Kamis, 19 Juli 2012

TEKNIK BERBICARA DAN BERSIKAP DI DEPAN PUBLIK

TEKNIK BERBICARA DAN BERSIKAP DI DEPAN PUBLIK
Oleh : Supardi , SE
PENDAHULUAN
Bicara dan mengungkapkan pikiran pada orang adalah karunia terbesar yang diberikan
Tuhan pada manusia. Hanya manusia yang mampu berkomunikasi secara jelas tentang
apa saja yang ingin disampaikan pada orang lain. Itu yang membuat manusia menjadi
ciptaan yang memiliki kelebihan dibanding ciptaan Tuhan lainnya. Kambing misalnya bisa
mengembik dan harimau mengaung. Namun tetap mereka makhluk hidup yang tidak bisa
membangun peradabannya seperti hidupnya manusia. Kelebihan itupula yang membuat
manusia bisa menjalin komunikasi dalam rentang zaman yang panjang sampai sekarang.
Dalam literatur yang ada, tekhnik berbicara sudah dipelajari sejak zaman Yunani dan
Romawi kuno.
Di zaman-zaman itu, tekhnik berbicara menjadi alat yang penting yang harus dipelajari
orang. Dalam literatur yang ada, ilmu itu dikenal dengan ilmu retorika. Ilmu ini sama
tuanya dengan kelahiran manusia dimuka bumi. Pada masa itu retorika dipakai sebagai
salah satu alat elit kerajaan mempertahankan kekuasaannya dari musuh-musuh yang ada.
Artinya selain perang, kerajaan juga membentengi kepentingannya dengan membayar
ahli-ahli retorika dalam menghadapi ancaman musuh. Musuh yang kerap
mempersengketakan tanah pada kerajaan yang ada. Dan biasanya diselesaikan dalam
ruang debat yang dihadiri oleh massa yang begitu banyak. Persis seperti arena
pertandingan tinju. Yang paling unggul dan menang adalah pihak yang terampil dalam
ilmu retorika. Itu artinya yang memenangkan perkara tidak pada salah benarnya suatu
kasus. Namun yang menang yaitu pihak yang paling cerdas bersilat lidah. Itu karena saat
itu orang belum kenal dunia pengacara seperti zaman kita sekarang.
Pada perang dunia kedua, sang orator ulung yang berpangkat kopral naik menjadi kaisar
Jerman karena kepiawaiannya dalam berbicara. Kopral itu bernama Hitler. Kata-katanya
bahwa ; “ setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan
oleh jago-jago tulisan”. Atau dalam bahasa Jerman Jede grosse Bewegung auf dieser
Erde verdankt ihr Wachsen den grosseren Rednern und nicht den grossen Screibern. Dan
masih dalam bicara, ditemukan 75% aktifitas yang dihabiskan manusia sehari-hari yaitu
aktifitas komunikasi. Dale Carnegie punya penilain tersendiri pada aktifitas komunikasi
ini. Menurutnya, seseorang yang terpelajar dan kurang ajar sangat bisa di nilai dari
bicaranya.
Bicara lagi-lagi memiliki peran penting yang harus dipelajari. Bicara tidak saja
menunjukan identitas bangsa seseorang. Namun bicara juga sangat penting mengukur
karakter seseorang. Sebaiknya orang mencocokan tutur bahasanya dengan pantas, baru ia
mau mencocokan pantas tidaknya pakaian yang ia kenakan. Bicara memang adalah bakat
bawaan setiap orang. Namun ketrampilan bicara dengan baik dan benar membutuhkan
latihan tersendiri.
LATIHAN BICARA
Masih di zaman SM (Yunani dan Romawi), menjadi orator ulung butuh kerja keras yang
tidak mudah. Mereka harus menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan ilmu
retorika dari guru-guru terkenal. Dan karena itu mempelajari ilmu itu hanya bisa
diperoleh oleh orang-orang tertentu. Atau hanya kasta tinggi atau elit-elit kerajaan yang
bisa memperoleh ilmu retorika secara berkualitas. Aristoteles yang dikenal filosof salah
satu yang tidak tuntas mempelajari ilmu retorika akibat beratnya biaya yang harus
dibayar pada guru-guru ilmu retorika yang ada pada zaman itu. Di zaman itu juga banyak
dari para orator ulung yang harus belajar berpuluh-puluh tahun di gua yang dibuat demi
mendalami ilmu retorika secara dalam. Mereka terpaksa mengisolasi diri demi
paripurnanya ilmu itu saat turun dari gua nanti. Mereka belajar berolah vokal mulai dari
intonasi suara hingga gerak-gerik dan mimik wajah di selaraskan dengan suara yang ada.
Itu dilakukan secara terus-menerus hingga memakan waktu berpuluh-puluh tahun di gua.
Hasil yang diperoleh selama upaya itu sangat luar biasa. Mereka turun dari gua dengan
menguasai kota-kota dan kerajaan dengan keahlian retorika secara mengagumkan.
Di era modern banyak sekali tokoh-tokoh yang karirnya cemerlang karena kemampuannya
menyampaikan pemikirannya secara mengesankan pada publik. Salah satu sample
kesuksesan itu adalah presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang mampu meredam
emosi kaum kulit hitam pada saat ia menyampaikan pidatonya dalam suasana duka kaum
kulit hitam terhadap matinya tokoh kulit hitam Marthen Luther King karena dibunuh oleh
kaum kulit putih. Massa kaum kulit hitam yang sedang antipati menjadi reda’ saat
mendengar pidato Kennedy. Kennedy mampu meredakan emosi kaum kulit hitam karena
kebencian mereka pada tindakan kaum kulit putih itu. Presiden AS itu mengucapkan
belasungkawa dan apresiasi pada perjuangan kemanusiaan Marthen Luther King sebagai
pahlawan kemanusiaan. Dia berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Marthen
Luther King adalah sebuah upaya untuk mengajarkan tentang betapa pentingnya
menghargai kemanusiaan ditengah-tengah heterogenitas bangsa Amerika untuk melawan
diskriminasi rasial yang ada pada zaman itu.
Pidato John F . Kennedy itu tercatat sebagai orator ulung karena ia sendiri berkulit
putih. Dan kerumunan yang penuh emosi dan kebencian para kaum kulit hitam itu segera
berubah memuja Kennedy. Massa pun pulang dan bubar secara baik-baik setelah
mendengar pidato presiden Kennedy yang menyentuh nurani mereka semua. Itu contoh
dari kesuksesan seorang orator atau pembicara yang mampu membaca emosi dan
perasaan audiensnya.
Kembali pada kefasihan bicara yang mutlak dimiliki para pemimpin. Belajar untuk bisa
