manusia. Bisa dibayangkan, betapa mudahnya seseorang makan di dalam kamar di siang bolong kemudian keluar kamar menunjukkan performa orang puasa, tentu semua orang lain bahkan keluarga terdekatpun (keluarga) akan tertipu dan menduga orang tersebut masih berpuasa. Berpura-pura itu tidak terjadi karena dalam pribadi orang yang berpuasa selalu merasakan kemahahadiran Allah swt sebagai Tuhan yang maha tahu.
Celakanya, penghayatan seperti itu hanya berlaku untuk makan-minum dan berhubungan intim suami-isteri di bulan ramadhan saja, sehingga setelah lepas dari bulan ramadhan seolah keranjingan dan berbalik seperti semula. Puasa yang notabenenya mendidik ketaqwaan menjadi kehilangan misi profetisnya.
Diantara misi puasa adalah mendidik diri merasa hamba yang terus diawasi oleh Allah, sehingga menimbulkan pribadi baik yang bertaqwa dimanapun berada. (ittaqillaaha haitsu ma kunta) yang tak korupsi, tidak berbuat aniaya terhadap sesama dan tidah menciptakan suasan keruh dan lain lain. Ia takut karena Allah mengawasinya, Allah tidak melupakan hambanya di dunia disebabkan sibuk mengurusi makhluknya yang di langit, dan jika sudah tertanam mendalam dalam setiap insan shoimiin maka keadaan bangsa dengan misi puasa sebagai landasan praktisnya maka bersih dari korupsi dan segala bentuk pencurian lainnya
Kamis, 19 Juli 2012
TEKNIK BERBICARA DAN BERSIKAP DI DEPAN PUBLIK
TEKNIK BERBICARA DAN BERSIKAP DI DEPAN PUBLIK
Oleh : Supardi , SE
PENDAHULUAN
Bicara dan mengungkapkan pikiran pada orang adalah karunia terbesar yang diberikan
Tuhan pada manusia. Hanya manusia yang mampu berkomunikasi secara jelas tentang
apa saja yang ingin disampaikan pada orang lain. Itu yang membuat manusia menjadi
ciptaan yang memiliki kelebihan dibanding ciptaan Tuhan lainnya. Kambing misalnya bisa
mengembik dan harimau mengaung. Namun tetap mereka makhluk hidup yang tidak bisa
membangun peradabannya seperti hidupnya manusia. Kelebihan itupula yang membuat
manusia bisa menjalin komunikasi dalam rentang zaman yang panjang sampai sekarang.
Dalam literatur yang ada, tekhnik berbicara sudah dipelajari sejak zaman Yunani dan
Romawi kuno.
Di zaman-zaman itu, tekhnik berbicara menjadi alat yang penting yang harus dipelajari
orang. Dalam literatur yang ada, ilmu itu dikenal dengan ilmu retorika. Ilmu ini sama
tuanya dengan kelahiran manusia dimuka bumi. Pada masa itu retorika dipakai sebagai
salah satu alat elit kerajaan mempertahankan kekuasaannya dari musuh-musuh yang ada.
Artinya selain perang, kerajaan juga membentengi kepentingannya dengan membayar
ahli-ahli retorika dalam menghadapi ancaman musuh. Musuh yang kerap
mempersengketakan tanah pada kerajaan yang ada. Dan biasanya diselesaikan dalam
ruang debat yang dihadiri oleh massa yang begitu banyak. Persis seperti arena
pertandingan tinju. Yang paling unggul dan menang adalah pihak yang terampil dalam
ilmu retorika. Itu artinya yang memenangkan perkara tidak pada salah benarnya suatu
kasus. Namun yang menang yaitu pihak yang paling cerdas bersilat lidah. Itu karena saat
itu orang belum kenal dunia pengacara seperti zaman kita sekarang.