menyampaikan gagasan kita pada orang tak perlu lagi seperti pada masa lampau. Jika
pada masa Aristoteles belajar retorika begitu susah. Dimana kita harus tidur di gua yang
dikelilingi oleh binatang buas seperti ular dan harus digigit nyamuk yang sangat
berbahaya. Dan juga hanya bisa dipelajari oleh orang-orang berpunya dan berkasta
kebangsaan. Maka ilmu itu kini dapat dipelajari oleh siapa saja. Dan kita tidak perlu
harus menginap di gua. Namun kita cukup punya kemauan dan mau belajar ilmu ini
dengan benar dan sungguh-sungguh saja. Dan ilmu ini tidak lagi menjadi milik
sekelompok orang saja. Atau milik penguasa atau politisi. Namun para entrepreneur juga
membutuhkan ilmu ini dalam mempengaruhi orang lain. Jadi ilmu ini tidak saja sebagai
alat mempengaruhi rakyat bagi para politisi dan pemerintah . Namun juga beguna bagi
para pelaku bisnis dalam memasarkan produknya pada konsumen.
Singkatnya, para orator, pembicara hebat yang pernah kita kenal pasti pernah belajar
ilmu ini. Dan dari mereka itu banyak cara yang dipakai dalam membantu kefasihan
mereka berkomunikasi, baik sebagai pribadi dengan pribadi maupun dengan audiens atau
massa. Salah satu cara yaitu berlatih di depan cermin atau ruangan yang tidak
mengganggu orang lain secara terus menerus. Hollingsworth di dalam bukunya yang
berjudul The Psychology of the Audience punya kiat dalam mempengaruhi audiens
tertarik pada apa yang kita sampaikan. Perhatian harus dipertahankan dengan
membangkitkan minat khalayak. Dianjurkan untuk menyisipkan cerita lucu, penggunaan
bahasa yang baik dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan tambahan perhatian.
KIAT MENGATASI KEPANIKAN KOMUNIKASI
Tidak jarang sikap gugup atau demam panggung dialami seseorang dalam presentasi atau
ceramah yang ia sampaikan. Mereka yang mengalami masalah itu datang dari siapa saja.
Tidak saja pada orang-orang biasa. Namun pada mereka yang terbiasa berbicara atau
berpidato pun bisa mengalami demam panggung. Penyakit itu dikenal dengan nama
penyakit kepanikan komunikasi (KK). Dalam teori mereka mungkin bisa berbicara lancar
pada waktu biasa. Atau tidak gugup bicara di depan teman-teman sendiri. Namun pada
saat bicara di depan khalayak banyak penyakit demam panggung ini baru muncul. Contoh
KK dalam membacakan ayat suci seorang calon menantu di depan mertuanya. Sang
menantu tak bisa membaca ayat pendek karena gugup. Itu karena ia tahu calon
mertuanya ingin mengetahui kesalehan calon mantunya. Stress itulah yang juga dialami
oleh para musisi yang ingin show dan atlet sebelum bertanding. Kecemasan
berkomunikasi itu ada beberapa macam. Dan dalam diagnosis ilmu kecemasan komunikasi
dikenal dengan beberapa istilah. Yang pertama stage fright (demam panggung). Kedua,
speech anxiety (kecemasan bicara). Ketiga, performance strees atau yang lebih umum
strees kerja. Dan gejala-gejala ini yang dirasakan orang-orang itu. Berikut untuk
mengetahui gejala-gejala itu sebagaimana disebutkan dibawah ini;
1. Detak jantung yang cepat
2. telapak tangan atau punggung berkeringat
3. napas terengah-engah
4. mulut kering dan sukar menelan
5. ketegangan otot dada, tangan dan kaki
6. tangan atau kaki bergetar
7. suara bergetar dan parau
8. berbicara cepat dan tidak jelas
9. tidak sanggup mendengar atau konsentrasi
10. lupa atau ingatan hilang.
Gejala- gejala yang bisa merusak presentasi dan ceramah kita itu harus bisa dihilangkan.
Dalam banyak kasus kegagalan seorang pembicara yang tidak mendapat respon audiens
dikarenakan penyakit itu. Dan dalam menghilangkannya pun tidak semudah membalik kan
telapak tangan. Ada yang mengatakan belajar presentasi dengan baik sama dengan orang
belajar menyetir mobil. Saat dilepas oleh gurunya mobil bisa dijalankan sesuai petunjuk
setelah ia belajar. Namun dalam kasus orang bawa mobil pasti ditemui rem tiba-tiba
secara mendadak. Dan sudah pasti bagi yang baru bisa bawa mobil pasti akan lebih parah
daripada mereka yang sudah lancar 100%.
Dalam konteks menghilangkan penyakit itu dibutuhkan cara dan tekhnik yang tepat
dengan memperkaya wawasan dan keilmuan serta latihan ilmu retorika secara intensif.
Rudolp E Busby dan Randall E. Majors dalam Basic Speech Communications memberikan
beberapa resep untuk mengatasi ketegangan pada saat kita mengalami demam panggung
yang sama sebelum berbicara di depan umum. Mengatasi detak jantung yang cepat
dengan tekhnik relaksasi dalam mengendurkan otot-otot Anda. Tangan dan kaki yang
bergetar harus disiasati dengan menggoyang-goyangnya secara perlahan-lahan. Beberapa
tips ini juga bisa ditambah dengan memancing respon audiens terlebih dahulu dengan
sapaan atau dengan bahasa pembuka yang ringan. Jangan lupa tanamkan keberanian dan
senyumlah pada audiens dan tarik napas panjang-panjang sebelum berbicara. Dan harus
segera secara cepat memancing para hadirin sebelum berbicara.
PENUTUP
Bicara yang tepat dan benar serta diterima audiens harus dimiliki oleh setiap orang yang
ingin presentasinya bisa diterima publik. Seorang pembicara harus tahu bagaimana
mengetahui kemauan audiens. Emosi dan karakter audiens juga penting diketahui
terlebih awal sebelum pembicara itu memulai menjelaskan pemikirannya pada audiens
yang dihadapi. Yang juga tak kalah penting gagasan pembicara. Gagasan pembicara
sangat mencerminkan kredibilitas yang disandangnya. Sebaiknya hindari gagasan –gagasan
atau pemikiran diluar kompetensi kita. Seorang dokter tak pas bicara ilmu diluar
kompetensinya pada audiens. Konstruksi berpikir audiens tentang seorang dokter tak bisa
dimanipulasi. Dan dokter ini kemungkinan akan gagal menarik simpati para audiens untuk
mendengar pidato atau ceramah sang dokter tersebut. Atau audiens akan ngantuk dan malas mendengarnya.****




Selasa, 17 Juli 2012

“ Peranan Mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan “

 


Mahasiswa, bukan lagi seorang siswa biasa yang menuntut ilmu di institusi pendidikan (SD, SMP, SMA) seperti yang pernah kita lewati, tambahan kata‘ maha ‘, sebelum kata ‘ siswa ‘ memberikan identitas yang berbeda. Identitas tersebut tidak didapatkan dengan mudah, namun didapatkan dengan perjuangan , letih , dan kesabaran dalam menempuh suatu ujian penjaringan mahasiswa baru. Maka tidak terlalu berlebihan jika menganggap identitas mahasiswa sebagai simbol kemenangan para juara. Mahasiswa yang terpilih memiliki potensi sebagai pemikir, tenaga ahli , professional, sekaligus sebagai penopang pembangunan bangsa.


Disamping itu, mahasiswa juga sering disebut-sebut sebagai ‘ agent of change ‘, calon pemimpin masa depan , pembawa nilai-nilai peradaban, dsb. Banyak perubahan besar , dan nilai-nilai sejarah yang ditorehkan di negeri ini senantiasa menempatkan mahasiswa pada posisi yang terhormat. Kemauan yang keras dan senantiasa menggelora dalam dirinya mampu menular kedalam jiwa bangsanya.

Harapan keluarga, harapan masyarakat, harapan bangsa, harapan Negara, bahkan harapan dunia tertumpu pada pundak mahasiswa. Mahasiswa seringkali dianggap sebagai jembatan nurani masyarakat banyak yang mampu mewakili aspirasi masyarakat.

Oleh karena itu, seiring dengan identitas yang melekat padanya , ada peran-peran yang harus dilaksanakan sebagai konsekuensi logis dan konsekuensi otomatis dari identitas tersebut, mahasiswa dituntut melakukan sesuatu yang seharusnya dikerjakan,untuk semua harapan yang tertumpu padanya.

Dari aspek akademis, tuntutan peran mahasiswa hanya ada satu , yakni belajar !. Karena konsekuensi identitas mahasiswa dalam aspek lainnya merupakan turunan dari proses pembelajaran.Belajar merupakan tugas inti !

Namun, tidak semua hal bisa dipelajari di ruang kuliah atau labolatorium. Sangat banyak hal yang harus kita pelajari diluar itu semua, dan salah satu wadah utama yang menyediakan kebutuhan itu ialah organisasi. Organisasi kemahasiswaan diantaranya, yang dengan luar biasa dapat memberikan kita kesempatan untuk mengembangkan diri dalam berbagai aspek. Aspek kepemimpinan, manajemen organisasi, team building , networking & human relation dapat kita kembangkan disini. Organisasi juga merupakan tempat kita mengaplikasikan ilmu yang kita peroleh di tempat kuliah.

Organisasi kemahasiswaan adalah wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan dan peningkatan kecendekiawanan serta integritas kepribadian yang disiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan yang dapat diterapkan, dikembangkan , dan diupayakan penggunaanya untuk meningkatkan tarap kehidupan masyarakat. Diselenggarakan berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa dengan memberikan peranan dan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa.

Apa yang kita lakukan dalam organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah pembelajaran, perjuangan untuk bisa memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dalam perannya sebagai masyarakat suatu bangsa, mahasiswa juga dituntut untuk peduli, sadar dan merasakan kondisi nyata masyarakatnya yang sedang mengalami krisis multidimensional, serta mengekspresikan rasa empatinya tersebut dalam suatu aksi. Ketika meyakini kebenaran, mahasiswa sejati akan memberi secara ikhlas tanpa pamrih, berjuang sepenuh hati dan jiwa mereka. Daya analisis yg kuat didukung dengan spesialisasi keilmuan yang dipelajari menjadikan kekritisan mereka berbasis intelektual.