Pada perang dunia kedua, sang orator ulung yang berpangkat kopral naik menjadi kaisar
Jerman karena kepiawaiannya dalam berbicara. Kopral itu bernama Hitler. Kata-katanya
bahwa ; “ setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan
oleh jago-jago tulisan”. Atau dalam bahasa Jerman Jede grosse Bewegung auf dieser
Erde verdankt ihr Wachsen den grosseren Rednern und nicht den grossen Screibern. Dan
masih dalam bicara, ditemukan 75% aktifitas yang dihabiskan manusia sehari-hari yaitu
aktifitas komunikasi. Dale Carnegie punya penilain tersendiri pada aktifitas komunikasi
ini. Menurutnya, seseorang yang terpelajar dan kurang ajar sangat bisa di nilai dari
bicaranya.
Bicara lagi-lagi memiliki peran penting yang harus dipelajari. Bicara tidak saja
menunjukan identitas bangsa seseorang. Namun bicara juga sangat penting mengukur
karakter seseorang. Sebaiknya orang mencocokan tutur bahasanya dengan pantas, baru ia
mau mencocokan pantas tidaknya pakaian yang ia kenakan. Bicara memang adalah bakat
bawaan setiap orang. Namun ketrampilan bicara dengan baik dan benar membutuhkan
latihan tersendiri.
LATIHAN BICARA
Masih di zaman SM (Yunani dan Romawi), menjadi orator ulung butuh kerja keras yang
tidak mudah. Mereka harus menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan ilmu
retorika dari guru-guru terkenal. Dan karena itu mempelajari ilmu itu hanya bisa
diperoleh oleh orang-orang tertentu. Atau hanya kasta tinggi atau elit-elit kerajaan yang
bisa memperoleh ilmu retorika secara berkualitas. Aristoteles yang dikenal filosof salah
satu yang tidak tuntas mempelajari ilmu retorika akibat beratnya biaya yang harus
dibayar pada guru-guru ilmu retorika yang ada pada zaman itu. Di zaman itu juga banyak
dari para orator ulung yang harus belajar berpuluh-puluh tahun di gua yang dibuat demi
mendalami ilmu retorika secara dalam. Mereka terpaksa mengisolasi diri demi
paripurnanya ilmu itu saat turun dari gua nanti. Mereka belajar berolah vokal mulai dari
intonasi suara hingga gerak-gerik dan mimik wajah di selaraskan dengan suara yang ada.
Itu dilakukan secara terus-menerus hingga memakan waktu berpuluh-puluh tahun di gua.
Hasil yang diperoleh selama upaya itu sangat luar biasa. Mereka turun dari gua dengan
menguasai kota-kota dan kerajaan dengan keahlian retorika secara mengagumkan.
Di era modern banyak sekali tokoh-tokoh yang karirnya cemerlang karena kemampuannya
menyampaikan pemikirannya secara mengesankan pada publik. Salah satu sample
kesuksesan itu adalah presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang mampu meredam
emosi kaum kulit hitam pada saat ia menyampaikan pidatonya dalam suasana duka kaum
kulit hitam terhadap matinya tokoh kulit hitam Marthen Luther King karena dibunuh oleh
kaum kulit putih. Massa kaum kulit hitam yang sedang antipati menjadi reda’ saat
mendengar pidato Kennedy. Kennedy mampu meredakan emosi kaum kulit hitam karena
kebencian mereka pada tindakan kaum kulit putih itu. Presiden AS itu mengucapkan
belasungkawa dan apresiasi pada perjuangan kemanusiaan Marthen Luther King sebagai
pahlawan kemanusiaan. Dia berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Marthen
Luther King adalah sebuah upaya untuk mengajarkan tentang betapa pentingnya
menghargai kemanusiaan ditengah-tengah heterogenitas bangsa Amerika untuk melawan
diskriminasi rasial yang ada pada zaman itu.
Pidato John F . Kennedy itu tercatat sebagai orator ulung karena ia sendiri berkulit
putih. Dan kerumunan yang penuh emosi dan kebencian para kaum kulit hitam itu segera
berubah memuja Kennedy. Massa pun pulang dan bubar secara baik-baik setelah
mendengar pidato presiden Kennedy yang menyentuh nurani mereka semua. Itu contoh
dari kesuksesan seorang orator atau pembicara yang mampu membaca emosi dan
perasaan audiensnya.
Kembali pada kefasihan bicara yang mutlak dimiliki para pemimpin. Belajar untuk bisa
menyampaikan gagasan kita pada orang tak perlu lagi seperti pada masa lampau. Jika
pada masa Aristoteles belajar retorika begitu susah. Dimana kita harus tidur di gua yang
dikelilingi oleh binatang buas seperti ular dan harus digigit nyamuk yang sangat
berbahaya. Dan juga hanya bisa dipelajari oleh orang-orang berpunya dan berkasta
kebangsaan. Maka ilmu itu kini dapat dipelajari oleh siapa saja. Dan kita tidak perlu
harus menginap di gua. Namun kita cukup punya kemauan dan mau belajar ilmu ini
dengan benar dan sungguh-sungguh saja. Dan ilmu ini tidak lagi menjadi milik
sekelompok orang saja. Atau milik penguasa atau politisi. Namun para entrepreneur juga
membutuhkan ilmu ini dalam mempengaruhi orang lain. Jadi ilmu ini tidak saja sebagai
alat mempengaruhi rakyat bagi para politisi dan pemerintah . Namun juga beguna bagi
para pelaku bisnis dalam memasarkan produknya pada konsumen.
Singkatnya, para orator, pembicara hebat yang pernah kita kenal pasti pernah belajar
ilmu ini. Dan dari mereka itu banyak cara yang dipakai dalam membantu kefasihan
mereka berkomunikasi, baik sebagai pribadi dengan pribadi maupun dengan audiens atau
massa. Salah satu cara yaitu berlatih di depan cermin atau ruangan yang tidak
mengganggu orang lain secara terus menerus. Hollingsworth di dalam bukunya yang
berjudul The Psychology of the Audience punya kiat dalam mempengaruhi audiens
tertarik pada apa yang kita sampaikan. Perhatian harus dipertahankan dengan
membangkitkan minat khalayak. Dianjurkan untuk menyisipkan cerita lucu, penggunaan
bahasa yang baik dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan tambahan perhatian.
KIAT MENGATASI KEPANIKAN KOMUNIKASI
Tidak jarang sikap gugup atau demam panggung dialami seseorang dalam presentasi atau
ceramah yang ia sampaikan. Mereka yang mengalami masalah itu datang dari siapa saja.
Tidak saja pada orang-orang biasa. Namun pada mereka yang terbiasa berbicara atau
berpidato pun bisa mengalami demam panggung. Penyakit itu dikenal dengan nama
penyakit kepanikan komunikasi (KK). Dalam teori mereka mungkin bisa berbicara lancar
pada waktu biasa. Atau tidak gugup bicara di depan teman-teman sendiri. Namun pada
saat bicara di depan khalayak banyak penyakit demam panggung ini baru muncul. Contoh
KK dalam membacakan ayat suci seorang calon menantu di depan mertuanya. Sang
menantu tak bisa membaca ayat pendek karena gugup. Itu karena ia tahu calon
mertuanya ingin mengetahui kesalehan calon mantunya. Stress itulah yang juga dialami
oleh para musisi yang ingin show dan atlet sebelum bertanding. Kecemasan
berkomunikasi itu ada beberapa macam. Dan dalam diagnosis ilmu kecemasan komunikasi
dikenal dengan beberapa istilah. Yang pertama stage fright (demam panggung). Kedua,
speech anxiety (kecemasan bicara). Ketiga, performance strees atau yang lebih umum
strees kerja. Dan gejala-gejala ini yang dirasakan orang-orang itu. Berikut untuk
mengetahui gejala-gejala itu sebagaimana disebutkan dibawah ini;
1. Detak jantung yang cepat
2. telapak tangan atau punggung berkeringat
3. napas terengah-engah
4. mulut kering dan sukar menelan
5. ketegangan otot dada, tangan dan kaki
6. tangan atau kaki bergetar
7. suara bergetar dan parau
8. berbicara cepat dan tidak jelas
9. tidak sanggup mendengar atau konsentrasi
10. lupa atau ingatan hilang.