Kampus merupakan gambaran dari masyarakat sesungguhnya karena memiliki kemiripan kompleksitas permasalahan serta struktur sosial dengan masyarakat sebenarnya. Ajang simulasi yang baik bagi mahasiswa untuk mendapatkan bekal ketika benar-benar terlibat dan terjun ke masyarakat yang sesungguhnya.

Mahasiswa seringkali menjadi pemicu dan pemacu perubahan-perubahan dalam masyarakat. Perubahan yang diinisiasi mahasiswa terjadi dalam bentuk teoritis maupun praktis. Contohnya adalah mahasiswa menyususn system organisasi kemahasiswaannya secara desentralisasi (otonomi), di kemudian hari Negara pun memberlakukan system otonomi daerah. Dalam kasus lain, mahasiswa menginisiasi pemilihan langsung presiden mahasiswa, kini presiden Indonesia pun dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia.

Aktifitas kemahasiswaan adalah tahapan dimana seorang mahasiswa menimba ilmu dan pengalaman semasa di bangku kuliah. Aktualisasi dirinya dalam rangka pembelajaran guna diaplikasikan di kehidupan yang akan datang.

Belum pantas seseorang disebut mahasiswa tanpa memenuhi konsekuensi-konsekuensi dari identitas yang melekat pada diri seorang mahasiswa. Pemenuhan keseluruhan konsekuensi identitas tersebut menjadikan mahasiswa memiliki kebermaknaan sebagai mahasiswa, mahasiswa sebenarnya, mahasiswa seutuhnya, bukan hanya sekedar mahasiswa !!

RETORIKA






A. Pengertian Retorika

Retorika adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.
Dua aspek penting dalam retorika adalah; pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik.
Studi tentang retorika mempengaruhi kebudayaan Eropa mulai jaman kuno hingga abad XVII M. Pada abad XVII, retorika dianggap tidak penting lagi. Pada abad XX kembali mengambil tempat lagi sebagai cara untuk menyajikan berbagai macam bidang pengetahuan dalam bahasa yang baik dan efektif.
Retorika menitiberatkan pada seni oratori atau teknik berpidato.

Beberapa pengertian retorika modern:
Tujuan retorika untuk menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau ceramah,untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang.
Prinsip-prinsip mengenai komposisi pidato yang persuasif dan efektif, maupun ketrampilan yang harus dimiliki seorang orator.

Prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya, baik yang dimaksudkan untuk penyajian lisan maupun untuk penyajian tertulis, entah yang bersifat fiktif atau yang bersifat ilmiah.
Kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal, baik prosa maupun puisi, beserta upaya-upaya yang digunakan dalam kedua jenis komposisi verbal tersebut.

B. Jaman Yunani

Retorika mula-mula tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad V dan IV sebelum Masehi.
Pengertian asli retorika adalah sebuah telaah atau studi simpatik tentang oratoria.
Orang yang pertama-tama dianggap memperkenalkan oratori adalah orang Yunani Sicilia, tetapi tokoh pendiri sebenarnya adalah Corax dari Sirakusa (500 SM) yang meletakkan sistematika oratori atas lima bagian, yaitu:
Poem atau pengantar dari pidato yang akan disampaikan.
Diegesis atau Narratio: bagian yang mengandung uraian tentang pokok persoalan yang akan disampaikan.
Agon atau argumen; bagian pidato yang mengemukakan bukti-bukti mengenai pokok persoalan yang dikemukakan tersebut.
Parekbaksis atau Digressio; catatan pelengkap yang mengemukakan keterangan-keterangan lainnya yang dianggap perlu untuk menjelaskan persoalan tadi.
Peroratio; bagian penutup pidato yang mengemukakan kesimpulan dan saran-saran.
Terdapat tiga kontroversi tentang retorika yaitu: (1) menyangkut persoalan pemakaian unsur stilistika, (2) masalah hubungan antar retorika dan moral, dan (3) masalah pendidikan.
Kontroversi pertama: terdapat tiga aliran, yaitu: menyetujui penggunaan unsur-unsur stilistika, yang menolak, berada di luar kedua aliran pertama.
Gorgias dan Leontini, mula-mula memperkenalkan retorika pada orang Athena (42 SM) yang berpendapat perlu menggunakan upaya-upaya stilistika dalam retorika seperti: epitet-epitet penuh hiasan, antitese-antitese, terminasi (akhir kata) penuh ritme dan bersajak yang terdapat pada pidato maupun narasi historis Thucydides dan argumentasi sandiwara dari Euripides. Pemakaian unsur stilistika yang berlebihan tersebut dianggap berlebihan oleh Lysias yang menyukai gaya simple. Kemudian kedua teori tersebut dimentahkan oleh Demosthenes.
Kontroversi kedua menyangkut masalah retorika dan moral; Gorgias mengemukanan bahwa dalam berpidato, seorang orator harus bermoral, karenanya retorika dianggap tiadak perlu/mubazir.
Kontroversi ketiga: terdapat pada bidang pendidikan. Retorika memicu para ahli retorika untuk memasukkan kurikulum yang berbeda dalam materi tersebut.
Isocrates (perimasukkan pertengahan abad IV): aspek-aspek politik dapat dimasukkan dalam retorika.
Gorgias: membicarakan masalah etika dan politik
Phaeradus: membicarakan etika dan mistik.
Sokrates: memaklumkan retorika sebagai seni dangkal yang mengambil bagian dalam ilmu fillsafat
Aristoteles: Logika formal merupakan dasar yang tepat bagi pidato yang jujur  dan efektif baik dalam dewan legislatif maupun pengadilan. Kemudian dalam buku Rhetorica, aristoteles membedakan tiga jenis pidato:
a.   Pidato yudisial (legal/forensik), mengenai perkara di pengadilan yang menyangkut apa yang terjadi dan tidak pernah terjadi.
b.   PidatoPidato deliberatif (politik/suasoria), berisi nasihat yang disampaiakn penasihat mengenai hal yang patut dan tidak patut dilakukan.
c.   Pidato epideiktik (demonstratif), untuk pementasan  dan upacara-upacara ibadah berisi tentang kecaman dan pujian yang terjadi sekarang.