Gejala- gejala yang bisa merusak presentasi dan ceramah kita itu harus bisa dihilangkan.
Dalam banyak kasus kegagalan seorang pembicara yang tidak mendapat respon audiens
dikarenakan penyakit itu. Dan dalam menghilangkannya pun tidak semudah membalik kan
telapak tangan. Ada yang mengatakan belajar presentasi dengan baik sama dengan orang
belajar menyetir mobil. Saat dilepas oleh gurunya mobil bisa dijalankan sesuai petunjuk
setelah ia belajar. Namun dalam kasus orang bawa mobil pasti ditemui rem tiba-tiba
secara mendadak. Dan sudah pasti bagi yang baru bisa bawa mobil pasti akan lebih parah
daripada mereka yang sudah lancar 100%.
Dalam konteks menghilangkan penyakit itu dibutuhkan cara dan tekhnik yang tepat
dengan memperkaya wawasan dan keilmuan serta latihan ilmu retorika secara intensif.
Rudolp E Busby dan Randall E. Majors dalam Basic Speech Communications memberikan
beberapa resep untuk mengatasi ketegangan pada saat kita mengalami demam panggung
yang sama sebelum berbicara di depan umum. Mengatasi detak jantung yang cepat
dengan tekhnik relaksasi dalam mengendurkan otot-otot Anda. Tangan dan kaki yang
bergetar harus disiasati dengan menggoyang-goyangnya secara perlahan-lahan. Beberapa
tips ini juga bisa ditambah dengan memancing respon audiens terlebih dahulu dengan
sapaan atau dengan bahasa pembuka yang ringan. Jangan lupa tanamkan keberanian dan
senyumlah pada audiens dan tarik napas panjang-panjang sebelum berbicara. Dan harus
segera secara cepat memancing para hadirin sebelum berbicara.
PENUTUP
Bicara yang tepat dan benar serta diterima audiens harus dimiliki oleh setiap orang yang
ingin presentasinya bisa diterima publik. Seorang pembicara harus tahu bagaimana
mengetahui kemauan audiens. Emosi dan karakter audiens juga penting diketahui
terlebih awal sebelum pembicara itu memulai menjelaskan pemikirannya pada audiens
yang dihadapi. Yang juga tak kalah penting gagasan pembicara. Gagasan pembicara
sangat mencerminkan kredibilitas yang disandangnya. Sebaiknya hindari gagasan –gagasan
atau pemikiran diluar kompetensi kita. Seorang dokter tak pas bicara ilmu diluar
kompetensinya pada audiens. Konstruksi berpikir audiens tentang seorang dokter tak bisa
dimanipulasi. Dan dokter ini kemungkinan akan gagal menarik simpati para audiens untuk
mendengar pidato atau ceramah sang dokter tersebut. Atau audien
s akan ngantuk dan malas mendengarnya.****
Oleh : Supardi , SE
PENDAHULUAN
Bicara dan mengungkapkan pikiran pada orang adalah karunia terbesar yang diberikan
Tuhan pada manusia. Hanya manusia yang mampu berkomunikasi secara jelas tentang
apa saja yang ingin disampaikan pada orang lain. Itu yang membuat manusia menjadi
ciptaan yang memiliki kelebihan dibanding ciptaan Tuhan lainnya. Kambing misalnya bisa
mengembik dan harimau mengaung. Namun tetap mereka makhluk hidup yang tidak bisa
membangun peradabannya seperti hidupnya manusia. Kelebihan itupula yang membuat
manusia bisa menjalin komunikasi dalam rentang zaman yang panjang sampai sekarang.
Dalam literatur yang ada, tekhnik berbicara sudah dipelajari sejak zaman Yunani dan
Romawi kuno.
Di zaman-zaman itu, tekhnik berbicara menjadi alat yang penting yang harus dipelajari
orang. Dalam literatur yang ada, ilmu itu dikenal dengan ilmu retorika. Ilmu ini sama
tuanya dengan kelahiran manusia dimuka bumi. Pada masa itu retorika dipakai sebagai
salah satu alat elit kerajaan mempertahankan kekuasaannya dari musuh-musuh yang ada.