C. Jaman Romawi (300 sebelum Masehi -130 Masehi)
Retorika pada Jaman ini dibawa dan diajarkan oleh seorang budak Yunani Livius Andronicus (284-204 SM). Ahli-ahli retorika  yang terkenal pada jaman Romawi adalah: Appius Claudius Caecus (300 SM), Cato de Censoris, Ser. Sulpicius Galba, Caius Grechus, Marcus Antonius, dan Lucius Licinius Crassus.
Dua orang guru retorika Romawi yang terkenal adalah Cicero dan Quintilianus.  M. Tullius Cicero menghasilkan tiga karya: De oratore (prinsip-prinsip oratori terbagi tiga: a. studi yang diperlukan orator; b. penggarapan topic pidato; c. bentuk penyajian sebuah pidato), Brutus dan Orator.
Karya terakhir yang terkenal pada jaman ini adalah: Institutio Oratoria kaeya  Fabius Quintilianus.

D. Metode Retorika Klasik
Ada beberapa pokok masalah retorika, antara lain: (1) seni retorika, (2) masalah pidato, (3) situasi yang menimbulkan pidato.
Seni retorika. Terdapat lima langkah pembagian:
-   Inventio/Heuresis: penemuan atau penelitian materi-materi yang mencangkup: menemukan, mengumpulkan, menganalisa, memilih materi yang cocok untuk berpidato. Menurut Aristoteles argumen-argumen harus dicari melalui rasio, moral dan afeksi.
-   Dispositio/Taxis/Oikonomia: penyusunan dan pengurutan materi (argumen) dalam sebuah pidato.
-   Elocutio atau Lexis: pengungkapan atau penyajian gagasan dalam bahasa yang sesuai. Ada tiga hal yang menjadi dasar elucutio: komposisi, kejelasan, langgam bahasa dari pidato; kerapian, kemurnian, ketajaman dan kesopanan dalam bahasa; kemegahan, hiasan pikiran dengan upaya retorika.
-   Memoria/mneme: menghafalkan pidato, yaitu latihan untuk mengingat gagasan-gagasan dalam pidato yang sudah disusun.
-   Actio/Hypokrisis: menyajikan pidato. Penyajian yang efektif dari sebuah pidatoakan ditentukan juga oleh suara, sikap dan gerak-gerik.
b.   Masalah pidato. Aristoteles, Cicero dan Quintilianus membagi pidato atas lima bagian:
-         Poem/exordium: bagian pembukaan/introduksi (jelas,sopan, singkat)
-         Narratio/dicgesis: pernyataan mengenai kasus yang dibicarakan. Mengandung pernyataan mengenai fakta-fakta awal yang jelas, dipercaya, singkat dan menyenangkan.
-         Agon/Argumen: menyajikan fakta-fakta atau bukti untuk membuktikan masalah atau kasus yang sedang dibicarakan.
-         Refutatio/Lysis: bagian yang menolak fakta-fakta yang berlawanan. Pembicara menunjukkan bahwa keberatan-keberatan yang bersifat absurd,palsu/ tidak konsisten.
-         Peroratio/epilogos: kesimpulan atau suatu rekapitulasi dari apa yang telah dikemukakan dengan suatu appeal emosional pada pendengar.
c.   Situasi yang menimbulkan pidato
Merupakan semua faktor luar yang dapat mempengaruhi penyusunan pidato, cara membawakan pidato, untuk mencapai hasil yang optimal. Situasi juga mencangkup psikologi pendengar, tujuan pidato, sifat umum dan khusus pidato.
Metode Pendidikan Retorika meliputi: imitasi dan deklamasi
  1. Imitasi
Merupakan cara untuk melatih membawakan pidato-pidato dengan meniru cara-cara yang biasa digunakan orator-orator klasik. Karya terkenal pada masa itu adalah Progymnasmata (Hermogenes (c. 150 AD) dari Tarsus, dan buku Antonius (c.400 AD), seorang murid Libanius dari Antiokia.
Deklamasi
Merupakan metode untuk menemukan suatu pokok persoalan yang dipergunakan dalam latihan akademis.
Dasar Latihan, merupakan teknik melatih diri untuk mencapai inti persoalan atau hal aktual yang sedang dihadapi.

E. Abad Pertengahan (V-XV)
Pada jaman Romawi, para kaisar memberi subsidi kepada sekolah-sekolah yang memasukkan retorika dalam silabus pendidikan. Sehingga ahli retorika yang dihasilkan bisa menjadi imam agung pada upacara resmi. Tapi tiga abad berikutnya pidato hanya dilakukan untuk peniruan masa lampau dengan metode imitasi dan deklamasi.
Retorika pada abad pertengahan digolongkan dalam tujuh kesenian liberal. Retorika, tatabahasa dan logika (dialektika) membentuk satu trivium (tiga serangkai). Bukubuku pegangan Abad pertengahan mengenai retorika mengikuti prinsip-prinsip klasik dengan membedakan tiga gaya tulisan: kuat, sedang dan lemah. Atau tinggi,menengah, rendah. Gaya tinggi bukan hanya menyangkut hiasan tetapi juga penggunaan figuratau warna retorika yang paling sulit dan tinggi martabatnya.
Terdapat enam langkah pidato (dispositio) pada abad pertengahan: (a) Exordium: sebuah pembukaan yang jelas, sopan tapi singkat, (b) Narratio: sebuah pernyataan dari fakta awal yang jelas, dipercaya, singkat dan menyenangkan. (c) Propositio: penyajian kasus, jika yang disajikan berbentuk isu disebut partitio, (d) Confirmatio: penyajian argumen. (e) Refutatio: penolakan atas keberatan-keberatan, bahwa keberatan itu tidak bersifat absud, palsu atau tidak konsisten, dan (f) peroratio: ringkasan, yaitu rangkuman dengan suatu appeal emosional.
F. Jaman Renaisance (XV-XVIII)
Pada jaman renaisance, tulisan-tulisan mannerisme menimbulkan reaksi keras yang merupakan wujud kembalinya retorika klasik yang bersifat imitatif. Pada abad XV dan XVI, buku-buku pegangan melanjutkan retorika sebagai seni untuk menyajikan dan menyiapkan langkah klasik mulai dari inventio, melalui dispositio, elocutio, dan memoria, berakhir pada actio. Tokoh yang terkenal adalah Petrarchus yang mempopulerkan metode imitasi.
Kedatangan sarjana-sarjana Byzantium ke Italia pada abad XV, menyebabkan sistematisasi teknik imitasi menyebar ke Barat. Kelahiran kembali (renaisance) retorika klasik tersebut ditandai dengan kelahiran retorika humanis.
Retorika humanis menghasilkan kamus, buku pegangan mengenai ungkapan dan eksempla (adages = peribahasa, anekdote, materi ilustratif) dalam bahasa Latin, dan prosedur-prosedur untuk menghafal. Sehingga aliran humanis menjadi aliran lebih baik dari Graeco-Roman dan Byzantium.
Sajak humaniora berupa sanjak-sanjak klasik, filsuf, ahli sejarah, ahli pidato, yang berbicara mengenai hidup dan nilai kemanusiaan., dipelajari dengan semangat yang tak terbatas karena orang-orang sudah merasa capai dengan skolastisisme dan teologi yang sudah merosot.
Humanis adalah kelompok maju yang melihat kebudayaan klasik, dengan kebijaksanaan moralnya, rasionalitas yang kritis, dan seni yang agung, sebagai tingkat yang paling tinggi dicapai manusia.
Sejak tahun 1550, aliran humanisme memiliki suatu pegangan yang kuat dalam pendidikan. Pada akhir abad Xvseorang humanis Belanda bernama Rodolphus Agricola mengingatkan bahwa penulis-penulis harus mengembangkan subyek penelitian mereka yang bertalian dengan genus, species, sebab, akibat, persamaan, dan pertentangan.

G. Kemunduran Retorika (XVIII-XX)
Aliran Ramisme menandai keruntuhan seni retorika klasik, karena dianggap berlebihan dan bukan hanya berdasar atas style saja.
Aliran positivisme logis  menarik perhatian orang akan pentingnya mempelajari cara-cara mempergunakan bahasa dengan baik dan efektif.
Karya I.A. Richards yaitu philosophy of Rethoric (1941) menandaskan diperlukan adanya seni baru bagi wacana. Sehingga diperlukan usaha untuk menggaungkan retorika klasik yang saat ini sedang diusahakan oleh sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Amerika Serikat.

H. Retorika Modern
Retorika modern harusnya disampaikan secara efektif dan efisien dan lebih ditekankan kepada berbahasa secara tertulis, dengan tidak mengabaikan kemampuan secara lisan.
Berbahasa secara efektif  diarahkan kepada hasil yang akan dicapai penulis  dan pembaca, bahwa amanat yang yang ingin disampaikan dapat diterima dan utuh. Sedangkan secara efisien dimaksudkan bahwa alat atau cara yang dipergunakan untuk menyampaikan suatu amanat dapat membawa hasil yang besar, sehingga penulis dan pembicara tidak perlu mengulang dan berlebihan dalam penyampaian.
Sehinnga retorika modern lebih mengedepankan bahasa tertulis tanpa mengesampingkan bahasa lisan.
Prinsip-prinsip dasar retorika modern/ retorika komposisi:
  1. Penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata bahasa yang dikuasainya. Semakin besar jumlah kosa kata yang dikuasai secara aktif, semakin mampu memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikiran.
  2. Penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan yang memungkinkan penulis mempergunakan bermacam-macam bentuk kata dengan nuansa dan konotasi yang berbeda-beda. Kaidah-kaidah ini meliputi bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis.
  3. Mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa, dan mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih memudahkan penyampaian pikiran penulis.
  4. Memiliki kemampuan penalaran yang baik, sehingga pikiran penulis dapat disajikan dalam suatu urutan yang teratur dan logis.
  5. Mengenal ketentuan-ketentuan teknis penyusunan komposisi tertulis, sehingga mudah dibaca dan dipahami, disamping bentuknya dapat menarik pembaca. Ketentuan teknis disini dimaksudkan dengan: masalah pengetikan/ pencetakan, cara penyusunan bibliografi, cara mengutip, dan sebagainya.
  6. Dengan demikian pencorakan komposisi dalam retorika modern akan meliputi bentuk karangan yang disebut: eksposisi, argumentasi, deskripsi, dan narasi.
  7. Eksposisi adalah suatu bentuk retorika yang tujuannya adalah memperluas pengetahuan pembaca, agar pembaca tahu mengenai apa yang diuraikan.
  8. Argumentasi merupakan teknik untuk berusaha mengubah dan mempengaruhi sikap pembaca.
  9. Deskripsi menggambarkan obyek uraian sedemikian rupa sehingga barang atau hal tersebut seolah-olah berada di depan mata pembaca.
  10. Narasi merupakan teknik retorika untuk mengisahkan kejadian –kejadian yang ingin disampaikan penulis sedemikian rupa, sehingga pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri yang mengalami peristiwa tersebut.