Artinya selain perang, kerajaan juga membentengi kepentingannya dengan membayar
ahli-ahli retorika dalam menghadapi ancaman musuh. Musuh yang kerap
mempersengketakan tanah pada kerajaan yang ada. Dan biasanya diselesaikan dalam
ruang debat yang dihadiri oleh massa yang begitu banyak. Persis seperti arena
pertandingan tinju. Yang paling unggul dan menang adalah pihak yang terampil dalam
ilmu retorika. Itu artinya yang memenangkan perkara tidak pada salah benarnya suatu
kasus. Namun yang menang yaitu pihak yang paling cerdas bersilat lidah. Itu karena saat
itu orang belum kenal dunia pengacara seperti zaman kita sekarang.
Pada perang dunia kedua, sang orator ulung yang berpangkat kopral naik menjadi kaisar
Jerman karena kepiawaiannya dalam berbicara. Kopral itu bernama Hitler. Kata-katanya
bahwa ; “ setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan
oleh jago-jago tulisan”. Atau dalam bahasa Jerman Jede grosse Bewegung auf dieser
Erde verdankt ihr Wachsen den grosseren Rednern und nicht den grossen Screibern. Dan
masih dalam bicara, ditemukan 75% aktifitas yang dihabiskan manusia sehari-hari yaitu
aktifitas komunikasi. Dale Carnegie punya penilain tersendiri pada aktifitas komunikasi
ini. Menurutnya, seseorang yang terpelajar dan kurang ajar sangat bisa di nilai dari
bicaranya.
Bicara lagi-lagi memiliki peran penting yang harus dipelajari. Bicara tidak saja
menunjukan identitas bangsa seseorang. Namun bicara juga sangat penting mengukur
karakter seseorang. Sebaiknya orang mencocokan tutur bahasanya dengan pantas, baru ia
mau mencocokan pantas tidaknya pakaian yang ia kenakan. Bicara memang adalah bakat
bawaan setiap orang. Namun ketrampilan bicara dengan baik dan benar membutuhkan
latihan tersendiri.
LATIHAN BICARA
Masih di zaman SM (Yunani dan Romawi), menjadi orator ulung butuh kerja keras yang
tidak mudah. Mereka harus menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan ilmu
retorika dari guru-guru terkenal. Dan karena itu mempelajari ilmu itu hanya bisa
diperoleh oleh orang-orang tertentu. Atau hanya kasta tinggi atau elit-elit kerajaan yang
bisa memperoleh ilmu retorika secara berkualitas. Aristoteles yang dikenal filosof salah
satu yang tidak tuntas mempelajari ilmu retorika akibat beratnya biaya yang harus
dibayar pada guru-guru ilmu retorika yang ada pada zaman itu. Di zaman itu juga banyak
dari para orator ulung yang harus belajar berpuluh-puluh tahun di gua yang dibuat demi
mendalami ilmu retorika secara dalam. Mereka terpaksa mengisolasi diri demi
paripurnanya ilmu itu saat turun dari gua nanti. Mereka belajar berolah vokal mulai dari
intonasi suara hingga gerak-gerik dan mimik wajah di selaraskan dengan suara yang ada.
Itu dilakukan secara terus-menerus hingga memakan waktu berpuluh-puluh tahun di gua.
Hasil yang diperoleh selama upaya itu sangat luar biasa. Mereka turun dari gua dengan
menguasai kota-kota dan kerajaan dengan keahlian retorika secara mengagumkan.