Rabu, 04 Juli 2012

Hakikat kita sebagai mahasiswa

Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu dalam lembaga pendidikan formal dan menekuni berbagai bidang tersebut di suatu tempat yang di namakan universitas. Kelompok ini sering juga disebut sebagai “Golongan intelektual muda” yang penuh bakat dan potensi. Disamping itu mahasiswa juga semestinya mempunyai perilaku yang patut menjadi teladan para adik – adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Namun posisi yang demikian ini sudah barang tentu bersifat sementara karena kelak di kemudian hari mereka tidak lagi mahasiswa dan mereka justru menjadi pelaku-pelaku intim dalam kehidupan suatu negara atau masyarakat.

Namun yang menjadi pembahasannya sekarang adalah Hakikat kita sebagai mahasiswa yang semestinya mempunyai bakat dan potensi untuk membangun Bangsa dan Negara ini. Dalam hal makna, arti mahasiswa bukanlah posisi strata pendidikan yang dilakukan setelah lulus SMA. Namun ketika menginginkan makna ini agar jelas ada empat peran yang dimiliki mahasiswa yakni sebagai agen perubahan, kekuatan moral, kontrol sosial, dan cadangan potensial.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut bersifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Contoh konkret implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi. Perubahan yang terjadi sebagai efek dari perjuangan mahasiswa masa itu sangatlah besar baik bagi kinerja pemerintahan, control kerja pemerintahan, kondisi perekonomian bangsa, sistem pendidikan yang diterapkan, serta hal-hal lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Harapan besar ditujukan pada para pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah para mahasiswa. Dalam posisi ini, mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa.
Sebagai kekuatan moral, masyarakat akan memandang tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan sebagainya yang berhubungan dengan moral sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Disinilah mahasiswa harus di tuntut ke intelektualannya dalam kekuatan moralnya di masyarakat.
Sebagai kontrol sosial, Masyarakat adalah sekumpulan populasi dengan beragam karakter. Banyak sekali aspek sosial yang harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan yang rentan memicu konflik. Jika kondisinya berlawanan, maka dapat dipastikan adanya konflik kecil yang bisa timbul di mahasiswa maupun masyarakat. Di sinilah peran mahasiswa. Kontrol dari kondisi – kondisi sosial merupakan implementasi nyata mahasiswa untuk bersinggungan langsung dengan masyarakat. Memanfaatkan media sangat atraktif bila diterapkan. Jika menyadari peran dalam masyarakat sewajarnya mahasiswa menjadi harapan masyarakat dan bukan sekadar penganut hedonistik.
Sebagai cadangan potensial, sebagaimana pengertian mahasiswa sendiri yang berarti suatu kelompok yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu. Disinilah kesadaran para mahasiswa yang harus ditekankan, bahwa sebagai mahasiswa yang nantinya akan mempunyai suatu keahlian dalam bidang – bidang ilmu tertentu harus wajib mengamalkannya dalam masyarakat luas. Ini semua semata – mata untuk kemajuan Bangsa dan Negaranya sendiri. Dan disinilah tingkat Nasionalisme seorang “lulusan” mahasiswa akan di pertanyakan. Karena banyak “lulusan – lulusan “ mahasiswa Indonesia melupakan Bangsa dan Negaranya sendiri, karena mereka sudah dilupakan oleh uang dan jabatan yang mereka dapat di Bangsa dan Negara lain. Seharusnya kita (mahasiswa) menjadi cadangan potensial untuk memajukan Bangsa dan Negara kita, dan menjadi titik terang untuk keluar dari krisis – krisis yang berkepanjangan ini.
Semoga kita sadar akan Hakikat kita sebagai mahasiswa, dan menjadi titik terang untuk kemajuan dan kebangkitan Indonesia.

Rabu, 27 Juni 2012

Karakter atau Ciri Khas Pribadi Muslim

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.
Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari ALLAH SWT.
Persepsi atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah-nya saja.
Padahal, itu hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada ALLAH SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.
Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada ALLAH.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi ALLAH tuhan semesta alam” (QS. Al-An’aam [6]:162).
Karena aqidah yang bersih merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda:
“Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”.
Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada ALLAH SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh ALLAH SWT di dalam Al Qur’an. ALLAH berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam [68]:4).
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan ALLAH dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah ALLAH menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.
ALLAH SWT berfirman yang artinya:
Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.
Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari ALLAH dan Rasul-Nya. ALLAH SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
ALLAH SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga ALLAH menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.
Karena, pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari ALLAH SWT. Rezeki yang telah ALLAH sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau keterampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir)
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Wallahu’alam

Ubahlah pola pikirmu, maka kamu akan berubah

Catatan seorang penulis buku ini bisa menjadi pelajaran yang berharga:
"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.
Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini."
Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