Di era modern banyak sekali tokoh-tokoh yang karirnya cemerlang karena kemampuannya
menyampaikan pemikirannya secara mengesankan pada publik. Salah satu sample
kesuksesan itu adalah presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang mampu meredam
emosi kaum kulit hitam pada saat ia menyampaikan pidatonya dalam suasana duka kaum
kulit hitam terhadap matinya tokoh kulit hitam Marthen Luther King karena dibunuh oleh
kaum kulit putih. Massa kaum kulit hitam yang sedang antipati menjadi reda’ saat
mendengar pidato Kennedy. Kennedy mampu meredakan emosi kaum kulit hitam karena
kebencian mereka pada tindakan kaum kulit putih itu. Presiden AS itu mengucapkan
belasungkawa dan apresiasi pada perjuangan kemanusiaan Marthen Luther King sebagai
pahlawan kemanusiaan. Dia berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Marthen
Luther King adalah sebuah upaya untuk mengajarkan tentang betapa pentingnya
menghargai kemanusiaan ditengah-tengah heterogenitas bangsa Amerika untuk melawan
diskriminasi rasial yang ada pada zaman itu.
Pidato John F . Kennedy itu tercatat sebagai orator ulung karena ia sendiri berkulit
putih. Dan kerumunan yang penuh emosi dan kebencian para kaum kulit hitam itu segera
berubah memuja Kennedy. Massa pun pulang dan bubar secara baik-baik setelah
mendengar pidato presiden Kennedy yang menyentuh nurani mereka semua. Itu contoh
dari kesuksesan seorang orator atau pembicara yang mampu membaca emosi dan
perasaan audiensnya.
Kembali pada kefasihan bicara yang mutlak dimiliki para pemimpin. Belajar untuk bisa
menyampaikan gagasan kita pada orang tak perlu lagi seperti pada masa lampau. Jika
pada masa Aristoteles belajar retorika begitu susah. Dimana kita harus tidur di gua yang
dikelilingi oleh binatang buas seperti ular dan harus digigit nyamuk yang sangat
berbahaya. Dan juga hanya bisa dipelajari oleh orang-orang berpunya dan berkasta
kebangsaan. Maka ilmu itu kini dapat dipelajari oleh siapa saja. Dan kita tidak perlu
harus menginap di gua. Namun kita cukup punya kemauan dan mau belajar ilmu ini
dengan benar dan sungguh-sungguh saja. Dan ilmu ini tidak lagi menjadi milik
sekelompok orang saja. Atau milik penguasa atau politisi. Namun para entrepreneur juga
membutuhkan ilmu ini dalam mempengaruhi orang lain. Jadi ilmu ini tidak saja sebagai
alat mempengaruhi rakyat bagi para politisi dan pemerintah . Namun juga beguna bagi
para pelaku bisnis dalam memasarkan produknya pada konsumen.
Singkatnya, para orator, pembicara hebat yang pernah kita kenal pasti pernah belajar
ilmu ini. Dan dari mereka itu banyak cara yang dipakai dalam membantu kefasihan
mereka berkomunikasi, baik sebagai pribadi dengan pribadi maupun dengan audiens atau
massa. Salah satu cara yaitu berlatih di depan cermin atau ruangan yang tidak
mengganggu orang lain secara terus menerus. Hollingsworth di dalam bukunya yang
berjudul The Psychology of the Audience punya kiat dalam mempengaruhi audiens
tertarik pada apa yang kita sampaikan. Perhatian harus dipertahankan dengan
membangkitkan minat khalayak. Dianjurkan untuk menyisipkan cerita lucu, penggunaan
bahasa yang baik dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan tambahan perhatian.
KIAT MENGATASI KEPANIKAN KOMUNIKASI
Tidak jarang sikap gugup atau demam panggung dialami seseorang dalam presentasi atau
ceramah yang ia sampaikan. Mereka yang mengalami masalah itu datang dari siapa saja.
Tidak saja pada orang-orang biasa. Namun pada mereka yang terbiasa berbicara atau
berpidato pun bisa mengalami demam panggung. Penyakit itu dikenal dengan nama
penyakit kepanikan komunikasi (KK). Dalam teori mereka mungkin bisa berbicara lancar
pada waktu biasa. Atau tidak gugup bicara di depan teman-teman sendiri. Namun pada
saat bicara di depan khalayak banyak penyakit demam panggung ini baru muncul. Contoh
KK dalam membacakan ayat suci seorang calon menantu di depan mertuanya. Sang
menantu tak bisa membaca ayat pendek karena gugup. Itu karena ia tahu calon
mertuanya ingin mengetahui kesalehan calon mantunya. Stress itulah yang juga dialami
oleh para musisi yang ingin show dan atlet sebelum bertanding. Kecemasan
berkomunikasi itu ada beberapa macam. Dan dalam diagnosis ilmu kecemasan komunikasi
dikenal dengan beberapa istilah. Yang pertama stage fright (demam panggung). Kedua,
speech anxiety (kecemasan bicara). Ketiga, performance strees atau yang lebih umum
strees kerja. Dan gejala-gejala ini yang dirasakan orang-orang itu. Berikut untuk
mengetahui gejala-gejala itu sebagaimana disebutkan dibawah ini;
1. Detak jantung yang cepat
2. telapak tangan atau punggung berkeringat
3. napas terengah-engah
4. mulut kering dan sukar menelan
5. ketegangan otot dada, tangan dan kaki
6. tangan atau kaki bergetar
7. suara bergetar dan parau
8. berbicara cepat dan tidak jelas
9. tidak sanggup mendengar atau konsentrasi
10. lupa atau ingatan hilang.
Gejala- gejala yang bisa merusak presentasi dan ceramah kita itu harus bisa dihilangkan.
Dalam banyak kasus kegagalan seorang pembicara yang tidak mendapat respon audiens
dikarenakan penyakit itu. Dan dalam menghilangkannya pun tidak semudah membalik kan
telapak tangan. Ada yang mengatakan belajar presentasi dengan baik sama dengan orang
belajar menyetir mobil. Saat dilepas oleh gurunya mobil bisa dijalankan sesuai petunjuk
setelah ia belajar. Namun dalam kasus orang bawa mobil pasti ditemui rem tiba-tiba
secara mendadak. Dan sudah pasti bagi yang baru bisa bawa mobil pasti akan lebih parah
daripada mereka yang sudah lancar 100%.
Dalam konteks menghilangkan penyakit itu dibutuhkan cara dan tekhnik yang tepat
dengan memperkaya wawasan dan keilmuan serta latihan ilmu retorika secara intensif.
Rudolp E Busby dan Randall E. Majors dalam Basic Speech Communications memberikan
beberapa resep untuk mengatasi ketegangan pada saat kita mengalami demam panggung
yang sama sebelum berbicara di depan umum. Mengatasi detak jantung yang cepat
dengan tekhnik relaksasi dalam mengendurkan otot-otot Anda. Tangan dan kaki yang
bergetar harus disiasati dengan menggoyang-goyangnya secara perlahan-lahan. Beberapa
tips ini juga bisa ditambah dengan memancing respon audiens terlebih dahulu dengan
sapaan atau dengan bahasa pembuka yang ringan. Jangan lupa tanamkan keberanian dan
senyumlah pada audiens dan tarik napas panjang-panjang sebelum berbicara. Dan harus
segera secara cepat memancing para hadirin sebelum berbicara.
PENUTUP
Bicara yang tepat dan benar serta diterima audiens harus dimiliki oleh setiap orang yang
ingin presentasinya bisa diterima publik. Seorang pembicara harus tahu bagaimana
mengetahui kemauan audiens. Emosi dan karakter audiens juga penting diketahui
terlebih awal sebelum pembicara itu memulai menjelaskan pemikirannya pada audiens
yang dihadapi. Yang juga tak kalah penting gagasan pembicara. Gagasan pembicara
sangat mencerminkan kredibilitas yang disandangnya. Sebaiknya hindari gagasan –gagasan
atau pemikiran diluar kompetensi kita. Seorang dokter tak pas bicara ilmu diluar
kompetensinya pada audiens. Konstruksi berpikir audiens tentang seorang dokter tak bisa
dimanipulasi. Dan dokter ini kemungkinan akan gagal menarik simpati para audiens untuk
mendengar pidato atau ceramah sang dokter tersebut. Atau audien
s akan ngantuk dan malas mendengarnya.****
Langganan:
Postingan (Atom)