* Berbagai tipe pria dalam menghadapi wanita nangis

 

http://requesta.files.wordpress.com/2010/04/nangis.jpg?w=260&h=195

Cowok Jaim: "Plz dunk jangan bikin malu gue, masa nangis sih!"
Cowok Gak Sabaran: "Hari gene masih nangis, plzzz dech!"
Cowok Sensitif: "Ikutan nangis ah...hiks...hiks..."
Cowok Ahli Hipnotis: "Saya hitung 1,2,3...di hitungan ke-tiga anda melupakan semuanya...lupakan semuanya...lupakan...OK!
Cowok Kritis: "Ada apaan sih? siapa? kenapa? dimana? kemana? Kok bisa sih? ya udah...ambil positifnya aja lah"
Cowok Pasrah: "Terserah Lo deh!!!"
Cowok Cuek: "Biarin aja, paling juga ntar diam sendiri"
Cowok Naif: "Aku beliin gulali sama balon warna-warni ya?"
Cowo Gomse: Dipeluk dan dikecup seluruh muka (pelan-pelan gitu deh), Sambil berkata "if I could share ur pain .. I would"
Cowo Analis: "Kenapa kamu menangis? Apakah kamu menangis bahagia Atau sedih? Jika bahagia, apa yang menyebabkan kamu bahagia? Jika sedih, apa yang menyebabkan kamu sedih? Sejak kapan kamu menangis? Kalo kita proyeksikan ke depan, apakah kamu akan terus menangis?"
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCRL9fS_3c0WFXzk0p5aHnpilXa65FKhCRuqvQaLyvkRCNQ7B3RopMWNpwdBCW3oXQgnVbW5Qz5MYpYZTb6u3-BbZoDKaqGfB_PVDgZUhVcMNdIksX2DX6TFlMBks14BtxIwkboSczuS4/s320/gambr31.jpg

Cowok Idaman: "Menangislah sepuasnya di pundakku" (sambil tangannya melingkar melindungi si cewe, kadang meraba juga)
Cowok Tajir: "Gue beliin Mobil, Handphone ya?"
Cowok Romantis: "Bacain Puisi mau?, dinyanyiin lagu NINA BOBO ya?"
Cowok Horny: (Dibaringin di tempat tidur...de el el)
Cowok Bete: (Dipeluk sambil dibisikin) "kita putus aja ya, abisnya kamu cengeng banget sih, say..."
Cowok Narsis: (Sibuk ngambil foto diri sendiri pake HP terbaru)
Cowok Dermawan: Ngeluarin recehan sembari bilang, "May God Bless You..."
Cowok Kere: "Sory nih yang, aku ga bisa beliin tissue"
Cowok Santri: "Astagfirullah. ...tabahkan hatimu...."
Cowok Tulalit: "Kamu nangis dapet bonus apa ditinggal mati sih? Hiiii...kamu bisa juga nangis yah?"
Cowok Matre: "Cewe kere Lo... nangis mulu nyusahin gue doank!"
Cowok Kejam: "Hehehehe... ini belum seberapa sayang, nanti aku bisa bikin kamu tambah sengsara sampe meraung-raung. Lebih parah lagi... mau nangis lagi?!!!"
Cowok Ilmiah: "Wah...hebat ya, ternyata honey tau juga menangis, itu sehat buat bersihin mata"
Cowok Banci: "Aihhh Akikah jadi ikut sedih deh Neq...emang cowo-cowo itu pengen sedikit ditowelll biar tau rasanya kalo nangis itu bikin hidup jadi malaysiaaa(males)bow..." Trus lanjutannya..."Ini Tissuenya, tapi balikin yaa dari Lekong.... gw Neqqq"
Cowok Puitis: "Ur tears are my tears... aer matamu bagaikan sungaii bengawannn swolooooo..."
Cowok Ilmuwan: "Sayang, air matanya kumpulin pake tissu sebanyak mungkin, trus ditimbang volumenya untuk mengukur berapa kemampuan manusia mengeluarkan air mata dalam 1X menangis"
Cowok Bego: "Sayang, kok mata kamu keluar aer??"


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtqRdszlbWV2_mRUGwqg178ce9cch5b0eHAKv4_x5DQ4T45W8XPHVDrBa8nGBdSyp4U1AaUbHzB4_gq0qIciYhJ55H8FuusDgn3auhkwnnDaYmsqYPX7psCnXYmO28-E6U2w28kOp1gtxb/s320/Slide1.JPG

* 20 Sifat Diri Yang Harus Dibuang Jauh-jauh

 

 




Dari buku Personality Plus, bisa disimpulkan kira-kira ada 20 sifat yang bisa menghancurkan diri sendiri, yaitu:
1. Bashful
Sering menghindari perhatian karena malu

2. Unforgiving
Sulit melupakan sakit hati atas ketidakadilan yang dialami, biasa mendendam

3. Resentful
Sering memendam rasa tidak senang akibat tersinggung oleh fakta/khayalannya

4. Fussy
Bersikeras minta perhatian besar pada perincian/hal yang sepele

5. Insecure
Sering merasa sedih/cemas/takut/kurang kepercayaan

6. Unpopular
Suka menuntut orang lain untuk sempurna sesuai keinginannya

7. Hard to please
Suka menetapkan standar yang terlalu tinggi yang sulit dipenuhi oleh orang lain

8. Pessimistic
Sering melihat sisi buruk lebih dulu pada situasi apapun

9. Alienated
Sering merasa terasing/tidak aman, takut jangan-jangan tidak disenangi orang lain

10. Negative attitude
Jarang berpikir positif, sering cuma melihat sisi buruk/gelap setiap situasi

11. Withdrawn
Sering lama-lama menyendiri/menarik diri/mengasingkan diri

12. Too sensitive
Terlalu introspektif/ingin dipahami, mudah tersinggung kalau disalahpahami

13. Depressed
Hampir sepanjang waktu merasa tertekan

14. Introvert
Pemikiran & perhatiannya ditujukan ke dalam, hidup di dalam diri sendiri

15. Moody
Semangatnya sering merosot drastis, apalagi kalo merasa tidak dihargai

16. Skeptical
Tidak mudah percaya, mempertanyakan motif di balik kata-kata

17. Loner
Memerlukan banyak waktu pribadi, cenderung menghindari orang lain

18. Suspicious
Suka curiga/tidak percaya kata-kata orang lain

19. Revengeful
Sadar/tidak sadar sering menahan perasaan, menyimpan dendam, ingin membalas

20. Critical
Suka mengevaluasi/menilai/berpikir/mengkritik secara negatif